28 Desember 2008

Selamat Tahun Baru 1430 H


Peredaran langit dan bumi, bulan, bintang, matahari dan benda langit lainnya, adalah salah satu bukti kekuasaan Allah Rabbul ‘Alamin yang hanya akan dapat dipahami orang-orang yang beriman. Dengan banyak memerhatikan dan membaca ayat-ayat Allah, akan bertambah dekatlah dirinya kepada Allah, dan bertambah pula keimanan dan kecintaan kepada-Nya. Dari pengaruh peredaran dan jarak antara bumi, bulan, matahari dan bintang-bintang itulah bergantung segala perkembangan dan kehidupan di muka bumi ini. Terjadi siang dan malam, musim panas, dingin, sedang, turunnya hujan, tumbuh dan berbuahnya segala tumbuhan dan binatang. Semua karena pengaruh peredaran bumi, bulan, matahari dan benda langit lainnya.

Permulaan Tahun Hijriyah
Sebuah dokumen penting telah disampaikan kepada Khalifah Umar bin Khattab dengan memakai tanggalnya hanyalah bulan Syakban semata, sehingga Khalifah Umar sampai-sampai mengatakan : ‘’ Syakban mana? Syakban yang sedang kita hadapi inikah, atau yang akan datang, atau yang sudah lampau?’’

Dalam menelusuri sejarah penetapan tahun hijriyah itu dikabarkan, bahwa Abu Musa Al-Asyari, Gubernur di Basrah (Irak) di zaman pemerintahan Umar bin Khattab, pernah mengirim surat kepada Khalifah II itu, yang menyatakan bahwa ia telah menerima surat dari Khalifah yang tidak memakai tanggal. Hal ini dirasakan oleh khalifah sebagai sindiran halus tentang penanggalan (kalender) yang seragam, yang dipergunakan sebagai tanggal, baik di kalangan pemerintah maupun kepentingan umum.

Sindiran halus itu mendorong Khalifah Umar untuk memanggil stafnya untuk membicarakan dan memutuskan soal yang dianggap remeh sebelum itu. Tetapi satu-satunya sangat penting dan menentukan yaitu menetapkan penanggalan (kalender) Islam. Soal yang paling menarik dalam pembicaraan itu adalah : dari mana dimulai titik awal atau permulaan tahun baru Islam. Ada empat alternatif yang digunakan, yaitu, pertama dihitung dari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Kedua, dihitung dari wafatnya Rasulullah SAW. Ketiga, dihitung dari mulainya Rasulullah menerima wahyu. Keempat, dihitung dari hijrahnya dari Makkah ke Madinah. Usul yang keempat ini menurut catatan riwayat, dimajukan oleh Ali bin Abi Thalib, salah seorang dari staf Khalifah Umar bin Khattab yang termuda saat itu. Setelah didiskusikan secara mendalam, akhirnya disetujuilah usul supaya penanggalan (kalender) Islam yang akan ditetapkan itu dimulai dari tahun hijrahnya Rasulullah dan para Sahabat beliau dari Makkah ke Madinah, yang waktu itu masih bernama Yatsrib, dan kemudian menjadi Madinatul Munawarah, yang artinya kota yang memancarkan cahaya yang terang benderang.

Perbedaan dengan Tahun Miladiyah
Tahun miladiyah (masehi) disebut juga Yulian Era atau Gregorian Era (Calendar). Disebut tahun miladiyah atau masehi sebab awalnya ditetapkan dengan kelahiran Nabi Isa AS (Yesus). Disebut Yulian karena diakui dan dipergunakan sejak berkuasanya Yulius Caesar di Roma, kemudian diubah dengan nama Gregorian Calender, karena terjadinya perubahan tanggal, 4 Oktober 1582 diganti dengan tanggal 15 Oktober 1582. Jadi perhitungan harinya dikurangi 11 Hari. Di saat itu berkuasa Paus Gregory. Sebelum tahun 1582, yang disebut satu tahun adalah lamanya peredaran bumi mengelilingi matahari yang lamanya ditetapkan 365 hari 6 jam. Setelah berjalan perhitungan itu selama hampir 16 abad lamanya, ternyata sudah tepat datangnya musim dingin dan musim panas.

Diketahui tahun itu lamanya peredaran bumi dikelilingi matahari adalah 365 hari, 5 jam, 49 menit dan 12 detik. Jadi dengan penetapan setahun lamanya 365 hari dan sekali 4 tahun menjadi 366 hari, maka perhitungan itu berlebih 10 menit 48 detik.

Kejadian ini dalam 16 abad sudah menjadi 11 hari lamanya. Sebab itu maka para ahli pada tahun 1582 mengubah tanggal 4 Oktober 1582 menjadi 15 Oktober 1582. Inggris baru mengakui perhitungan ini seabad kemudian yaitu pada tahun 1752, sedang Yunani baru mengakuinya pada tahun 1923 silam. Bumi sebagaimana diketahui dalam peredarannya mengelilingi matahari, kadang-kadang tepat yaitu matahari persis garis khatulistiwanya. Sedikit demi sedikit miring ke Utara, sehingga udara bahagian Utara permukaan bumi menjadi panas. Tepat pada tanggal 21 Juni tiba di puncak arah Selatan dan kembali matahari tepat di garis khatulistiwanya kembali. Lalu terus bertambah miring ke Selatan sampai pada kemiringan 231/1 derajat Utara dari bumi (Eropa), dan musim panas di bagian Selatan (Amerika). Dalam hal ini, Allah menjelaskan dalam firman-Nya :

‘’Dia Rabb (yang mengatur) dua Timur dan dua Barat. (QS. Ar-Rahmaan: 17)
Dengan segala perubahan letak bumi itulah diketahui segala macam musim, dan berkembang biaknya binatang, burung, atau ikan laut. Semua itu sangat penting diketahui untuk keselamatan pelayaran, penerbangan atau perkembangan segala yang terdapat di bumi ini.

Tahun Hijriyah
Tahun hijriyah juga disebut dengan Islamic Calendar, dihitung dari lamanya bulan mengitari bumi. Bulan adalah satelit bumi. Ke mana saja bumi beredar, bulan mengikutinya dengan mengitari bumi. Bulan mengitari bumi selama 29 hari, 12 jam, 44 menit dan 2,78 detik. Dalam satu tahun Hijriyah selama 12 kali bulan mengitari bumi, menjadi 354 hari lebih. Kelebihan 44 menit dan 2,78 detik itu dalam 30 tahun menjadi 11 hari. Sebab itu tahun Hijriyah dijadikan tahun pendek dengan umurnya 354 hari. Dan 11 hari dalam 30 tahun dijadikan tahun panjang yang umurnya 355 hari. Bulan Hijriyah ditetapkan umurnya bergilir 29 dan 30 hari. Yaitu bulan Muharram 30 hari umurnya, bulan Syafar 29, Rabbiul Awwal 30, Rabbiul Akhir 29, Jumadil Awwal 30, Jumadil Akhir 29, Rajab 30, Syakban 29, Ramadhan 30, Syawal 29, Zulqaidah 30, dan Zulhijjah 29/28. Di tahun panjang, bulan Zulhijjah dijadikan 30 hari.

Islamic Calendar
Hari bulan hijriyah dihitung dari terjadinya kesejajaran antara bumi, bulan dan matahari, yang disebut ijtimak, sehingga bulan lenyap sama sekali dari pandangan mata. Sebab ketika ijtimak itu, bulan kena sinar matahari menghadap ke matahari dan membelakangi bumi. Dan bila tidak kena sinar matahari tidak kelihatan. Di saat itu berakhirlah bulan dan besoknya dihitung sebagai bulan baru.

Karena sudah tidak sejajar lagi, maka pinggir bulan yang terkena sinar matahari dapat kita lihat dari bumi, sehingga bulan seperti sabit tipis, semakin hari semakin tebal. Tanggal 7 menjadi seperdua bundaran, tanggal 14 menjadi penuh, dinamai bulan purnama. Kemudian berkurang dan berkurang, tanggal 21 menjadi bundaran, dan tanggal 29 lenyap karena kembali sejajar antara bumi, bulan dan matahari.

Dengan demikian kita ingat bahwa antara tahun miladiyah dengan tahun hijriyah terdapat perbedaan umurnya 10, 11 atau 12 hari dalam setahunnya. Namun semua ibadat dalam Islam dipergunakan perhitungan tahun hijriyah. Sebab itulah dinamai juga perhitungan sebagai tahun Islam atau Islamic Calendar.***

H Rusli Effendi
Ketua DPW PPP Riau
Anggota DPRD Provinsi Riau
Riau Pos

22 Desember 2008

Selamat Hari Ibu


Kutulis puisi ini sebagai kado untuk Ibunda Latifah,
wanita tabah, sumber inspirasiku

Selamat Pagi Ibu...

Kuawali hari ini bersama deritan daun pintu
Di antara rintihan gerimis pagi dan angin mendesah menoreh kalbu
Kubentuk silluet wajahmu
Tatapanmu yang teduh menggores getah rindu
Menetes sepanjang waktu

Ibu...
Sejuk darahmu mengalir damai dalam tubuhku
Doamu mengalun bagai melodi di setiap hembus napasmu
Selaras dalam harmoni dan berpadu dengan doaku

Aku rindu kepadamu Ibu...
Namun aku tak mudah menggapaimu
Karena aku tak lagi milikmu
Aku telah tinggalkanmu demi darma baktiku
Demi seorang yang telah kuberikan hatiku
Yang kepadanya tak mampu aku berkata ”tidak” , Ibu..
Dan... aku pun tak mudah ke rumahmu

Ibu...
Cinta kasih dan hormatku tak perlu kau ragu
Telah kupautkan hatiku di hatimu sejak dahulu
Telah kuukir rumahmu dalam jiwa nan mengeras bagai batu
Dan kusinggahi selalu dalam kembara mimpi-mimpiku

Ibu...
Aku ingin berbaring di pangkuanmu
Berlabuh dari pelayaran samudra hidupku
Walau sekejap, setelah itu berlalu
*****************************

Halaman berikut memuat Puisi-puisi karya siswa sebagai kado di hari Ibu:



1. Karya Dyah Tri Palupi (XII IS 1)

Ibu

Engkau berikan seluruh hidupmu
Cinta, kasih sayang, dan air mata
Ibu...
Engkau tempatku mengadu
Tentang suka, duka, juga cintaku
Ibu...
Tanpa doamu aku tak akan mampu
berdiri melawan kerasnya hari
Ibu...
Bahagiamu membawa damai di hatiku
Rintihanmu bagai pisau yang menyayatku
Tak seorang pun dapat menggantikanmu
Terima kasih, Ibu...




2. Karya Yulia Rahmawati (XII IS 1)


Mentariku

Bunda...
Kau sinar mentari di pagi hari
Kau purnama di malam hari
Penyejuk hati disaat aku gundah
Bunda...
Kau angin yang memberi kesejukan
Kau api yang memberi kehangatan
Aku bersyukur telah memilikimu
Maafkan aku Bunda...
Yang mungkin telah membuatmu menangis
Perjuanganmu tak mungkin terbalas dalam hidupku
kaulah wanita terhebat bagiku
Kau membuatku kuat
Doamu slalu menyertaiku
Terima kasih, Bunda...



3. Karya Winda Ayu Paramita (XII IS 2)

Suryaku, Ibu

Pagi menyapa dengan indahnya
Burung bernyanyi merdu
Gemericik air, menambah indahnya pagi

Di sini.. Ibu tersenyum membuka hari
Dengan tangannya yang lembut
Menggugah jiwa dari lelapnya mimpi

Di sini... Ibu tersenyum membuka hari
Kasih sayangnya, cintanya...
Melekat selalu di hati

Ibuku...
Engkau selalu menemaniku
Di saat aku membutuhkanmu

Ibuku...
Dalam gelap kau menerangi jiwa
Dalam tenang, kau meneduhkan hati

Engkau surya dalam hidupku
Sampai mati, engkau selalu ada di sini
Di hatiku, tempat terindah untukmu








4. Karya Putu Eka Setyaningsih (XII IS 2)

Pengorbananmu, Ibu...

