08 Oktober 2008

Gaya Bahasa dalam Lirik Lagu "Ibu" Karya Iwan Fals


Pengantar:

Ketika masih berdinas di Madura, saya pulang ke Malang setiap minggu. Bahkan pada beberapa tahun terakhir, saya bertugas mengajar di dua kota yang berjauhan. Senin-Kamis di Pamekasan, dan Jumat-Sabtu di Malang (sebagai prasyarat untuk bisa mutasi di Malang). Begitulah rutinitas saya sebagai "musafir yang lalu", selama tujuh tahun. Ada rasa melankolis yang sulit dilupakan saat itu. Hampir setiap hari Kamis, saat dalam perjalanan Pamekasan-Malang saya mendengar lagu Ibu (Iwan Fals) yang dinyanyikan oleh seorang pengamen dalam bus antarkota. Pengamen yang sama, dengan lagu yang sama, dan pada tempat yang kurang lebih juga sama (antara Surabaya-Sidoarjo). Setiap mendengar lagu itu saya merasa hanyut dan dilingkupi atmosfer rasa yang membuncah di dada. Saya merasakan hal yang sama dari waktu ke waktu: sedih, haru, rindu, lalu menangis. Bagi saya syair dan lantunan lagu tersebut seolah mengguyur kerinduan kepada ibu.

Lalu pada hari ini: Selasa, 29 September 2008 saya diberi hadiah teks/lirik lagu tersebut oleh sahabat blogger bernama Jefry di sini. (Terima kasih teman...)

Dan, saya mencoba mengupas teks/ lirik lagu Ibu berdasarkan gaya bahasa (figurative language). Gaya bahasa biasa juga disebut dengan majas, yaitu pemakaian ragam tertentu dalam bertutur bahasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gaya bahasa didefinisikan sebagai berikut.


gaya2 » gaya bahasa

  1. Ling pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis
  2. Ling pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu
  3. Ling keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra
  4. Ling cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan


1. Metafora

Metafora adalah gaya bahasa perumpamaan langsung tanpa menggunakan kata seperti, laksana, bagaikan, dsb. guna memberikan efek atau mengungkapkan imaji/pencitraan tertentu. Berikut gaya bahasa metafora yang terdapat dalam lirik lagu Ibu karya Iwan Fals.


/Ribuan kilo jalan yang kau tempuh/ 

Dalam lirik lagi Ibu, tanggung jawab dan perjuangan seorang ibu menjalani kodrat sebagai orang tua terhadap anak, diumpamakan dengan perjalanan jauh menempuh jarak ribuan kilometer. Pada kenyataannya bahkan mungkin lebih berat dari itu, seandainya tanggung jawab seorang Ibu bisa dihitung dan diukur, dan seandainya setiap langkah ibu bisa dihitung dan diukur. Apalagi dalam lirik ini tokoh Ibu digambarkan sebagai sosok sederhana, pekerja keras, menderita, dan terkesan multiproblem. Frasa "ribuan kilo" tidaklah sekadar mengungkapkan jarak tempuh semata, namun merupakan metafor tentang beratnya suatu kehidupan.  Semua dijalani Ibu demi keuarga, demi anak, demi sandang pangannya, pendidikannya, kesehatannya, kebahagiaannya, dan keberhasilannya.


/Lewati rintang untuk aku anakmu/

Perjalanan hidup ibu tidaklah mulus tanpa hambatan. Kesulitan dan penderitaannya dimetaforkan dengan kata "rintangan", yaitu sesuatu yang menghalangi, mengganggu, mengusik, atau menghadang sehingga menghambat kelancaran perjalanan.Walaupun rintangan mengahadang, kesulitan hidup tak terelakkan, Ibu pantang putus asa, tidak menghindari masalah tetapi menghadapinya, melewatinya, dan menjalaninya walau penuh rintangan.



