KAU
Malam temaram
Bulan sempurna tersipu mengintai di langit dalam pesta cahaya
Pandangmu menghunjam laksana pasupati yang melesat
Menancap di tubuh Dewabrata dan tersungkur di padang Kurusetra
Yang didamba telah tiba
Disambutnya kekasih sejati pada ajalnya
Karena Dewi Amba
Telah menyatu
dalam tikaman panah tepi Gangga
Dalam api yang menyala
Kau ungkap nyanyian jiwaSeirama gemericik air sungai
Yang mengalir ke ujung muara
Gerimis rahasiakan desah
Berpacu dalam harmoni detak hati
Bulan di langit
Dendangkan tembang asmaradana
Malam telah jauh
Jarum jam menyulam sepi
Bulan berselimut awan
Kelam langit pun sehitam jelaga
Angin berdesir
Selembar daun kering jatuh
Tergolek di pembaringan
Kau dan aku bersenyawa dalam jiwa
BULAN
Setiap kali
datang di belantara malam
Aku memandangnya pilu
Karena ia kabarkan tentang dirimu
Yang mengisi hari-hariku
Menerobos
batas ruang dan waktu
Memancar
redup di cakrawala kalbu
Hingga aku terbelenggu merindumu
Menapaki titian kasih di relung yang jauh
Tiada ujung batas untuk berlabuh
Laksana kuntum bunga mekar
Pada pohon patah tangkai
Tak mengaduh ia jatuh lalu kau rengkuh
Aku masih di
sini
Tak penat menanti
Sampai malam
pun pergi
Menyublim dalam mimpi abadi
GAZEBO
Penuh daya magis
Laksana teluk kehidupan
Yang menarik angan dan harapan
Bersamamu
Lalu kepadamu aku berbisik:
Kau, bulan, dan gazebo
Adalah lukisan indah dalam hidupku
