29 Mei 2009

Kisah Tak Berbingkai (Episode 2)

2) Mimpi di Dalam Mimpi

Saya termotivasi melanjutkan tulisan ini karena ingin belajar KONSISTEN, walaupun kisah mimpi-mimpi dalam rentang waktu berpuluh tahun yang lalu telah saya loncati begitu saja. Mungkin suatu saat akan saya tulis kisah serupa namun tanpa kronologi waktu yang berurutan ke masa depan. Kisah mimpi “Saya dan Tukang Cat” sudah tamat, dan inilah kisah berikutnya.

Lelaki yang Baik itu Menderita Kusta

Dua hari yang lalu aku bermimpi sedang membeli nasi bungkus untuk Ibu. Di tempat penjual nasi itu ada seorang perempuan tua duduk berselonjor kaki mengulurkan tangannya kepadaku. Dia ingin menjabat tanganku. Setelah mendekat, aku terkejut ternyata perempuan tua itu menderita kusta. Tangan yang diulurkan kepadaku penuh luka dan telah mengalami cacat mutilasi di beberapa sendi jemarinya. Aku tak sampai hati melihat uluran tangannya, maka kusambut tangan perempuan itu kemudian bergegas menghampiri penjual yang telah selesai membungkus nasi untukku. Aku semakin terkejut, ternyata perempuan penjual nasi itu juga menderita kusta. Cepat-cepat kubayar dan kutinggalkan tempat itu.

Sambil berjalan aku merenungi dua perempuan penderita kusta. Dan di dalam mimpi itu tiba-tiba aku teringat mimpi sepuluh tahun yang lalu (mimpi di dalam mimpi). Waktu itu aku bermimpi melihat seorang lelaki yang sangat kukenal. Dia menderita kusta seperti dua perempuan tersebut. Namun dalam mimpiku, lelaki itu telah sembuh dari penyakitnya. Dia tidak berkata-kata, semakin menjauh dengan senyum di wajahnya yang tampan. Siapakah lelaki itu? Nanti aku kisahkan setelah yang berikut.

Sambil terus berjalan dan membawa nasi bungkus, aku berpikir: akan kukemanakan nasi ini? Diberikan Ibu, aku tidak sampai hati. Kalau Ibu tahu bahwa penjual nasi itu menderita kusta, tentu tidak akan mau memakannya. (Aku juga teringat bagaimana Ibu melarangku berteman dengan lelaki penderita kusta itu). Aku terus berjalan mencari orang yang mau kuberi nasi bungkus, tetapi tidak seorang pun kutemui. Aku berniat membuang nasi itu, tetapi telah terjaga sebelum membuangnya. Ketika bangun dari tidur aku selalu merekonstruksi mimpi yang baru saja kualami. Dan yang paling berkesan dalam ingatanku adalah lelaki yang kutemui di dalam mimpinya mimpiku. (Bingung kan? Tentu tidak). Begini kisah tentang lelaki baik yang menderita kusta itu:

(Ini bukan kisah mimpi)
Seorang pemuda berumur sekitar 10 tahun begitu sayang kepadaku. Waktu itu usiaku 4 tahun. Pernah dia memain-mainkan uang logam 25 rupiah dengan melemparkan ke atas dan menangkapnya kembali. Siapa yang bisa merebutnya boleh memilikinya. Semua berebut, dan semua tidak ada yang mendapatkannya. Sedangkan aku yang tidak ikut berebut justru mendapatkannya. Dia memberikannya kepadaku. (Saat menulis ini dadaku terasa penuh dan mataku berkaca-kaca). Hampir setiap hari dia menjaga dan mengajakku bermain.

Sampai suatu saat dia melanjutkan sekolah (SMP) ke Malang dan aku merasa kehilangan kawan bermain yang sangat baik. (Konon kabarnya dia ikut kakak perempuannya yang menjadi anak angkat seorang dokter berkebangsaan Belanda di Lawang, dokter sisa zaman perang mungkin.) Selesai SMP dia pulang dan tidak melanjutkan sekolahnya karena sakit. (Mengapa pulang, mengapa tidak berobat ke dokter itu? Pertanyaanku dalam hati yang tentunya tidak pernah terjawab). Setelah sekian lama (bertahun-tahun kemudian) baru orang tahu bahwa dia menderita kusta. Penyakit baru di desaku, penyakit yang menakutkan banyak orang. Dia dan keluarganya dikucilkan. Aku sangat iba kepadanya, namun Ibu melarangku berteman dengannya. Sering bila malam-malam aku mengintip di dinding rumahnya yang terbuat dari bambu, atau mencuri dengar pembicaraan mereka. Waktu itu aku kelas 1 SMP.

