05 Agustus 2016

Deklarasi FEvCI Chapter Jawa Timur dan Family Touring



Minggu, 31 Juli 2016 adalah hari bahagia kami, anggota Ford Everest Club Indonesia (FEvCI) Chapter Jawa Timur. Hari itu, FEvCI Chapter Jawa Timur dideklarasikan di Bonderland Pakisaji Kabupaten Malang, sekaligus pengukuhan pengurus inti.  Pengukuhan dilakukan dengan memakaikan secara simbolis topi FEvCI sebagai salah satu atribut FEvCI Chapter Jawa Timur.
Deklarasi dihadiri dan didukung oleh member FEvCI Jawa Timur (yang didampingi keluarga masing-masing) berasal dari Surabaya, Sidoarjo, Bangkalan Madura, Jember, Malang Raya,Tuban, Jombang, dan Trenggalek dengan total keseluruhan 58 orang. 

Acara Deklarasi FEvCI Chapter Jawa Timur:
1. Pembukaan
2. Menyanyikan Lagu Indonesia Raya
3. Pidato Kepala Chapter
4. Pengukuhan Pengurus Inti
5. Pembacaan Ikrar Member FEvCI Jawa Timur
6. Pembacaan Doa
7. Tasyakuran dan Ramah Tamah
8. Mini Touring
9. Sayonara

Pengurus FEvCI Chapter Jawa Timur:

Penasihat:
Jacup Eko Setiawan (Kabupaten Malang)
Lilis Indrawati (Kota Malang)

Kepala Chapter: Dharma Sunyata (Surabaya)
Sekretaris: Isnaini Hadi Saputra (Jember)
Bendahara: Moh. Junaidi (Bangkalan)
Humas: Moch. Faried (Sidoarjo)

Korwil Sidoarjo: Trisnu Handono
Korwil Malang: Reza Kurniawan
Korwil Jember: M. Nazim
Korwil Jombang: Misbahudin
Korwil Trenggalek: Ati Aji
Korwil Tuban: Adi Suprayono

Photo by: Moh. Junaidi
Touring

Setelah seremonial, Deklarasi dilanjutkan mini touring menjelajah desa, kebun, sawah, bukit, hutan, dan beberapa pantai di wilayah Malang Selatan. Destinasi utama kami adalah Pantai Kondang Merak karena memiliki tipologi wilayah yang kompleks, mulai dari tanjakan, turunan, jalan berbatu, kerikil tajam, jalan berliku, tanah becek nan licin, lumpur, pasir, hutan, dan pantai. Kondisi medan yang seperti itu merupakan kelemahan dan hambatan bagi sebagian orang, namun merupakan tantangan untuk kami, anggota Ford Everest Club Indonesia.
Photo by: Lis

Selain tantangan berupa kondisi alam dan kontur tanahnya, hal menyenangkan yang bisa menggugah selera adalah kuliner di Kondang Merak menyajikan berbagai menu khas pantai seperti gurita asam manis, gurita saus tiram, kuah pedas kepala ikan laut, fish kebab, dan menu andalan sate tuna. Keterampilan masyarakat kampung nelayan Kondang Merak dalam mengolah masakan serba ikan tak lepas dari perjuangan seorang mantan pelayar internasional yang mengasingkan diri dan menghabiskan hidupnya di pedalaman pantai Kondang Merak. Beliau (nama tidak saya sebutkan) mengajarkan tentang cara memasak yang enak, mengolah hasil laut, budidaya terumbu karang, rumput laut, penanaman pohon bakau, dan pelestarian lingkungan. Selain itu, kampung nelayan Kondang Merak yang tidak pernah tersentuh aliran listrik negara, dapat menikmati cahaya terang dari listrik tenaga surya yang diusahakan sendiri melalui perjuangan “pahlawan” tersebut.
Photo by: Lis

Tentang Kondang Merak

Bagi saya pribadi, ini kali ke sekian berkunjung ke Kondang Merak. Sejak tujuh tahun lalu (bersama pengurus OSIS/MPK SMAN 7 Malang) saya sudah mulai akrab dengan lingkungan Kondang Merak dalam misi reboisasi hutan bakau di sekitar kondang dan membuat “rumah baca” bagi anak-anak nelayan di sana. Secara berkala kami datang untuk mengetahui perkembangan di sana. Namun, setelah saya pindah tugas, tidak lagi sempat berkunjung ke sana dalam misi lingkungan.
Photo by: Lis

Pesona alam Kondang Merak sesungguhnya tidak hanya pantainya yang indah dan bersih, namun juga telaga air payau, dan air terjun yang dapat dicapai dengan tracking menyusuri jalan setapak dan semak belukar ke arah timur dari garis pantai kemudian mengikuti sisi kiri telaga. Sesekali harus jalan merunduk untuk menghindari ranting-ranting pohon yang liar menutup bagian atas jalan membentuk semacam terowongan.

