30 Juli 2011

Ketinggalan Kereta

Menonton liputan tentang Thailand di Trans TV, saya teringat saat tertinggal di Hat Yai, salah satu di antara tiga kota besar Thailand yang berada di Provinsi Songkhla.

Kamis, 3 Maret 2011. Saya dan rombongan muhibah meninggalkan Sekolah Menengah Kebangsaan Cochrane di Kuala Lumpur pukul 14.00 waktu setempat (WIB +1). Perjalanan kami lanjutkan ke arah utara menuju Negeri Gajah Putih. Bus Pariwisata Malaysia yang dikemudikan oleh Mr. Ranjit (driver berkebangsaan Hindustan) dan Tour Guide asal Malaysia, Zuraini Zainal mengantarkan saya dan rombongan ke Thailand. Kurang lebih 8 jam kami sampai di perbatasan. Saya dan rombongan harus turun dari bus untuk melengkapi administrasi meninggalkan wilayah Malaysia di Imigrasi Bkt. K.H. Changloon; lalu masuk wilayah Thailand melalui Imigrasi Sadao Thailand. Situasi sepanjang jalan sama saja dengan kota-kota kecil di Indonesia. Hanya bendera dan huruf Thai yang menyadarkan bahwa saya sedang berada di Thailand. Roda berputar sejauh 60 km meninggalkan perbatasan dan memasuki wilayah Hat Yai.

Hat Yai. Ya, di kota inilah saya tersesat, kejadian konyol yang saya alami menjelang tengah malam. Saat itu rombongan sedang makan malam (tepatnya makan tengah malam) di sepanjang jalan pertokoan seperti Malioboro Yogyakarta. Kedai makan berjajar, kami bebas memilih mana yang disukai. Saya memilih kedai orang melayu dengan menu ikan asam pedas (ada manisnya juga), full rempah, sangat familiar dengan lidah saya. Saat mencecap asam-pedasnya makanan, saya teringat seseorang yang tadi siang mengirim sms: "Ass. Masih di Indonesia kah" (Sent: Thursday, March 03 2011. 11:31 AM). Saya ingin membalas sms tersebut tetapi tidak ada pulsa. Selain itu saya juga mempunyai tanggungan kepada teman yang sedang bertugas di Surabaya. Dia meminta saya untuk mengirimkan data sehubungan dengan kepentingan sekolah. Lalu saya tinggalkan makanan yang belum selesai saya nikmati (urusan bayar sudah ada yang menanggung). Berbekal nomor ponsel wilayah Thailand yang sudah saya daftarkan kepada guide, saya "beredar" seorang diri, hunting layanan internet untuk umum (modem saya incompatible di negeri jiran, hikss... :'( Sedangkan saya harus bisa kontak dengan Indonesia malam ini juga. Alhamdulillah, saya menemukan rental internet tidak jauh dari tempat mangkal teman-teman. Saya bisa mengirimkan data ke Surabaya dan menghubungi teman saya di Medan.

Setelah urusan beres, saya membayar jasa rental 20 bath, tetapi uang saya 1000 bath. Pemilik rental mengerutkan dahinya karena uang saya terlalu besar untuk biaya pemakaian yang terlalu kecil. Wanita itu berkata kepada saya dalam bahasa Thai (kira-kira menanyakan apakah saya punya uang kecil?) Saya tanya balik dengan bahasa Inggris. Dia tidak mengerti bahasa Inggris, sedangkan saya tidak mengerti bahasa Thailand. Akhirnya... dia menukarkan uang (entah kemana). Waktu saya terbuang di sini. Dan ketika saya kembali ke tempat makan, tak seorang pun teman saya ada di sana. Saya mencoba menghubungi melalui telepon, tetapi nomor baru saya tidak bisa difungsikan dan nomor yang saya bawa dari Indonesia: kandas, mafi pulsa. Saya sedikit panik, yang sangat panik justru Ibu pemilik kedai tempat saya makan.

Ambassador...! Ya.. "Ambassador" adalah kata kunci yang bisa menuntun saya untuk "kembali ke jalan yang benar" dari "kesesatan" malam ini. Karena di hotel itulah kami akan melabuhkan bahtera mimpi yang tersisa.