Pada suatu malam, dalam pengintaianku di rumahnya, aku mendengar pembicaraannya. Lelaki baik penderita kusta itu ingin makan buah mangga dan ibunya menjanjikan akan membeli untuknya. Esoknya, aku “membaca medan” di halaman belakang rumahku yang luas dengan berbagai macam tanaman, termasuk 25 batang pohon mangga yang besar-besar dan sedang berbuah. Aku mengatur strategi pemanjatan dan menandai dahan mana yang buahnya paling banyak serta ranum-ranum. (Keluargaku menjuluki aku “bajing loncat” karena aku pandai memanjat. Aku terbiasa bergelantungan dari dahan ke dahan untuk memetik buah mangga, bahkan memanjat buah kedondong yang batangnya besar dan tinggi). Hmmmm….. Aku tidak sabar menunggu malam.

Sampai akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu tiba. Setelah maghrib, aku mengenakan kaos rangkap, kaos pertama press body, kaos kedua agak besar dan keduanya kumasukkan dengan rapi ke dalam celana pendek kesayanganku. Aku mengendap-endap ke halaman belakang rumah dan merapat di sebatang pohon yang telah kuberi tanda. Sekali loncat ke atas, aku bisa menangkap batang horizontal dan memelantingkan tubuhku sehingga berada di atas batang tersebut. Aku berjalan di atas dahan dalam gelap yang sangat pekat,dengan hati-hati mengikuti petunjuk tanda yang kubuat sendiri. Tangan kiriku mencari tumpuan pegangan yang aman, sedang tangan kananku bergerilya, meraba-raba, dan memencet-mencet buah yang telah masak. Setelah kupetik lalu kumasukkan ke dalam kaos, di antara kaos pertama dan kaos kedua agar tubuhku tidak terkena getah. Sampai tubuhku membesar karena dikelilingi oleh buah mangga. Setelah merasa cukup banyak, aku turun dengan hati-hati agar buah tidak jatuh atau tumpah jika aku turun dari pohon seperti biasanya, terjun bebas secara terarah dari ketinggian yang terukur. Kali ini tidak, aku sangat berhati-hati karena membawa misi sangat penting dan rahasia (Hallaaah…..seperti mata-mata perang saja!!!). Aku merasa badanku seperti pelaku bom bunuh diri yang menyembunyikan handak di balik pakaian. Tak kalah menegangkan dengan film “Hunter”, aku mengendap-endap dengan jantung berdegup-degup karena takut jika misi ini gagal. Aku takut ketahuan Ibu (Ayah dinas di luar kota), sehingga aku merapat dari dinding rumah yang satu ke dinding rumah yang lain sampai akhirnya tiba di tempat tujuan.


“Tok..tok..tok…”
Aku mengetuk pintu rumah itu pelan-pelan. Ketika pintu dibuka oleh ibunya, aku segera meletakkan jari telunjuk di mulutku, pertanda bahwa aku tidak menghendaki orang lain mendengar. Walaupun mulutnya ternganga, ibu itu mematuhiku. Aku masuk beberapa langkah dari pintu, mengeluarkan buah “yang kukandung”, dan lari keluar tanpa kata-kata agar tak seorang pun melihatku. Setelah agak jauh dan pintu rumahnya telah ditutup, aku kembali menghampiri rumahnya pelan-pelan. Aku ingin mendengar mereka bahagia. Namun yang kudengar justru isakan tangis sahabatku, lelaki baik yang menderita kusta. Aku sangat bersedih, aku merasa bersalah telah membuatnya menangis. Mungkin aku telah melukai perasannya. Atau... entah karena apa.

Bersambung….




