28 Desember 2008

Selamat Tahun Baru 1430 H


Peredaran langit dan bumi, bulan, bintang, matahari dan benda langit lainnya, adalah salah satu bukti kekuasaan Allah Rabbul ‘Alamin yang hanya akan dapat dipahami orang-orang yang beriman. Dengan banyak memerhatikan dan membaca ayat-ayat Allah, akan bertambah dekatlah dirinya kepada Allah, dan bertambah pula keimanan dan kecintaan kepada-Nya. Dari pengaruh peredaran dan jarak antara bumi, bulan, matahari dan bintang-bintang itulah bergantung segala perkembangan dan kehidupan di muka bumi ini. Terjadi siang dan malam, musim panas, dingin, sedang, turunnya hujan, tumbuh dan berbuahnya segala tumbuhan dan binatang. Semua karena pengaruh peredaran bumi, bulan, matahari dan benda langit lainnya.

Permulaan Tahun Hijriyah
Sebuah dokumen penting telah disampaikan kepada Khalifah Umar bin Khattab dengan memakai tanggalnya hanyalah bulan Syakban semata, sehingga Khalifah Umar sampai-sampai mengatakan : ‘’ Syakban mana? Syakban yang sedang kita hadapi inikah, atau yang akan datang, atau yang sudah lampau?’’

Dalam menelusuri sejarah penetapan tahun hijriyah itu dikabarkan, bahwa Abu Musa Al-Asyari, Gubernur di Basrah (Irak) di zaman pemerintahan Umar bin Khattab, pernah mengirim surat kepada Khalifah II itu, yang menyatakan bahwa ia telah menerima surat dari Khalifah yang tidak memakai tanggal. Hal ini dirasakan oleh khalifah sebagai sindiran halus tentang penanggalan (kalender) yang seragam, yang dipergunakan sebagai tanggal, baik di kalangan pemerintah maupun kepentingan umum.

Sindiran halus itu mendorong Khalifah Umar untuk memanggil stafnya untuk membicarakan dan memutuskan soal yang dianggap remeh sebelum itu. Tetapi satu-satunya sangat penting dan menentukan yaitu menetapkan penanggalan (kalender) Islam. Soal yang paling menarik dalam pembicaraan itu adalah : dari mana dimulai titik awal atau permulaan tahun baru Islam. Ada empat alternatif yang digunakan, yaitu, pertama dihitung dari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Kedua, dihitung dari wafatnya Rasulullah SAW. Ketiga, dihitung dari mulainya Rasulullah menerima wahyu. Keempat, dihitung dari hijrahnya dari Makkah ke Madinah. Usul yang keempat ini menurut catatan riwayat, dimajukan oleh Ali bin Abi Thalib, salah seorang dari staf Khalifah Umar bin Khattab yang termuda saat itu. Setelah didiskusikan secara mendalam, akhirnya disetujuilah usul supaya penanggalan (kalender) Islam yang akan ditetapkan itu dimulai dari tahun hijrahnya Rasulullah dan para Sahabat beliau dari Makkah ke Madinah, yang waktu itu masih bernama Yatsrib, dan kemudian menjadi Madinatul Munawarah, yang artinya kota yang memancarkan cahaya yang terang benderang.

Perbedaan dengan Tahun Miladiyah
Tahun miladiyah (masehi) disebut juga Yulian Era atau Gregorian Era (Calendar). Disebut tahun miladiyah atau masehi sebab awalnya ditetapkan dengan kelahiran Nabi Isa AS (Yesus). Disebut Yulian karena diakui dan dipergunakan sejak berkuasanya Yulius Caesar di Roma, kemudian diubah dengan nama Gregorian Calender, karena terjadinya perubahan tanggal, 4 Oktober 1582 diganti dengan tanggal 15 Oktober 1582. Jadi perhitungan harinya dikurangi 11 Hari. Di saat itu berkuasa Paus Gregory. Sebelum tahun 1582, yang disebut satu tahun adalah lamanya peredaran bumi mengelilingi matahari yang lamanya ditetapkan 365 hari 6 jam. Setelah berjalan perhitungan itu selama hampir 16 abad lamanya, ternyata sudah tepat datangnya musim dingin dan musim panas.

