11 September 2008

Dialog dengan Tuhan (1)

Suatu malam saya pernah berkeluh kesah dengan-Nya. Kira-kira setahun yang lalu di awal musim hujan. Saya abadikan momen itu dalam larik-larik sebagai berikut:

Tuhan...

Sepenuhnya aku yakin hidupku dalam genggaman-Mu.
Sebagaimana aku percaya matiku dalam suratan-Mu.
Dan aku jalani qodar-Mu seiring terbit dan tenggelamnya matahari.
Sungguh banyak asa yang kugantungkan pada-Mu, setiap waktu.
Namun lebih banyak lagi nikmat yang Engkau tebarkan.
Sampai aku tak sanggup mengumpulkan dalam catatan hidupku.
Berjalan aku menuju arah Kau tempatkan belas kasih-Mu.
Dan berdialog dengan-Mu serasa Engkau sedekat urat leherku.
Walau tak pernah kudengar jawabmu, tapi Engkau dengarkan rintihanku.
Tuhan...



Masih ada harapan yang tak kunjung padam.
Masih ada mimpi yang Kau rahasiakan.
Maafkan aku Tuhan...
Tak pernah aku belajar curiga kepada-Mu.
Dan tak sedikitpun aku meragukan janji-Mu.
Aku telah belajar untuk menjalani hidup ini dengan ikhlas.
Jika aku tenggelam bersama matahari dan tak terbit esok pagi
Jangan Kau biarkan aku merana.
Dan mereka, yang di dalam tubuhnya mengalir darahku.

Malang, 18 Oktober 2007

1 komentar:

  1. Memang kodrat manusia lemah dan tak berdaya, sehingga manusia senantiasa bergantung kepada allah mengharapkan rahmat, rahman, dan rahimNya.
    Selama kita yakin dan sungguh-sungguh dalam berdoa, insya allah tercapai.

    BalasHapus