 /Ibuku sayang masih terus berjalan/ 
/Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah/

Ibu terus berjalan, terus berjuang dan memperjuangkan hidupnya. Semangat Ibu dalam menjalani kehidupnya dimetaforkan dalam frasa "terus berjalan". Walaupun berat dan sulit, Ibu terus berjuang tanpa berkata lelah, tanpa keluh kesah. Ibu rela berkorban, mengorbankan kepentingannya, rela menderita dan bersusah payah demi kebahagiaan anaknya. "Darah" dan "nanah" adalah metafor tentang penderitaan dan kesulitan. Hidup memang sulit, namun harus tetap dijalaninya. Karena selama ada napas, maka hidup harus terus berlanjut.

/Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu/
/Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu/
/Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku/

Ada imaji visual di sini, bahwa dalam konteks ini ada jarak yang memisahkan antara anak dan Ibu. Ada kerinduan, ada rasa yang tak teridentifikasi, ada sesuatu, sehingga anak ingin berada di dekat Ibu dan menangis di pangkuannya sampai tertidur, bagai masa kecil yang indah. Pangkuan Ibu adalah metafor tentang kehangatan, tempat rebah terindah bagi manusia. Di pangkuan Ibulah seseorang bisa bercerita bahkan menangis. Tak ada keluh kesah, Ibu menerimanya dengan pengharapan dan doa terbaik. Doa Ibu sumber kekuatan bagi anak. Setiap kata dan ucapan Ibu adalah  doa yang terindah untuk anaknya. Bagai obat luar yang membalur tubuh, menghangatkan, menguatkan, dan menyembuhkan. Juga, doa Ibu bagi anak  dimetaforkan selimut hangat yang meninabobokan.




2. Hiperbola

Hiperbola adalah gaya bahasa yang menggunakan pernyataan dibesar- besarkan, baik jumlah, ukuran maupun sifatnya, dengan maksud memberi penekanan intensitas. Gaya bahasa hiperbola yang terdapat dalam lirik lagu Ibu karya Iwan Fals tampak pada kutipan berikut.

/Ibuku sayang masih terus berjalan/
/Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah/

Walaupun terdapat gaya bahasa hiperbola, namun lirik lagu Ibu tidaklah hiperbolis. Aneh kan? Karena kehadiran majas tersebut tidak bersifat bombastis, juga bukan bualan semata. Gaya bahasa hiperbola  yang digunakan justru memberikan intensitas makna yang terkandung. Ibulah orang tersayang dalam hidup ini. Kasih sayang Ibu tidak mengenal lelah. Dalam kutipan larik di atas, terdapat penekanan betapa besar perjuangan dan penderitaan Ibu. Penulis lirik menggunakan metafor berupa telapak kaki yang penuh darah dan penuh nanah. Diksi tersebut menunjukkan intensitas penderitaan dan perjuangan seorang Ibu. Namun demikian, Ibu tetap menjalaninya dengan penuh kasih sayang, demi keluarganya, demi anaknya .


3. Simile

Simile adalah gaya bahasa perumpamaan yang menggunakan kata seperti, laksana, bagaikan, dan sejenisnya, untuk membandingkan antara objek yang digambarkan dengan pilihan kata yang digunakan. Gaya bahasa simile yang digunakan penulis lirik lagu Ibu karya Iwan Fals tampak pada kutipan berikut.

/Seperti udara... kasih yang engkau berikan/
/Tak mampu ku membalas...ibu...ibu/


Kasih sayang Ibu yang diberikan kepada anaknya digambarkan seperti udara. Mengapa diksi "udara" dipilih untuk mengibaratkan kasih sayang seorang Ibu?  "Seperti udara... kasih yang engkau berikan". Udara adalah zat yang esensial sebagai syarat untuk hidup, sangat vital, dibutuhkan, banyak tak terbatas, dan tidak berbayar. Tak seorangpun yang sanggup membayar, membalas, atau pun mengganti jasa dan kasih sayang Ibu. Setiap tarikan dan hembusan napas, sepanjang hayat, doa dan kasih sayang Ibu menebar seperti udara ke seluruh atmosfer kehidupan bahkan sampai ke alam baka. Tak ada yang mampu membalas kasih sayang Ibu.