Diketahui tahun itu lamanya peredaran bumi dikelilingi matahari adalah 365 hari, 5 jam, 49 menit dan 12 detik. Jadi dengan penetapan setahun lamanya 365 hari dan sekali 4 tahun menjadi 366 hari, maka perhitungan itu berlebih 10 menit 48 detik.

Kejadian ini dalam 16 abad sudah menjadi 11 hari lamanya. Sebab itu maka para ahli pada tahun 1582 mengubah tanggal 4 Oktober 1582 menjadi 15 Oktober 1582. Inggris baru mengakui perhitungan ini seabad kemudian yaitu pada tahun 1752, sedang Yunani baru mengakuinya pada tahun 1923 silam. Bumi sebagaimana diketahui dalam peredarannya mengelilingi matahari, kadang-kadang tepat yaitu matahari persis garis khatulistiwanya. Sedikit demi sedikit miring ke Utara, sehingga udara bahagian Utara permukaan bumi menjadi panas. Tepat pada tanggal 21 Juni tiba di puncak arah Selatan dan kembali matahari tepat di garis khatulistiwanya kembali. Lalu terus bertambah miring ke Selatan sampai pada kemiringan 231/1 derajat Utara dari bumi (Eropa), dan musim panas di bagian Selatan (Amerika). Dalam hal ini, Allah menjelaskan dalam firman-Nya :

‘’Dia Rabb (yang mengatur) dua Timur dan dua Barat. (QS. Ar-Rahmaan: 17)
Dengan segala perubahan letak bumi itulah diketahui segala macam musim, dan berkembang biaknya binatang, burung, atau ikan laut. Semua itu sangat penting diketahui untuk keselamatan pelayaran, penerbangan atau perkembangan segala yang terdapat di bumi ini.

Tahun Hijriyah
Tahun hijriyah juga disebut dengan Islamic Calendar, dihitung dari lamanya bulan mengitari bumi. Bulan adalah satelit bumi. Ke mana saja bumi beredar, bulan mengikutinya dengan mengitari bumi. Bulan mengitari bumi selama 29 hari, 12 jam, 44 menit dan 2,78 detik. Dalam satu tahun Hijriyah selama 12 kali bulan mengitari bumi, menjadi 354 hari lebih. Kelebihan 44 menit dan 2,78 detik itu dalam 30 tahun menjadi 11 hari. Sebab itu tahun Hijriyah dijadikan tahun pendek dengan umurnya 354 hari. Dan 11 hari dalam 30 tahun dijadikan tahun panjang yang umurnya 355 hari. Bulan Hijriyah ditetapkan umurnya bergilir 29 dan 30 hari. Yaitu bulan Muharram 30 hari umurnya, bulan Syafar 29, Rabbiul Awwal 30, Rabbiul Akhir 29, Jumadil Awwal 30, Jumadil Akhir 29, Rajab 30, Syakban 29, Ramadhan 30, Syawal 29, Zulqaidah 30, dan Zulhijjah 29/28. Di tahun panjang, bulan Zulhijjah dijadikan 30 hari.

Islamic Calendar
Hari bulan hijriyah dihitung dari terjadinya kesejajaran antara bumi, bulan dan matahari, yang disebut ijtimak, sehingga bulan lenyap sama sekali dari pandangan mata. Sebab ketika ijtimak itu, bulan kena sinar matahari menghadap ke matahari dan membelakangi bumi. Dan bila tidak kena sinar matahari tidak kelihatan. Di saat itu berakhirlah bulan dan besoknya dihitung sebagai bulan baru.

