30 November 2010

Pak Pos, Saya Rindu Menulis Surat…(Bagian II)

2. Cuplikan Surat-Surat dari Murid Saya di Madura
(Bagian II)


11. Dari Athirta Irjatmiko, Jalan Mandilaras II/3 Pamekasan

“Dengan surat ini semoga hati Ibu yang sedih menjadi bahagia dan jika gelisah menjadi tenang. Semoga Ibu sehat dan selalu dalam lindungan Allah swt. Ibu, dalam hari-hari bersama kami, tentu banyak kenangan bahagia dan pedih yang bersatu. Dengan saling memaafkan, kenangan pahit dapat terlupakan. Kini Ibu telah pergi demi tugas, dengan sejuta kenangan yang membekas di hati. Terima kasih atas bimbingan, binaan, dan didikan Ibu kepada kami. Ilmu telah kudapatkan, tapi hanya kata-kata ini yang bisa aku persembahkan:

Seorang Ibu melangkah
Menuju kota Berteman
Merangkai perjalanan
Demi tugas dan kewajiban
Hari-harimu berlalu
Mengukir sebuah kenangan
Bibirmu selalu tersenyum
Namun jiwamu risau
Karena cinta kau tinggal jauh

Saya tidak tahu bagaimana perasaan Ibu setelah membaca untaian kata tersebut, tetapi saya berharap Ibu tersenyum membacanya, karena dengan tersenyum Ibu semakin kelihatan manis…”

12. Dari Saheriyanto, Jalan Veteran IV/50 Pamekasan

“Hari ini, 6 Januari 2004. Ibu telah melewati masa pengabdian selama 7 tahun 7 bulan di Pulau Garam, di SMAN 1 Pamekasan. Kini Ibu telah meninggalkan kami, menuju tempat tugas dambaan Ibu. Saya sebenar-benarnya sangat sedih dan haru. Semoga di tempat yang baru Ibu sangat menyukainya, saya ingin Ibu tetap bahagia seperti saat bersama kami. Guruku yang tulus memberikan ilmu, terima kasih atas segalanya, terima kasih telah membuka pintu hati kami untuk mengerti hakikat hidup yang sesungguhnya. Ibu guru yang kucintai, maafkanlah apabila tingkah laku kami selama di kelas atau pada waktu berpapasan di jalan kurang berkenan. Ibu, malam ini sudah larut. Saya hanya bisa mengucap selamat berpisah. Satu yang tak dapat kulupa, engkau guruku yang penuh sukacita. Rasanya saya ingin bertemu walau hanya sebentar, ingin belajar bersamamu walau hidup dalam mimpi…”

13. Dari Indra Wahyudi, Jalan Raya Blumbungan No. 9 Pamekasan

“ Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu karena dengan bimbingan Ibu, saya mengerti arti kehidupan yang sebenarnya. Pengalaman mengajar di di Pamekasan janganlah membuat ibu menyesali jalan hidup. Selamat bertugas di tempat yang baru, saya berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan Ibu lagi. Apabila selama ini saya pernah membuat luka perasaan Ibu, saya mohon maaf. Saya berdoa untuk kebahagian Ibu, dan saya mohon doa restu untuk kesuksesan saya, Ibu…”

14. Dari Moh. Reza Bahrezi, Jalan Raya Pakong, Maddis, Pamekasan

“ Selamat malam, petang, sore, siang, pagi. Saya ingin mengucap salam itu setiap waktu untuk Ibu. Apa kabar? Sejak saya dengar Ibu akan pindah tugas, pada siang itu hati saya terasa pedih. Menetes air mata saya. Semua itu pertanda bahwa Ibu tidak boleh pergi meninggalkan saya. Tapi saya tidak boleh egois untuk kebahagiaan Ibu. Karena Ibu juga punya tanggung jawab yang besar di lain hal. Terima kasih Ibu, telah mendidik, membimbing, menasihati, mengayomi, dan menyemangati saya untuk menjadi nomor satu. Masih ingatkah, ketika Ibu mengumumkan hasil ulangan ke-3 dan ke-4, Ibu menyatakan bahwa hasil ulangan saya “bagus”, hati saya sangat senang dan saya merasa punya arti. Setiap menulis, saya teringat Ibu yang selalu berpesan untuk memperhatikan EYD, tanda baca, tulisan yang jelas, dan pilihan kata yang benar. Jangan lupakan simphoni masa lalu di SMA bersamaku, Ibu… jadikan semua ini sebagai kisah klasik di masa depan. Semoga Ibu bahagia di tempat yang baru, dan senantiasa dalam lindungan Allah swt. Saya berharap dapat bertemu Ibu di lain waktu, di lain kesempatan, dan saya ingin melihat Ibu tetap tersenyum…”

