24 Oktober 2010

In Memoriam

(Ini tulisan mengenang kepergian muridku, anakku, dara jelita yang telah meninggalkan kami)

Tiga tahun yang lalu, aku adalah ibu bagi mereka: 36 siswa kelas XII jurusan Bahasa. Dalam satu kelas terbagi dua "bagian", Jepang dan Jerman. Mereka berkompetisi untuk menjadi yang terbaik di hadapanku. 

Suatu momen yang tak pernah berhenti mengalirkan rasa rindu. Mereka tidak hanya "nakal" dan manja, pintar dan kreatif, tetapi juga loyal dan solid. Di antara mereka aku ada, dan bersama mereka hidupku berharga. 

Di kelas yang selalu bersih dan rapi, anak-anak membuat “pohon bersalju” (Sakurakah yang kalian maksud?) yang diletakkan di sudut ruangan dekat meja tugasku. Di reranting pohon sakura itu, digantungkan potongan-potongan kertas berwarna putih dan merah (putih: Jurusan Bahasa Jerman dan merah: Jurusan Bahasa Jepang). Ada gambar kartun wajah kami dengan nama-nama. Ada namaku, Sensei Agustina, Frau Wiwid, dan nama mereka. 

Namun, satu di antara mereka telah pergi selamanya. Jumat, 22 Oktober 2010, anakku, si dara jelita. Siapa yang percaya? Tetapi jasad yang membisu dan keranda yang mengantarkan kembaranya memaksa aku dan semua orang percaya.

Selamat jalan, Nak…
Dulu kau sering Ibu cerca tetapi tetap manja.
Kau baik, tegar, dan ceria
Semoga Allah swt mempertimbangkan amal baikmu lalu mengampunimu.
Doa Ibu, semua temanmu, juga keluargamu, semoga menjadi peneduhmu.

Namamu tetap ada di sini, di antara deretan nama kita, di rumah kita dulu…

KELAS XII BAHASA TAHUN PELAJARAN 2007-2008
WALI KELAS: LILIS INDRAWATI

1 7943 ADHIM PRASASTYO
2 7957 ALDY REZQILLAH
3 7958 ALINY KUSUMA
4 7965 APRILIA RACHMADIAN
5 7973 AYUNING CHANDRA WIDYASTITI
6 7983 BRIAN CHRIS PRAKASA
7 7984 BRILLI ARYA CAHYANDARU
8 7997 DESITA PUTRI KUMALASARI
9 8000 DEWI NURUL KARINA
10 8008 DWI EMI ERMAWATI
11 8013 EGA NURCAHYONO
12 8024 FADIL MUHTAD HIDAYAT
13 8026 FAHMY HIDAYATURROHMAN
14 8031 FAUSTINE CHARISMARANI FIRDAUS
15 8033 FEBRIANI RESTUNING TYAS
16 8061 IHDINA BINNUR
17 8075 JOHAN PRAMONO
18 8076 JOKO WICAKSONO
19 8079 KIKI AFRILIANTI
20 8088 MADE ANDIKA SETYAWAN
21 8107 MUHAMMAD MIRZA MADANI
22 8111 NANDIWARDHANA YUDHO NUGROHO
23 8113 NENENG AYU RETNO WULAN SARI
24 8118 NUR LAILY SAFITRI
25 8127 NURUL KOMARIYAH
26 8134 PUTRI ANGGRAINI
27 8140 REGINDA LOVIDALISTA
28 8168 SEPTIAN HUDA NUZULA
29 8170 SETYO MALINDA
30 8180 SUKMA BAYU ANGGARA
31 8183 SYAIFUL ANWAR
32 8184 TESAR ZEIN BURHANSYAH
33 8194 UNGKI DWI CAHYO
34 8195 UTOMO HADI PUTRA
35 8196 UUL RATRI PRAMITAMA
36 8208 WELDA BRILLIAN CIPTA