Aku teringat pada malam itu
Kau berjuang dalam hidupmu
Ibu ...
Kau mengajariku tentang kehidupan
Dengan kasih sayangmu yang tulus
Kau slalu mengikuti jejak langkahku
Walau letih, tak pernah engkau mengeluh
Ibu...
Kini aku telah beranjak dewasa
Namun aku tetaplah gadis kecil di matamu
Dan aku menyadari...
Bahwa aku adalah gadis kecil yang sedang mencari jati diri
Ibu...
Maafkanlah aku jika pernah membuat hatimu terluka
Sampai kapan pun aku tak bisa jauh darimu
Aku slalu membutuhkanmu
Ibu...
Aku hanya mampu mendoakanmu
serta mematuhi nasihatmu
Aku slalu menyayangimu, Ibu...



5. Karya: Ronald Alexander Kailola (XI IS 3)

Ibunda Tersayang

Malam begitu gelap
Hujan begitu deras
Aku terperosok dalam jurang kesedihan
Tangan itu menolongku
Mengangkatku

Bunda...
Engkau terang alam gelapku
Engkau hadir dalam pedih laraku
Wanita terhebat di alam semesta
Cintamu abadi

Bunda ...
Engkau tegar dan sabar
Menopang aliran hidupku
Maafkan aku yang pernah menyakitimu
Aku sangat mencintaimu...



6. Karya: Ade Darmawan (XII IS 3)

Tak Kan Kutemukan

Ketika hatiku perih
Tanganmulah yang ku genggam
Tak kan ada yang lebih kucintai
Hanyalah engkau, wahai Ibu...
Tuhan...
Pahatkan doaku di jalur hidupnya
Dikala kedengkian merasuk hatinya
Tabahkan ia ke dalam kesucian

Dikala api amarah menrpa
Sabarkan hatinya
Ketika sayang menjalari tubuhnya
Kuatkan perasaannya

Ibu...
Tahukah engkau
Tiap detik luka yang menderamu
Menjadi ribuan lara menusukku
Tetesan air matamu tak kan pernah kulupa
Kan usap dengan cinta

Akan kuabadikan sayang ini
Hingga tak kutemukan lagi
Hari esok....


7. Karya: Dewangga D.H. (XII IS 4)

Cinta Pertama

Kau...
Wanita pertama yang kukenal
Wanita pertama yang kucintai
Wanita pertama dalam hidupku

Kau..
Sosok yang lembut
Sosok yang kuat
Meski Rapuh

Kau...
Tumbuhkan cinta dalam hatiku
Dengan besarnya rasa cintamu
Bagai embun pegunungan yang menyejukkan
Bagai nur dalam pekat, menerangi dengan cinta yang tulus

Kau...
Segalanya bagiku, tapi...
Wanita pertama yang kusakiti
Wanita pertama yang aku dustai
Wanita pertama yang aku maki

Kau..
Kusakiti dengan egoku
Kucampakkan dengan sifatku

Kau...
Tak surut mencintaiku
Aku luluh oleh cintamu

Kau...
Cinta pertama dalam hidupku
Mama...
8. Karya: Celixa Amenity Yovanka (XII IS 4)

Cintaku untuk Ibu

Ibu...
tak pernah cukup
kubalas semua jasamu
aku hanya bisa mengucapkan terima kasih
untukmu

Ibuku sayang,
maafkan bila ku selalu membuatmu kecewa
sungguh,
aku tak berniat menyakitimu

Ibu,
jangan pernah tinggalkan aku
tak bisa kubayangkan
hidupku tanpa dirimu
engkau yang membuatku kuat
engkau yang mengajariku tentang hidup

Ibu,
kau wanita sempurna
luhur budimu
aku mencintaimu
****************

Catatan untuk murid-muridku:
1. Mohon maaf karena Ibu telah melakukan pemangkasan puisi kalian.
2.Puisi kalian bagus-bagus namun tidak semua dapat ditulis di sini.
3. Ibu sayang kalian, tanpa kecuali.
4. Berkomitmenlah untuk kooperatif dalam penegakan tata tertib sekolah.
5. Semoga kalian lulus ujian dan sukses dalam meraih cita-cita.







20 Desember 2008

Persahabatan dari Negeri Jiran


Hari ini saya bahagia karena telah mendapatkan "Award" Persahabatan
Menurut bahasa Melayu = Pengiktirafan)dari
Tuan Nik Abd. Rahman Raja Soh ,
seorang kawan dari Negeri Jiran Malaysia. Sebenarnya ada dua "award" yang diberikan oleh kawan saya tersebut
tetapi award yang pertama saya malu untuk mempublikasikan.Saya merasa tidak layak menerimanya.
Selain "Award", saya juga mendapatkan "Lencana Persahabatan": Berikut ini pengantar dari Tuan Nik Abd. Rahman Raja Soh :
Persahabatan pada saya seumpama tangan dan mata,
saat tangan terluka, mata menangis.
Di saat mata menangis, tangan menghapuskan air mata.
Nilai persahabatan amat tinggi pada saya.
Oleh itu saya sangat berbesar hati sekiranya sahabat-sahabat saya sudi menerima lencana ini sebagai tanda persahabatan saya dengan kalian.

Terima kasih Sir...
Semoga persahabatan kita tetap terjalin.
Ikatkan satu ujung tali silaturahmi ini di Malaysia
dan ujung yang lain saya ikat di Indonesia.



17 Desember 2008

Jamu - Jamu

 Suwe ora jamu
 2   3   2   3
 Jamu godhong telo
 2   1   2   3
 Suwe ora ketemu
 3   5   6   5
 Ketemu pisan gawe gelo
 4   2   1   6

 Begitulah salah satu bait tembang Jawa yang sering mengalun di antara iringan gamelan. Gamelan spesialis pegangan saya bernama Slenthem. Lempengan besi, perunggu, atau perak berbentuk persegi panjang yang ditata sejajar menggantung di antara tali pengait. Di bawahnya terdapat tabung silinder dengan diameter permukaan yang berbeda sebagai pengatur nada. Tidak berbunyi nyaring namun keberadaannya sangat dibutuhkan sebagai penyelaras nada. Fungsi slenthem sama dengan bass dalam alat musik modern. Slenthem bertempo lambat, tidak bisa dinamis seperti sharon, demung, atau peking. Dalam irama dangdut misalnya, slenthem tetap ”lombo” di antara pukulan-pukulan dinamis gamelan yang lain.

 Itu adalah filosofi kesabaran dalam menjalani kehidupan. Bagaimana mengatur emosi di antara perbedaan derap dan irama hidup antarsesama. Manusia harus mempertahankan karakter dan eksistensinya agar tetap survive dalam kerasnya kehidupan dunia. Manusia tidak boleh mudah terpengaruh apalagi latah atau mengekor orang lain. Jangan termakan peribahasa Ke mana angin deras bertiup, ke sana pula condongnya.

 Syair tembang Jawa yang sederhana tersebut memberi amanat yang luar biasa kepada kita. Dalam syair tersebut diungkap keprihatinan terhadap sifat buruk manusia yang selalu mengecewakan orang lain. Bahkan mereka yang sudah lama tidak bertemu pun tetap mengecewakan dalam pertemuannya. Sayang sekali, betapa sulitnya membahagiakan orang lain.

 Setiap melantunkan tembang itu saya selalu teringat oleh seseorang yang pernah menyampaikan pesan di ujung kematiannya. Waktu itu hari Selasa, sepuluh tahun yang lalu. Seorang murid meminta izin untuk memberikan puisi. Dengan senang hati saya menerimanya. Sesampai di rumah, ketika saya sedang beristirahat sambil membaca puisi tersebut:

...
 Jadikan setiap pertemuan hanya makna
 Lalu boleh kau katakan ”Selamat Tinggal
...

 Saya berpikir: Alangkah indahnya hidup ini, jika dalam setiap jumpa manusia selalu bermakna,tidak saling menyakiti, tidak meninggalkan penyesalan. Tak ada beban apa pun walau harus berpisah atau meniggal dunia.
Belum selesai apresiasiku, seseorang mengetuk pintu. Ia mengabarkan bahwa murid saya meninggal dunia, lelaki yang puisinya masih dalam genggamanku.
 




10 Desember 2008

Sholat Idhul Adha bersama Kepala Dinas Pendidikan


Senin, 8 Desember 2008.
Pagi yang bertabur gerimis,saya jadi ingat cerpen Nugroho Notosusanto berjudul "Hujan Kepagian". Bersama 7 murid saya bergegas ke Kantor Dinas Pendidikan Kota Malang. Keberangkatan saya bukan untuk urusan dinas, melainkan turut merayakan hari raya dengan Sholat Id bersama Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Dr.H.M.Shofwan, S.H., M.Si.

Pesan khotib (Ustad Sadjid) sangat berkesan: Keberhasilan bangsa dan negara dimulai dari keluarga yang solid, mempunyai komitmen yang kuat dan kesamaan tujuan, rela berkorban, dan agamis, seperti yang diteladankan keluarga Nabi Ibrahim alaihissalam.

Semoga negeri ini dipenuhi oleh keluarga-keluarga seperti itu sehingga Indonesia yang tercintai ini menjadi negara yang jaya, kuat, dan rakyatnya sejahtera.



07 Desember 2008

Deklarasi Supporter Indonesia Damai II

Bapak Budi Harsono, Kepala SMAN 7 Malang bersama para siswa
Sabtu, 6 Desember 2008.
Hari yang aneh: Pada hari tersebut kantorku berpindah ke Stadion Gajayana dengan mengawal 900 murid. Sejak matahari mulai mengintip dunia, aku sudah berkemas-kemas untuk berangkat ke Stadion Gajayana. Belum sampai ke mulut stadion aku sudah tidak bisa lewat karena puluhan ribu pelajar dan Aremania menuju ke arah yang sama. Macet total. Aku sulit menuju tempat yang telah disepakati untuk berkumpul. Murid-muridku berpencar karena tidak bisa menempatkan diri sesuai dengan titik koordinat dan deklinasinya. Megaphon yang aku bawa sama sekali tidak berfungsi. Bising suara manusia dan mesin kendaraan saling berkolaborasi menjadi nada yang memusingkan. Awal yang sulit bagi tewujudnya sebuah komitmen untuk perdamaian, antikekerasan, dan peperangan melawan narkoba. Sesuatu yang baik kadang memang sulit dilakukan bahkan untuk memulainya pun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan.

Bersatulah para supporter di seluruh Indonesia. Damailah bersama dunia...

Setelah sekian lama bersusah payah akhirnya semua masuk stadion satu per satu. Lokasi yang seharusnya ditempati murid-muridku (sesuai dengan kesepakatan dalam TM) ternyata sudah diduduki pasukan lain. Warna biru tak lagi menyatu, hanya seumpama noktah kecil di tribun stadion.

Ketika acara dimulai, mereka bersatu menyerukan yel-yel sesuai dengan ucapan pemandu acara, menggerakkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri, dan bertepuk sesuai irama. Darah muda remaja bergelora dalam satu jiwa.

Itulah ajang DEKLARASI SUPPORTER INDONESIA DAMAI II.
Hadir dalam pesta tersebut: Menteri Pemuda dan Olahraga (Bpk. Adhiaksa Dault) dan Kapolri (Jenderal (Pol)Bambang Hendarso Danuri).

Aremania: SALAM SATU JIWA




25 November 2008

HARI GURU

Selamat hari Guru untuk kawan-kawan guru di seluruh dunia. Selamat untuk kita. Selamat berjuang, saudaraku… Semoga sinar terang memancari wajah pendidikan di negeri ini. Kutulis ucapan ini di hari yang sangat indah, 25 November 2008.