15. Dari Dedi Novianto, Jalan P. Trunojoyo Gg III/9 Pamekasan

“Ibu, walaupun Ibu tidak mengajar kami lagi, tapi insya Allah saya akan tetap ingat dan mematuhi pesan Ibu untuk patuh dan hormat kepada guru pengganti Ibu, siapa pun orangnya. Walaupun sebenarnya guru penggantinya tidak seperti Ibu dalam mengajar kami. Saya berdoa semoga semua yang Ibu ajarkan menjadi ilmu yang bermanfaat. Saya berdoa untuk kebahagiaan Ibu, dan saya mohon doa kepada kedua orang tua saya juga memohon doa Ibu untuk keberhasilan saya. Mohon maaf atas semua kesalahan saya, Dedi Novianto nomor presensi 17 kelas 3 IPS-3”

16. Dari Dwi Purnomo Ramadhani, Jalan Pramuka No. 2 Pamekasan (Alamat Sekolah)

“ Ini surat penghantar untuk mengucapkan salam perpisahan. Perpisahan yang sangat tidak saya inginkan, tapi harus terjadi agar Ibu bisa bersatu dengan keluarga di Malang. Saya mohon maaf karena pernah membuat Ibu marah. Walaupun Ibu hanya marah melalui bahasa dan tanpa teriakan, tapi saya sangat menyesal. Pemberian maaf Ibu sangat berarti bagi saya dalam menjalani kehidupan kini dan masa depan. Selamat jalan Bu, saya selalu berdoa semoga Ibu selalu dalam lindungan-Nya serta sukses dalam segala hal. Saya mohon doa dari Ibu agar berhasil juga dalam segala hal. Terima kasih telah mengajari dan mendidik kami untuk menjadi tangguh dalam menjalani hidup, serta memiliki kepribadian yang matang. Jangan lupakan kami Bu, karena kami tidak akan pernah melupakan Ibu…”

17. Achmad Fajar, Jalan Nyalabu Permai II/7 Pamekasan

“Ibu Lilis yang saya sayangi, berat rasanya saya kehilangan Ibu, karena Ibu telah membuat saya bangga masuk jurusan IPS, Ibu menguatkan kami dengan memotivasi-motivasi. Ibu Lilis yang saya sayangi, sebenarnya masih banyak yang ingin saya sampaikan, tetapi saya tidak mampu mengutarakan dengan tulisan karena saya tidak bisa menahan air mata yang turun terus menerus saat saya menulis surat ini. Mungkin dengan foto ini Ibu akan mengingat saya. Jangan lupakan saya Bu, jangan lupakan kami, kenanglah kami di hati Ibu. Maafkan kami bila pernah membuat Ibu kesal atau kecewa, tetapi kami tidak pernah melakukankesalahan itu dengan sengaja. Maafkan kami Bu, maafkan kami…”

18. Dari Nurhatim, Desa Lancar Petang II Larangan, Pamekasan

“Semoga rahmat dan hidayah Allah tetap mengiringi langkah diri dan keluarga Ibu selalu. Amien. Berat rasa hati ini melepas kepergian Ibu, pergi meninggalkan kami menuju tempat tugas yang baru. Saya, Nurhatim kelas 3 IPS 2 nomor 32 (semoga Ibu tidak lupa). Saya tidak akan melupakan Ibu, tidak akan melupakan jasa Ibu. Tidak lupa saya mengucapkan kata maaf jika saya pernah melakukan kesalahan ketika kita masih bersama. Saya memohon kepada Allah swt agar segala ilmu yang Ibu ajarkan selalu bermanfaat bagi perjalanan hidup saya menuju kesuksesan. Saya mohon doa restu Ibu agar tujuan dan cita-cita hidup saya dapat tercapai dengan baik. Semoga di lain kesempatan saya dapat berjumpa lagi dengan Ibu, ibuku yang baik…”

19. Dari Febry Kurniawan, Desa Lancar Petang II Larangan, Pamekasan

“Perpisahan ini sangat menyedihkan karena banyak hal yang tidak akan dapat kami lupakan dari Ibu yang teguh memegang prinsip dan berwawasan luas. Telah banyak yang Ibu dapatkan di sini, pengalaman, teman, dan hal lain yang menyenangkan bahkan menyakitkan. Namun kami memohon agar Ibu dapat melupakan semua yang menyakitkan. Dan jadikan semua kebaikan sebagai kenangan yang indah, sebagaimana saya mengenang Ibu yang selalu tersenyum. Ibu telah dan pernah menjadi bagian dari komponen masyarakat Madura yang turut memberi warna waru dalam kehidupan Ibu. Saya tahu akan ada hal yang membahagiakan Ibu, yaitu kepulangan Ibu di tengah keluarga. Namun saya sebagai anak yang mencintai Ibu berharap agar Ibu tidak akan pernah melupakan kami…”

20. Ahmad Syaifur Rahman, Jalan Pramuka No. 2 Pamekasan (Alamat Sekolah)

“Ibu Guruku yang saya kagumi, kenangan bersama Ibu adalah kenangan manis yang sulit untuk dilupakan. Karena saya sungguh terkesan dengan cara Ibu menghadapi kami saat di kelas maupun kala jumpa di jalan. Pengorbanan Ibu sungguh berarti bagi kami. Tapi saat ini saya tidak bisa bertemu Ibu lagi. Semoga di tempat tugas yang baru, Ibu mendapatkan anak didik yang lebih baik dari kami. Ibu Guruku tercinta, selamat berpisah, surat ini sebagai tanda hormat saya untuk Ibu…”

(Bersambung...)

