25 Mei 2016

Untuk Saya dan Anda


Dalam menjalani kehidupan, setiap manusia mempunyai tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai. Oleh karena itu dibutuhkan usaha, kerja keras, rasa optimis, dan semangat pantang menyerah untuk mewujudkannya. Guna mencapai titik pencapaian tertinggi dibutuhkan motivasi yang meningkat secara terus-menerus. Karena dalam perjalanan menuju cita-cita hakiki, kita sering menghadapi kendala dan kegagalan, bahkan terkadang jatuh pada titik terendah, depresi, dan stress (Naudzubillahimindzalik). Pada kondisi demikian kita harus kuat dan segera bangkit walau tertatih dan terasa perih. 

Banyak orang mengalami kegagalan ketika hampir mendekati kesuksesan. Hal itu terjadi karena sifat manusia yang cenderung lemah, mudah meyerah, dan putus asa. Ini tidak boleh terjadi karena hidup perlu ketegaran, perjuangan, dan semangat pantang menyerah  untuk menggapai kesuksesan. Ibarat mendaki gunung dan telah mendekati puncak triangulasi kita sering dihadang oleh kondisi fisik yang lemah, napas yang berat, dan oksigen seolah sulit dihirup, atau bahkan cuaca buruk, badai, dan  keadaan alam yang ekstrem tak bersahabat (Ini pengalaman pribadi saat mendaki gunung). Oleh karena itu, kemampuan dan pengetahuan menuntut kita harus bisa survive untuk bertahan hidup demi tercapainya tujuan. Demikianlah gambaran manusia berjuang demi masa depannya.
           
Di balik kesuksesan pasti ada jalan panjang, yang bercerita tentang perjuangan dan pengorbanan, kendala dan kesabaran, serta harapan yang terus menyala dan doa-doa yang tak pernah padam. Tidak ada jalan pintas menuju sukses. Rintangan yang menghadang dan celaan-celaan yang melemahkan sering menjadi penyebab kegagalan. 
Kita harus bisa memotivasi diri sendiri di saat gagal dan terpuruk. Kalimat klise yang sering kita dengar adalah “Orang yang sukses bukanlah mereka yang tidak pernah gagal.”  Hampir semua manusia pernah mengalami kegagalan, apa pun jenis dan berapa pun tingkatannya. Namun, mereka dapat dikatakan memiliki modal kesuksesan dan akan menjadi sukses jika pada saat gagal, mereka tidak berlarut-larut meratapi kegagalannya.  Segera bangkit dengan suntikan motivasi yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri. Sedangkan orang gagal melakukan sebaliknya, mereka semakin terpuruk dalam jurang penderitaan. Akibatnya mereka tidak mampu bangkit dan menyerah kalah. 
           
Jika “segala sesuatu akan indah pada waktunya”, maka jangan pernah menyerah. Karena hidup bukan persoalan kalah dan menang melainkan maju terus, bangkit, dan bergerak. Karena kita tidak mungkin terus berlayar, dan tidak akan pernah tahu sampai di pelabuhan mana perahu kehidupan kita bersandar, lalu mimpi kita pun akan terhenti. Lengkapilah perjuangan kita mencapai kesuksesan dengan keteguhan dalam menjalankan ajaran agama. Kuatkanlah dengan doa. Dalam doa ada harapan, misteri, dan keistimewaan seorang hamba dalam genggaman Tuhan Yang Mahakuasa. Yakinkan pada diri sendiri bahwa Tuhan akan membantu kita dalam mengatasi setiap kesulitan. Dengan semangat, kerja keras, dan bangkit dari keterpurukan, kita pasti berhasil mencapai harapan dan cita-cita.
Mari kita berjuang meraih mimpi. Tuhan bersama orang-orang yang memperjuangkan hidupnya. 

             Sebagaimana Allah swt, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang telah mengatakan dalam surat Al Insyirah: Bahwa setelah kesulitan ada kemudahan, bahkan bersama kesulitan disertai kemudahan. Pernyataan tersebut diulang sebanyak dua kali dalam surat tersebut sebagai penegasan untuk menyakinkan hambanya.
 
Photo by: P3c3q
***

16 Mei 2016

Kembalinya Sastra yang Hilang

Sebagai guru Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMA, saya merasa bersyukur atas kembalinya Sastra dalam Kurikulum melalui hasil revisi (ke empat) Silabus Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan (SMA/MA/SMK/MAK) Tahun 2016. Berikut data kembalinya sastra dalam Kurikulum 2013 revisi Silabus tahun 2016.


  


Sejak diimplementasikan Kurikulum 2013 pada awal Tahun Pelajaran 2013/2014 (sampai dengan edisi revisi ke-1, 2, dan 3), Silabus Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMA terasa kering dan tandus tanpa hadirnya sastra. Kelas X sama sekali tidak tersentuh sastra, kelas XI hanya Teks Pantun dan teks Cerpen, sedangkan Kelas XII hanya Teks Cerita Fiksi dalam Novel.

Alhamdulillah, di tahun 2016 ini “Puisi” hadir kembali sebagai materi pembelajaran kelas X SMA. Terlepas dari kerumitan dan ketimpangan materi yang telah dipelajari terdahulu; dan (tentu saja) betapa mubazirnya jutaan eksemplar buku paket bahasa Indonesia yang telah diterbitkan dan digunakan di sekolah karena lebih banyak perbedaanya daripada kesamaannya. Sebelumnya, masing-masing tingkatan kelas hanya mempelajari 5 teks yang tidak berisi apa-apa karena bahasa Indonesia tidak lagi dipandang sebagai ilmu yang harus dipelajari, tetapi hanya sebagai alat penghela ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, hadirnya kembali sastra sungguh menggembirakan.