Photo by:Reza
Tumpahan air terjun mengalir membentuk sungai  ke arah laut dan hempasan air laut ke daratan juga membentuk anak sungai yang bermuara pada telaga. Di situlah pertemuan air tawar dan air laut terjadi dan membentuk air payau. Telaga air payau itulah yang dalam bahasa lokal disebut dengan “kondang”. Dinamakan Kondang Merak karena telaga tersebut dahulu merupakan tempat kawanan burung merak turun minum. Namun pada tahun 1980-an merak berangsur-angsur punah akibat perburuan liar orang-orang yang egois dan tidak bertanggung jawab terhadap kelestarian alam.
Photo by: Lis

Dalam touring kali ini kami punya misi untuk mempromosikan wisata di wilayah Malang Raya melalui foto, video, dan cerita kepada khalayak umum, teristimewa kepada kawan sesama club karena induk FEvCI Chapter Jawa Timur adalah FEvCI Pusat yang berkedudukan di Jakarta dengan member di seluruh Indonesia. Oleh karena itu target kami bukan jarak dan waktu tempuh minimal menuju destinasi, sehingga jalur yang kami tempuh melambung dimulai dari Bonderland  Pakisaji Kabupaten Malang (Milik Cak Jacup Eko Setiawan) dengan rute:
Pakisasji-Kepanjen-Gondanglegi-Turen-Suwaru-Sumberejo-Bantur-Sumberbening-Bandungrejo-Tumpakrejo-Srigonco-Sitiarjo-Tambakrejo-Sumberagung-Hargokuncaran-Druju-Sumbermanjing Wetan-Banjarejo-Gondanglegi Kulon-Bulupitu-Sukorejo-Kedung Pedaringan-Kepnajen.
Photo by: Lis

Dari rute yang kami lalui tersebut, ada dua pantai kami singgahi dan beberapa pantai lainnya kami lewati, yaitu pantai Kondang Merak, Pantai Selok, Pantai Ngantep, Pantai Goa China, Pantai Bajul Mati, dan Pantai Tamban.  Di area Pantai Tamban inilah senja mulai beranjak malam, kami menyusuri gelap malam di antara sawah, lembah, hutan, bukit, dan perkampungan.
Photo by: Lis

Di rumah makan Nayamul Kepanjen, kami berkumpul untuk berpisah melanjutkan perjalanan ke kota masing-masing, ke kota masing-masing. Next trip selalu kami nantikan untuk membina komitmen silaturahmi di antara kami, sesuai dengan slogan FEvCI Chapter Jawa Timur “Guyup rukun seduluran saklawase”  Artinya, persaudaraan yang solid selamanya. (Lis)



Photo by: Lis




25 Mei 2016

Untuk Saya dan Anda


Dalam menjalani kehidupan, setiap manusia mempunyai tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai. Oleh karena itu dibutuhkan usaha, kerja keras, rasa optimis, dan semangat pantang menyerah untuk mewujudkannya. Guna mencapai titik pencapaian tertinggi dibutuhkan motivasi yang meningkat secara terus-menerus. Karena dalam perjalanan menuju cita-cita hakiki, kita sering menghadapi kendala dan kegagalan, bahkan terkadang jatuh pada titik terendah, depresi, dan stress (Naudzubillahimindzalik). Pada kondisi demikian kita harus kuat dan segera bangkit walau tertatih dan terasa perih. 

Banyak orang mengalami kegagalan ketika hampir mendekati kesuksesan. Hal itu terjadi karena sifat manusia yang cenderung lemah, mudah meyerah, dan putus asa. Ini tidak boleh terjadi karena hidup perlu ketegaran, perjuangan, dan semangat pantang menyerah  untuk menggapai kesuksesan. Ibarat mendaki gunung dan telah mendekati puncak triangulasi kita sering dihadang oleh kondisi fisik yang lemah, napas yang berat, dan oksigen seolah sulit dihirup, atau bahkan cuaca buruk, badai, dan  keadaan alam yang ekstrem tak bersahabat (Ini pengalaman pribadi saat mendaki gunung). Oleh karena itu, kemampuan dan pengetahuan menuntut kita harus bisa survive untuk bertahan hidup demi tercapainya tujuan. Demikianlah gambaran manusia berjuang demi masa depannya.
           
