25 September 2008

Kabar dari Desa


Lamongan di puncak kemarau:
Jati yang ditanam kakakku dibelakang rumah meranggas, meluruhkan daun-daunnya.
Pohon kurma depan rumah terbakar kembang api anak-anak.
Buah randu pecah,menyembulkan kapuk beterbangan, putih... berbaur dengan angin zat asam panas menghempas debu-debu dan hinggap di atas sisa dedaunan.
Bunga-bunga kamboja bermunculan di ujung reranting tak berdaun, putih...
Hanya langit yang selalu tampak membiru di balik batang-batang kerontang
Sementara...
Sepasang bunga bangkai mini tumbuh di dekat rumpun bambu.
Dan...
Orang-orang berpuasa kehabisan air ludah, kering...
Yang sungguh menakjubkan, bumi pecah-pecah diukir menjadi permadani hijau bernama tembakau.
Luas...berbatas pandangan mata.
Air siramannya bercampur keringat yang mengucur dari tubuh legam berkilat-kilat.
Duhai... sempurnalah perjuanganmu petani di tanah gersang.

Itulah lukisan wajah alam yang selalu indah bagiku
Keluh dan kesahnya bagai nyanyian rindu yang bergenderang di hatiku, syahdu...





Tidak ada komentar:

Posting Komentar