22 Desember 2008

Selamat Hari Ibu


Kutulis puisi ini sebagai kado untuk Ibunda Latifah,
wanita tabah, sumber inspirasiku

Selamat Pagi Ibu...

Kuawali hari ini bersama deritan daun pintu
Di antara rintihan gerimis pagi dan angin mendesah menoreh kalbu
Kubentuk silluet wajahmu
Tatapanmu yang teduh menggores getah rindu
Menetes sepanjang waktu

Ibu...
Sejuk darahmu mengalir damai dalam tubuhku
Doamu mengalun bagai melodi di setiap hembus napasmu
Selaras dalam harmoni dan berpadu dengan doaku

Aku rindu kepadamu Ibu...
Namun aku tak mudah menggapaimu
Karena aku tak lagi milikmu
Aku telah tinggalkanmu demi darma baktiku
Demi seorang yang telah kuberikan hatiku
Yang kepadanya tak mampu aku berkata ”tidak” , Ibu..
Dan... aku pun tak mudah ke rumahmu

Ibu...
Cinta kasih dan hormatku tak perlu kau ragu
Telah kupautkan hatiku di hatimu sejak dahulu
Telah kuukir rumahmu dalam jiwa nan mengeras bagai batu
Dan kusinggahi selalu dalam kembara mimpi-mimpiku

Ibu...
Aku ingin berbaring di pangkuanmu
Berlabuh dari pelayaran samudra hidupku
Walau sekejap, setelah itu berlalu
*****************************

Halaman berikut memuat Puisi-puisi karya siswa sebagai kado di hari Ibu:



1. Karya Dyah Tri Palupi (XII IS 1)

Ibu

Engkau berikan seluruh hidupmu
Cinta, kasih sayang, dan air mata
Ibu...
Engkau tempatku mengadu
Tentang suka, duka, juga cintaku
Ibu...
Tanpa doamu aku tak akan mampu
berdiri melawan kerasnya hari
Ibu...
Bahagiamu membawa damai di hatiku
Rintihanmu bagai pisau yang menyayatku
Tak seorang pun dapat menggantikanmu
Terima kasih, Ibu...




2. Karya Yulia Rahmawati (XII IS 1)


Mentariku

Bunda...
Kau sinar mentari di pagi hari
Kau purnama di malam hari
Penyejuk hati disaat aku gundah
Bunda...
Kau angin yang memberi kesejukan
Kau api yang memberi kehangatan
Aku bersyukur telah memilikimu
Maafkan aku Bunda...
Yang mungkin telah membuatmu menangis
Perjuanganmu tak mungkin terbalas dalam hidupku
kaulah wanita terhebat bagiku
Kau membuatku kuat
Doamu slalu menyertaiku
Terima kasih, Bunda...



3. Karya Winda Ayu Paramita (XII IS 2)

Suryaku, Ibu

Pagi menyapa dengan indahnya
Burung bernyanyi merdu
Gemericik air, menambah indahnya pagi

Di sini.. Ibu tersenyum membuka hari
Dengan tangannya yang lembut
Menggugah jiwa dari lelapnya mimpi

Di sini... Ibu tersenyum membuka hari
Kasih sayangnya, cintanya...
Melekat selalu di hati

Ibuku...
Engkau selalu menemaniku
Di saat aku membutuhkanmu

Ibuku...
Dalam gelap kau menerangi jiwa
Dalam tenang, kau meneduhkan hati

Engkau surya dalam hidupku
Sampai mati, engkau selalu ada di sini
Di hatiku, tempat terindah untukmu








4. Karya Putu Eka Setyaningsih (XII IS 2)

Pengorbananmu, Ibu...

Aku teringat pada malam itu
Kau berjuang dalam hidupmu
Ibu ...
Kau mengajariku tentang kehidupan
Dengan kasih sayangmu yang tulus
Kau slalu mengikuti jejak langkahku
Walau letih, tak pernah engkau mengeluh
Ibu...
Kini aku telah beranjak dewasa
Namun aku tetaplah gadis kecil di matamu
Dan aku menyadari...
Bahwa aku adalah gadis kecil yang sedang mencari jati diri
Ibu...
Maafkanlah aku jika pernah membuat hatimu terluka
Sampai kapan pun aku tak bisa jauh darimu
Aku slalu membutuhkanmu
Ibu...
Aku hanya mampu mendoakanmu
serta mematuhi nasihatmu
Aku slalu menyayangimu, Ibu...