10 November 2008

Hari Pahlawan


Hari Pahlawan Nasional yang "jatuh" pada hari ini tidak hanya diperingati tetapi juga harus dimaknai secara efektif. Implementasi hari Pahlawan harus disesuaikan dengan tantangan kepentingan bangsa dan negara pada zaman ini.

Selamat hari Pahlawan 10 November.
Semoga bangsa Indonesia bersatu...!
Dan tetap berjuang sesuai dengan profesi masing-masing.

Viva Indonesia...!!!
I Love You for ever...!!!



09 November 2008

Aku Pulaaaaaang....!!!


Wah... Kangen sekali untuk bertemu kalian, saudaraku para blogger di sini.
Alhamdulillah, kami telah kembali dengan selamat. Kegiatan pun berjalan lancar tanpa satu pun kendala. Sepertinya,murid-muridku juga bahagia, walaupun sempat aku hukum karena terlambat mengikuti kegiatan, atau mangkir dari kewajiban sholat berjamaah.

Asyik banget....
Aku bangga kepada murid-muridku.
Aku juga salut dan kagum kepada saudara-saudaraku Trainner Out bond dan semua karyawan P-WEC yang mempuyai komitmen tinggi terhadap kelestarian flora dan fauna.Terima kasih untuk kalian...

Calon-calon pemimpin dari Bumi Sabhatansa telah digembleng selama dua hari untuk menjadi yang terbaik. Mereka belajar tentang Keorganisasian, Kepemimpinan, IESQ, Etika, Ketakwaan, Kemandirian, Tanggung jawab, Team Work Building, dan Disiplin dalam segala aktivitas. Sebagian dari materi tersebut dikemas dalam kegiatan Outbond, baik TWB mapun High Rope.

Semoga mereka dapat menjadi leader dalam penegakan tata tertib sekolah dan menjadi teladan bagi semua siswa. Sehingga berimbas kepada semua aktivitas siswa SMA Negeri 7 Malang.

Terima kasih untuk:
1. Drs. Budi Harsono, Kepala SMA Negeri 7 Malang yang telah mendukung LDKS OSIS 2008, baik material maupun spiritual.
2. Kolonel Inf. Komang Gede Karmasunu, Bank Jatim, BTN, Speedy, Angkasa Computer, Indosat, Yon Bekang 2, P-WEC, Mas Imam Syafi'i (Alumni SMAN 7 Malang di PKB), Drs. Suhari, dan semua pihak yang turut mendukung kami.


OSIS Sabhatansa 2008....!!!: JUJUR, KREATIF, INOVATIF... HU YESSS...!!!




06 November 2008

Mohon Doa Restu

Untuk Saudara-saudaraku yang terlanjur aku sayangi...

Beberapa hari ini aku absen dari peredaran karena harus mendampingi Pengurus OSIS menjalani Latihan Dasar Kepemimpinan (LDKS) di kaki Gunung Kawi, P-WEC (Petungsewu Wildlife Education Center). Rumah ini tidak aku kunci silakan berkunjung dan mengisi buku tamu agar aku dapat melacak jejak kalian. Aku tidak akan seperti saudaraku Prie 79 di sini yang mengunci rumahnya ketika sedang berdinas ke Malaysia.

Mohon doa restu semoga kami dapat kembali dengan selamat tanpa kendala apa pun.
Aku pasti merindukan kalian...




04 November 2008

Pemilu Jatim

Hari ini aku berpartisipasi dalam Pilkada Jatim. Siapa pasangan yang akan menang? Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) atau Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa)?
Aku memang memilih satu dari dua pasangan tersebut. Namun siapa pun yang terpilih, aku siap menerima mereka sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur. Dan aku berharap mereka mempunyai komitmen untuk membangun Jawa Timur menjadi unggul, baik secara fisik maupun mental dan spiritual.


Meski sama-sama optimistis, dua kandidat mengaku siap menerima apa pun hasil pilgub. "Semua ikhtiar sudah kami lakukan. Tapi, hanya itu yang bisa kami jalankan. Karena apa pun hasilnya adalah kehendak Yang Kuasa," kata Saifullah Yusuf.

Khofifah Indar Parawansa berharap pencoblosan dan penghitungan suara berlangsung jujur dan adil. ''Jangan nodai demokrasi. Mari kita membuat sejarah dengan melaksanakan pilgub tanpa kecurangan,'' harapnya.

Di bagian lain, meski KPU optimistis pelaksanaan pilgub bisa berjalan lancar, beragam problem di lapangan masih saja terjadi. Yang paling mengkhawatirkan adalah kemungkinan tingginya angka golput.

Ini tidak lepas dari pendataan pemilih maupun distribusi kartu pemilih yang masih amburadul hingga kemarin.

Salah satu yang terparah adalah distribusi kartu pemilih bagi pemilih baru. Jawa Pos mendapatkan informasi bahwa beberapa KPU kabupaten/kota ternyata hanya memperoleh blangko kartu pemilih kosongan dari produsen kartu pemilih.

Padahal, seharusnya pada seluruh kartu pemilih yang didistribusikan itu sudah tercetak nama pemilih anyar. Alhasil, KPU tidak punya waktu lagi untuk mendata pemilih karena distribusi kartu pemilih juga sangat mepet. "Tentu saja, kami agak kaget dengan hal ini," kata anggota KPU Surabaya Edward Dewaruci.

Selain itu, KPU kabupaten/kota mengeluh dengan software kartu pemlih yang tidak bisa diaplikasikan. Karena itu, banyak yang memilih tidak menyerahkan kartu kosongan itu kepada PPK, PPS, maupun KPPS. Tentu saja, hal ini membuat potensi golput cukup tinggi. Sebab, tercatat ada 13.583 pemilih tambahan untuk putaran kedua.

28 Oktober 2008

Soempah Pemoeda

Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.

Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.

Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.


Dari wikipedia

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, ketua PPI Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola (dimainkan dengan biola saja atas saran Sugondo kepada Supratman, lihat juga Sugondo Djojopuspito). Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.

Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah pemuda keturunan arab.

26 Oktober 2008

Bocah Kecil Mengintai di Balik Pintu



Ketika hujan turun, suatu senja di akhir Oktober
Butiran air yang dihempas angin itu
membawa anganku berkelana ke masa kecil dulu
:

Suatu senja, entah purnama ke berapa
ketika hujan turun dan angin menghempas-hempas seperti saat ini
bocah kecil mengintai di balik pintu rumahku
Aku menoleh...
sekelebat bayangan menghilang
lalu Ibu mengejarnya
dan menangkap bocah kecil
yang selalu mengintai di balik pintu rumahku...
dia teronggok di balik rerimbunan taman
Alangkah terkejutnya Ibu...!


Bocah kecil yang gemetar itu adalah anaknya sendiri
yang berada dalam pengasuhan saudaranya
Direngkuhnya bocah kecil itu
dan tenggelam dalam dekapan yang basah
air mata ibu tumpah

Kini...
Bocah kecil yang selalu mengintai di balik pintu rumahku
telah pergi jauh karena tugasnya
mengabdi jiwa raga demi negara
Izinkan dia pergi berjuang, Ibu...
berikan restumu
Sebagaimana dia telah memohonnya
dengan mencuim tanganmu,
dengan mencium keningmu,
dan mencium kakimu

Ibu pun mendekapnya seperti dulu
Walau tanpa air mata, Ibu takut kehilangan dia

Izinkan dia pergi berjuang, Ibu...
Di ujung perginya, dia pasti kembali
Menantilah dengan doa panjangmu

08 Oktober 2008

Gaya Bahasa dalam Lirik Lagu "Ibu" Karya Iwan Fals


Pengantar:

Ketika masih berdinas di Madura, saya pulang ke Malang setiap hari Kamis. Dan setiap hari Kamis pula saya mendengar lagu Ibu yang dinyanyikan oleh seorang pengamen dalam bus antarkota. Pengamen yang sama, dengan lagu yang sama, pada hari yang sama, dan pada tempat yang sama, selama 7 tahun. Setiap mendengar (menikmati) lagu itu, saya juga mengalami perasaan yang sama, sedih, terharu, lalu menangis. Bagi saya syair dan lagu tersebut seolah mengguyur kerinduan tentang seorang ibu.
Selasa, 29 September 2008: Saya diberi hadiah teks lagu ini oleh sahabat blogger bernama Jefry di sini
(Terima kasih teman...)

Dan sekarang, saya mengupasnya berdasarkan unsur gaya bahasa (figurative language).

1. Metafora

Gaya bahasa perumpamaan langsung tanpa menggunakan kata seperti, laksana, bagaikan, dsb. untuk mengungkapkan pencitraan tertentu.
Dalam menjalani kodrat dan tanggung jawab terhadap anak, seorang ibu diumpamakan menempuh perjalanan ribuan kilo meter jauhnya. Pada kenyataannya bahkan lebih, seandainya setiap langkah ibu dihitung dan diukur. Apalagi dalam lirik ini tokoh Ibu digambarkan sebagai sosok sederhana, pekerja keras, menderita, dan tergolong multiproblem.

/Ribuan kilo jalan yang kau tempuh/

Perjalanan hidup ibu tidaklah mulus tanpa hambatan. Kesulitan dan penderitaannya dimetaforkan dengan rintangan, yaitu sesuatu yang menghalangi, mengganggu, mengusik, atau menghadang sehingga menghambat kelancaran perjalanan. Semua dilewati demi anak, demi kesehatannya, kebahagiaannya, pendidikannya, dan keberhasilannya. Ibu rela berkorban, mengorbankan kepentingannya, bersedia menderita demi kebahagiaan anaknya.

/Lewati rintangan untuk aku anakmu/

Walaupun rintangan mengahadang, kesulitan hidup tak terelakkan, Ibu pantang putus asa menjalani kehidupannya, terus berjalan.

/Ibuku sayang masih terus berjalan/
...


2. Hiperbola

Gaya bahasa yang menggunakan pernyataan dibesar- besarkan, baik jumlah,ukuran maupun sifatnya, dengan maksud memberi penekanan intensitas.
Guna memberi penekanan betapa besar perjuangan dan penderitaan Ibu, penulis menggunakan perumpamaan telapak kaki berdarah dan bernanah. Dan Ibu tetap menjalaninya.

/Ibuku sayang masih terus berjalan/
/Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah/


3. Simile

Gaya bahasa perumpamaan yang menggunakan kata seperti, laksana, bagaikan, dan sejenisnya, untuk membandingkan antara objek yang digambarkan dengan pilihan kata yang digunakan.
Kasih sayang Ibu yang diberikan kepada anaknya digambarkan seperti udara, dibutuhkan, esensial, vital, banyak tak terbatas, dan tanpa bayar. Tak ada seorangpun yang sanggup membayar, membalas, atau mengganti kasih sayang Ibu.

/Seperti udara... kasih yang engkau berikan/
/Tak mampu ku membalas...ibu...ibu/


Ada imaji visual bahwa dalam konteks ini Ibu dan anak terpisah jarak. Ada kerinduan, perasaan yang tak terperi, sehingga anak ingin dekat dan menangis di pangkuan Ibu. Sampai tertidur, bagai masa kecil yang indah dan damai.

/Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu/
/Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu/


Setiap kata dan nyanyian Ibu adalah doa yang terindah untuk anaknya. Bagai obat luar yang membalur tubuh. Bagai selimut hangat yang meninabobokan.

/Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku/
/Dengan apa membalas...ibu...ibu..../


Setiap desahan nafas, sepanjang hayat, doa dan kasih sayang Ibu menebar seperti udara ke seluruh atmosfer kehidupan bahkan sampai ke alam baka. Tak ada yang mampu membalas kasih sayang Ibu.

/Seperti udara... kasih yang engkau berikan/
/Tak mampu ku membalas...ibu...ibu/


*****
Berikut teks lagu Ibu karya Iwan Fals

Ibu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

Lewati rintangan untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah



Seperti udara... kasih yang engkau berikan

Tak mampu ku membalas...ibu...ibu



Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu

Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku

Dengan apa membalas...ibu...ibu....