29 November 2010

Pak Pos, Saya Rindu Menulis Surat…

1. Cuplikan Surat-Surat dari Murid Saya di Madura
(Bagian I)


Di era komunikasi global yang serba modern dan canggih, jasa pelayanan pos mulai ditinggalkan. PT Pos kalah bersaing dengan jasa kurir swasta maupun perkembangan teknologi informasi seperti HP, e-mail, dan jejaring sosial yang berbasis internet, serta multimedia lain yang mampu mengirim dan menerima informasi dengan sangat cepat. Di saat seperti ini saya ingin mengingatkan bahwa Pak Pos masih ada, masih eksis, dan tetap setia melayani masyarakat dalam jasa persuratan dan pelayanan lainnya.

“Pak Pos, saya rindu menulis surat. Saya ingin membalas surat murid-murid saya yang pernah Bapak antar ke rumah saya.”

Semoga saya tidak GR (gedhe rasa) setiap membaca kembali surat-surat dari murid saya yang dikirim melalui jasa Pak Pos selama kurun waktu 7 tahun. Inilah cuplikannya:

1. Dari Esha Pradana, Jalan Dirgahayu 15 Pamekasan

“Masih ingatkah Ibu dengan saya, Esha Pradana? Saya yakin Ibu masih ingat kepada saya, dan semoga tetap ingat sampai di masa yang akan datang. Saya masih terkenang ketika Ibu pertama kali datang ke Madura: Ibu takut carok. Jangan takut lagi, Ibu… Budaya carok hanya terjadi pada masyarakat Madura primitif, tidak pada kami yang terpelajar ini. Sekarang Ibu meninggalkan kami. Akan tetapi saya berharap agar perpisahan ini tidak untuk selamanya, Kita pasti dapat bertemu kembali, entah kapan… Kami akan selalu merindukan Ibu”

2. Dari Nur Prayogo Fajri, Jalan Jokotole Permai 21 Pamekasan

“Ibu Lilis yang baik dan sabar, saya merasa kehilangan sekali sosok guru seperti Ibu, yang bisa sabar dalam menghadapi murid-murid IPS 4 yang bandel dan nakal. Ibu Lilis, saya berharap mudah-mudahan Ibu sehat wal afiat.Hal lain yang sangat berkesan bagi saya, Ibu selalu memberi point dalam setiap partisipasi saya. Ibu sangat hafal dengan judul-judul karya sastra dan nama pengarangnya. Ibu selalu bersemangat jika berbicara tentang sastra. Setiap perjumpaan ada perpisahan, karena semua itu sudah kodrat alam yang harus kita jalani dalam hidup ini. Saya berharap Ibu tidak pernah menyesal mempunyai murid seperti saya. Terima kasih, karena Ibu telah bisa sabar dalam membina kami. Mohon maaf jika ada salah dari kami,Ibu…”

3. Dari Moh. Ambari, Jalan Blumbungan Pamekasan

“Saya dengan rasa berat hati mengucapkan salam perpisahan kepada Ibu. Apabila saya pernah menyakiti hati Ibu, maafkan saya Ibu. Kelas 3 IPS-3 nakal, tapi Ibu tidak mengatakan kami nakal. Dengan perlakuan Ibu seperti itu, kami mati langkah di hadapan Ibu. Saya akan menyimpan kenangan bersama Ibu sepanjang hidupku. Jangan lupakan kami 3 IPS-3 Ibu.. Meskipun kini kita jauh dan berpisah, semoga Ibu tetap mengingat kenangan bersama kami. Kami di sini merindukan Ibu. Perpisahan ini sangat menyedihkan hati kami, tapi saya berdoa semoga Ibu bahagia…”

4. Dari Apendi Shondhar Kurniawan, Jalan Pramuka No.2 Pamekasan(Alamat Sekolah)

“Mengapa Ibu meninggalkan saya? Saat ini saya membutuhkan guru yang mengerti cara belajar saya. Ibu bisa mengerti saya dan menerima segala kekurangan saya. Kalau saja waktu dapat diputar, saya ingin duduk di kelas 3, tahun kemarin. Sehingga Ibu bisa menemani saya sampai lulus. Perpisahan ini sangat berat bagi saya. Tapi saya tetap berdoa semoga Ibu sukses dalam menjalankan tugas dan mendapatkan murid yang baik di tempat yang baru. Kami juga mohon doa restu Ibu, semoga kami lulus dan sukses di masa depan. Ibu, jika Allah swt mengijinkan, muridmu tersayang ini akan mencari Ibu kelak… ”

5. Dari Ika Sayyidatul Husna, Jalan Pramuka No. 2 Pamekasan (Alamat Sekolah)

“Ibu, tak ada kata yang dapat saya ucapkan untuk melepas kepindahan Ibu. Dan tak ada hadiah yang dapat saya berikan, hanyalah ucapan “Selamat jalan, selamat melanjutkan kewajiban sebagai guru di tempat tugas yang baru”. Selama ini banyak kesan yang kami rasakan. Ibu baik dan ramah. Ibu tabah menghadapi kami. Ibu sangat teliti dalam memeriksa tugas, Ibu selalu melingkari setiap kesalahan tulisan dengan tinta merah. Sehingga kami tahu dan dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Ibu adalah segalanya: penghibur dalam kesedihan, pemberi harapan dalam penderitaan, membangkitkan kekuatan dalam kelemahan. Hanya Ibu yang dapat memahami arti kasih sayang dan bahagia. See you ‘n don’t forget me..”