Karena sudah tidak sejajar lagi, maka pinggir bulan yang terkena sinar matahari dapat kita lihat dari bumi, sehingga bulan seperti sabit tipis, semakin hari semakin tebal. Tanggal 7 menjadi seperdua bundaran, tanggal 14 menjadi penuh, dinamai bulan purnama. Kemudian berkurang dan berkurang, tanggal 21 menjadi bundaran, dan tanggal 29 lenyap karena kembali sejajar antara bumi, bulan dan matahari.

Dengan demikian kita ingat bahwa antara tahun miladiyah dengan tahun hijriyah terdapat perbedaan umurnya 10, 11 atau 12 hari dalam setahunnya. Namun semua ibadat dalam Islam dipergunakan perhitungan tahun hijriyah. Sebab itulah dinamai juga perhitungan sebagai tahun Islam atau Islamic Calendar.***

H Rusli Effendi
Ketua DPW PPP Riau
Anggota DPRD Provinsi Riau
Riau Pos

22 Desember 2008

Selamat Hari Ibu


Kutulis puisi ini sebagai kado untuk Ibunda Latifah,
wanita tabah, sumber inspirasiku

Selamat Pagi Ibu...

Kuawali hari ini bersama deritan daun pintu
Di antara rintihan gerimis pagi dan angin mendesah menoreh kalbu
Kubentuk silluet wajahmu
Tatapanmu yang teduh menggores getah rindu
Menetes sepanjang waktu

Ibu...
Sejuk darahmu mengalir damai dalam tubuhku
Doamu mengalun bagai melodi di setiap hembus napasmu
Selaras dalam harmoni dan berpadu dengan doaku

Aku rindu kepadamu Ibu...
Namun aku tak mudah menggapaimu
Karena aku tak lagi milikmu
Aku telah tinggalkanmu demi darma baktiku
Demi seorang yang telah kuberikan hatiku
Yang kepadanya tak mampu aku berkata ”tidak” , Ibu..
Dan... aku pun tak mudah ke rumahmu

Ibu...
Cinta kasih dan hormatku tak perlu kau ragu
Telah kupautkan hatiku di hatimu sejak dahulu
Telah kuukir rumahmu dalam jiwa nan mengeras bagai batu
Dan kusinggahi selalu dalam kembara mimpi-mimpiku

Ibu...
Aku ingin berbaring di pangkuanmu
Berlabuh dari pelayaran samudra hidupku
Walau sekejap, setelah itu berlalu
*****************************

Halaman berikut memuat Puisi-puisi karya siswa sebagai kado di hari Ibu:



1. Karya Dyah Tri Palupi (XII IS 1)

Ibu

Engkau berikan seluruh hidupmu
Cinta, kasih sayang, dan air mata
Ibu...
Engkau tempatku mengadu
Tentang suka, duka, juga cintaku
Ibu...
Tanpa doamu aku tak akan mampu
berdiri melawan kerasnya hari
Ibu...
Bahagiamu membawa damai di hatiku
Rintihanmu bagai pisau yang menyayatku
Tak seorang pun dapat menggantikanmu
Terima kasih, Ibu...




2. Karya Yulia Rahmawati (XII IS 1)


Mentariku

Bunda...
Kau sinar mentari di pagi hari
Kau purnama di malam hari
Penyejuk hati disaat aku gundah
Bunda...
Kau angin yang memberi kesejukan
Kau api yang memberi kehangatan
Aku bersyukur telah memilikimu
Maafkan aku Bunda...
Yang mungkin telah membuatmu menangis
Perjuanganmu tak mungkin terbalas dalam hidupku
kaulah wanita terhebat bagiku
Kau membuatku kuat
Doamu slalu menyertaiku
Terima kasih, Bunda...



3. Karya Winda Ayu Paramita (XII IS 2)

Suryaku, Ibu

Pagi menyapa dengan indahnya
Burung bernyanyi merdu
Gemericik air, menambah indahnya pagi

Di sini.. Ibu tersenyum membuka hari
Dengan tangannya yang lembut
Menggugah jiwa dari lelapnya mimpi

Di sini... Ibu tersenyum membuka hari
Kasih sayangnya, cintanya...
Melekat selalu di hati

Ibuku...
Engkau selalu menemaniku
Di saat aku membutuhkanmu

Ibuku...
Dalam gelap kau menerangi jiwa
Dalam tenang, kau meneduhkan hati

Engkau surya dalam hidupku
Sampai mati, engkau selalu ada di sini
Di hatiku, tempat terindah untukmu








4. Karya Putu Eka Setyaningsih (XII IS 2)

Pengorbananmu, Ibu...

