26 Oktober 2008

Bocah Kecil Mengintai di Balik Pintu



Ketika hujan turun, suatu senja di akhir Oktober
Butiran air yang dihempas angin itu
membawa anganku berkelana ke masa kecil dulu
:

Suatu senja, entah purnama ke berapa
ketika hujan turun dan angin menghempas-hempas seperti saat ini
bocah kecil mengintai di balik pintu rumahku
Aku menoleh...
sekelebat bayangan menghilang
lalu Ibu mengejarnya
dan menangkap bocah kecil
yang selalu mengintai di balik pintu rumahku...
dia teronggok di balik rerimbunan taman
Alangkah terkejutnya Ibu...!


Bocah kecil yang gemetar itu adalah anaknya sendiri
yang berada dalam pengasuhan saudaranya
Direngkuhnya bocah kecil itu
dan tenggelam dalam dekapan yang basah
air mata ibu tumpah

Kini...
Bocah kecil yang selalu mengintai di balik pintu rumahku
telah pergi jauh karena tugasnya
mengabdi jiwa raga demi negara
Izinkan dia pergi berjuang, Ibu...
berikan restumu
Sebagaimana dia telah memohonnya
dengan mencuim tanganmu,
dengan mencium keningmu,
dan mencium kakimu

Ibu pun mendekapnya seperti dulu
Walau tanpa air mata, Ibu takut kehilangan dia

Izinkan dia pergi berjuang, Ibu...
Di ujung perginya, dia pasti kembali
Menantilah dengan doa panjangmu

4 komentar:

  1. kangen ma adiknya y, bu??

    BalasHapus
  2. Iya nih Dik...
    Pernah aku lihat dia menangis, rasanya ingin aku berikan sesuatu yang bisa hilangkan dukanya, tapi tak satu pun dapat lakukan untuk itu.
    Aku ingin dia bahagia, selamanya...

    BalasHapus
  3. semoga Allah SWT selalu menlindungi-Nya ya Bunda

    BalasHapus
  4. what a nice blog..

    salam kenal

    BalasHapus