6. Dari Nurul Hidayati, Jalan Stadion VIII/2 Pamekasan

“ Tak banyak yang bisa saya sampaikan kepada Ibu. Kenangan indah bersama Ibu telah kubingkai dalam hati. Dorongan, dukungan, dan pesan Ibu akan menjadi cambuk bagi saya untuk maju. Saya senang cara Ibu mengajar, membuat saya bersemangat, berusaha, dan terus mencoba. Ibu telah membuka hati saya untuk melihat betapa perlunya perjuangan hidup. Jika selama ini ada salah kata dan perbuatan, saya mohon maaf karena lidah bagai pedang tajam yang menyakiti walau tanpa mengeluarkan darah. Saya tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan Ibu, tetapi saya punya doa untuk kebahagiaan Ibu sekeluarga. 'Bukan hanya suka cita yang menjadi tujuan hidup kita, tetapi berbuat dan berjuang agar setiap hari lebih maju daripada hari yang mendahuluinya'... ”

7. Dari Widiya Kusuma Dewi, Jalan Jingga 115 Pamekasan

“Saat pertama Ibu mengajar, saya takut karena Ibu sering mengkritik saya dan teman-teman. Tapi akhirnya kami menyadari kekurangan dan kesalahan itu, terutama dalam pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sampai akhirnya, saya sudah menganggap Ibu seperti orang tua saya sendiri. Selama belajar bahasa Indonesia, belum pernah saya serajin tahun ini. Ibulah yang memacu semangat saya. Sekarang Ibu pindah tugas, dan saya kangen. Saya berharap jika Ibu datang ke Pamekasan, saya bisa bertemu Ibu…”

8. Dari Mariyatul Kiptiyah, Jalan Kowel Jaya No. 23 Pamekasan

“ Apa kabar, Ibu? Saya berharap Ibu baik-baik saja dan selalu dalam lindungan-Nya. Sebenarnya berat bagi saya untuk melepaskan Ibu. Tapi, seperti yang pernah Ibu katakan bahwa perpisahan ini bagai keping misteri yang memilki dua sisi: sedih dan bahagia. Ibu bersedih karena meninggalkan kami, tapi Ibu juga bahagia karena bisa kembali di tengah keluarga. Maka dengan perpisahan ini saya berharap Ibu bahagia, tidak lagi seperti segi tiga sama sisi yang saling berjauhan sudut-sudutnya. Saya bisa merasakan kebahagian Ibu dalam linangan air mata saya. Satu hal yang sangat saya ingat, Ibu selalu memotivasi kami untuk belajar dan bedoa. Saya mohon, Ibu juga berkenan mendoakan kami agar meraih sukses di masa yang akan datang. Terima kasih atas semuanya, Ibu akan selalu hidup dalam kenangan kami…”

9. Dari Laksmana jaka Weidy, Jalan Kangenan No. 28 Pamekasan

“ Dan… Smile donk Bu… :) !! Saya merasa sangat sedih dan kehilangan atas kepindahan Ibu. Bagi saya Ibu memiliki ciri khas tersendiri. Sosok yang sederhana, apa adanya, tidak muluk-muluk, tidak pilih kasih, dan yang paling membuat saya salut adalah KETANGGUHAN Ibu. Saya menilai Ibu wanita yang kuat baik fisik maupun batin. Ibu wanita kedua yang tangguh setelah Ibu saya, tegar dalam menjalankan tugasnya. Mmmhh…. Sekarang sudah jam 23.45 Ibu, mata saya sudah menguncup. Tidak ada yang bisa saya berikan pada Ibu, tapi yang jelas doa saya selalu menyertai kemana pun Ibu pergi. Jaga diri baik-baik ya Bu, semoga selalu dalam lindungan-Nya. Doakan saya bisa meraih cinta-cita saya sebagai desainer ya Bu…”

10. Dari Afaf Thalib, Jalan Jokotole 51 Pamekasan

“Entah dari mana saya harus memulai surat ini. Yang saya rasakan saat ini adalah kehilangan sosok guru yang selama ini saya kagumi dan saya hormati. Banyak kesan yang Ibu lekatkan di hati kami. Ibu sangat memperhatikan kami, dan perhatian Ibu tanpa kecuali. Dalam setiap jumpa di kelas, Ibu bisa ciptakan suasana bahagia, sedih, haru, lucu, dan lain-lain. Saat ini tak ada lagi suasana itu. Saya kehilangan. Saya kangen Ibu..”