Aku teringat pada malam itu
Kau berjuang dalam hidupmu
Ibu ...
Kau mengajariku tentang kehidupan
Dengan kasih sayangmu yang tulus
Kau slalu mengikuti jejak langkahku
Walau letih, tak pernah engkau mengeluh
Ibu...
Kini aku telah beranjak dewasa
Namun aku tetaplah gadis kecil di matamu
Dan aku menyadari...
Bahwa aku adalah gadis kecil yang sedang mencari jati diri
Ibu...
Maafkanlah aku jika pernah membuat hatimu terluka
Sampai kapan pun aku tak bisa jauh darimu
Aku slalu membutuhkanmu
Ibu...
Aku hanya mampu mendoakanmu
serta mematuhi nasihatmu
Aku slalu menyayangimu, Ibu...



5. Karya: Ronald Alexander Kailola (XI IS 3)

Ibunda Tersayang

Malam begitu gelap
Hujan begitu deras
Aku terperosok dalam jurang kesedihan
Tangan itu menolongku
Mengangkatku

Bunda...
Engkau terang alam gelapku
Engkau hadir dalam pedih laraku
Wanita terhebat di alam semesta
Cintamu abadi

Bunda ...
Engkau tegar dan sabar
Menopang aliran hidupku
Maafkan aku yang pernah menyakitimu
Aku sangat mencintaimu...



6. Karya: Ade Darmawan (XII IS 3)

Tak Kan Kutemukan

Ketika hatiku perih
Tanganmulah yang ku genggam
Tak kan ada yang lebih kucintai
Hanyalah engkau, wahai Ibu...
Tuhan...
Pahatkan doaku di jalur hidupnya
Dikala kedengkian merasuk hatinya
Tabahkan ia ke dalam kesucian

Dikala api amarah menrpa
Sabarkan hatinya
Ketika sayang menjalari tubuhnya
Kuatkan perasaannya

Ibu...
Tahukah engkau
Tiap detik luka yang menderamu
Menjadi ribuan lara menusukku
Tetesan air matamu tak kan pernah kulupa
Kan usap dengan cinta

Akan kuabadikan sayang ini
Hingga tak kutemukan lagi
Hari esok....


7. Karya: Dewangga D.H. (XII IS 4)

Cinta Pertama

Kau...
Wanita pertama yang kukenal
Wanita pertama yang kucintai
Wanita pertama dalam hidupku

Kau..
Sosok yang lembut
Sosok yang kuat
Meski Rapuh

Kau...
Tumbuhkan cinta dalam hatiku
Dengan besarnya rasa cintamu
Bagai embun pegunungan yang menyejukkan
Bagai nur dalam pekat, menerangi dengan cinta yang tulus

Kau...
Segalanya bagiku, tapi...
Wanita pertama yang kusakiti
Wanita pertama yang aku dustai
Wanita pertama yang aku maki

Kau..
Kusakiti dengan egoku
Kucampakkan dengan sifatku

Kau...
Tak surut mencintaiku
Aku luluh oleh cintamu

Kau...
Cinta pertama dalam hidupku
Mama...
8. Karya: Celixa Amenity Yovanka (XII IS 4)

Cintaku untuk Ibu

Ibu...
tak pernah cukup
kubalas semua jasamu
aku hanya bisa mengucapkan terima kasih
untukmu

Ibuku sayang,
maafkan bila ku selalu membuatmu kecewa
sungguh,
aku tak berniat menyakitimu

Ibu,
jangan pernah tinggalkan aku
tak bisa kubayangkan
hidupku tanpa dirimu
engkau yang membuatku kuat
engkau yang mengajariku tentang hidup

Ibu,
kau wanita sempurna
luhur budimu
aku mencintaimu
****************

Catatan untuk murid-muridku:
1. Mohon maaf karena Ibu telah melakukan pemangkasan puisi kalian.
2.Puisi kalian bagus-bagus namun tidak semua dapat ditulis di sini.
3. Ibu sayang kalian, tanpa kecuali.
4. Berkomitmenlah untuk kooperatif dalam penegakan tata tertib sekolah.
5. Semoga kalian lulus ujian dan sukses dalam meraih cita-cita.