Berikut teks lagu Ibu karya Iwan Fals


Ibu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah


Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas... Ibu... Ibu...


Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas... Ibu... Ibu....


Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas... Ibu... Ibu....

***


15 komentar:

  1. aq jg seneng bgt ma lagu ini mbak, tapi sayang aku bukan pengamen hehe

    liriknya menyentuh hati ihikcks ihicks.....
    jadi inget gajiku yang blom dibayar, lho kok??? gak nyambung.......

    BalasHapus
  2. iya mba.. sy suka lagu cinta iwan fals karena liriknya yg sederhana.. cinta yang liriknya nakal ..

    "ingin kuludahi muka mu yang cantik"

    atau

    " kuberikan kepada setangkai bunga pete "

    wek pokok na hidup bang iwan lah

    BalasHapus
  3. kalo untuk lagu iwan fals yang ini aku gag bisa bilang apa-apa, hanya pada waktu lagu ini dirilis....langsung aku dengerin, ada air yang mengalir dari mataku....

    BalasHapus
  4. wah jadi tw maksudnya makasih ya bu ifonya.. :)

    BalasHapus
  5. wah klo gini saya pgn belajar bahasa indonesia sama mba ... hhe

    BalasHapus
  6. mbak Lis, aku suka banget lirik lagu ibu nya iwan fals...

    BalasHapus
  7. Salut buat anda juga..
    semoga berbahagia selalu

    BalasHapus
  8. saya juga suka cara dia menghormati ibunya. beruntung sy pernah 2 malam nginep di rumahnya. sambil dimasakin mie instan pas malem2 klaperan ma istrinya. paginya diajakin nengok panti asuhan yang dihidupinya dari penjualan album dan tournya...

    BalasHapus
  9. Mba, kalo syair lagu bang iwan emang dalem buanget artinya, apalagi yg pada awalnya itu yg aku senang, 'ribuan kilo jalan yg kau tempuh itu mba

    BalasHapus
  10. adem dan nyaman banget blognya mbak...bikin betah..
    dari tempat oom jalan2 sampai sini

    salam kenal - salam ngeblog aja :)

    BalasHapus
  11. Kalau ingat ibu saya jadi pingin pulang kampung:)

    BalasHapus
  12. salam kenal dari bali...

    menarik sekali artikelnya, saya suka dengan gaya bahasa metafora yg spt ditulis diatas. Apalagi ditujukan kepada seorang ibu, mmmh..

    ...surga ada di kakinya.

    BalasHapus
  13. tadinya mau langsung pulang, eh ada postingan lagu iwan.f. sayng klo ga dibaca ampe selsai. mang bener tuh penyanyi legendaris soalnya. bagus banget mbak apresiasinya.

    BalasHapus
  14. lho bu....????

    download lagu sm liriknya kok beda??

    yang betul liriknya atau lagunya??

    BalasHapus
  15. Tata baru sadar ternyata lagu yang dibawakan Iwan fals dan Betharia Sonata yang berjudul "Kemesraan" ternyata memiliki makna yang sangat mendalam. Romantis juga ya lagunya? KIra-kira siapa ya pencipta aslinya? Atau memang Iwan Fals sendiri?

    Para blogger yang saya hormati,mari kita bernyanyi bersama-sama...
    Berikut liriknya,dimulai dari kunci S...

    Suatu hari
    Dikala kita duduk ditepi pantai
    Dan memandang ombak dilautan yang kian menepi

    Burung camar terbang
    Bermain diderunya air
    Suara alam ini
    Hangatkan jiwa kita

    Sementara
    Sinar surya perlahan mulai tenggelam
    Suara gitarmu
    Mengalunkan melodi tentang cinta
    Ada hati
    Membara erat bersatu
    Getar seluruh jiwa
    Tercurah saat itu

    Kemesraan ini
    Janganlah cepat berlalu
    Kemesraan ini
    Inginku kenang selalu

    Hatiku damai
    Jiwaku tentram di samping mu
    Hatiku damai
    Jiwa ku tentram
    Bersamamu

    BalasHapus