25 Mei 2009

Kisah Tak Berbingkai (Episode I)

Ibarat sebuah novel, alur perjalanan hidup saya tersusun atas sekuen-sekuen (rangkaian cerita). Peristiwa-peristiwa yang terjadi tidak selalu linier dan kronologis berdasarkan urutan waktu ke masa depan. Namun, sorotan-sorotan masa lalu (flash back) baik yang berupa kisah dalam kenyataan hidup maupun kisah dalam mimpi turut memberi warna, corak, dan derap dalam kehidupan saya. Peristiwa yang tersusun atas sekuen-sekuen tersebut saya bagi menjadi dua bagian, yaitu mimpi dan bukan mimpi. Dalam "Kisah Tak berbingkai" ini, saya hanya akan membagikan sedikit cerita yang merupakan loncatan-loncatan peristiwa tanpa koherensi.

I. Mimpi

Ada dua pengertian mimpi secara umum, yaitu (1) Sesuatu yang dilihat atau dialami dalam tidur; (2) Harapan atau cita-cita atas tercapainya sesuatu. Dalam konteks ini, mimpi yang saya maksud adalah kata yang memiliki pengertian pertama.

Saya selalu bermimpi dalam setiap tidur, bahkan dalam tidur fase awal, ketika alam sadar dan alam bawah sadar masih berbaur. Banyak orang berpendapat bahwa tidak semua orang bermimpi, dan tidak semua pemimpi selalu mengingat mimpinya. Teori itu (sampai saat ini) tidak berlaku pada diri saya, karena saya selalu bermimpi dalam tidur dan mengingat setiap detailnya secara utuh dalam alur yang kronologis lengkap dengan tokoh dan seting peristiwa. Pernah saya berpikir untuk menyusun kumpulan cerita yang bersumber dari setiap mimpi yang saya alami, tetapi niat itu saya batalkan karena saya takut menjadi orang lain dalam dua dimensi kehidupan yang berbeda. Dalam tulisan ini saya hanya membagikan beberapa kisah mimpi yang ringan dan jika mengenangnya, saya merasa bahagia karena perasaan rindu yang sentimentil terhadap kampung halaman.

1) Saya dan Tukang Cat

(Mimpi ini terjadi ketika saya masih berusia 5 tahun).

Pada waktu itu, Ayah datang dari tempat tugasnya di Yon 501 Madiun. Ayah membawa oleh-oleh baju berwarna hijau untuk saya, dan baju berwarna orange untuk kakak perempuan saya. Baju baru itu saya pakai sampai malam, bahkan sampai tidur. Dalam tidur saya bermimpi sedang berjalan-jalan di jalur kereta api dengan mengenakan baju itu. Jalur kereta api Babat-Jombang yang melintas di belakang rumah orang tua saya, di seberang halaman belakang yang luas, khas rumah pedesaan. Saya berjalan ke arah timur menuju Bis (sebutan orang di desa saya terhadap jembatan rel kereta api yang berarsitektur Kolonial Belanda). Sebelum saya sampai di Bis, muncullah seorang tukang cat dari arah timur sambil memikul keranjang berisi kaleng-kaleng cat. Setelah dekat dengan saya, dia berhenti dan meletakkan keranjangnya. Pak Tua itu melambaikan tangannya, lalu saya mendekat. Kemudian dia mengeluarkan kain persegi empat berwarna putih dengan gaya seperti Matador yang akan menangkap banteng. Saya diminta menelungkupkan kepala di atas keranjang. Ketika kain putih itu akan ditutupkan kepala saya, terdengar suara seorang pemuda yang mengatakan bahwa saya harus lari karena tukang cat itu akan memenggal kepala saya. Mendengar itu saya hempaskan tangan tukang cat dan lari sekuat tenaga. Saya terbangun dari tidur dengan napas tersengal-sengal. Sejenak pikiran saya merekonstruksi mimpi tersebut kemudian tertidur lagi sampai pagi.

Pagi itu (masih dengan baju baru berwarna hijau) saya menuju halaman depan rumah untuk menunggu anak-anak berangkat sekolah. Ini selalu saya lakukan karena saya ingin sekali sekolah, sedangkan umur saya waktu itu belum cukup. Saya cukup senang hanya dengan melihat mereka berangkat sekolah. Satu demi satu lewat, sampai saya merasa sudah tidak ada lagi yang bisa dilihat. Ketika menoleh ke arah timur, saya terkejut dan sangat ketakutan. Seorang tukang cat memikul keranjang dengan menawarkan dagangannya: “Caaaat…..Caaaaat….!” sama persis dengan kejadian yang baru saja saya alami dalam mimpi. Sambil bersembunyi di balik rimbun bunga-bunga, saya berpikir bagaimana caranya agar Pak Tua, si tukang cat itu tidak mengenali saya. Ide datang begitu cepat, saya lari ke dalam rumah dan menukar baju hijau yang saya pakai itu dengan baju orange milik kakak. Setelah yakin bahwa tukang cat itu tidak mengenali saya dengan ciri-ciri baju berwarna hijau, maka saya keluar rumah dengan mengenakan baju berwarna orange. Sangat Percaya diri saya mendekati tukang cat. Dan saya sangat senang karena tukang cat itu benar-benar tidak mengenali saya karena saya telah bertukar pakaian. “Aman...!!!” teriak saya kuat-kuat.