(Bersambung…)

2. Cuplikan Surat-Surat dari Murid Saya di Madura
(Bagian II)


11. Dari Athirta Irjatmiko, Jalan Mandilaras II/3 Pamekasan

“Dengan surat ini semoga hati Ibu yang sedih menjadi bahagia dan jika gelisah menjadi tenang. Semoga Ibu sehat dan selalu dalam lindungan Allahswt. Ibu, dalam hari-hari bersama kami, tentu banyak kenangan bahagia dan pedih yang bersatu. Dengan saling memaafkan, kenangan pahit dapat terlupakan. Kini Ibu telah pergi dengan sejuta kenangan yang membekas di hati. Terima kasih atas bimbingan, binaan, dan didikan Ibu kepada kami. Ilmu telah kudapatkan, tapi hanya kata-kata ini yang bisa aku persembahkan:

Seorang Ibu melangkah
Menuju kota Berteman
Merangkai perjalanan
Demi tugas dan kewajiban
Hari-harimu berlalu
Mengukir sebuah kenangan
Bibirmu selalu tersenyum
Namun jiwamu risau
Karena cinta kau tinggal jauh


Saya tidak tahu bagaimana perasaan Ibu setelah membaca untaian kata tersebut, tetapi saya berharap Ibu tersenyum membacanya, karena dengan tersenyum Ibu semakin kelihatan manis…”

12. Dari Saheriyanto, Jalan Veteran IV/50 Pamekasan

“Hari ini, 6 Januari 2004. Ibu telah melewati masa pengabdian selama 7 tahun 7 bulan di Pulau Garam, di SMAN 1 Pamekasan. Kini Ibu telah meninggalkan kami, menuju tempat tugas dambaan Ibu. Saya sebenar-benarnya sangat sedih dan haru. Semoga di tempat yang baru Ibu sangat menyukainya, saya ingin Ibu tetap bahagia seperti saat bersama kami. Guruku yang tulus memberikan ilmu, terima kasih atas segalanya, terima kasih telah membuka pintu hati kami untuk mengerti hakikat hidup yang sesungguhnya. Ibu guru yang kucintai, maafkanlah apabila tingkah laku kami selama di kelas atau pada waktu berpapasan di jalan kurang berkenan. Ibu, malam ini sudah larut. Saya hanya bisa mengucap selamat berpisah. Satu yang tak dapat kulupa, engkau guruku yang penuh sukacita. Rasanya saya ingin bertemu walau hanya sebentar, ingin belajar bersamamu walau hidup dalam mimpi…”

13. Dari Indra Wahyudi, Jalan Raya Blumbungan No. 9 Pamekasan

“ Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu karena dengan bimbingan Ibu, saya mengerti arti kehidupan yang sebenarnya. Pengalaman mengajar di di Pamekasan janganlah membuat ibu menyesali jalan hidup. Selamat bertugas di tempat yang baru, saya berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan Ibu lagi. Apabila selama ini saya pernah membuat luka perasaan Ibu, saya mohon maaf. Saya berdoa untuk kebahagian Ibu, dan saya mohon doa restu untuk kesuksesan saya, Ibu…”

14. Dari Moh. Reza Bahrezi, Jalan Raya Pakong, Maddis, Pamekasan

“ Selamat malam, petang, sore, siang, pagi. Saya ingin mengucap salam itu setiap waktu untuk Ibu. Apa kabar? Sejak saya dengar Ibu akan pindah tugas, pada siang itu hati saya terasa pedih. Menetes air mata saya. Semua itu pertanda bahwa Ibu tidak boleh pergi meninggalkan saya. Tapi saya tidak boleh egois untuk kebahagiaan Ibu. Karena Ibu juga punya tanggung jawab yang besar di lain hal. Terima kasih Ibu, telah mendidik, membimbing, menasihati, mengayomi, dan menyemangati saya untuk menjadi nomor satu. Masih ingatkah, ketika Ibu mengumumkan hasil ulangan ke-3 dan ke-4, Ibu menyatakan bahwa hasil ulangan saya “bagus”, hati saya sangat senang dan saya merasa punya arti. Setiap menulis, saya teringat Ibu yang selalu berpesan untuk memperhatikan EYD, tanda baca, tulisan yang jelas, dan pilihan kata yang benar. Jagan lupakan simphoni masa lalu di SMA bersamaku, Ibu… jadikan semua ini sebagai kisah klasik di masa depan. Semoga Ibu bahagia di tempat yang baru, dan senantiasa dalam lindungan Allah swt. Saya berharap dapat bertemu Ibu di lain waktu, di lain kesempatan, dan saya ingin melihat Ibu tetap tersenyum…”

15. Dari Dedi Novianto, Jalan P. Trunojoyo Gg III/9 Pamekasan

“Ibu, walaupun Ibu tidak mengajar kami lagi, tapi insya Allah saya akan tetap ingat dan mematuhi pesan Ibu untuk patuh dan hormat kepada guru pengganti Ibu, siapa pun orangnya. Walaupun sebenarnya guru penggantinya tidak seperti Ibu dalam mengajar kami. Saya berdoa semoga semua yang Ibu ajarkan menjadi ilmu yang bermanfaat. Saya berdoa untuk kebahagiaan Ibu, dan saya mohon doa kepada kedua orang tua saya juga memohon doa Ibu untuk keberhasilan saya. Mohon maaf atas semua kesalahan saya, Dedi Novianto nomor presensi 17 kelas 3 IPS-3”