20 Desember 2008

Persahabatan dari Negeri Jiran


Hari ini saya bahagia karena telah mendapatkan "Award" Persahabatan
Menurut bahasa Melayu = Pengiktirafan)dari
Tuan Nik Abd. Rahman Raja Soh ,
seorang kawan dari Negeri Jiran Malaysia. Sebenarnya ada dua "award" yang diberikan oleh kawan saya tersebut
tetapi award yang pertama saya malu untuk mempublikasikan.Saya merasa tidak layak menerimanya.
Selain "Award", saya juga mendapatkan "Lencana Persahabatan": Berikut ini pengantar dari Tuan Nik Abd. Rahman Raja Soh :
Persahabatan pada saya seumpama tangan dan mata,
saat tangan terluka, mata menangis.
Di saat mata menangis, tangan menghapuskan air mata.
Nilai persahabatan amat tinggi pada saya.
Oleh itu saya sangat berbesar hati sekiranya sahabat-sahabat saya sudi menerima lencana ini sebagai tanda persahabatan saya dengan kalian.

Terima kasih Sir...
Semoga persahabatan kita tetap terjalin.
Ikatkan satu ujung tali silaturahmi ini di Malaysia
dan ujung yang lain saya ikat di Indonesia.



17 Desember 2008

Jamu - Jamu

 Suwe ora jamu
 2   3   2   3
 Jamu godhong telo
 2   1   2   3
 Suwe ora ketemu
 3   5   6   5
 Ketemu pisan gawe gelo
 4   2   1   6

 Begitulah salah satu bait tembang Jawa yang sering mengalun di antara iringan gamelan. Gamelan spesialis pegangan saya bernama Slenthem. Lempengan besi, perunggu, atau perak berbentuk persegi panjang yang ditata sejajar menggantung di antara tali pengait. Di bawahnya terdapat tabung silinder dengan diameter permukaan yang berbeda sebagai pengatur nada. Tidak berbunyi nyaring namun keberadaannya sangat dibutuhkan sebagai penyelaras nada. Fungsi slenthem sama dengan bass dalam alat musik modern. Slenthem bertempo lambat, tidak bisa dinamis seperti sharon, demung, atau peking. Dalam irama dangdut misalnya, slenthem tetap ”lombo” di antara pukulan-pukulan dinamis gamelan yang lain.

 Itu adalah filosofi kesabaran dalam menjalani kehidupan. Bagaimana mengatur emosi di antara perbedaan derap dan irama hidup antarsesama. Manusia harus mempertahankan karakter dan eksistensinya agar tetap survive dalam kerasnya kehidupan dunia. Manusia tidak boleh mudah terpengaruh apalagi latah atau mengekor orang lain. Jangan termakan peribahasa Ke mana angin deras bertiup, ke sana pula condongnya.

 Syair tembang Jawa yang sederhana tersebut memberi amanat yang luar biasa kepada kita. Dalam syair tersebut diungkap keprihatinan terhadap sifat buruk manusia yang selalu mengecewakan orang lain. Bahkan mereka yang sudah lama tidak bertemu pun tetap mengecewakan dalam pertemuannya. Sayang sekali, betapa sulitnya membahagiakan orang lain.