14 Oktober 2010

Jangan Aku Kau Tinggalkan

”Jangan aku kau tinggalkan” adalah kompilasi empat kata yang menjadi favorit sebagai representasi terhadap ketakutan akan kehilangan dirimu. Pernyataan sederhana yang memiliki efek rasa luar biasa. Sebuah ungkapan dengan perpaduan diksi yang estetis dan persuasif: merajuk, memohon, dan merayu…

Rasa sentimentil itu berawal pada suatu hari, saat kudengar sebuah lagu klasik. Seperti biasa, aku menikmatinya di antara rutinitas di “balik” meja kerja. Namun, ketika lagu berakhir aku baru menyadari tentang sesuatu yang sangat menarik pada liriknya:

“Jangan aku kau tinggalkan”.
“Jangan aku kau tinggalkan”.
“Jangan aku kau tinggalkan”.

Aku bertanya tentang judul lagu itu.
“Jangan Aku Kau Tinggalkan, punya Goodman Brothers”, jawab temanku.
“Nyanyikan sekali lagi”, pintaku antusias.

Lirik demi lirik yang dikemas dalam lagu melankolis aku nikmati tanpa sisa. Sampai pada ungkapan terakhir: “Jangan aku kau tinggalkan. Jangan aku kau tinggalkan. Jangan aku kau tinggalkan”, mengingatkan terhadap kata-kataku sendiri. Aku sedih, dan rasa itu begitu sulit untuk kutahan: Aku takut kau tinggalkan. Walaupun kutahu bahwa kau tak akan kubiarkan pergi...

Aku hunting lagu "Jangan Aku Kau Tinggalkan" by Goodman brothers di search engine dan telah menemukannya. Namun software lirik yang kupunya tak mampu mendeteksi lirik lagu itu. Search engine pun tak sanggup melacak keberadannya. Lalu kutranskrip sendiri bunyi demi bunyi menjadi tulisan ini. Kutipan lirik yang sangat kusuka adalah:

"Sungguh sunyinya rasa bila kau tiada
Hilang tempat ku bermanja
Kumohon maaf merayu padamu
Kembali padaku
...
Jika kau sunyi dan terasa rindu
Kembali padaku
...
Jangan aku kau tinggalkan
Jangan aku kau tinggalkan
Jangan aku kau tinggalkan"
"


Lirik Lagu itu:
Jangan Aku Kau Tinggalkan

(by Goodman Brothers)


Sebelum kau tinggalkan diriku

Nyatakanlah padaku

Apakah salah yang kulakukan

Hingga aku kau tinggalkan


Belum puas menatap wajahmu

Belum puas ku merayu

Kasih berbunga belum berkembang

Kini aku kau tinggalkan


Sungguh sunyinya rasa bila kau tiada

Hilang tempat ku bermanja

Kumohon maaf merayu padamu

Kembali padaku


Sebelum kau tinggalkan diriku

Nyatakanlah padaku

Apakah dosa yang kulakukan, Sayang

Aku kau tinggalkan


Teganya hatimu tinggalkanku pergi

Tiada dapat kuhalangi

Jika kau sunyi dan terasa rindu

Kembali padaku


Sebelumnya aku kau tinggalkan

Dengarkanlah oh sayang

Jika kau sungguh cinta padaku

Jangan aku kau tinggalkan


Jangan aku kau tinggalkan


Jangan aku kau tinggalkan

05 Oktober 2010

EKSISTENSI TNI: KINI DAN NANTI

"Kuhadiahkan tulisan ini untuk Mayor Uce yang punya Soldad (Soldier Dokter Angkatan Darat)"

Perjalanan sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) seiring dengan usia perjuangan bangsa Indonesia. TNI terlahir sebagai prajurit rakyat dari kancah pergolakan perang kemerdekaan. TNI tumbuh dan berkembang dalam jati dirinya yang khas, mengabdi dan membela bangsa, serta menjadi prajurit yang profesional. TNI secara terus menerus meningkatkan kemampuan, baik selaku perorangan prajurit maupun organik satuan. TNI tidak hanya dituntut profesional tetapi juga harus modern dan dapat memanfaatkan kemajuan teknologi dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Kesiapan TNI sebagai kekuatan pertahanan dan keamanan di era global ini hendaknya diimbangi dengan peningkatan kualitas secara konsisten, antisipasif, dan prospektif. Dengan demikian TNI mampu mengaplikasikan fungsi dan tugas pokoknya sebagai penangkal, pencegah, dan penghancur segala bentuk ancaman yang membahayakan integritas bangsa dan kedaulatan Negara.