Seperti udara... kasih yang engkau berikan

Tak mampu ku membalas...ibu...ibu

26 September 2008

Akhirnya Berkumpul Juga...

Waktu yang kunanti tiba juga, Lebaran. Bukan hanya karena Lebaran, tetapi saat itulah kami berlima bisa berkumpul kembali di "rumah tua", rumah tempat kami bersama sejak mengenal dunia. Entah berapa kali lebaran kami tidak pernah lengkap. Kini Kami akan kembali ke hangatnya sarang. Mas Bam tentu meninggalkan tanah yang terpencil. Dan Dik Agus mendapatkan cuti dari Bumi Panorama SECAPA Bandung. Mbak Dara dan si Bontot memang telah menjadi penghuni rumah tua, tak perlu dinanti, mereka berdua selalu siaga satu.
Semua yang menjalani hidup bersama aliran sungai kehidupan kini menyatu di titik muara. Perahu-perahu hayati sedang bersandar di pelabuhan teduh. Damai bersama kicauan burung Tit Tituit yang selalu menjerit-jerit "Tiiiiiit...Tituiiiit...." di belakang rumah kami. Mengingatkan sebuah komitmen untuk menjadi saudara yang solit, seperti pesan almarhum Bang Drago, kakakku yang telah pergi...






25 September 2008

Kabar dari Desa


Lamongan di puncak kemarau:
Jati yang ditanam kakakku dibelakang rumah meranggas, meluruhkan daun-daunnya.
Pohon kurma depan rumah terbakar kembang api anak-anak.
Buah randu pecah,menyembulkan kapuk beterbangan, putih... berbaur dengan angin zat asam panas menghempas debu-debu dan hinggap di atas sisa dedaunan.
Bunga-bunga kamboja bermunculan di ujung reranting tak berdaun, putih...
Hanya langit yang selalu tampak membiru di balik batang-batang kerontang
Sementara...
Sepasang bunga bangkai mini tumbuh di dekat rumpun bambu.
Dan...
Orang-orang berpuasa kehabisan air ludah, kering...
Yang sungguh menakjubkan, bumi pecah-pecah diukir menjadi permadani hijau bernama tembakau.
Luas...berbatas pandangan mata.
Air siramannya bercampur keringat yang mengucur dari tubuh legam berkilat-kilat.
Duhai... sempurnalah perjuanganmu petani di tanah gersang.

Itulah lukisan wajah alam yang selalu indah bagiku
Keluh dan kesahnya bagai nyanyian rindu yang bergenderang di hatiku, syahdu...





16 September 2008

Kematian Seharga Rp 30.000

Senin, 15 September 2008 di Pasuruan, Jawa Timur.

Hatiku berdebar-debar menahan rasa sedih, iba, dan prihatin. Ribuan orang berdesakan, berteriak, menjerit, menangis, histeris, merintih, mengerang, mengeluh, berpeluh, terinjak-injak, tak bisa bernapas, terluka, dan 21 orang meninggal dunia. Ribuan orang miskin berebut zakat sebesar 30 ribu rupiah dari seorang muzakkiy. Di tengah bulan Ramadhan yang suci, ketika mereka sedang menahan lapar dahaga. Mereka antre, berdesakan, untuk menjemput kematiannya sendiri.
Aku hanya punya hati, simpati, dan empati: tak kuasa berbuat lebih. Untuk mereka: aku hanya bisa memberi doa dan mengenangnya dalam tulisan ini.
Tuhan... Engkau Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Jika dalam kehidupan belum Engkau penuhi dahaga hamba-Mu, berikanlah dalam kematian, dan masa setelah itu. Buruk menurut kami belum tentu buruk menurut-Mu, begitu pula sebaliknya...


Dalam Islam: memberi yang baik adalah dengan cara mengantarkannya kepada yang berhak. Namun jika tidak memungkinkan karena sesuatu hal, percayakan kepada BAZ (Badan Amil Zakat) atau LAZ (Lembaga Amil Zakat). Atau sebagian disalurkan sendiri untuk yang berhak, yang berada di sekitar tempat tinggal. Tidak ada alasan untuk tidak mempercayai badan / lembaga tersebut. Jika telah berniat memberi, hendaknya bertawakal kepada Allah swt. Jangan sampai perbuatan baik itu berbaur dengan riya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
(Al Baqarah:264)

Dengan kejadian pilu tersebut jangan sampai membuat orang berhenti berzakat, baik zakat fitrah, zakat harta, maupun zakat buah-buahan. Zakat merupakan salah satu Rukun Islam.

Perintah Berzakat

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (Al Baqarah: 110)

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (Al An'aam:141)

Azab Orang Tidak Berzakat

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Ali Imran: 180)
Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu." (At Taubah: 35)

11 September 2008

Dialog dengan Tuhan (1)

Suatu malam saya pernah berkeluh kesah dengan-Nya. Kira-kira setahun yang lalu di awal musim hujan. Saya abadikan momen itu dalam larik-larik sebagai berikut:

Tuhan...

Sepenuhnya aku yakin hidupku dalam genggaman-Mu.
Sebagaimana aku percaya matiku dalam suratan-Mu.
Dan aku jalani qodar-Mu seiring terbit dan tenggelamnya matahari.
Sungguh banyak asa yang kugantungkan pada-Mu, setiap waktu.
Namun lebih banyak lagi nikmat yang Engkau tebarkan.
Sampai aku tak sanggup mengumpulkan dalam catatan hidupku.
Berjalan aku menuju arah Kau tempatkan belas kasih-Mu.
Dan berdialog dengan-Mu serasa Engkau sedekat urat leherku.
Walau tak pernah kudengar jawabmu, tapi Engkau dengarkan rintihanku.
Tuhan...



Masih ada harapan yang tak kunjung padam.
Masih ada mimpi yang Kau rahasiakan.
Maafkan aku Tuhan...
Tak pernah aku belajar curiga kepada-Mu.
Dan tak sedikitpun aku meragukan janji-Mu.
Aku telah belajar untuk menjalani hidup ini dengan ikhlas.
Jika aku tenggelam bersama matahari dan tak terbit esok pagi
Jangan Kau biarkan aku merana.
Dan mereka, yang di dalam tubuhnya mengalir darahku.

Malang, 18 Oktober 2007

06 September 2008

Sapardi Djoko Damono di BBY

Seorang teman, Peneliti Madya dari Balai Bahasa Yogyakarta (BBY), Herry Mardianto, mengabari saya tentang rencana kehadiran Sapardi Djoko Damono (SDD). Mendengar nama sastrawan “gaek” tersebut, seketika angan saya flash back ke masa kuliah dahulu. Dalam pencitraan visual, SDD adalah sastrawan yang pada sekujur tubuhnya bertuliskan: Aku Ingin Aku Ingin Aku Ingin Aku Ingin Aku Ingin ... Saya pernah menulis sajak SDD tersebut di bagian dalam cover buku mata kuliah Apresiasi Prosa Fiksi dan Drama. Bagi saya SDD identik dengan sajak Aku Ingin. Sajak itu seolah cerminan isi hati saya yang takut terhadap perasaannya sendiri. Perasaan yang tak kuasa untuk diucapkan kepada seseorang karena takut kehilangan sucinya persahabatan. Cinta yang tak sempat tersampaikan.
Berikut sajak tersebut...

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

...

Balai Bahasa Yogyakarta sebagai lembaga pemerintah yang bertugas melaksanakan program pembangunan nasional di bidang kebahasaan dan kesastraan, sangat peduli dan komit terhadap kemajuan dan kelestarian bahasa dan sastra. Kedatangan Sapardi Djoko Damono tersebut atas prakarsa BBY dalam peringatan Bulan Bahasa Nasional Oktober 2008.
Ketika berkumpul dalam komunitas pecinta bahasa dan sastra, ada energi besar yang menekan dan mendorong jiwa untuk selalu berkarya. Rasanya ingin datang ke Yogya tapi tidak mungkin. Selain karena jauh dari Malang juga karena banyaknya tugas yang tidak bisa saya tinggalkan. Saya menunggu liputannya di www.balaibahasa.org
Terima kasih BBY, kepadamulah idealisme dan obsesi saya terwakilkan. Terus berjuang demi majunya bahasa dan sastra Indonesia serta bahasa dan sastra daerah. Berjuanglah menyemai benih cinta di hati masyarakat sehingga tumbuh buliran sastra yang bertangkai puisi, berdaun prosa, dan berakar naskah drama. Begitu suburnya dengan media bernama bahasa. Amboi... alangkah indahnya hidup ini!

04 September 2008

Keperawanan

Dari sahabat Sarikata

Membahas Masalah Keperawanan (virginitas) sampai saat ini masih menjadi suatu permasalahan yang sangat urgen dan slalu diperdebatkan, terlebih lagi setelah saya membaca tentang seorang laki-laki muda yang bertanya pada dokter pengasuh rubrik kesehatan di sebuah website. "Dok, mengapa di malam pertama istri saya tidak mengeluarkan darah ya? Apakah istri saya sudah tidak perawan?"


Jawaban sang dokter ternyata sangat menarik dan sangat bijak. Ia memulainya dengan kalimat, "Berapa liter darahkah yang Anda butuhkan untuk meyakinkan diri bahwa istri Anda masih perawan?" Selanjutnya dokter itu menjelaskan bahwa robeknya selaput dara tidak harus ditandai dengan perdarahan. Selaput dara atau dalam bahasa medisnya dikenal sebagai hymen, adalah membran tipis yang sebenarnya secara biologis tidak berfungsi namun mempunyai beban kultural dan psikologis yang sangat berat bagi wanita. Utuh tidaknya selaput ini akan menentukan langgeng tidaknya ikatan perkawinan bagisebagian orang. Ditambah lagi pemahaman banyak orang mengenai selaput dara yang cenderung berbau mitos ketimbang faktanya.Berdasarkan penelitian terhadap pasien yang datang di Klinik Pasutri Dokter Boyke Dian Nugraha menunjukkan 83 persen laki-laki menghendaki calon istrinya masih perawan. Kemudian dokter Boyke berkata "Saya sempat kaget sebab persentase demikian tinggi. Pria Indonesia cenderung munafik, mereka menginginkan calon istrinya masih perawan. Padahal mereka pula yang merusak keperawanan wanita," kata dr. Boyke Dian di sela-sela seminar nasional Problema dan Realitas Seks Masa Kini yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Unsoed.Kata perawan (dalam kamus bahasa Indonesia), atau virgin (dalam bahasa Inggris), maupun bikr (dalam bahasa Arab) mempunyai arti seseorang yang belum pernah disentuh atau belum pernah menikah dan belum pernah berhubungan seks dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Dan kata perawan dalam bahasa indonesia bersinonim dengan kata gadis yang mempunyai arti yang sama, namun jika diteliti, ternyata kata gadis tersebut berasal dari bahasa Arab yang berarti suci, atau keperawanan adalah lambang kesucian dari seorang wanita. Yang menjadi permasalahan saat ini adalah keperawanan yang selalu diidentikkan dengan pecahnya selaput dara yang telah menjadi mitos di masyarakat, padahal faktanya secara medis, robeknya selaput dara tidak harus diikuti dengan keluarnya bercak darah. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya:

1.Terlalu rapuh.
Bisa jadi selaput dara itu sudah robek sebelumnya karena terlalu rapuh. Beberapa jenis olahraga seperti berkuda, bela diri, bersepeda dan sebagainya bisa menjadi penyebab robeknya selaput darah. Apalagi kalau selaput daranya termasuk jenis yang rapuh.

2.Terlalu elastis.
Tidak adanya bercak darah di malam pertama mungkin saja disebabkan belum robeknya selaput darah karena sifatnya sangat elastis. Harap diketahui, membran ini sangat fleksibel. Pada beberapa kasus ditemukan bahwa elastisitas selaput dara memungkinkannya tidak robek pada waktu pertama kali berhubungan seksual. Bahkan ada yang baru koyak setelah wanita tersebut melahirkan!

