25 Maret 2008

Tahukah Anda?

Munculnya Gunung Krakatau

Perkembangan Gunung Krakatau
Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau Purba kemudian tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal sebagai Gunung Rakata yang terbuat dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah, bernama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang kemudian menyatu dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut Gunung Krakatau.
Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680 menghasilkan lava andesitik asam. Lalu pada tahun 1880, Gunung Perbuwatan aktif mengeluarkan lava meskipun tidak meletus. Setelah masa itu, tidak ada lagi aktivitas vulkanis di Krakatau hingga 20 Mei 1883. Pada hari itu, setelah 200 tahun tertidur, terjadi ledakan kecil pada Gunung Krakatau. Itulah tanda-tanda awal bakal terjadinya letusan dahsyat di Selat Sunda. Ledakan kecil ini kemudian disusul dengan letusan-letusan kecil yang puncaknya terjadi pada 26-28 Agustus 1883

Gunung Krakatau

Krakatau adalah gunung berapi yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Gunung berapi ini pernah meletus pada tanggal 26 Agustus 1883. Letusannya sangat dahsyat dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat. Suara letusan Gunung Krakatau sampai terdengar di Alice Springs, Australia dan pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali dari bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.
Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska.

Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.

24 Maret 2008

Mozaik Ayat-Ayat Cinta

Apresiasi Puisi

Berikut puisi karya tokoh Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta
walaupun ia seorang mahasiswa program doktoral di Universitas Al Azhar Mesir, Fahri tidak pandai menggaet perempuan. Akan tetapi sebagai laki-laki normal ia memiliki perasaan cinta dalam hatinya, entah untuk siapa. Pada suatu malam di musim semi, ia menulis puisi berjudul Bidadariku. Tumpahan perasaan cintanya tersebut tertampung di buku hariannya. Perhatikan larik-larik puisi di bawah ini!


Bidadariku,
Namamu tak terukir
Dalam catatan harianku
Asal usulmu tak hadir
Dalam diskusi kehidupanku
Wajah wujudmu tak terlukis
Dalam sketsa mimpi-mimpiku
Indah suaramu tak terekam
Dalam pita batinku
Namun kau hidup mengaliri
Pori-pori cinta dan semangatku
Sebab
Kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan
Untukku
Bidadariku

Fahri tidak tahu untuk siapa puisi itu ditulis, ia tidak mengacu satu nama sebagai gadis pujaaannya. Meskipun banyak gadis cantik dan terpelajar yang ia kenal, tidak pernah terbersit dalam hatinya untuk memiliki satu atau lebih di antara mereka. Sebagaimana tertera pada larik:

/ Bidadariku,/
/Namamu tak terukir/
/Dalam catatan harianku/

Ia pun tidak pernah menentukan persyaratan tentang asal usul sang bidadari. Memikirkan dan membicarakannya juga tidak pernah.

/Asal usulmu tak hadir/
/Dalam diskusi kehidupanku/

Bahkan ia tidak tahu bagaimana wujud bidadari yang dipujanya. Apalagi memimpikannya, wajahnya tidak pernah melintas dalam bayangannya.

/Wajah wujudmu tak terlukis/
/Dalam sketsa mimpi-mimpiku/

Hadirnya bidadari tersebut tidak terinspirasi oleh kemerduan suara siapa pun, Fahri tidak memiliki pencitraan suaranya.


/Indah suaramu tak terekam/
/Dalam pita batinku/

Sebagaimana ia selalu berharap ada orang yang menyatakan cinta kepadanya, atau menawarkan seseorang untuk menjadi istrinya. Dan bidadari itu hidup dalam hati dan memacu semangat hidupnya.

/Namun kau hidup mengaliri/
Pori-pori cinta dan semangatku/

Bidadari itu tidak pernah ada namun ada dalam keyakinan Fahri. Karena ia yakin tentang jodoh yang diberikah Allah swt kepadanya.

/Sebab/
/Kau adalah hadiah agung/
/Dari Tuhan/
/Untukku/
/Bidadariku/

Selama ini ia memang tidak pernah berani mencintai seorang gadis pun karena dia selalu menganggap “Aku ini siapa? Aku hanya orang miskin dari desa. Anak penjual tape. Santri yang pernah mengabdikan diri di pondok pesantren, ...”. Begitulah pikiran Fahri tentang cinta. Eksistensinya sebagai mahasiswa program doktoral di Universitas Al Azhar Mesir tidak bisa diandalkan untuk urusan cinta. Akan tetapi dia hebat dalam pendidikan, dalam agama, dalam cita-cita, dan segala selain harta dan wanita.
Dan Bidadari dalam khayalan akhirnya menjadi kenyataan ketika Syeikh Ahmad menawarkan kepada Fahri untuk menikahi seorang gadis Turki-Jerman yang bernama Aisha.