Di balik kesuksesan pasti ada jalan panjang, yang bercerita tentang perjuangan dan pengorbanan, kendala dan kesabaran, serta harapan yang terus menyala dan doa-doa yang tak pernah padam. Tidak ada jalan pintas menuju sukses. Rintangan yang menghadang dan celaan-celaan yang melemahkan sering menjadi penyebab kegagalan. 
Kita harus bisa memotivasi diri sendiri di saat gagal dan terpuruk. Kalimat klise yang sering kita dengar adalah “Orang yang sukses bukanlah mereka yang tidak pernah gagal.”  Hampir semua manusia pernah mengalami kegagalan, apa pun jenis dan berapa pun tingkatannya. Namun, mereka dapat dikatakan memiliki modal kesuksesan dan akan menjadi sukses jika pada saat gagal, mereka tidak berlarut-larut meratapi kegagalannya.  Segera bangkit dengan suntikan motivasi yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri. Sedangkan orang gagal melakukan sebaliknya, mereka semakin terpuruk dalam jurang penderitaan. Akibatnya mereka tidak mampu bangkit dan menyerah kalah. 
           
Jika “segala sesuatu akan indah pada waktunya”, maka jangan pernah menyerah. Karena hidup bukan persoalan kalah dan menang melainkan maju terus, bangkit, dan bergerak. Karena kita tidak mungkin terus berlayar, dan tidak akan pernah tahu sampai di pelabuhan mana perahu kehidupan kita bersandar, lalu mimpi kita pun akan terhenti. Lengkapilah perjuangan kita mencapai kesuksesan dengan keteguhan dalam menjalankan ajaran agama. Kuatkanlah dengan doa. Dalam doa ada harapan, misteri, dan keistimewaan seorang hamba dalam genggaman Tuhan Yang Mahakuasa. Yakinkan pada diri sendiri bahwa Tuhan akan membantu kita dalam mengatasi setiap kesulitan. Dengan semangat, kerja keras, dan bangkit dari keterpurukan, kita pasti berhasil mencapai harapan dan cita-cita.
Mari kita berjuang meraih mimpi. Tuhan bersama orang-orang yang memperjuangkan hidupnya. 

             Sebagaimana Allah swt, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang telah mengatakan dalam surat Al Insyirah: Bahwa setelah kesulitan ada kemudahan, bahkan bersama kesulitan disertai kemudahan. Pernyataan tersebut diulang sebanyak dua kali dalam surat tersebut sebagai penegasan untuk menyakinkan hambanya.
 
Photo by: P3c3q
***

16 Mei 2016

Kembalinya Sastra yang Hilang

Sebagai guru Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMA, saya merasa bersyukur atas kembalinya Sastra dalam Kurikulum melalui hasil revisi (ke empat) Silabus Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan (SMA/MA/SMK/MAK) Tahun 2016. Berikut data kembalinya sastra dalam Kurikulum 2013 revisi Silabus tahun 2016.


  


Sejak diimplementasikan Kurikulum 2013 pada awal Tahun Pelajaran 2013/2014 (sampai dengan edisi revisi ke-1, 2, dan 3), Silabus Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMA terasa kering dan tandus tanpa hadirnya sastra. Kelas X sama sekali tidak tersentuh sastra, kelas XI hanya Teks Pantun dan teks Cerpen, sedangkan Kelas XII hanya Teks Cerita Fiksi dalam Novel.

Alhamdulillah, di tahun 2016 ini “Puisi” hadir kembali sebagai materi pembelajaran kelas X SMA. Terlepas dari kerumitan dan ketimpangan materi yang telah dipelajari terdahulu; dan (tentu saja) betapa mubazirnya jutaan eksemplar buku paket bahasa Indonesia yang telah diterbitkan dan digunakan di sekolah karena lebih banyak perbedaanya daripada kesamaannya. Sebelumnya, masing-masing tingkatan kelas hanya mempelajari 5 teks yang tidak berisi apa-apa karena bahasa Indonesia tidak lagi dipandang sebagai ilmu yang harus dipelajari, tetapi hanya sebagai alat penghela ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, hadirnya kembali sastra sungguh menggembirakan.