Bertahun-tahun kemudian saya baru bisa menertawakan kebodohan itu. Sampai saat ini, setiap mengingat mimpi itu, saya merasakan energi rindu yang sangat kuat terhadap kampung halaman dan semua orang yang berada di sana, terutama Ibu dan saudara-saudara saya.

Bersambung …




18 Mei 2009

"I Love You Just The Way You Are"

Saya tertarik dengan kiriman seorang kawan di Milis Sarikata yang mengutip tulisan Clara Moningka dengan gaya "saya":

Saya sangat terharu ketika datang menghadiri perayaan hari ulang
tahun pernikahan ke-60 seorang kenalan. Betapa bahagianya pasangan
yang merayakan. Mereka duduk berdampingan sambil bergandengan
tangan. Senyum menghiasi wajah keduanya. Seorang rekan yang hadir
bertanya "Apakah kita bisa seperti mereka, punya cinta yang tak
tergerus waktu?"

Seiring dengan perkembangan zaman, pernikahan sebagai suatu ikatan
sakral antarmanusia mulai dipertanyakan. Perselingkuhan menjadi hal
yang biasa dilakukan. Perceraian pun lazim kita dengar dan kita
tanggapi secara biasa pula. Kesetiaan menjadi kata yang sulit
dilaksanakan. Sampai di manakah batas kesetiaan manusia? Akankah
cinta yang tadinya ada menjadi tiada? Apakah benar kita dapat
mencintai seseorang untuk selama-lamanya? Di saat susah, di kala
senang, sampai ajal memisahkan? Bagaimana mewujudkan cinta seperti
itu?

Saat saya berkumpul dengan beberapa orang teman, kami berbincang-
bincang mengenai makna kesetiaan dan hakikat pernikahan. Maklum,
beberapa di antara kita akan melangkah ke jenjang pernikahan.
Pernikahan menjadi topik seru yang diperbincangkan mulai dari
persiapan, pesta, hingga calon pasangan. Soal pasangan masing-masing
adalah hal paling menarik dibahas. Sampai di mana kita merasa cocok
dengan pasangan kita? Seorang teman mengisahkan pengalaman rekan di
kantornya yang membatalkan pernikahan meskipun waktu tinggal sebulan
lagi. Kami semua terkaget-kaget karena persiapan sudah sedemikian
mantap. Gedung tempat pesta sudah dibayar, foto prewedding sudah
kelar, undangan hampir disebar. Apa yang terjadi? Ternyata sang pria
merasa tidak siap untuk menikah dan merasa tidak cocok dengan sang
wanita. Padahal pasangan itu berpacaran lebih dari lima tahun.

Menyatukan dua orang dengan latar belakang yang berbeda, bahkan
sangat berbeda, bukanlah hal yang mudah. Budaya, pola asuh,
pendidikan, dan lingkungan keluarga serta pergaulan sangat
mempengaruhi perilaku seseorang dan kecocokannya dengan orang lain.
Terkadang yang kita anggap cocok saat ini, belum tentu cocok nanti.
Seiring dengan perjalanan waktu, kita tidak hanya melihat persamaan,
namun juga melihat perbedaan. Kemudian sampai di mana kita mampu
mengelola perbedaan tersebut menjadi sesuatu yang indah, di mana
yang satu dapat melengkapi yang lain? Bila kedua belah pihak tidak
dapat menerima perbedaan yang ada, atau malah hanya berdiam diri dan
menyimpan dalam hati tanpa membicarakannya, akan muncul masalah
dalam hubungan tanpa mereka sendiri.

Seringkali orang mencari pasangan berdasarkan penampilan fisik atau
materi semata. Padahal standar fisik (cantik, langsing, ganteng,
kekar) atau materi bersifat subjektif. Memang kadang hal tersebut
dapat membuat kita bahagia namun di mana esensi cinta?