16. Dari Dwi Purnomo Ramadhani, Jalan Pramuka No. 2 Pamekasan (Alamat Sekolah)

“ Ini surat penghantar untuk mengucapkan salam perpisahan. Perpisahan yang sangat tidak saya inginkan, tapi harus terjadi agar Ibu bisa bersatu dengan keluarga di Malang. Saya mohon maaf karena pernah membuat Ibu marah. Walaupun Ibu hanya marah melalui bahasa dan tanpa teriakan, tapi saya sangat menyesal. Pemberian maaf Ibu sangat berarti bagi saya dalam menjalani kehidupan kini dan masa depan. Selamat jalan Bu, saya selalu berdoa semoga Ibu selalu dalam lindungan-Nya serta sukses dalam segala hal. Saya mohon doa dari Ibu agar berhasil juga dalam segala hal. Terima kasih telah mengajari dan mendidik kami untuk menjadi tangguh dalam menjalani hidup, serta memiliki kepribadian yang matang. Jangan lupakan kami Bu, karena kami tidak akan pernah melupakan Ibu…”

17. Achmad Fajar, Jalan Nyalabu Permai II/7 Pamekasan

“Ibu Lilis yang saya sayangi, berat rasanya saya kehilangan Ibu, karena Ibu telah membuat saya bangga masuk jurusan IPS, Ibu menguatkan kami dengan memotivasi-motivasi. Ibu Lilis yang saya sayangi, sebenarnya masih banyak yang ingin saya sampaikan, tetapi saya tidak mampu mengutarakan dengan tulisan karena saya tidak bisa menahan air mata yang turun terus menerus saat saya menulis surat ini. Mungkin dengan foto ini Ibu akan mengingat saya. Jangan lupakan saya Bu, jangan lupakan kami, kenanglah kami di hati Ibu. Maafkan kami bila pernah membuat Ibu kesal atau kecewa, tetapi kami tidak pernah melakukankesalahan itu dengan sengaja. Maafkan kami Bu, maafkan kami…”

18. Dari Nurhatim, Desa Lancar Petang II Larangan, Pamekasan

“Semoga rahmat dan hidayah Allah tetap mengiringi langkah diri dan keluarga Ibu selalu. Amien. Berat rasa hati ini melepas kepergian Ibu, pergi meninggalkan kami menuju tempat tugas yang baru. Saya, Nurhatim kelas 3 IPS 2 nomor 32 (semoga Ibu tidak lupa). Saya tidak akan melupakan Ibu, tidak akan melupakan jasa Ibu. Tidak lupa saya mengucapkan kata maaf jika saya pernah melakukan kesalahan ketika kita masih bersama. Saya memohon kepada Allah swt agar segala ilmu yang Ibu ajarkan selalu bermanfaat bagi perjalanan hidup saya menuju kesuksesan. Saya mohon doa restu Ibu agar tujuan dan cita-cita hidup saya dapat tercapai dengan baik. Semoga di lain kesempatan saya dapat berjumpa lagi dengan Ibu, ibuku yang baik…”

19. Dari Febry Kurniawan, Desa Lancar Petang II Larangan, Pamekasan

“Perpisahan ini sangat menyedihkan karena banyak hal yang tidak akan dapat kami lupakan dari Ibu yang teguh memegang prinsip dan berwawasan luas. Telah banyak yang Ibu dapatkan di sini, pengalaman, teman, dan hal lain yang menyenangkan bahkan menyakitkan. Namun kami memohon agar Ibu dapat melupakan semua yang menyakitkan. Dan jadikan semua kebaikan sebagai kenangan yang indah, sebagaimana saya mengenang Ibu yang selalu tersenyum. Ibu telah dan pernah menjadi bagian dari komponen masyarakat Madura yang turut memberi warna waru dalam kehidupan Ibu. Saya tahu akan ada hal yang membahagiakan Ibu, yaitu kepulangan Ibu di tengah keluarga. Namun saya sebagai anak yang mencintai Ibu berharap agar Ibu tidak akan pernah melupakan kami…”

20. Ahmad Syaifur Rahman, Jalan Pramuka No. 2 Pamekasan (Alamat Sekolah)

“Ibu Guruku yang saya kagumi, kenangan bersama Ibu adalah kenangan manis yang sulit untuk dilupakan. Karena saya sungguh terkesan dengan cara Ibu menghadapi kami saat di kelas maupun kala jumpa di jalan. Pengorbanan Ibu sungguh berarti bagi kami. Tapi saat ini saya tidak bisa bertemu Ibu lagi. Semoga di tempat tugas yang baru, Ibu mendapatkan anak didik yang lebih baik dari kami. Ibu Guruku tercinta, selamat berpisah, surat ini sebagai tanda hormat saya untuk Ibu…”

(Bersambung...)