3.Darahnya tidak banyak.
Atau bisa saja sebenarnya keluar bercak darah, tapi karena sangat sedikit sehingga tidak mudah terlihat oleh mata. Banyak orang yang mengira kalau selaput dara robek akan keluar banyak darah. Padahal karena sedemikian tipisnya, selaput dara yang robek tidak selalu menyebabkan keluar darah dalam jumlah banyak.

4.Tidak punya selaput dara.
Perkembangan teknologi memungkinkan dilakukannya penelitian tentang selaput dara secara mendalam. Hasilnya ternyata sangat mengejutkan karena dalam penelitian yang dilakukan para seksolog ditemukan beberapa perempuan yang sejak lahir memang tidak memiliki membran ini. Pada kasus ini keberadaan selaput dara tidak selalu membuktikan bahwa perempuan belum pernah melakukan hubungan seksual masih teruji kegadisannya.

MACAM-MACAM BENTUK SELAPUT DARAH

Ternyata tidak hanya tubuh yang bisa dilihat bentuknya, selaput dara pun mempunyai bentuk dengan derajat kelembutan dan fleksibilitas yang berbeda-beda. Semuanya bersifat individual, seperti penelitian yang dilakukan Frank H. Netter, MD. yang termuat dalam bukunya The Human Sexuality. Menurutnya ada bermacam bentuk selaput dara, yaitu:

a. Annular Hymen, selaput melingkari lubang vagina.
b.Septate Hymen, selaput yang ditandai dengan beberapa lubang yang terbuka.
c. Cibriform Hymen, selaput ini juga ditandai beberapa lubang yangterbuka, tapi lebih kecil dan jumlahnya lebih banyak.
d. Introitus, pada perempuan yang sangat berpengalaman dalam berhubungan seksual, bisa saja lubang selaputnya membesar, namun masih menyisakan jaringan selaput dara.

Keperawanan (Virginitas) dalam kaca mata orang Timur, lebih merupakan persoalan kultural. Hanya saja ada ketimpangan atau ketidakadilan gender disitu, dimana perempuan cenderung dipojokkan dan dituntut untuk menjaga keperawanannya, sementara laki-laki tidak pernah dipermasalahkan keperjakaannya. Virginitas kemudian menjadi sebuah mitos yang sangat sakral, sehingga seolah-olah jika perempuan tidak virgin (perawan) lagi, habislah seluruh harapan hidupnya. Oleh sebab itu, soal selaput dara tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran moral untuk menentukan baik-buruknya seorang perempuan, sebab bisa jadi ia tidak virgin karena mungkin diperkosa, padahal di situ cenderung dalam posisi lemah, atau mungkin berolah raga dan lain sebagainya. Sehingga sangatlah naif dan tidak adil, jika mengukur moralitas hanya semata-mata kerena ia tidak perawan, yang biasanya ditandai oleh robeknya selaput darah. Kalau virginitas itu disebabkan oleh karena ia melakukan seks bebas sebelum pra nikah, barangkali umumnya orang sepakat, dan khususnya kultur orang Timur akan mengatakan bahwa hal itu merupakan aib (kekurangan).

Namun mestinya stigmatsiasi seperti itu juga harus diberikan kepada kaum laki-laki, sehingga lebih adil. Oleh sebab itu, harus ada pergeserananggapan yang lebih berkeadilan gender. Artinya bahwa tuntutan untuk menjaga kesucian sebelum pra nikah harus secara adil diberikan baik kepada kaum laki-laki, tidak hanya perempuan. Memang untuk merubah pola pikir seperti ini tidak mudah, sebab mitos mengenai keperawanan itu sudah mengoyot (deep rooted) dalam pikiran, budaya dan kultur masyarakat kita. Tidak berlebihan kiranya jika dikatkan bahwa masalah keperawanan nampaknya lebih merupakan persoalan kultur, dimana aroma patriarkhinya sangat kental. Ia kemudian menjadi mitos yang cenderung merugikan perempuan. Seolah perempuan kalau sudah tidak perawan lagi dengan serta merta diklaim sebagai perempuan yang tidak baik dan tidak bisa jadi harapan menjadi istri yang baik. Akibatnya perempuan akan selalu merasa bersalah dan rendah diri dihadapan laki-laki jika kehilangan selaput daranya. Anehnya tuntutan seperti itu hampir tidak pernah diberikan kepada laki-laki. Mungkin karena alat kelamin laki-laki yangsulit dideteksi secara medis. Namun bukankah yang menyebabkan tidak virgin karena hubungan seks juga laki-laki? Jadi, kultur patriarkhi itulah sebenarnya yang sangat mendominasi mempermasalahkan soal keperawanan perempuan. Sebagai akibatnya soal keperjakaan seolah diabaikan sama sekali. Sampai-sampai kadang jika lelaki menikahi perempuan yang tidak perawan lagi, ia merasa tidak marem, ada something loss dalam dirinya.
Pandangan seperti ini jelas tidak adil dan sudah selayaknya direkonstruksi.Oleh karenanya perlu dibongkar dengan wacana yang lebih berkeadilan gender. Sehingga seandainya laki-laki mau menikah dengan perempuan, mestinya tidak perlu hanya terjebak kepada persoalan keperwanan, apakah selaput daranya masih utuh atau tidak, sebab boleh jadi calon istrinya seorang janda. Memangnya laki-laki mau menikah dengan selaput dara? Oleh sebab itu, bagi kaum laki-kali, hendaklah bisa memandang kaum perempuan secara lebih utuh dan tidak parsial. Karena cara pandang seperti itu merupakan cara pandang yang lebih manusiawi dan merupakan salah satu bentuk penghargaan kepada kaum perempuan.

Walaupun perdarahan di malam pertama bisa menjadi bukti bahwa wanita tersebut masih perawan (virgin), tapi tidak tertutup kemungkinan beberapa wanita yang lihai dan sangat berpengalaman dalam berhubungan seksual, masih tetap mengeluarkan bercak darah karena sisa selaput darah yang terluka, sehingga ia terkesan masih virgin.Pendek kata, keperawanan adalah masalah kepercayaan. Seorang wanita yang selaput daranya robek karena olahraga dan tidak mengeluarkan darah di malam pertama, apakah bisa dicap sudah tidak gadis lagi? Sedangkan di sisi lain, ada wanita yang "lebih beruntung", walaupun sudah berhubungan seksual berulang kali namun di malam pertama masih keluar darah karena adanya sisa selaput dara yang terluka.

Apakah adil pelebelan perawan dan tidak perawan pada kasus di atas. Sekali lagi, keperawanan adalah masalah kepercayaan. Bila kehidupan rumah tangga sudah sedemikian bahagianya, apalagi dengan hadirnya sang buah hati, masih memusingkan darah yang tidak "tertumpah" di malam pertama? Mitos tentang selaput dara memang tidak semuanya sesuai fakta.

KEPERAWANAN DI MESIR DAN NEGARA ARAB

Di mesir, keperawanan adalah benar-benar dijadikan sebagai lambang kesucian dari seorang wanita, tidak heran jika banyak wanita di Mesir yang diceraikan pada malam pertama. Biasanya dan sudah menjadi adat orang-orang Mesir, setelah melangsungkan aqad dan resepsi perkawinan, sebelum memasuki kamar, kedua mempelai ditemani oleh 2 orang saksi yang setia menunggu di depan pintu, bilamana sang pria tiba-tiba keluar dan melaporkan ketidak-perawanan sang istri, hal itu kemudian diperiksa oleh saksi, dan jika hal itu benar, maka si wanita dicerai pada saat itu juga dan lebih menyedihkan lagi, sang wanita harus mengembalikan semua mahar.
Hal ini jelas sangat merugikan kaum wanita. Namun dengan kemajuan zaman, tradisi tersebut sedikit demi sedikit mulai terkikis nilai-nilainya dalam masyarakat perkotaan.Hal yang sama juga, tidak hanya terdapat dalam tradisi dan adat orang mesir saja, melainkan juga dapat ditemukan di sebagian besar negara-negara Arab, seperti Syria, Tunis dll. Dengan kata lain, keperawanan itu sangatlah penting buat wanita-wanita Arab, dan dalam adat mereka, adalah aib yang sangat besar, jika pengantin wanita tidak perawan lagi, sehingga tidak mengherankan jika wanita Arab yang boleh dikategorikan sebagai wanita yang bergaul bebas atau nakal, tidak akan menyerahkan keperawanannya meskipun terdesak, kalaupun tergoda dan nafsu, mereka akan meminta dengan sangat agar boleh melaukakan apa saja asal tidak mengambil keperawanannya, ataupun mereka lebih memilih untuk bersenang-senang melalui dubur demi terjaga keperawanan mereka.

