31 Desember 2012

Waktu Terus Berlalu

-->
Bagai anak panah lepas dari busur
begitulah sang waktu berlalu
dari detik ke detik
tanpa bisa kembali

Kata tlah terlontar
jejak  tlah menapak di setiap kelok jalanan
berhambur dosa-dosa
membentuk gugusan peristiwa
bernama masa lalu

: Karena kumencintai-Mu
seharusnya tak Kau biarkan
kugurat lembar hidupku

Namun
Ampunan-Mu tak terbatas
melebihi panjangnya jalan yang pernah kutempuh
(Lalu kuberharap penuh cemas tentang  masa depan yang entah sampai kapan bersamaku).

24 Desember 2012

Pemimpin adalah Pengayom

* Naskah Terbaik Tari Songsong dalam Gebyar Festival Tari Jawa Timur

       
          Tari Songsong menggambarkan kehidupan seorang pemimpin. Pemimpin yang memiliki sifat mengayomi dan melindungi. Laksana payung mengembang, lebarnya memberikan perlindungan, tegaknya memberikan keadilan, dan kokohnya memberikan kedamaian. Demikianlah sifat seorang pemimpin. Ksatria sejati yang siap mengulurkan payung perlindungannya kepada siapa pun. Kepada mereka  yang  memerlukan peneduh dari terpaan hujan dan sengatan panas matahari kehidupan. Pemimpin berjuang dengan gigih, menghalau segala gangguan demi keamanan dan kesejahteraan rakyatnya.

             Dialah pemimpin yang agung. Langkahnya berwibawa menebar kesejukan. Titahnya dinanti sebagai penyejuk nurani. Cipta, rasa, karsa, dan cita-citanya terasa bermakna bagi semua. Pribadinya adiluhung, menjadi pusaran arah tujuan kehidupan. Kasih sayangnya menyenangkan. Perlindungannya meneduhkan. Tanggung jawabnya mencurahkan kebahagiaan. Teladanannya adalah inspirasi. Energinya mengalirkan pengaruh dalam membentuk pribadi yang kuat. Raganya dipuja. Jiwanya dirindukan. Sabdanya ditaati. Kekuasaannya adalah karunia yang didamba. Ia persembahkan hidupnya untuk melindungi dan memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya. Jiwanya luhur, memberi tanpa menilai pemberiannya, berjuang tanpa menghitung pengorbanannya, berbakti tanpa mencari penghargaannya.

         Dialah penyemangat, menerbitkan harapan di ufuk keputusasaan, menyalakan terang di jantung kegelapan, mendendangkan nyanyi gembira di tengah tangis kesedihan. Karena dalam kepemimpinan sejati, kehidupan manusia menjadi penuh arti. Pemimpin sejati mengayomi demi keamanan negeri. Melindungi dari prahara yang terjadi. Kebijakannya menentramkan jiwa. Tak pernah membuat resah. Diberikannya kemerdekaan tanpa belenggu. Berbudi bahasa, cerdik cendikia. Menjaga kehormatan, hak, dan harga diri bangsa.

          Pemimpin sejati tidak membiarkan rakyatnya menderita. Ia bukanlah tirani, justru melindungi. Laksana payung yang senantiasa memberikan keteduhan. Dengan kasih sayang dan bakti ia melayani. Berpijak pada jalan dan melangkah menuju tempat maha tinggi bernama kebahagiaan hakiki. Tekadnya mempersatukan visi, mendamaikan perbedaan menjadi seindah pelangi yang berpendar berwarna-warni. Tanpa surut, bergerak dalam derap langkah nan terarah sama, demi misi menuju negeri madani.
                                                                 ***