25 November 2010

Selamat Hari Guru

PEDOMAN PELAKSANAAN PERINGATAN HARI GURU NASIONAL TAHUN 2O1O DAN HUT PGRI KE 65


A. PENDAHULUAN

Pembangunan nasional dalam bidang pendidikan merupakan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia lndonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pembangunan nasional dalam bidang pendidikan diarahkan untuk menjamin perluasan dan pemerataan akses, peningkatan mutu dan relevansi, serta tata pemerintahan yang baik dan akuntabilitas pendidikan yang mampu menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Untuk itu perlu dilakukan pemberdayaan dan peningkatan mutu guru secara terencana, terarah, dan berkesinambungan, mengingat guru mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional dalam bidang pendidikan dimaksud.
Peranan guru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sungguh besar dan sangat menentukan. Guru merupakan salah satu faktor yang strategis dalam menentukan keberhasilan pendidikan yang meletakkan dasar serta turut mempersiapkan pengembangan potensi peserta didik untuk masa depan bangsa. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sejak masa penjajahan, guru selalu menanamkan kesadaran akan harga diri sebagai bangsa dan menanamkan semangat nasionalisme kepada peserta didik dan masyarakat. Pada tahap awal kebangkitan nasional, para guru aktif dalam organisasi pemuda pembela tanah air dan pembina jiwa serta semangat para pemuda pelajar.
Dedikasi, tekad dan semangat persatuan dan kesatuan para guru yang dimiliki secara historis tersebut perlu terus dipupuk, dipelihara dan dikembangkan sejalan dengan tekad dan semangat era global untuk masa depan bangsa.
Seperti halnya pemerintahan dan masyarakat di banyak negara, pemerintah dan masyarakat memposisikan profesi guru sangat terhormat baik secara formal maupun sosial. Guru sebagai profesi telah dicanangkan oleh Presiden Rl tanggal 02 Desember 2004. Pencanangan tersebut merupakan pengakuan formal atas profesi guru sebagai profesi yang bermartabat. Hal ini diharapkan menjadi tonggak awal bangkitnya apresiasi tinggi pemerintah dan masyarakat terhadap profesi guru, ditandai dengan adanya reformasi pengembangan profesi guru meliputi peningkatan kualifikasi dan kompetensi, sertifikasi, pemberian penghargaan, perbaikan kesejahteraan, dan perlindungan hukum.
Kemajuan suatu bangsa tergantung dari besarnya perhatian dan upaya bangsa yang bersangkutan dalam mendidik generasi muda. Jika anak bangsa memperoleh kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan bakat dan kecakapannya, mendalami pengetahuan, serta mengembangkan disiplin, watak, kepribadian dan keluhuran budinya, maka bisa dikatakan bangsa tersebut akan memiliki masa depan yang cerah. Oleh karena itu, berbagai upaya untuk meningkatkan profesionalitas guru, harkat dan martabat bagi bangsa yang sedang membangun mutlak diperlukan.
Sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional, yang kemudian lebih dimantapkan melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Sejak tahun 1994 secara nasional telah dilaksanakan 16 (enam belas) kali peringatan Hari Guru Nasional, yaitu :

1. Tahun 1994, pertama kali dilaksanakan di lstana Negara Jakarta;
2. Tahun 1995, diadakan di Surakarta, kota kelahiran PGRI enam puluh lima tahun yang lalu;
3. Tahun 1996, di lstora Senayan Jakarta;
4. Tahun 1997, di Balai Sidang Jakarta;
5. Tahun 1998, di lstana Negara Jakarta;
6. Tahun 1999, di lstana Wakil Presiden Jakarta;
7. 'Tahun 2000, di lstana Negara Jakarta;
8. Tahun 2001, di lstana Negara Jakarta;
9. Tahun 2002, di lstana Negara Jakarta;
10. Tahun 2003, di lstana Negara Jakarta;
11. Tahun 2004, di lstora Senayan, Jakarta;
12. Tahun 2005, di Surakarta;
13. Tahun 2006, tidak dilaksanakan di tingkat nasional;
14. Tahun 2007, di Pekanbaru;
15. Tahun 2008, di Jakarta;
16. Tahun 2009, di Jakarta.

Penyelenggaraan peringatan menjadi tanggung jawab antara pemerintah, pemerintah daerah dan PGRI bersama masyarakat. Kepanitiaan dibentuk bersama antara unsur pemerintah, pemerintah daerah dan PGRI, baik di tingkat pusat maupun tingkat daerah.

B. TUJUAN

1. Meningkatkan berkembangnya budaya mutu di kalangan guru dan pemangku kepentingan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa lndonesia.
2. Meneladani semangat dan dedikasi guru sebagai pendidik semua anak bangsa, dalam peningkatan sumber daya manusia yang bermutu.
3. Meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat akan pentingnya kedudukan dan peran strategis guru dalam membangun karakter bangsa Indonesia yang bermartabat.

C. LANDASAN

1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 4301:
2. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 4437);
3. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 4586);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2008 Nomor 194, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 4941);
5. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentanq Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara.
6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84lP Tahun 2010 mengenai Pembentukan Kabinet lndonesia Bersatu ll.

D. TEMA

Memacu Peran Strategis Guru dalam Mewujudkan Guru yang Profesional, Bermartabat, dan Sejahtera.