PANDANGAN ISLAM

Lantas bagaimanakah pandangan Islam tentang keperawanan? Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah yang dikatakan kaya itu dengan banyaknya harta seseorang tetapi yang dikatakan kaya adalah mereka yang kaya jiwanya." karena salah satu penyakit hati adalah " Hubbuddunya "(cinta akan dunia).Dalam sebuah riwayat dikatakan, ketika seorang sahabat yang masih bujangan itu ingin menikah apa yang ditanya Rasulullah padanya? Apakah ia perawan atau janda?, Jawab sahabat tersebut " Sudah Janda ", Apa jawab Rasulullah ketika itu? Kenapa tidak kamu nikahi yang masih perawan, agar bisa kamu mainkan.".Jadi disini kita melihat zaman Rasulullah (mohon jangan dilihat pernikahan Rasulullah dengan para istrinya, beliau menikah dengan janda kebanyakan dan satu gadis, karena ini adalah kekhususan beliau, jangan ada yang bilang, Rasulullah saja bujangan menikah dengan janda, sementara ketika ia sudah menikah, masih milih yang perawan, yaitu 'Aisyah).Jangan melihat di sana, tetapi lihat hadits perkataan Rasulullah dalam hal ini, menganjurkan agar lelaki bujangan memilih yang masih perawan. Kalau ingin menikahi yang janda dengan tujuan baik, ingin menolong, silahkan saja.Dari semua uraian di atas, jelaslah bahwa keperawanan (virginitas) seorang wanita sangtlah penting, yang merupakan lambang kesucian dari seorang gadis, Namun yang menjadi permasalahan yang sedikit keliru adalah, virginitas tersebut diidentikkan dengan selaput dara,yang sangat merugikan kaum hawa. Padahal keperawanan bukanlah jaminan bahagianya atau langgengnya rumah tangga. Olehnya itu, dalam masalah ini, Kepercayaan, keterbukaan dan pengertianlah yang harus dijadikan sebagai tolak ukur dalam menghargai keperawanan di dalm menciptakan dan membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Semoga bisa memberi masukan kepada semua sahabat yang ada.
Wanita diberi banyak keistimewaan secara fisik yang harus disyukuri dan dijaga namun adakalanya keistimewaan itu digunakan untuk membatasi wanita itu sendiri.Keistimewaan itu juga bisa disalahgunakan dengan dalih karena kau wanita yang perlu dilindungi (oleh pria biasanya).Wanita jelas berbeda dengan pria, dan hanya berdasarkan kodrat makanya ia berbeda dengan pria..
Kodrat di sini adalah apa yang diberikan Tuhan kepada wanita yang tidak dimiliki pria. Mengalami menstruasi,hamil, melahirkan dan menyusui (ini kodrat wanita yang pria tidak punya!)jika soal keperawanan, apakah pria juga tidak punya? jika wanita harus dituntut selalu menjaga keperawanannya, lantas bagaimana dengan pria?(Walaupun menjaga kehormatan wanita adalah wajib, namun tidak perawannya seorang wanita bukan hanya karena berhubungan badan atau perbuatan hina lainnya).
Saya teringat sebuah penelitian kecil sewaktu masih kuliah dulu. Bersama beberapa teman, kami mengadakan survey kecil tentang pandangan terhadap virginitas. Hasilnya ternyata ada standar ganda, yaitu virginitas harus dijaga wanita sebelum dia menikah (entah nantinya dia menikah dengan seorang laki-laki yang juga masih perjaka tulen atau tidak tulen). yang anehnya, pikiran seperti ini dimiliki pria dan wanita yang menjadi responden survey kecil-kecilan itu. sederhananya begini,, pria boleh tidak perjaka tapi harus dapat wanita yang masih virgin, sementara hal sebaliknya tidak berlaku bagi para wanita (ini menurut survey itu loh..).Apa yang bisa kita petik dari sini? ternyata ada standar ganda dalam memandang masalah ini.Yang menggelitik adalah, kenapa wanita-wanita yang menjadi responden itu juga berpikiran yang standar ganda padahal ini menyangkut nasib mereka? Jawabannya adalah karena sejak lama wanita sudah berpikir dan memandang dirinya sebagaimana para pria memandang mereka (oto subyektif), dan ini adalah kinstruksi sosial yang dibangun sejak lama. Kita wanita hidup di dunia yang khas laki-laki paternalistik). Keperawanan adalah hal yang terberi (anugerah Tuhan, kalau mau dibilang demikian--karena pada dasarnya pria juga dianugerahi keperjakan bukan..?). menjaga keperawanan adalah pilihan, bukan kodrat (kalau kodrat berarti pria juga harus dong!). Artinya karena itu pilihan maka selayaknya sebuah pilihan pasti ada konsekuensinya. jika wanita dan pria sama-sama dituntut untuk menjaga virginitasnya, maka persoalannya akan mungkin lebih sulit untuk seorang wanita. sebab kadang-kadang keperawanan sering diidentikkan dengan bukti cinta (demi cinta, serahkan keperawananmu, buktikan bahwa kau cinta aku..!). memang tidak semuanya begitu, tapi banyak kan yang begini ceritanya... ? atau mungkin juga karena virginitas lebih mudah pembuktiannya pada wanita dibanding pria. Akhirnya kembali lagi, HIDUP INI PILIHAN SAYANG....!! ! cuma memang kadang-kadang pilihan-pilhan itu diberikan dalam posisi yang tidak seimbang antara wanita dan pria.Semoga dapat menjadi inpirasi siapa saja dan barmanfaat.Bahan renungan buat wanita- yang wanitalah yang jadi korban wanita makhluk yang diciptakan alloh dengan segala keindahan, di lihat dari sisi manapun, mau dari depan, dari belakang, dari samping, pasti menarik, tidak ada yang tida menarik.itulah kelebihan wanita, apalagi yang kulitnya putih, rambutnya panjang terurai, paling enak tuk di belai.wanita makhluk yang teristimewa di dunia ini, sebab surga saja ada di telapak kakinya, surga ada di telapak kaki ibu dan ibu itu adalah seorang wanita, wanita sangat di muliakan dan di beri banyak keistimewaan salah satunya jika ia mengandungg anak dan melahirkan trus dia meninggal ketika berjuangan melahirkan anak, hal itu sudah jadi pahala jihad dan surga menantinya di depan mata.

Wanita di berikan makhota oleh Yang Mahakuasa yaitu mahkota keperawanan, hal ini yang harus di jaga, di rawat dengan sangat baik, dan suatu saat nanti ketika menikah diberikan kepada yang hak, yang di ridhio Alloh dan orang tua. Namun sangat menyedihkan melihat pergaulan saat ini, begitu mudahnya keperawanan di berikan kepada yang tidak hak, pacaran yang terlalu lama membuat mereka merasa memiliki dan saling memberikan yang dilarang, akhirnya wanitalah yang menderita karena selalu ada bekasnya...

Jagalah apa yang dititipkan kepadamu wanita....menyesal tak ada gunanya karena nasi sudah menjadi bubur sebelum semuanya rusak...karena setan sangat kuat tak sedikit yang sampai berani menanggalkan pakainya hanya demi cinta yang buta..cinta kepada yang bukan haknya

Puisi dari Seorang Teman

Cakram Rindu

Kita pun sering berlarian di antara mimpi, kenyataan, dan harapan yang sering tak terduga dan terkadang ngayawara. Antara kesangsian dan sorga hanya ada satu kata: "kerinduan". Dan perputaran hidup yang bagai gasing adalah sebuah cakram yang terus setia mengintai dan menjaga kemanapun kita berpaling.
Kerinduan terkadang menjelma sebagai sebongkah impian tanpa batas. Ia berlari dari tepi hati ketepi telaga sunyi. Seperti "kau" yang juga tak terjaring di garis tapal batas keheninganku.
***********************
Mau membaca lebih banyak? Klik di sini


Puisi di atas karya Herry Mardianto
dari Balai Bahasa Yogyakarta.

03 September 2008

Marhaban Yaa Ramadhan

Selamat datang bulan Ramadhan 1427 H. Bulan terbaik dari semua bulan. Bulan keagungan yang penuh hikmah, berkah, rahmah dan ampunan. Bulan peperangan berat melawan musuh terberat manusia - hawa nafsu.

Bulan yang agung, tempat nafas kita menjadi tasbih, tidur kita menjadi ibadah, amal kita diterima dan do’a kita diijabah,

Juga...
Bulan ujian, apakah kita masih tetap bekerja sambil tersenyum tanda ikhlas?

Mari kita sambut dengan suka cita. Jalani puasa dengan penuh iman, ikhlas, dan sabar. Semoga menjadi hamba yang dicintai-Nya.



Elok kicauan burung kutilang, siang dan malam di pohon durian
Bulan Ramadhan telah datang, khilaf dan salah mohon dimaafkan

Berharap padi dalam lesung, yang ada cuma rumpun jerami,

harapan hati bertatap langsung, namun hanya terlayang di web ini.

Sebelum cahaya surga padam, Sebelum hidup berakhir,
Sebelum pintu tobat tertutup, sebelum Ramadhan berakhir,
Mohon maaf lahir dan bathin….
Taqobalallahu Minna Waminkum, Taqobal Ya Karim

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1427 H



29 Agustus 2008

Aku Terpenjara

Aku terpenjara di antara warna itu
Putih..............................................
Gelap............................................
Gelap namun tak hitam
Tak hitam tapi tak kuasa memandang
Mataku seolah buta karenanya


Alam yang luas itu seketika sempit
Hanya aku, hanya aku
Objek pandang yang tertangkap oleh sorot mataku sendiri
Ke mana arah?
Hanya putih,
Dingin...........................................
Makin sadarkan bahwa diriku tak kuasa
Takut.............................................
Seolah tlah datang janji-Mu
Tatkala bumiku berpijak Kau gulung dari hamparan
Masa yang mengerikan
Karena kutahu
Bahwa diriku belum pandai meraih cinta-Mu
Tuhan,
Aku terpenjara

Embun

(Pencerahan dari seorang teman maya)

Ilmu Untuk Diamalkan
Setelah saya memperhatikan, hanya sedikit para ulama dan kalangan terpelajar yang mempunyai kesungguhan. Di antara tanda kesungguhan adalah mencari ilmu untuk beramal, sementara kebanyakan dari mereka menjadikan ilmu hanyalah sebagai alat untuk mencari pekerjaan dan mengejar kedudukan.
....


Mereka berbondong-bondong mencari ilmu agar diangkat menjadi hakim atau hanya ingin membuat dirinya sekadar berbeda dari orang lain dan merasa cukup dengan hal itu. (Imam Ibnu al-Jauzy).

Ilmu yang Bermanfaat
Marilah kita memohon kepada Allah ilmu yang bermanfaat untuk kita, karena itulah sumber pengetahuan yang baik. Tatkala kita memiliki ilmu yang berguna, kita pasti mengenal Allah dengan cara yang benar dan kita akan tergerak untuk bekerja sesuai dengan syariat-syariat-Nya dan dengan cara yang diridhai-Nya.
Kita pun akan senantiasa dituntun kepada jalan keikhlasan. Asal-muasal segala sesuatu adalah ilmu, dan ilmu yang paling bermanfaat adalah melihat/ membaca perjalanan hidup Rasulullah dan para sahabatnya.
Allah berfirman, "Mereka adalah orang-orang yang Allah beri petunjuk, maka ikutilah jejak hidayah mereka." (QS. al-An’am [6]: 90). (Imam Ibnu al-Jauzy)

Instrospeksi Diri
Kekurangan dan kelebihan seseorang akan tampak jika kita terus-menerus menginstropeksi diri. (Imam Ibnu al-Jauzy)Imam Ibnul Qayyim pernah membahas firman Allah Swt. yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang ia lakukan untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan." (QS. Al-Hasyr: 18).

Imam Ibnul Qayyim mengatakan, bahwa perintah Allah dalam ayat tersebut mengandung anjuran kepada setiap orang untuk dua hal. Pertama, mengevaluasi diri masing-masing. Dan kedua, melihat dan menghitung apakah perbekalan yang telah ia persiapkan di dunia sudah cukup saat ia bertemu dengan Allah atau belum.

Jangan Berputus Asa
Janganlah berputus asa karena ia bukan akhlak kaum muslimin. Hakikat hari ini adalah impian hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan hari esok. Kesempatan masih luas dan unsur-unsur kebaikan masih kuat dan besar dalam jiwa kalian yang mukmin, meskipun tertutupi oleh berbagai fenomena kerusakan. Yang lemah tidak selamanya lemah, dan yang kuat tidak selamanya menjadi kuat. (Imam Hasan al-Banna)

Jiwa yang Senantiasa Sadar dan Waspada
Andaikata jiwa terus sadar dan waspada, maka ia akan terus melakukan yang terbaik. Jika tidak, maka ia akan terjebak pada perasaan bangga, ketakaburan, dan sikap meremehkan orang-orang lain. Akhirnya, ia akan berkata, "Aku telah memiliki segalanya, aku berhak untuk berbuat apa saja!" Orang seperti itu akan membiarkan hawa nafsunya terjun ke dalam dosa-dosanya. Padahal, kalau saja ia berdiri di pantai kerendahan hati dan jiwa pengabdian pada Allah, akan selamatlah ia. (Imam Ibnu al-Jauzy).

Kebijaksanaan Orang-Orang Bijak
Di antara kebijaksanaan orang yang bijak, hendaknya ia memberi keleluasaan hukum kepada temannya, sedang untuk dirinya memilih hukum yang sempit. Sebab, keleluasaan bagi mereka sebagai bentuk penyertaan ilmu. Sedangkan penyempitan untuk dirinya sendiri sebagai aturan wara’. (Imam Ruwaym bin Ahmad)

Kendala yang Dihadapi Orang yang Menuju Allah
Kendala pertama yang dihadapi oleh orang yang menuju Allah adalah kendala ilmu (Imam al-Ghazali)
KeberanianKeberanian yang terpuji adalah didasari ilmu dan perhitungan, bukan tatawwur (nekat dan ngawur). Karena itu, orang yang kuat dan perkasa adalah orang yang mampu mengendalikan diri ketika marah hingga dapat melakukan yang mengandung kemaslahatan dan meninggalkan yang tidak mengandung maslahat. Sedangkan orang yang emosional bukanlah pemberani dan juga bukan orang kuat. (Imam Ibnu Taimiyah)

KemenanganSesungguhnya sebuah pemikiran (fikrah) akan menang bila keimanan padanya kuat, keikhlasan untuk memperjuangkannya terpenuhi, semangat untuk menegakkannya bertambah, dan kesiapan untuk berkorban dan beramal untuk merealisasikannya selalu tersedia. (Imam Hasan al-Banna)

Kekuatan Niat dan Motivasi
Jika seseorang datang ke sebuah majelis, hendaknya ia hadir bukan karena lapar, tetapi atas niat dan motivasi yang baik dan harus melupakan niatan-niatan duniawi. Saat itulah hatinya dapat menerima nasehat-nasehat, sehingga ia sadar atas apa yang pernah diperbuatnya dan tertarik untuk melakukan apa yang diketahuinya baik. Ia akan bangkit di atas perahu makrifat-nya.
Saat itulah hati mulai sadar atas perbuatan-perbuatan buruk yang pernah dilakukannya, sehingga ia menyesal dan keingintahuannya semakin bertambah besar. (Imam Ibnu al-Jauzy)

Adi Kili Dibunuh Burung Brenggi

Dongeng Masa Kecil


Dahulu, ketika masih kecil, saya sering tidur di rumah Budhe. Rumah beliau berada di depan rumah orang tua saya. Saya memanggil beliau ”De Neng”, nama yang pernah tertulis dalam lembar persembahan karya tulis saya, sebagai ”permata kehidupan yang mengalirkan doa-doa”. Beliau selalu mengisahklan dongeng sebelum saya tidur, dongeng yang sama setiap saya tidur bersamanya. Dan dongeng itu tak pernah lekang dalam ingatan saya sampai sekarang, walaupun saya telah meninggalkan beliau selama 30 tahun. Saya tulis dongeng ini sebagai pelampiasan rindu kepada orang yang selalu mengalirkan doa-doa. Beginilah kisah dalam dongeng itu...