Tentang teknik pembelajaran menulis puisi, berikut tulisan saya empat tahun lalu yang telah saya sesuaikan dengan kompetensi dasar berdasar Kurikulum 2013, Draf Silabus edisi revisi tahun 2016:

Teknik Pancingan Kata Kunci dalam Pembelajaran Menulis Puisi

Keterampilan menulis puisi pada pembelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas X tertuang dalam Kompetensi Dasar 4.17: Menulis puisi dengan memerhatikan unsur pembangunnya.
Menulis puisi merupakan kegiatan reproduksi pikiran dan perasaan menjadi tulisan. Menulis itu penting. Tulisan tidak sekedar dipandang sebagai kompetensi linguistik seseorang, namun banyak manfaat yang diperoleh dari menulis, khusunya menulis puisi. Selain dapat menunjukkan kekayaan intelektual penulisnya, menulis puisi merupakan ajang kreativitas, tempat mencurahkan isi hati dan pikiran, sarana untuk mengurangi beban perasaan, wujud eksistensi diri, bahkan sumber komersialisasi. 



Dalam mengembangkan proses kreatif menulis puisi diperlukan wawasan yang luas, kepekaan rasa, dan daya bayang (imajinasi) yang tinggi. Ketiadaan unsur-unsur itulah yang menjadi hambatan siswa dalam menulis puisi. Beberapa ungkapan yang sering dikatakan siswa ketika mereka belajar menulis puisi antara lain: kesulitan memulai, galau dalam menentukan ide, bingung memilih kata yang tepat, atau “mati gaya” dalam merangkai diksi menjadi larik, larik menjadi bait, sehingga tersusun kesatuan puisi dengan bahasa yang estetis. Akibatnya, puisi yang dihasilkan terlalu “kering”, bahasanya monoton, dan tidak terlalu berbeda dengan bahasa koran. Oleh karena itu dalam pembelajaran menulis puisi diperlukan salah satu teknik yang dapat membantu siswa agar terampil menuangkan gagasan dalam bentuk puisi yaitu teknik Pancingan Kata Kunci.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pan•cing•an berarti 1) yang dipakai untuk memancing (memikat, menarik hati, dsb); 2) kata-kata (perbuatan dsb) untuk mencari sebab. Sedangkan kata kunci diartikan sebagai berikut: kata kunci 1) kata atau ungkapan yang mewakili konsep atau gagasan yang menandai suatu zaman atau suatu kelompok; 2) kata atau ungkapan yang mewakili konsep yang telah disebutkan. Berdasarkan makna leksikal tersebut dapat disimpulkan bahwa Pancingan Kata Kunci dalam pembelajaran menulis puisi adalah teknik yang dilakukan oleh guru dengan cara memberikan stimulasi berupa kata-kata pokok sebagai panduan untuk menumbuhkan kreativitas siswa dalam memilih, menentukan, dan mengeksplorasi diksi menjadi puisi. Dengan teknik Pancingan Kata Kunci siswa lebih mudah menuangkan dan mengembangkan gagasannya menjadi puisi.

Secara umum pelaksanaan teknik Pancingan Kata Kunci dalam menulis puisi dapat dijelaskan dalam tiga tahap.

(1) Tahap Pemodelan.
Siswa diajak menyimak pembacaan puisi yang dilakukan langsung oleh siswa/guru atau melalui rekaman video. Dengan pembacaan tersebut siswa dikenalkan kepada unsur-unsur yang membangun puisi. Siswa diajak berdiskusi tentang struktur fisik dan struktur batin puisi, antara lain tipografi, diksi, majas, rima, nada, tone, tema, dan amanat.
(2) Tahap Pemberian Kata Kunci.
Guru memberikan pancingan kata kunci dengan batasan kriteria dan tema tertentu.
(3) Tahap Penulisan.
Siswa mengembangkan kata kunci yang diberikan oleh guru sesuai dengan batasan kriteria dan tema yang ditentukan.
Contoh pancingan kata kunci yang diberikan guru sebagai berikut.

A. Tugas 1

1) Tema bebas, baris puisi dimulai dengan “aku ingin”.
2) Masukkan unsur-unsur berikut ke dalam larik:
a. warna
b. manusia
c. bunyi
3) Minimal lima larik.
4) Waktu 10 menit.