5. Karya: Ronald Alexander Kailola (XI IS 3)

Ibunda Tersayang

Malam begitu gelap
Hujan begitu deras
Aku terperosok dalam jurang kesedihan
Tangan itu menolongku
Mengangkatku

Bunda...
Engkau terang alam gelapku
Engkau hadir dalam pedih laraku
Wanita terhebat di alam semesta
Cintamu abadi

Bunda ...
Engkau tegar dan sabar
Menopang aliran hidupku
Maafkan aku yang pernah menyakitimu
Aku sangat mencintaimu...



6. Karya: Ade Darmawan (XII IS 3)

Tak Kan Kutemukan

Ketika hatiku perih
Tanganmulah yang ku genggam
Tak kan ada yang lebih kucintai
Hanyalah engkau, wahai Ibu...
Tuhan...
Pahatkan doaku di jalur hidupnya
Dikala kedengkian merasuk hatinya
Tabahkan ia ke dalam kesucian

Dikala api amarah menrpa
Sabarkan hatinya
Ketika sayang menjalari tubuhnya
Kuatkan perasaannya

Ibu...
Tahukah engkau
Tiap detik luka yang menderamu
Menjadi ribuan lara menusukku
Tetesan air matamu tak kan pernah kulupa
Kan usap dengan cinta

Akan kuabadikan sayang ini
Hingga tak kutemukan lagi
Hari esok....


7. Karya: Dewangga D.H. (XII IS 4)

Cinta Pertama

Kau...
Wanita pertama yang kukenal
Wanita pertama yang kucintai
Wanita pertama dalam hidupku

Kau..
Sosok yang lembut
Sosok yang kuat
Meski Rapuh

Kau...
Tumbuhkan cinta dalam hatiku
Dengan besarnya rasa cintamu
Bagai embun pegunungan yang menyejukkan
Bagai nur dalam pekat, menerangi dengan cinta yang tulus

Kau...
Segalanya bagiku, tapi...
Wanita pertama yang kusakiti
Wanita pertama yang aku dustai
Wanita pertama yang aku maki

Kau..
Kusakiti dengan egoku
Kucampakkan dengan sifatku

Kau...
Tak surut mencintaiku
Aku luluh oleh cintamu

Kau...
Cinta pertama dalam hidupku
Mama...
8. Karya: Celixa Amenity Yovanka (XII IS 4)

Cintaku untuk Ibu

Ibu...
tak pernah cukup
kubalas semua jasamu
aku hanya bisa mengucapkan terima kasih
untukmu

Ibuku sayang,
maafkan bila ku selalu membuatmu kecewa
sungguh,
aku tak berniat menyakitimu

Ibu,
jangan pernah tinggalkan aku
tak bisa kubayangkan
hidupku tanpa dirimu
engkau yang membuatku kuat
engkau yang mengajariku tentang hidup

Ibu,
kau wanita sempurna
luhur budimu
aku mencintaimu
****************

Catatan untuk murid-muridku:
1. Mohon maaf karena Ibu telah melakukan pemangkasan puisi kalian.
2.Puisi kalian bagus-bagus namun tidak semua dapat ditulis di sini.
3. Ibu sayang kalian, tanpa kecuali.
4. Berkomitmenlah untuk kooperatif dalam penegakan tata tertib sekolah.
5. Semoga kalian lulus ujian dan sukses dalam meraih cita-cita.







7 komentar:

  1. jasa ibu amat tinggi..tidak terbalas.. ( orang kata akulahir dari perut ibu, bila dahaga yang suapkan aku ibu, bila lapar, yang suapkan aku ibu, bila keseorangan, yang sentiasa bersamaku ibu, kata ibu, perkataan pertama yang aku sebut BU, bila bangun tidur aku cari ibu, bila nangis, orang pertama datang ibu, bila nak bermanja, aku dekati ibu, bila naka, yang memarahi aku ibu, jasa ibu sangat mulia..selamat hari ibu..)

    BalasHapus
  2. terima kasih bu lilis udah muat puisi jelek buatan saya..

    walau jujur.. sebenar nya saya hampir tidak pernah buat mama saya nangis karena bangga pada anak nya ini. tangisan kebahagian tak pernah keluar di mata nya karena kebanggaan nya pada anak nya ini.

    terkadang saya bingung, apa yang harus saya perbuat. walau pun saya tahu persis, mama saya pasti selalu mendoakan saya. bagaimana cara saya membalas sayang nya itu terkadang saya masih bingung,

    sekali lagi terima kasih bu lilis.

    BalasHapus
  3. makanya jarang sering ngebantah kata2 ibu...

    BalasHapus
  4. saya ada lencana persahabatan yang ikhlas untuk Puan Lils..harap sudi terima..

    BalasHapus
  5. Terima kasih, Sir...
    Semoga |Anda sekeluarga mendapat rahmat dari Allah swt.

    BalasHapus
  6. jadi teringat ibu saya yang dikampung....hiks

    BalasHapus