Ibu pemilik kedai heboh berteriak-teriak memanggil suaminya yang sedang kongkow dengan teman-temannya, kira-kira 50 meter dari kedai. Seorang laki-laki berperawakan sedang menghampiri istrinya. Ada dialog yang kurang saya mengerti artinya, tetapi pada intinya: Ibu pemilik kedai meminta suaminya mengantarkan saya. Lelaki itu bertanya dalam bahasa Melayu: "Ke mane awak nak pegi?" "Ambassador Hotel" jawab saya singkat. Dikatakan pula bahwa jarak hotel itu sekitar 60 km. Beliau pergi beberapa saat lalu kembali dengan mengendarai mobilnya, dan buru-buru mempersilakan saya masuk. Saya meminta izin kepada istrinya dan diberi isyarat anggukan. Tanpa pikir panjang saya masuk ke dalam mobil dengan membaca "Bismillah" (saya duduk di kursi tengah sebelah kiri, membentuk garis diagonal dengan pengemudi). Di dalam mobil hanya ada saya dan lelaki itu (yang kemudian saya ketahui bernama Bapak Abdurrahman).

Agar Bapak Abdurahman tidak berprasangka negatif, saya memulai pembicaraan dengan memperkenalkan diri bahwa saya guru dari Indonesia. Saya dan rombongan sedang dalam misi muhibah ke negara-negara Asean. Ternyata Bapak Abdurahman sangat baik, beliau mengatakan bahwa bersamanya saya aman. Saya akan diantarkan mencari rombongan.

Walaupun demikian, saya was-was selama dalam perjalanan. Bahkan sempat berpikir untuk menemukan alat apa yang akan saya gunakan untuk membela diri seandainya saya terancam (dasar paranoid...!). Jalanan sepi, di dalam mobil senyap, tanpa kata-kata. Saya gamang dalam suasana seperti itu. Akhirnya saya memulai perbincangan, apa saja yang terlihat di sepanjang jalan saya tanyakan. Bapak Abdurrahman menjawabnya dengan penuh kesabaran. Saya sedikit merasa lega. Ketika konsentrasi beralih kepada tujuan semula, yaitu mencari rombongan, saya kembali panik. Ke mana mobil ini mengarah? Sampai kapan? Enam puluh kilo meter bukan jarak yang dekat dalam situasi seperti ini. Tidak ada tanda-tanda akan bertemu rombongan, sementara mobil yang saya tumpangi juga melaju entah ke mana.



Di tengah ketidakpastian tujuan, saya bertekad untuk tetap "survive". Dan....tiba-tiba berdesir rasa hati saya: dalam sorot lampu jalan terlihat bus dengan dominasi warna hijau khas Pariwisata Malaysia, melintas di jalur seberang, berlawanan arah dengan mobil yang saya tumpangi. Sontak saya meminta Bapak Abdurahman untuk berbalik haluan. "Mungkin itu Pak. Kita balik", kata saya sambil menunjuk ke arah bus yang melesat. Walaupun ragu-ragu, Bapak Abdurahman mencari arah jalur putar balik yang cukup jauh. Ketika mobil berada pada jalur yang searah, bus sudah di luar jangkauan pandang saya. Bapak Abdurahman menambah kecepatan laju mobilnya.

Saya mengambil keputusan "gambling". Apabila arah yang saya tempuh salah, berarti saya menghabiskan malam di jalanan. Perasaan harap bercampur cemas mempertajam suasana tegang. Saya kehilangan selera bicara. Berpuluh kilometer mobil melaju dalam kebisuan. "Kite balik kedai", kata Bapak Abdurahman memecah kesunyian. Saya tetap diam dan merasa putaran roda mobil semakin lambat. "Alhamdulillah...", Bapak Abdurahman berseru sambil menunjuk ke depan. "Alhamdulillah...", ucap saya setengah menjerit. Bapak Abdurahman memperlambat mobilnya, tampak bus berhenti di sisi jalan. Dua orang laki-laki turun dari dalamnya. Ya, Mas Syamsul dan Pak Tunggul menyeberang jalan menuju kedai tempat saya makan beberapa jam yang lalu. Mobil terus berjalan memutar balik menuju kedai. Istri Bapak Abdurahman berteriak bahagia (saya juga bahagia, walaupun tak mampu berteriak). Entah apa yang dirasakan Mas Syamsul dan Pak Tunggul, mereka tampak tersenyum tapi tidak begitu manis.

Saya mendekat ke arah Bapak Abdurahman dan bertanya pelan, "Berapa saya harus mengganti kerugian Bapak?". Tetapi Bapak Abdurahman mengatakan bahwa Tuhanlah yang menolong saya melalui beliau. Lalu saya mengucapkan terima kasih dan ingin menjabat tangannya, tetapi beliau mengatupkan kedua telapak tangan di dadanya. Saya terharu, tak mampu menahan butiran air mata yang meronta keluar.


Bus melaju menuju Hotel Ambassador, The Amazing Thailand *****