Saya tertarik mengulas lirik lagu Saat Terakhir sebagai wujud kesetiakawanan. Seorang kawan mendengar lagu itu bersamaan dengan terjadinya suatu peristiwa. Simbol-simbol suara yang didengar kemudian membentuk jaringan informasi di pikiran secara asosiatif. Di sinilah muncul respon emosi yang mampu mengingatkannya kepada peristiwa tersebut. Sehingga ia menyukai lagu “Saat Terakhir”. Dalam psikologi hal ini disebut asosiasi.
Corak Romantis-Realistis
Lirik Lagu Saat Terakhir ST 12
Berdasarkan Tinjauan Diksi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, romantis adalah sifat mesra dalam percintaan, mengutamakan perasaan, dan sentimen idealisme. Sedangkan realisistis adalah sifat wajar dalam perasaan, pikiran, dan tindakan. Diksi berarti pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Dalam hal lirik lagu, efek yang dimaksud adalah efek estetis dan puitis karena lirik lagu ditinjau dari genre sastra termasuk jenis puisi.
Tidak seperti romantisme biasa yang cenderung berlebihan dalam mengekspresikan perasaan, pikiran, dan tindakan, lirik lagu Saat Terakhir ST 12 berada di antara romantis dan realistis. Estetika bahasa tercipta dengan pemakaian diksi yang sederhana dan wajar tanpa menggunakan idiom-idiom yang klise dan cenderung "berbunga-bunga".
Ada ”tenaga dalam” yang dapat menebarkan efek estetis dan puitis, serta melibatkan emosi pendengar atau pembaca liriknya.
Diksi lirik lagu Saat Terakhir ST 12 memegang peranan penting dalam memunculkan kekuatan-kekuatan estetis, baik secara fisik semisal unsur bunyi (musikalitas), keunikan komposisi, maupun secara nonfisik seperti picuan asosiasi makna yang terbangkit dalam benak dan hati pembaca, getar emosi tertentu atau bahkan debar spiritual yang tak terjelaskan yang dirasakan oleh seseorang ketika mendengar atau membaca liriknya.
Setiap kata, frasa, bahkan larik Saat Terakhir hadir dengan alasan yang lebih kuat daripada sekedar untuk dekorasi semata. Diksi yang dipilih mampu menimbulkan efek estetis sehingga mampu memicu syaraf-syaraf puitik pembaca. Kata-katanya bernas, telak, sekaligus enak didengar dan membekas dalam benak pembaca. Membekasnya sebuah ucapan dalam lirik lagu ini bisa jadi karena idiom tersebut memiliki asosiasi tertentu yang membangkitkan emosi tertentu dalam diri pembaca. Bisa juga karena mengingatkannya pada pengalaman pribadi, atau karena memiliki keunikan tersendiri baik dalam hal bentuk atau bunyinya.
Akulirik (pencipta lirik) tidak pernah berpikir tentang perpisahan, bahkan bayangan itu tak sedikitpun melintas dalam benaknya. Bayangan tentang kesendirian karena ditinggal pergi oleh seseorang.
/Tak pernah terpikir olehku/
/Tak sedikitpun ku bayangkan/
/Kau akan pergi tinggalkan kusendiri/
Kepergian seseorang yang akan meninggalkan dirinya begitu sulit ia percaya. Sangat menyakitkan. Dan membuatnya merasa sendiri, tak ada lagi yang berarti.
/Begitu sulit kubayangkan/
/Begitu sakit ku rasakan/
/Kau akan pergi tinggalkan ku sendiri/
Kenyataan inilah yang harus dipercaya. Bahwa kekasih telah pergi tak kembali. Bersandar dalam kehidupan yang hakiki, ketika jiwa bermuara dalam pusaran keeabadian. Kekasih setia, yang telah memberikan cinta tulus telah tiada. Ia tidak sanggup, tidak mampu menerima kenyataan ini. Cinta kasihnya telah dibawa pergi.
/Dibawah batu nisan kini/
/Kau tlah sandarkan/
/Kasih sayang kamu begitu dalam/
/sungguh ku tak sanggup Ini terjadi/
/karna ku sangat cinta/
Saat kematian itulah terakhir kali ia melihat jasad kekasihnya. Duka mendalam
membuatnya menangis pilu. Jiwa raga terasa luluh, dada hampa dari rasa.Tak mampu ia berkata selain ”Selamat jalan kasih...”.
/Inilah saat terakhirku melihat kamu/
/Jatuh air mataku menangis pilu/
/Hanya mampu ucapkan/
/Selamat jalan kasih/
Dalam kondisi emosi yang labil, pikiran akulirik flash back mengenang awal percintaanya. Dia bisa mencintai kekasihnya hanya dalam tempo satu jam sejak perkenalan.Hal itu membuktikan betapa sang kekasih memiliki kelebihan, keunikan, atau hal lain yang memikat hatinya. Dalam sekejap (satu jam) saja telah membuat orang mencintainya. Namun untuk melupakannya membutuhkan waktu seumur hidup. Ini berarti dia tidak sanggup melupakannya seumur hidup, dalam penantian panjang yang tidak berujung. Kepergiannya tak tergantikan oleh apa pun, oleh siapa pun. Hanya kematian pula yang mampu menghilangkan memori tentangnya.
/Satu jam saja kutelah bisa cintai kamu;kamu;kamu di hatiku/
/Namun bagiku melupakanmu butuh waktuku seumur hidup/
/Satu jam saja kutelah bisa sayangi kamu... di hatiku/
/Namun bagiku melupaknmu butuh waktuku seumur hidup/
/di nantiku/
Berikut lirik Saat Terakhir ST 12 selengkapnya:
Saat Terakhir
ST 12
Tak pernah terpikir olehku
Tak sedikitpun ku menyangka
Kau akan pergi tinggalkan kusendiri
Begitu sulit kubayangkan
Begitu sakit ku rasakan
Kau akan pergi tinggalkan ku sendiri
Dibawah batu nisan kini
Kau tlah sandarkan
Kasih sayang kamu begitu dalam
sungguh ku tak sanggup Ini terjadi
karna ku sangat cinta
Inilah saat terakhirku melihat kamu
Jatuh air mataku menangis pilu
Hanya mampu ucapkan
Selamat jalan kasih
Satu jam saja kutelah bisa cintai kamu;kamu;kamu di hatiku
Namun bagiku melupakanmu butuh waktuku seumur hidup
Satu jam saja kutelah bisa sayangi kamu... di hatiku
Namun bagiku melupaknmu butuh waktuku seumur hidup
di nantiku......