 Setiap melantunkan tembang itu saya selalu teringat oleh seseorang yang pernah menyampaikan pesan di ujung kematiannya. Waktu itu hari Selasa, sepuluh tahun yang lalu. Seorang murid meminta izin untuk memberikan puisi. Dengan senang hati saya menerimanya. Sesampai di rumah, ketika saya sedang beristirahat sambil membaca puisi tersebut:

...
 Jadikan setiap pertemuan hanya makna
 Lalu boleh kau katakan ”Selamat Tinggal
...

 Saya berpikir: Alangkah indahnya hidup ini, jika dalam setiap jumpa manusia selalu bermakna,tidak saling menyakiti, tidak meninggalkan penyesalan. Tak ada beban apa pun walau harus berpisah atau meniggal dunia.
Belum selesai apresiasiku, seseorang mengetuk pintu. Ia mengabarkan bahwa murid saya meninggal dunia, lelaki yang puisinya masih dalam genggamanku.
 




10 Desember 2008

Sholat Idhul Adha bersama Kepala Dinas Pendidikan


Senin, 8 Desember 2008.
Pagi yang bertabur gerimis,saya jadi ingat cerpen Nugroho Notosusanto berjudul "Hujan Kepagian". Bersama 7 murid saya bergegas ke Kantor Dinas Pendidikan Kota Malang. Keberangkatan saya bukan untuk urusan dinas, melainkan turut merayakan hari raya dengan Sholat Id bersama Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Dr.H.M.Shofwan, S.H., M.Si.

Pesan khotib (Ustad Sadjid) sangat berkesan: Keberhasilan bangsa dan negara dimulai dari keluarga yang solid, mempunyai komitmen yang kuat dan kesamaan tujuan, rela berkorban, dan agamis, seperti yang diteladankan keluarga Nabi Ibrahim alaihissalam.

Semoga negeri ini dipenuhi oleh keluarga-keluarga seperti itu sehingga Indonesia yang tercintai ini menjadi negara yang jaya, kuat, dan rakyatnya sejahtera.



07 Desember 2008

Deklarasi Supporter Indonesia Damai II

Bapak Budi Harsono, Kepala SMAN 7 Malang bersama para siswa
Sabtu, 6 Desember 2008.
Hari yang aneh: Pada hari tersebut kantorku berpindah ke Stadion Gajayana dengan mengawal 900 murid. Sejak matahari mulai mengintip dunia, aku sudah berkemas-kemas untuk berangkat ke Stadion Gajayana. Belum sampai ke mulut stadion aku sudah tidak bisa lewat karena puluhan ribu pelajar dan Aremania menuju ke arah yang sama. Macet total. Aku sulit menuju tempat yang telah disepakati untuk berkumpul. Murid-muridku berpencar karena tidak bisa menempatkan diri sesuai dengan titik koordinat dan deklinasinya. Megaphon yang aku bawa sama sekali tidak berfungsi. Bising suara manusia dan mesin kendaraan saling berkolaborasi menjadi nada yang memusingkan. Awal yang sulit bagi tewujudnya sebuah komitmen untuk perdamaian, antikekerasan, dan peperangan melawan narkoba. Sesuatu yang baik kadang memang sulit dilakukan bahkan untuk memulainya pun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan.

Bersatulah para supporter di seluruh Indonesia. Damailah bersama dunia...

Setelah sekian lama bersusah payah akhirnya semua masuk stadion satu per satu. Lokasi yang seharusnya ditempati murid-muridku (sesuai dengan kesepakatan dalam TM) ternyata sudah diduduki pasukan lain. Warna biru tak lagi menyatu, hanya seumpama noktah kecil di tribun stadion.

Ketika acara dimulai, mereka bersatu menyerukan yel-yel sesuai dengan ucapan pemandu acara, menggerakkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri, dan bertepuk sesuai irama. Darah muda remaja bergelora dalam satu jiwa.

Itulah ajang DEKLARASI SUPPORTER INDONESIA DAMAI II.
Hadir dalam pesta tersebut: Menteri Pemuda dan Olahraga (Bpk. Adhiaksa Dault) dan Kapolri (Jenderal (Pol)Bambang Hendarso Danuri).

Aremania: SALAM SATU JIWA