06 September 2008

Sapardi Djoko Damono di BBY

Seorang teman, Peneliti Madya dari Balai Bahasa Yogyakarta (BBY), Herry Mardianto, mengabari saya tentang rencana kehadiran Sapardi Djoko Damono (SDD). Mendengar nama sastrawan “gaek” tersebut, seketika angan saya flash back ke masa kuliah dahulu. Dalam pencitraan visual, SDD adalah sastrawan yang pada sekujur tubuhnya bertuliskan: Aku Ingin Aku Ingin Aku Ingin Aku Ingin Aku Ingin ... Saya pernah menulis sajak SDD tersebut di bagian dalam cover buku mata kuliah Apresiasi Prosa Fiksi dan Drama. Bagi saya SDD identik dengan sajak Aku Ingin. Sajak itu seolah cerminan isi hati saya yang takut terhadap perasaannya sendiri. Perasaan yang tak kuasa untuk diucapkan kepada seseorang karena takut kehilangan sucinya persahabatan. Cinta yang tak sempat tersampaikan.
Berikut sajak tersebut...

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

...

Balai Bahasa Yogyakarta sebagai lembaga pemerintah yang bertugas melaksanakan program pembangunan nasional di bidang kebahasaan dan kesastraan, sangat peduli dan komit terhadap kemajuan dan kelestarian bahasa dan sastra. Kedatangan Sapardi Djoko Damono tersebut atas prakarsa BBY dalam peringatan Bulan Bahasa Nasional Oktober 2008.
Ketika berkumpul dalam komunitas pecinta bahasa dan sastra, ada energi besar yang menekan dan mendorong jiwa untuk selalu berkarya. Rasanya ingin datang ke Yogya tapi tidak mungkin. Selain karena jauh dari Malang juga karena banyaknya tugas yang tidak bisa saya tinggalkan. Saya menunggu liputannya di www.balaibahasa.org
Terima kasih BBY, kepadamulah idealisme dan obsesi saya terwakilkan. Terus berjuang demi majunya bahasa dan sastra Indonesia serta bahasa dan sastra daerah. Berjuanglah menyemai benih cinta di hati masyarakat sehingga tumbuh buliran sastra yang bertangkai puisi, berdaun prosa, dan berakar naskah drama. Begitu suburnya dengan media bernama bahasa. Amboi... alangkah indahnya hidup ini!

2 komentar:

  1. Assalamu'alaikum Bu...
    Bu, sebenarnya saya punya hobi membaca novel, membuat puisi, membuat novel&cerpen. Saya sudah membuat 2 novel, sudah saya kirim ke Gramedia. Yang pertama gagal diterima(failure), yang kedua belum tahu (doakan ya Bu). Kegagalan itu kesuksesan yang tertunda ya Bu...
    Novel faforit saya karya-karya Mira W (tapi saya juga suka teenlit), saya juga suka novel Andrei Aksana( cucunya Sanusi&Armij Pane loh Bu), yang paling saya suka novelnya yang berjudul "Abadilah Cinta". Ibu pernah baca?



    Bu....maaf ya kalau EYD yang saya pakai masih banyak yang salah...

    ^________________________^

    BalasHapus
  2. @ Theea..
    Waalaikum salam, terima kasih atas komen kamu di sini. Teruslah menulis, dan mencintai karya sastra. Ibu belum pernah membaca Abadilah Cinta, kalu boleh pinjam?
    He..he.. jadi malu.
    Salam untuk teman-temanmu.
    Salam sayang....

    BalasHapus