Robert Sternberg, seorang psikolog mengemukakan konsepsi mengenai
cinta. Ia mengilustrasikan cinta dalam bentuk segitiga.

Cinta yang penuh atau lengkap adalah cinta yang disebut consummate
love, yakni kombinasi dari adanya keintiman (intimacy), hasrat
(passion), dan komitmen (commitment) . Cinta tanpa komitmen tidak
menunjukkan adanya kesetiaan dan saling mengasihi yang mendalam.
Cinta tersebut hanya karena nafsu, membara namun pada akhirnya
berpaling ketika ada objek cinta yang lain. Komitmen menandakan
adanya penerimaan antara yang satu dengan yang lain dan menjadikan
cinta sebagai sesuatu yang suci di antara mereka.

Di lain pihak, cinta tanpa hasrat merupakan cinta yang hampa.
Komitmen saja, misalnya karena terpaksa menikah karena pilihan orang
tua atau karena berhutang budi tanpa memiliki hasrat, menyebabkan
ikatan karena keharusan, bukan karena kerelaan. Baik, bila pada
akhirnya cinta dapat tercipta. Bila tidak, hubungan terasa hampa.

Cinta yang timbul karena komitmen dan hasrat semata, tanpa mau
mengenal pasangan lebih dalam dan berusaha memahami serta membangun
keintiman yang lebih dalam adalah cinta yang kekanak-kanakan.
Seperti cinta monyet. Esensi cinta juga sulit ditemukan dalam cinta
semacam ini. Masalah dapat timbul dan cinta dapat hilang begitu
saja.

Bila kita mampu membangun komitmen, mengenal pasangan kita lebih
jauh, memahami dirinya sebagai pribadi yang unik dan kita cintai,
memiliki hasrat untuk bersamanya, maka kita akan mendapatkan cinta
seutuhnya. Tidak mudah memang. Namun, belajar untuk menerima, saling
membangun satu sama lain, dan menyadari bahwa cinta saya adalah pada
pribadi ini dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya adalah cinta
yang sebenarnya.

Pada dasarnya, mewujudkan hal tersebut tidak semudah ketika saya
menuliskannya. Seperti telah diungkapkan di atas, menyatukan segala
perbedaan bukan hal yang mudah. Berusaha untuk menerima dengan
lapang dada, tidaklah mudah. Tetapi pasangan seperti apakah yang
kita cari? Sampai kapan kita akan menemukan pasangan yang sempurna?
Jawabannya tidak akan pernah ada kecuali kita sendiri yang
menciptakan kesempurnaan itu. Cinta yang timbul dari hati, dari
kejujuran dan ketulusan, love actually alias I love you just the way
you are. Hal tersebut pada akhirnya akan membantu kedua belah pihak
menyelesaikan masalah yang ada. Toh kita tidak akan tetap muda dan
terus mencari dan mencari. Suatu hari kita akan merasakan kerinduan
untuk berbagi dengan orang yang penting dalam hidup kita, ingin
menggenapkan tugas perkembangan kita yaitu membangun keluarga.

Pada saatnya nanti, pernikahan bukanlah permainan, bukan hanya
sekadar pesta, namun merupakan janji suci dua insan. Apakah akan
berakhir dengan kesedihan karena sikap egois dan seenaknya sendiri
atau berakhir bahagia hingga akhir waktu kita sendiri yang dapat
menentukan.



04 Mei 2009

Bina Mitra dan Pengembangan Diri Siswa



Bina Mitra Polisi-Sekolah

Berdasarkan laporan pihak kepolisian, anak usia remaja (dalam hal ini siswa) tidak hanya nakal, tetapi juga telah menjadi pelaku kriminal. Tindakan kriminal yang dilakukan siswa antara lain perkelahian, penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya, pencurian, perampokan, pemerkosaan, dan pembunuhan. Fenomena ini sangat mengkhawatirkan orang tua, guru, dan masyarakat umum. Oleh karena itu Dinas Pendidikan Kota Malang (khususnya SMA Negeri 7 Malang) bekerja sama dengan Polresta Malang dalam program Bina Mitra untuk menekan angka kenakalan dan kriminal yang dilakukan oleh siswa. Tim yang terdiri atas petugas kepolisian, Dinas Pendidikan, dan di dampingi oleh Kepala Sekolah serta Wakasek kesiswaan, melakukan pembinaan dan razia secara berkala di kelas-kelas. Materi pembinaan meliputi: budi pekerti, sopan santun berlalu lintas, bahaya rokok, bahaya narkoba, hak dan kewajiban warga negara, dan hal-hal yang secara spesifik berkaitan langsung dengan gaya hidup remaja. Sedangkan razia dilakukan terhadap telepon seluler dan barang-barang bawaan siswa yang berbahaya, atau mengandung unsur pornografi, pemeriksaan knalpot kendaraan bermotor, serta razia terhadap siswa yang berkeliaran di tempat umum pada saat jam sekolah.