Syahdan, pada zaman dahulu kala di tepi hutan, hiduplah dua orang yatim piatu kakak beradik yang tinggal di sebuah gubuk. Sang kakak bernama Mantri dan sang adik bernama Kili. Kili memanggil kakaknya dengan sebutan ”Kang Mantri”, sedangkan Mantri memanggil adiknya dengan sebutan ”Adi Kili”. Pada suatu hari mereka berdua sepakat untuk berpisah karena ingin memperbaiki nasib kehidupanya. Kang Mantri hendak pergi bekerja ke kota dan meninggalkan adiknya sendiri di gubuknya. Dalam hati sesungguhnya ia tidak tega meninggalkan Adi Kili, satu-satunya orang yang disayanginya di dunia ini. Tapi apa boleh buat, ia ingin membahagiakan adiknya dengan mencukupi kebutuhan hidup yang memadai. Oleh karena itu ia mempersiapkan sesuatu untuk membatasi waktu kepergiannya.
”Adi Kili, sebentar lagi Kang Mantri akan pergi. Terimalah biji belimbing manis ini. Jika Kang Mantri berangkat, tanamlah biji belimbing ini di depan gubuk kita. Kelak jika pohon belimbing telah berbuah, panggilah Kang Mantri. Beritahukan bahwa pohon belimbing manis telah berbuah. Kang Mantri pasti merasakan panggilanmu dan segera pulang”. ”Baiklah Kang mantri, Adi Kili akan menlaksanakan tugas ini”.
Maka berangkatlah Kang Mantri meninggalkan Adi Kili. Tanpa menoleh sekejap pun kepada adiknya ia berjalan lurus dengan mata yang tergenang. Sedangkan Adi Kili menatap kepergian kakaknya dengan mata bekerjap-kerjap dan mengalirlah air mata gadis itu. Bibirnya terkatup tanpa isakan. Setelah kakaknya hilang dalam pandangan, Adi Kili menanam biji belimbing manis yang sejak tadi dalam genggamannya.
”Biji belimbing, aku tanam kau dengan cinta dan harapan, tumbuhlah! Kang Mantri akan datang jika kau tumbuh dan berbuah”. Sambil tersimpuh di tanah, air mata Adi Kili menyiram biji belimbing yang ditanamnya.
Setiap saat, tidak pandang pagi, siang, atau sore Adi Kili memeriksa tanaman belimbing manisnya. Dan biji belimbing itu tumbuh menjadi pohon yang subur. Begitulah kecintaan Adi Kili terhadap kakaknya ditumpahkannya kepada pohon belimbing manis agar senantiasa tumbuh subur dan berbuah.
Bulan berganti bulan, tahun pun berganti entah telah berapa kali. Dan telah sampailah pada waktunya pohon belimbing berbunga. Adi Kili sangatlah girang hatinya, dengan sabar ia menunggu bunga-bunga itu menjadi buah karena dengan demikian ia akan bertemu dengan Kang Mantri, kakaknya yang dinanti-nantikannya. Dalam hitungan hari bunga-bunga belimbing itu luruh dan muncullah buah belimbing yang mungil. Mata Adi Kili berbinar-binar, senyumnya mengembang. Maka ketika buah itu telah membesar, Adi Kili memanggil kakaknya dalam nyanyian...
” Kang Mantriii..., pohon belimbing manis telah berbuah... Kang Mantri...
Kang Mantriii..., pohon belimbing manis telah berbuah...Kang Mantri...”
Begitulah suara Adi Kili terus menerus dalam nyanyiannya. Apabila merasa capai, ia pun berhenti dan memanggil lagi sampai sayup-sayup suaranya dibawa angin.
Alkisah, ada seekor burung raksasa yang selalu berbunyi ”brenggiii....” dan oleh karena suaranya yang seperti itu maka orang menyebutnya burung brenggi.Burung brenggi merasa terganggu oleh suara Adi Kili. Ia mencari sumber suara dengan amarah yang membuncah di kepalanya. Sementara Adi Kili tetap dalam lantunannya. Akhirnya...
”Bag, kabag, kabag...” Burung itu mengepakkan sayapnya yang besar dan berbunyi ”Brenggiiii....Ooo..., ternyata kau Adi Kili! Kau telah mengganggu tidurku. Kau merusak ketenangan hutanku. Diamlah...!!! Atau aku akan membuatmu diam!!!” Mendengar ancaman burung brenggi, Adi Kili semakin keras memanggil kakaknya.
”Kang Mantriiiii..... Pohon belimbing manis telah berbuah ... Kang Mantri...
Kang Mantriiiii..... Pohon belimbing manis telah berbuah ... Kang Mantri...
Mendengar itu, burung brenggi semakin marah dan akan mematuk Adi Kili.
”Diamlah, Adi Kili!!! Kalau tidak mau diam, aku patuk ubun-ubunmu!!!”
Adi Kili dengan tubuh gemetar tetap memanggil kakaknya, bahkan semakin cepat dan keras. Maka....
”Bag, kabag, kabag..... brenggiii... Kau memang ingin mati, Adi Kili... Kau tidak takut kepadaku, kau tidak menurut perintahku, Suaramu memecahkan kepalaku...” Selesai berkata seperti itu mengayunlah paruh burung raksasa itu ke arah Adi Kili, dan... brussss..... Paruh burung brenggi menancap di ubun-ubun Adi Kili. Seketika itu Adi Kili lunglai dan terkapar di depan gubugnya. Adi Kili mati.
Sementara itu di kota tempatnya bekerja Kang Mantri merasakan panggilan adiknya. Lalu ia bersiap pulang dengan bermacam-macam barang bawaan untuk keperluan hidupnya bersama Adi Kili yang sangat dirindukannya.
Dengan memberikan beberapa keping uang kepada sais, ia mendapat tumpangan cikar bermuatan genting yang melewati hutan tempat gubugnya berada. Berhari-hari ia dalam perjalanan pulang. Apabila matahari tenggelam mereka berhenti dan menginap di atas cikar. Sampai kemudian Kang Mantri tiba di tepi hutan, kampung halamannya. Masih sepuluh depa jarak ke gubugnya, ia sudah berteriak memanggil adiknya.

”Adi Kiliii............... Kang Mantri dataaang.......!
Adi Kiliii............... Kang Mantri dataaang.......!
Begitu terus menerus sampai Kang Mantri tiba di depan gubugnya. Dengan kerinduan yang tidak alang kepalang, Kang Mantri terus memanggil adiknya. Namun sambutan sang adik belum juga tampak. Kang Mantri mulai cemas, apa gerangan yang telah dialami adiknya. Setelah menurunkan barang bawaannya, Kang Mantri langsung menyerbu ke dalam gubug. Dan...
”Adi Kiliiiiiiiii..............................! Demikian histerisnya Kang Mantri menangis pilu melihat kerangka tergeletak di lantai tanah dalam gubugnya. Ia yakin kerangka itu adalah Adi Kili. Segera ia mengambur ke dalam hutan. Sebelum matahari tenggelam ia harus menemukan daun demolo dan daun kastubo. Setelah mendapat apa yang dicarinya, Kang Mantri berlari pulang tanpa peduli letih. Sesampai di gubugnya, ia alasi mayat Adi Kili dengan daun demolo dan ia kipasi dengan daun kastubo. Dengan menyebut nama Allah swt, dikipas-kipaskanlah daun kastubo itu.
“Pit ipit ipit...”Bunyi kipas daun kastubo yang diayun Kang Mantri berbunyi. Dan atas kehendak Allah swt. semata bahwa kerangka Adi Kili menyatu.
“Pit ipit ipit....” maka tumbuhlah daging dan kulit yang membungkus kerangka Adi Kili.
”Pit ipit ipit....” Bergerak-geraklah tubuh adi Kili.
“Pit ipit ipit.....” Berkatalah Adi Kili tentang kejadian yang dialaminya.
Kemudian Kang Mantri menyuruh Adi Kili memanggil namanya kembali agar burung brenggi datang kepadanya.
” Kang Mantriii..., pohon belimbing manis telah berbuah... Kang Mantri...
Kang Mantriii..., pohon belimbing manis telah berbuah...Kang Mantri...”
Sebentar kemudian terdengarlah....
”Bag, kabag, kabag..... brenggiii...
Bag, kabag, kabag..... brenggiii..., Adi Kili..!!! Bagaimana kau bisa selamat dari patukanku? Sekarang inilah waktumu untuk mati!
”Bag, kabag, kabag..... brenggiii...” Baru selesai kepakan sayap ketiga, Kang mantri yang bersembunyi di balik pintu mengayunkan pedang yang baru diasahnya.
”Cresss....!!!” Putuslah leher burung brenggi yang panjang seperti angsa itu bergedebug jatuh ke tanah. Burung brenggi mati dan Adi kili bersama Kang Mantri hidup berbahagia.



Lokakarya Sabhatansa

Di Bumi Sabhatansa, SMA Negeri 7 Malang telah diselenggarakan Lokakarya Bintek KTSP, guna meningkatkan mutu guru dan karyawan. Acara tersebut berlangsung selama dua hari,tanggal 2-3 Juli 2008.



Narasumber yang diundang :

- Prof. Dr. Djoko Saryono (Pakar pendidikan UM)

- Drs. Darto, M.Pd. (Pengawas Dikmenum)

- Drs. Sutjipto (Pengawas Dikmenum)

- Dra. Hj. Kamsinah, M.Pd. (Pengawas Dikmenum)

Selain memberikan materi Bintek KTSP, narasumber juga memberikan motivasi kepada guru dan karyawan agar menjadi profesional.

26 Agustus 2008

In Memorian: Bang Drago...



Pandanglah gambar laut di samping, lalu simaklah puisi berikut...

Tasik yang Tenang

Memandangmu, terasa hati menjadi pilu, wahai tasik yang tenang
Karena telah kau simpan lembar terakhirku bersamanya
Di airmu yang biru kau apungkan kenangan itu
Di tanjungmu kau ukir siluet wajahnya
Setiap melihatmu, air sungai kecilku bergemericik mengalir
Mengalirkan namanya bersama doa-doa:
Allahumaghfirlahu warkhamhu waafihi wafuanhu.....
(Untuk kakak yang pergi)


Oktober 2005
Pada tanggal 30, Mas Heri berulang tahun ke-37. Ketika Malam tinggal sepertiga, Dia mendoakan saya lewat sms: Semoga selalu sehat, Dik; sukses dalam karier, dan sukses dalam keluarga.
Lalu saya balas: Selamat berulang tahun, Mas; semoga Allah memberikan segala yang terbaik. Motto: Lebih baik gugur di medan perang daripada hidup terhina.
Entah karena apa, aku tiba-tiba rindu padanya dan menangis bahkan tersedu-sedu.