Dan contoh puisi yang dihasilkan siswa sebagai berikut:

Asaku

Aku ingin menjadi satu gawang berwarna putih di lapangan luas
dan engkaulah sang bola
yang menjadi incaran berpasang-pasang mata
“braak!” semua orang beradu tubuh
mengejarmu dalam ambisi membuncah
tanpa keluh kesah
hiruk pikuk
lalu lalang
namun…
hanya kepadakulah engkau datang


(Puisi karya Annisa Rifqiana Kelas X)


Akulah Jantungmu

Aku ingin menjadi jantung
yang selalu berdetak di dada ibuku
“dagdug dagdug dagdug” sepanjang waktu.
Aku tak ingin berhenti
agar ibuku selalu hidup bersamaku
melebur semangat dalam ikatan hati

Siang dan malam aku tak lelah
Apalagi menyerah
Karena ibuku telah bertaruh nyawa
Bersimbah merahnya darah
Melahirkan aku


(Puisi karya Rahardi Mundi Kelas X)
***

30 April 2016

Happy 1st Anniversary Ford Everest Club Indonesia


Asosiasi
Photo by: Teuku Chaerul

Suatu sore di penghujung April 2016, A.Yosheri kawan FEvCI dari Palembang menyinggung tentang blog ini (bisa diumpamakan mati suri karena telah tiga tahun saya tinggalkan). Bang Yosh, demikian saya biasa menyapanya dengan akrab, menyarankan agar saya menulis lagi. 

“Mbak Lis blognya diaktifin lagi dunk? Saya telah membacanya satu per satu”, katanya.

Saat itu juga saya seolah tergugah dari “tidur menulis”. 
Hal yang sama pernah dilakukan sahabat saya dari Mexico, Eduardo Robles, seorang master ilmu komputer yang menyukai fotografi, jurnalistik, musik, dan seni.
Berikut kata-katanya (yang telah saya terjemahkan secara bebas dalam bahasa Indonesia):

"My dear friend,
Anda tahu, bekerja dan berusaha untuk mengubah dunia adalah jalan hidup saya ...
Dan Anda? Saya tidak melihat Anda menulis, saya melihat posting yang sama selama sebulan penuh. Saya harap Anda bisa menulis secepat mungkin karena saya ingin tahu tentang Anda lagi.
Terima kasih banyak..."

Regards from your Mexican friend


FEvCI:
Photo by: Dwi Hertanto
Saya ingin memprkenalkan kepada sahabat Blogger di seluruh dunia tentang FEvCI.  Ford Everest Club Indonesia yang kemudian disingkat FEvCI, adalah  komunitas pemilik dan pecinta mobil Ford Everest segala generasi di seluruh Indonesia (tanpa adanya “peng-kastaan”).  FEvCI berpusat di Jakarta dan dibentuk pada tanggal 30 April 2015 (Benar nggak? Colek Mas Bayu Ekaputra. Baru satu tahun usianya, namun member FEvCI menyebar di seluruh Indonesia. Komunitas yang berwarna dan heterogen baik gender, usia, suku, agama, asal daerah, hobi, maupun profesi. FEvCI adalah club yang solid walaupun sebagian member saling berjauhan.
 
Menjadi anggota club mobil bukanlah yang pertama bagi saya. Sebelumnya pernah mengikuti organisasi yang sama dari Mitsubishi Lancer tetapi belum merasakan adanya ikatan emosional seperti saat ini. Club Ford Everest inilah semangat baru saya, meskipun tempatnya jauh namun dekat di hati. Keterlibatan emosi dalam jalinan persaudaraan dan kekeluargaan menjadikan EvCI mampu menempati bagian hati yang paling istimewa bagi para member, khusunya saya.
 
Photo by: Teuku Chaerul
Walaupun berdomisili di Kota Malang, beberapa kali saya mendapatkan kunjungan dari sahabat FEvCI, bahkan  Pengurus Nasional FEvCI. Rasa bangga dan bahagia bisa bertemu keluarga baru.

Pada tanggal 9-10 Februari 2016 saya dikunjungi  Member Cilegon yang notabene juga Pengnas FEvCI, Mas Roy aka Teuku Chaerul beserta keluarga dalam satu persinggahan dari perjalanan panjang mengendarai Ford Everest yang tangguh melintas Pulau  Jawa-Bali-Sumatera, bahkan sampai ke ujung Indonesia yaitu Sabang. 

Tiga hari kemudian, 13 Februari 2016 Petinggi  FEvCI
dari Jakarta berkunjung ke Malang dalam “Safari Member FEvCI Pulau Jawa" (Bali juga kali yaaa), beliau adalah Mas Rully (Ketua), Mas Bayu Ekaputra (Sekjen), dan Kang Januar (Provost FEvCI ), juga
mengendarai Ford Everest yang tangguh.
Dan baru-baru ini, 28-30 April 2016 saya sangat bersyukur bisa
sejenak menemani keluarga FEvCI dari Bekasi, Mas Wawan Setiawan beserta istri dan putra-putrinya berwisata alam dan kuliner di Malang Raya.  