Tidak semua siswa menerima dengan baik pelaksanaan program ini, terutama siswa yang berkategori ”nakal”. Mereka selalu memandang segala sesuatu dari ”suka atau tidak suka”. Sehingga apa pun yang membuatnya tidak suka, pasti menolak, memberontak, atau bahkan melakukan perlawanan, termasuk penegakan peraturan dan disiplin sekolah yang ditangani oleh Tim Tatib. Para siswa lupa, bahwa memandang sesuatu seharusnya menggunakan ukuran ”benar atau salah”sehingga jelas sumber hukumnya. Korelasi antara pelanggaran dan hukuman yang terjadi (hukum sebab-akibat) pun jelas dan tidak perlu ada pertanyaan ”Mengapa saya dihukum?”. Berkaitan dengan Program Bina Mitra ini siswa nakal beranggapan bahwa kehadiran polisi di sekolah akan mengganggu proses belajar mengajar. Tentu pernyataan demikian tidak benar, karena hakikat belajar di sekolah adalah pembelajaran dan pendidikan. Dan belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan tingkah laku, dari tidak baik menjadi baik, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan dari tidak terampil menjadi terampil. Pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai metode sesuai dengan karakteristik siswa dan kondisi yang ada.

Guna mengalihkan perbuatan siswa dari kenakalan dan kriminal tersebut, selain melaksanakan program Bina Mitra, sekolah juga memberikan fasilitas pengembangan diri. Sehingga siswa tidak memiliki banyak waktu luang yang bisa digunakan untuk melakukan perbuatan tercela. Pengembangan diri diwujudkan dalam kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat sesuai dengan kondisi sekolah. Pengembangan diri bertujuan membantu kemandirian siswa agar potensi, bakat, minat, pengetahuan, sikap serta keunikan dirinya dapat berkembang secara optimal dalam hubungan pribadi, sosial, belajar dan karir melalui proses pembiasaan, pemahaman diri dan lingkungan serta pemanfaatannya untuk mencapai kebahagiaan hidup.

Pengembangan diri dapat diaktualisasikan melalui:
1. Penataan Kultur Sekolah
2. Proses Pembelajaran
3. Program BK
4. Kegiatan Ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler dalam hal ini harus memenuhi 4 fungsi:

1. Pengembangan
Mengembangkan kemampuan dan kreativitas
2. Sosial
Mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial
3. Rekreatif
Mengembangkan suasana rileks, mengembirakan, dan menyenangkan
4. Persiapan Karier
Mengembangkan kesiapan karier

Guna memfasilitasi pengembangan diri siswa, SMA Negeri 7 Malang menyediakan 23 jenis kegiatan ekstrakurikuler, yaitu:
BDI, Pramuka,Gulat,Mading Jurnalistik,Paduan suara,Sepak Bola, Futsal, Bola Basket, KIR, Karawitan, Karate, PMR, Paskibra, Pecinta Alam, Otomotif, Bola Voli, Tari, Cheerleader, Modern Dance, Break Dance, Broadcasting, Marching Band.

Secara khusus pengembangan diri dapat uraikan sebagai berikut.

- Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah.
- Memanfaatkan layanan konseling BK
- Melaksanakan upacara bendera.
- Senam kesegaran jasmani
- Sholat berjamaah di sekolah
- Santun kepada orang lain.
- Pemeriksaan kesehatan
- Kunjungan ke perpustakaan
- Memberi salam, sapa, dan senyum
- Membuang sampah pada tempatnya
- Budaya antri
- Berpakaian rapi
- Menghargai hasil karya orang lain
- Datang tepat waktu
- Hidup sederhana
- Tidak merokok
- Menaati peraturan sekolah
- dll.