November 2005
Kami bersaudara (kecuali Dik Agus yang tidak mendapatkan cuti dari Batalyon 733 Ambon) berkangen-kangenan di pantai Tanjung Kodok Lamongan. Ini inisiatif Mas Heri, kakakku yang berdinas di Detasemen Gegana Jakarta. Di ujung Lamongan itulah dia berpesan agar kami selalu menjadi saudara yang solid, menjunjung kehormatan keluarga, dan tidak mementingkan diri sendiri. Dia mengajak kami membuat foto keluarga sebagai kenang-kenangan, tetapi Mbak Dara tidak mau karena suatu hal.
Esoknya kami berpisah, saya harus kembali ke Malang. Terakhir bersamanya ketika dia menyeberangkan saya di jalan Babat-Jombang yang padat lalu lintas.

Desember 2005
Mas Heri meninggal dunia karena sakit. Ternyata selama ini dia menderita sakit malaria dan tidak ada keluarga yang tahu. Sudah bertahun-tahun dia menderita, sejak menjalankan tugas di Aceh. Sebelum meninggal, dia diopname di RS Polisi Kramat Jati, Jakarta. Dia memaksa keluar dan pulang ke Lamongan. Dia meninggal di pangkuan ibu: damai, seperti ketika dia baru dilahirkan 37 tahun yang lalu. Setinggi bangau terbang akhirnya ke pelimbahan juga. Lamongan telah menjadi istirahatnya, bersama ayahku yang telah lama menunggu.

Sampai kini duka itu masih di hati kami, terutama ibu, karena sebagian besar ruang hati ibu diisi namanya, sejak kami kecil dahulu.

Lelaki Kecil Kehilangan Bapa


Lelaki kecil itu telah kehilangan bapa
gemuruh dadaku mengenangnya
kutahan guncangan napasku
agar butiran di mataku tak tumpah olehnya
tersayat hatiku saat pandangi wajahnya
walau tanpa air mata, ia tahu bapanya tiada
dan aku rasakan kehancuran hatinya.


Lelaki kecil itu telah kehilangan bapa
enam tahun usianya
telah ia tinggalkan yang dipunya
dan yang pergi, harta tiada tara
pelipur jiwa raga
pengisi sukma yang hampa.

lelaki kecil itu telah kehilangan bapa
pernah kubawa ia ke pusara
kuajarkan membaca realita padanya
dan mohonkan ampun untuk bapanya
selalu, selalu, selalu, sampai ke ujung masa.

lelaki kecil itu telah kehilangan bapa
kupunya asa untuknya
Di setiap dialogku dengan-Nya
aku meminta, menghamba
agar dia menjadi lentera
penerang ibu-bapanya

lelaki kecil itu telah kehilangan bapa
berjalanlah bagai surya
tegar, pasti, dan penuh semangat membara
jadilah mata air yang mengalirkan doa-doa
jadilah hamba yang taat pada Sang Pencipta
jadilah satria yang berbakti pada negara




Malang, 24 April 2006
Untuk keponakanku sayang:
Panji Satria Yudha




27 Juni 2008

Ngopi Bareng Taufiq Ismail

Begitulah acara itu dinamakan. Atas jasa Forkis UM, Bapak Taufiq Ismail datang ke Malang bersama Sdr. O. Solihin, penulis buku best seller berjudul Jangan Jadi Bebek. Saya sebut saudara karena usianya lebih muda empat tahun dari pada saya. Sungguh penulis muda yang berbakat dan sukses. Selain itu Sdr. O. Solihin juga agamis dan baik hati, saya salut. Dalam dialog tersebut Bapak Taufik Ismail mengampanyekan Anti Gerakan Syahwat Merdeka yang menodai dunia sastra.


Sastra harus dibebaskan dari liberalisme, baik yang mengatasnamakan seni maupun kebebasan berekspresi. Dalam kesempatan tersebut beliau juga membacakan puisi tentang 100 tahun Kebangkitan Nasional dan membacakan memoarnya untuk Alm. Chrisye. Terutama tentang proses rekaman lagu Ketika Tangan dan Kaki Bicara, yang syairnya diambil Pak Taufiq dari Surat Yaasin. Chrisye merasa luluh lantak dan tak kuat menyanyikannya. Pengalaman dahsyat sepanjang karirnya.

Ada seseorang yang berpesan kepada saya untuk dibelikan buku Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit karya terbaru Pak Taufiq. Ternyata tidak ada bursa buku. Lalu saya nekat mengemukakannya kepada Sdr. O. Solihin. Alhamdulillah. Buku tersebut dimiliki oleh saudaraku yang baik hati itu, hadiah dari Pak Taufiq. Atas izin Pak Taufiq buku tersebut (jilid 4) diberikan kepada saya walaupun telah bertuliskan:

Untk Sdr O. Solihin
dengan salam
Taufiq Ismail


Terima kasih Saudaraku, hanya Allah yang dapat membalas berlipat-lipat atas kemurahan hati Anda. Saya minta maaf telah menyebabkan buku yang diberikan dengan penuh makna oleh Bapak Taufiq Ismail kepada Anda, berpindah ke tangan orang lain.

Ngopi Bareng Taufiq Ismail membuat saya teringat acara 8 tahun yang lalu. Pada tahun 2000, saya pernah memandu acara Bapak Taufiq Ismail yang fenomenal yaitu SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya). Waktu itu saya masih berdinas di SMA Negeri 1 Pamekasan, Madura. Sekolah saya merupakan salah satu dari tempat-tempat di seluruh Indonesia yang dikunjungi TIM SBSB. Saya sangat bangga dan bersyukur dapat berdialog dengan sastrawan-sastrawan besar seperti, Taufiq Ismail dan istri, Hamid Jabbar (alm), D. Zawawi Imron, Joni Ariadinata, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, Ike Soepomo, Rayani Lubis, Putri Chairil Anwar, dan beberapa sastrawan top lainnya.

Selain diskusi tentang sastra, saya juga bertanya kepada Bapak Taufiq Ismail tentang arti kata Umbu pada puisi Beri Daku Sumba karya beliau.

/Di Uzbekistan ada padang luas dan berdebu/
/Aneh, aku jadi ingat pada Umbu/
...
Dalam pelajaran Apresiasi Puisi, saya selalu ragu-ragu untuk menginterpretasikan kata Umbu. Apakah kampung halaman, seperti kata dosen saya dahulu? Ataukah bermakna lain? Oleh karena itu, ketika acara SBSB selesai, saya beranikan diri untuk mencegat beliau di halaman sekolah. Saya bertanya,

" Pak, apa arti kata Umbu pada puisi Beri Daku Sumba?"
" Oo, Umbu itu teman saya, namanya Umbu Landu Paranggi."
" Mengapa Bapak teringat dia saat di Uzbekistan?"
" Karena dia berasal dari Sumba, Nusa Tenggara Timur, yang sebagian wilayahnya mirip dengan
Uzbekistan."

" Oo.... terima kasih Pak."

Untuk Bapak Taufiq Ismail:
Saya kagum dan terinspirasi oleh sikap dan karya-karya Bapak.

Untuk Sdr. O. Solihin:
Semoga semakin sukses.

25 Maret 2008

Tahukah Anda?

Munculnya Gunung Krakatau

Perkembangan Gunung Krakatau
Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau Purba kemudian tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal sebagai Gunung Rakata yang terbuat dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah, bernama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang kemudian menyatu dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut Gunung Krakatau.
Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680 menghasilkan lava andesitik asam. Lalu pada tahun 1880, Gunung Perbuwatan aktif mengeluarkan lava meskipun tidak meletus. Setelah masa itu, tidak ada lagi aktivitas vulkanis di Krakatau hingga 20 Mei 1883. Pada hari itu, setelah 200 tahun tertidur, terjadi ledakan kecil pada Gunung Krakatau. Itulah tanda-tanda awal bakal terjadinya letusan dahsyat di Selat Sunda. Ledakan kecil ini kemudian disusul dengan letusan-letusan kecil yang puncaknya terjadi pada 26-28 Agustus 1883

Gunung Krakatau

Krakatau adalah gunung berapi yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Gunung berapi ini pernah meletus pada tanggal 26 Agustus 1883. Letusannya sangat dahsyat dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat. Suara letusan Gunung Krakatau sampai terdengar di Alice Springs, Australia dan pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali dari bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.
Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska.

Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.

24 Maret 2008

Mozaik Ayat-Ayat Cinta

Apresiasi Puisi

Berikut puisi karya tokoh Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta
walaupun ia seorang mahasiswa program doktoral di Universitas Al Azhar Mesir, Fahri tidak pandai menggaet perempuan. Akan tetapi sebagai laki-laki normal ia memiliki perasaan cinta dalam hatinya, entah untuk siapa. Pada suatu malam di musim semi, ia menulis puisi berjudul Bidadariku. Tumpahan perasaan cintanya tersebut tertampung di buku hariannya. Perhatikan larik-larik puisi di bawah ini!


Bidadariku,
Namamu tak terukir
Dalam catatan harianku
Asal usulmu tak hadir
Dalam diskusi kehidupanku
Wajah wujudmu tak terlukis
Dalam sketsa mimpi-mimpiku
Indah suaramu tak terekam
Dalam pita batinku
Namun kau hidup mengaliri
Pori-pori cinta dan semangatku
Sebab
Kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan
Untukku
Bidadariku

Fahri tidak tahu untuk siapa puisi itu ditulis, ia tidak mengacu satu nama sebagai gadis pujaaannya. Meskipun banyak gadis cantik dan terpelajar yang ia kenal, tidak pernah terbersit dalam hatinya untuk memiliki satu atau lebih di antara mereka. Sebagaimana tertera pada larik:

/ Bidadariku,/
/Namamu tak terukir/
/Dalam catatan harianku/

Ia pun tidak pernah menentukan persyaratan tentang asal usul sang bidadari. Memikirkan dan membicarakannya juga tidak pernah.

/Asal usulmu tak hadir/
/Dalam diskusi kehidupanku/

Bahkan ia tidak tahu bagaimana wujud bidadari yang dipujanya. Apalagi memimpikannya, wajahnya tidak pernah melintas dalam bayangannya.

/Wajah wujudmu tak terlukis/
/Dalam sketsa mimpi-mimpiku/

Hadirnya bidadari tersebut tidak terinspirasi oleh kemerduan suara siapa pun, Fahri tidak memiliki pencitraan suaranya.


/Indah suaramu tak terekam/
/Dalam pita batinku/

Sebagaimana ia selalu berharap ada orang yang menyatakan cinta kepadanya, atau menawarkan seseorang untuk menjadi istrinya. Dan bidadari itu hidup dalam hati dan memacu semangat hidupnya.

/Namun kau hidup mengaliri/
Pori-pori cinta dan semangatku/

Bidadari itu tidak pernah ada namun ada dalam keyakinan Fahri. Karena ia yakin tentang jodoh yang diberikah Allah swt kepadanya.

/Sebab/
/Kau adalah hadiah agung/
/Dari Tuhan/
/Untukku/
/Bidadariku/

Selama ini ia memang tidak pernah berani mencintai seorang gadis pun karena dia selalu menganggap “Aku ini siapa? Aku hanya orang miskin dari desa. Anak penjual tape. Santri yang pernah mengabdikan diri di pondok pesantren, ...”. Begitulah pikiran Fahri tentang cinta. Eksistensinya sebagai mahasiswa program doktoral di Universitas Al Azhar Mesir tidak bisa diandalkan untuk urusan cinta. Akan tetapi dia hebat dalam pendidikan, dalam agama, dalam cita-cita, dan segala selain harta dan wanita.
Dan Bidadari dalam khayalan akhirnya menjadi kenyataan ketika Syeikh Ahmad menawarkan kepada Fahri untuk menikahi seorang gadis Turki-Jerman yang bernama Aisha.