Selain itu, saya juga mendapatkan layanan konsultasi dari member FEvCI yang expert dalam segala hal yang berkaitan dengan Ford Everest, yaitu Bang Mike (Michael Tappyowner Mirona Auto Garage (MAG) Duren Sawit Jakarta.

Sampai saat ini ada sahabat FEvCI yang melakukan perjalanan keliling Indonesia (bikin iri), dialah Bang Denny Hendrawan Piliang beserta istri dan stafnya. Ini bulan ke-4 sahabat saya tersebut membawa misi petualangan Roadtrip Indonesia dari Jakarta bersama Ford Everest bernama Seruling Senja. Pada saat tulisan ini saya post, Roadtrip Indonesia  berada di Sumatera Utara dan bergabung dalam keluarga FEvCI Chapter Sumatera Utara melakukan Touring Danau Toba

Camping:
Topik pembicaraan saya dengan Bang Yosh saat itu tentang Day Camp peringatan dan perayaan 1st Anniversary Ford Everest Club Indonesia. Tiba-tiba saya menjadi melo, istilah populer di kalangan anak muda adalah baper (terbawa perasaan), karena tidak bisa turut meramaikan FEvCI Day Camp.
Photo by: Abe Himura

Camping sesungguhnya tidak hanya kesenangan buat saya, tetapi sudah menjadi bagian dari hidup. Hobi “ngalas” telah menjadikan camping sebagai “fase” yang harus dilalui.  Sejak dahulu saya menyukai out door activity: naik gunung, caving, rafting, SAR, Prokasih (Program Kali Bersih), susur pantai,  dll, baik yang membawa misi  kemanusiaan, lingkungan hidup, edukasi, maupun hanya sekadar kesenangan atau refreshing. Dari kegiatan itulah, camping pada akhirnya mampu memberi warna tersendiri dalam hidup saya.

FEvCI Day Camp
Photo by: Adi Perkasa
Meskipun tidak bisa berpartisipasi dalam kegiatan Day Camp, saya memantau update kegiatannya menit demi menit yang diekspose melalui grup Facebook dan Whatshapp.  “From Family to be Families”, begitulah tema FEvCI Day Camp  yang diselenggarakan sebagai peringatan dan perayaan 1st Anniversary Ford Everest Club Indonesia di Mulberry Hill, Lembang, Subang, Jawa Barat, 30 April - 1 Mei 2016. Dengan Day Camp tersebut, semoga kekeluargaan dan kekerabatan Keluarga Besar Ford Everest Club Indonesia semakin kuat, solid, besar, dan tangguh. 

Menurut informasi dari Pengurus Nasional FEvCI, dalam hal ini Sekjen FEvCI, BayuEkaputra, acara Day Camp 2016 dimeriahkan oleh kendaraan member FEvCI beserta keluarga, dan kolega dengan rincian, Ford Everest 49 unit, Ford Ranger 2 unit, dan 1 unit Ranger Service Car dari PT Nusantara Group (suportting service car dari dealer resmi). Member registrasi 49 anggota, ditambah 5 orang peserta nonregistrasi, dan 8 mekanik dari Nusantara Group dan Mirona Auto Car. Total peserta bersama keluarga berjumlah 146 orang yang terdistribusi dalam 35 tenda.

Masih dalam rangkaian peringatan dan perayaan 1st Anniversary Ford Everest Club Indonesia, keluarga FEvCI Chapter Sumatera Utara melakukan Touring Danau Toba. Dari sinilah tampak soliditas, solidaritas, kebersamaan, dan kebesaran Keluarga Besar Ford Everest Club Indonesia
 
Photo by: Ahmad Faisal

Sebagai penutup, saya mengutip tulisan Admin [FEvCI] Ford Everest Club Indonesia: KAMI PARA OWNER FORD EVEREST YANG TERGABUNG DALAM KELUARGA FORD EVEREST CLUB INDONESIA, TETAP ADA, TETAP GUYUB, TETAP KOPDAR, TETAP BERKEGIATAN DAN TETAP BERBAGI SEGALA INFO YANG BERSANGKUTAN DENGAN FORD EVEREST.


Dirgahayu Ford Everest Club Indonesia
Happy 1st Anniversary