Sub Tema:
Meningkatkan Profesionalisme, Kesejahteraan, dan Perlindungan Guru melalui Organisasi Profesi Guru yang Kuat dan Bermartabat.

E. WAKTU DAN TEMPAT

1. Upacara bendera peringatan Hari Guru Nasional 2010 dan HUT PGRI ke 65 untuk tingkat nasional dilaksanakan pada tanggal 25 November 2010 dan upacara puncak yang akan dihadiri oleh Presiden Rl direncanakan pada tanggal 25 November 2010 di Jakarta (di PRJ).
2. Upacara bendera peringatan Hari Guru Nasional 2010 dan HUT PGRI ke 65 untuk tingkat provinsi/kabupaten/kota dan sekolah diselenggarakan pada tanggal 25 November 2010 atau pada waktu lainnya disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing.

F. RUANG LINGKUP

1. Acara kegiatan dan upacara peringatan Hari Guru Nasional tahun 2010 bersamaan dan terkait dengan peringatan HUT ke 65 PGRI tahun 2010.
2. Peringatan Hari Guru Nasional ini diperingati dan dirayakan oleh semua warga pendidikan dan masyarakat umum di seluruh Indonesia.

G. KEPANITIAAN

1. Kepanitiaan di tingkat nasional dibentuk dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional yang personalianya terdiri dari unsur Kementerian Pendidikan Nasional, . Kementerian Agama, Pengurus . Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB-PGRI), dan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, dan Pengurus PGRI Provinsi DKI Jakarta.
2. Kepanitiaan di provinsi ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubernur yang personalianya terdiri dari unsur Pemerintah Daerah/Dinas Pendidikan/Kantor Wilayah Kementerian Agama, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan Pengurus PGRI Provinsi setempat.
3. Kepanitiaan di Kabupaten/Kota ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati/Walikota yang personalianya terdiri dari unsur Pemerintah daerah/Dinas Pendidikan/Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, dan Pengurus PGRI Kabupaten/Kota setempat.
4. Kepanitiaan di Kecamatan ditetapkan dengan Surat Keputusan Camat yang personalianya terdiri dari unsur Pemerintah daerah/Dinas Pendidikan/Kantor Kementerian Agama Kecamatan, dan Pengurus PGRI Kecamatan setempat.
5. Gubernur, Bupati/Walikota dan Camat sesuai tingkatannya adalah sebagai Pembina dalam kepanitiaan.

H. PEMBIAYAAN

Pembiayaan pelaksanaan peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2010 dan HUT PGRI ke 65 di daerah ditanggung bersama atas azas kebersamaan dan kekeluargaan antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota/kecamatan dan masyarakat, serta PGRI

I. PROGRAM KEGIATAN

1. Acara pokok Kegiatan Tingkat Nasional
• Upacara Bendera peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2010 di halaman Kantor Pusat Kementerian Pendidikan Nasional dilaksanakan tanggal 25 November 2010 (pedoman pelaksanaan upacara bendera terlampir).
• Acara puncak/Upacara peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2010 dan HUT PGRI ke 65 yang akan dihadiri oleh Presiden Republik lndonesia.
• Seminar Nasional Peningkatan Profesionalisme Guru.
• Pemberian penghargaan Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan kepada guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah berprestasi dan berdedikasi luar biasa.
• Pemberian Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan di bidang pendidikan kepada Gubernur, dan Bupati/Walikota yang mempunyai komitmen tinggi dalam pembangunan pendidikan, khususnya dalam peningkatan profesionalitas dan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan, oleh Presiden Republik Indonesia
• Penghargaan Anugerah Konstitusi bagi Guru PKn Tingkat Nasional, bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi.
• Temu wicara Pendidikan Kesadaran Berkonstitusi bagi guruguru PKn seluruh Indonesia, bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi.
• sambutan Peringatan Hari Guru Nasional rahun 2010 oleh Menteri Pendidikan Nasional di RRI/TVRI, dan atau TV rainnya.
• Talkshow Hari Guru Nasional.
• Ziarah ke Taman Makam Pahlawan.
• Gerak jalan sehat.
• Jumpa pers dan serangkaian aktivitas/program/pemberitaan terkait dengan guru, baik di media cetak atau media etektronik.
2. Acara Pokok Kegiatan Tingkat Daerah
• Upacara Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2010 di Kantor Pemerintah Daerah dilaksanakan tanggal 25 November 2010 atau disesuaikan dengan kondisi daerah setempat, dengan acara pokok sebagaimana dalam pedoman pelaksanaan upacara bendera terlampir.
• Upacara di sekolah dilaksanakan pada tanggar 25 November 2010 dengan acara pokok sebagaimana datam pedoman pelaksanaan upacara bendera terlampir.
3. Penyelenggaraan Seminar llmiah Guru, dan sebagainya.
4. Talkshow di Radio/TV daerah
5. Ziarah ke Taman Makam Pahlawan.
6. Kegiatan lain yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan daerah masing-masing.


Jakarta, September 2010
Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan

TTD

Prof. Dr. Baedhowi
NIP 19490828 197903 1.001


Sumber: www.pgri.or.id