Tentang teknik pembelajaran menulis puisi, berikut tulisan saya empat tahun lalu yang telah saya sesuaikan dengan kompetensi dasar berdasar Kurikulum 2013, Draf Silabus edisi revisi tahun 2016:

Teknik Pancingan Kata Kunci dalam Pembelajaran Menulis Puisi

Keterampilan menulis puisi pada pembelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas X tertuang dalam Kompetensi Dasar 4.17: Menulis puisi dengan memerhatikan unsur pembangunnya.
Menulis puisi merupakan kegiatan reproduksi pikiran dan perasaan menjadi tulisan. Menulis itu penting. Tulisan tidak sekedar dipandang sebagai kompetensi linguistik seseorang, namun banyak manfaat yang diperoleh dari menulis, khusunya menulis puisi. Selain dapat menunjukkan kekayaan intelektual penulisnya, menulis puisi merupakan ajang kreativitas, tempat mencurahkan isi hati dan pikiran, sarana untuk mengurangi beban perasaan, wujud eksistensi diri, bahkan sumber komersialisasi. 



Dalam mengembangkan proses kreatif menulis puisi diperlukan wawasan yang luas, kepekaan rasa, dan daya bayang (imajinasi) yang tinggi. Ketiadaan unsur-unsur itulah yang menjadi hambatan siswa dalam menulis puisi. Beberapa ungkapan yang sering dikatakan siswa ketika mereka belajar menulis puisi antara lain: kesulitan memulai, galau dalam menentukan ide, bingung memilih kata yang tepat, atau “mati gaya” dalam merangkai diksi menjadi larik, larik menjadi bait, sehingga tersusun kesatuan puisi dengan bahasa yang estetis. Akibatnya, puisi yang dihasilkan terlalu “kering”, bahasanya monoton, dan tidak terlalu berbeda dengan bahasa koran. Oleh karena itu dalam pembelajaran menulis puisi diperlukan salah satu teknik yang dapat membantu siswa agar terampil menuangkan gagasan dalam bentuk puisi yaitu teknik Pancingan Kata Kunci.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pan•cing•an berarti 1) yang dipakai untuk memancing (memikat, menarik hati, dsb); 2) kata-kata (perbuatan dsb) untuk mencari sebab. Sedangkan kata kunci diartikan sebagai berikut: kata kunci 1) kata atau ungkapan yang mewakili konsep atau gagasan yang menandai suatu zaman atau suatu kelompok; 2) kata atau ungkapan yang mewakili konsep yang telah disebutkan. Berdasarkan makna leksikal tersebut dapat disimpulkan bahwa Pancingan Kata Kunci dalam pembelajaran menulis puisi adalah teknik yang dilakukan oleh guru dengan cara memberikan stimulasi berupa kata-kata pokok sebagai panduan untuk menumbuhkan kreativitas siswa dalam memilih, menentukan, dan mengeksplorasi diksi menjadi puisi. Dengan teknik Pancingan Kata Kunci siswa lebih mudah menuangkan dan mengembangkan gagasannya menjadi puisi.

Secara umum pelaksanaan teknik Pancingan Kata Kunci dalam menulis puisi dapat dijelaskan dalam tiga tahap.

(1) Tahap Pemodelan.
Siswa diajak menyimak pembacaan puisi yang dilakukan langsung oleh siswa/guru atau melalui rekaman video. Dengan pembacaan tersebut siswa dikenalkan kepada unsur-unsur yang membangun puisi. Siswa diajak berdiskusi tentang struktur fisik dan struktur batin puisi, antara lain tipografi, diksi, majas, rima, nada, tone, tema, dan amanat.
(2) Tahap Pemberian Kata Kunci.
Guru memberikan pancingan kata kunci dengan batasan kriteria dan tema tertentu.
(3) Tahap Penulisan.
Siswa mengembangkan kata kunci yang diberikan oleh guru sesuai dengan batasan kriteria dan tema yang ditentukan.
Contoh pancingan kata kunci yang diberikan guru sebagai berikut.

A. Tugas 1

1) Tema bebas, baris puisi dimulai dengan “aku ingin”.
2) Masukkan unsur-unsur berikut ke dalam larik:
a. warna
b. manusia
c. bunyi
3) Minimal lima larik.
4) Waktu 10 menit.


Dan contoh puisi yang dihasilkan siswa sebagai berikut:

Asaku

Aku ingin menjadi satu gawang berwarna putih di lapangan luas
dan engkaulah sang bola
yang menjadi incaran berpasang-pasang mata
“braak!” semua orang beradu tubuh
mengejarmu dalam ambisi membuncah
tanpa keluh kesah
hiruk pikuk
lalu lalang
namun…
hanya kepadakulah engkau datang


(Puisi karya Annisa Rifqiana Kelas X)


Akulah Jantungmu

Aku ingin menjadi jantung
yang selalu berdetak di dada ibuku
“dagdug dagdug dagdug” sepanjang waktu.
Aku tak ingin berhenti
agar ibuku selalu hidup bersamaku
melebur semangat dalam ikatan hati

Siang dan malam aku tak lelah
Apalagi menyerah
Karena ibuku telah bertaruh nyawa
Bersimbah merahnya darah
Melahirkan aku


(Puisi karya Rahardi Mundi Kelas X)
***