TNI tidak boleh lena dari tugas dan kewajiban utamanya yakni mempertahankan dan membela wilayah kesatuan Republik Indonesia dari berbagai ancaman, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Ancaman-ancaman tersebut antara lain berupa aksi terorisme, gerakan separatisme, konflik sara, friksi antarbangsa, ancaman kedaulatan, dll. Menjaga dan memelihara keutuhan bangsa Indonesia dari berbagai gangguan maupun upaya-upaya pihak luar yang mencoba mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Dengan mengemban peran pertahanan dan keamanan ini, sesungguhnya TNI telah melakukan salah satu hal terpenting bagi terwujudnya pembangunan bangsa dan Negara. Peran TNI tidak hanya menyangkut fungsi pertahanan dan keamanan tetapi juga dituntut dapat berafiliasi dengan fungsi sosial kemasyarakatan. Di masa perang TNI berada di garis depan, tetapi dalam kondisi damai TNI tidak hanya berada dalam barak. TNI diharapkan mampu memperlihatkan wajah humanis dan membaur dengan rakyat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Di tengah keharusan TNI untuk menjaga dan melindungi negara dan masyarakat terhadap ancaman dari luar, TNI tetap harus memperhitungkan dinamika internal.

Tugas, tanggung jawab, dan tantangan yang dihadapi TNI dari masa ke masa terus meningkat dan semakin kompleks. Kondisi lingkungan strategis yang berkembang dengan cepat, wilayah yang luas dengan 13.000 pulau, jumlah penduduk yang besar, multikultur dan heterogen, dinamika krusial sparatis yang sporadis, banyaknya objek vital yang harus diamankan, serta kemajuan teknologi persenjataan, mengharuskan TNI untuk menyesuaikan diri dan meningkatkan standar kemampuan dan kekuatannya. Kemampuan perang dan pertahanan Negara perlu didukung oleh infrastruktur yang memadai. Dalam menjalankan tugas dan menghadapi tantangan di era global, TNI harus dilengkapi dengan alutsista (alat utama sistem persenjataan) yang kuat dan tangguh dengan mengikuti perkembangan teknologi mutakhir. Selain itu TNI perlu senantiasa memupuk potensi dan modal awalnya yakni semangat juang dan dukungan rakyat sepenuhnya. Apabila terjadi konflik dengan Negara lain yang bisa diselesaikan dengan cara diplomasi, maka perang adalah pilihan terakhir. Namun jika persoalannya mengenai kedaulatan negara, maka kedaulatan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Eksistensi TNI di masa depan sangat ditentukan oleh kekuatan institusi/organisasi, kepemimpinan yang militeristis demokratis, personel yang loyal dan solit, rantai komando yang diperjelas, pembidangan fungsional antar-Angkatan yang lebih tertib, dan kekuatan serta ketangguhan alutsista. Selain itu, perlu dukungan kebijakan pemerintah dalam hal pembinaan dan anggaran yang dapat meningkatkan profesionalisme TNI dalam menghadapi tantangan tugas di masa depan yang sangat berat. Menghadapi persoalan bangsa yang semakin pelik terhadap ancaman yang timbul di dalam negeri dan yang datang dari luar negeri seperti saat ini, dibutuhkan seorang pemimpin yang tegas dan berani mengambil keputusan, visioner, bersikap kritis, serta bertindak cepat dalam mengatasi setiap persoalan yang semakin kompleks dan beragam, apalagi menyangkut kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dirgahayu TNI...
Eksistensi TNI adalah jati diri Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

28 September 2010

Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Ketika larut dalam kesibukan dan windows media player tidak pernah mengeluh mengalunkan lagu-lagunya (yang kuabaikan begitu saja), tiba-tiba aku jadi tertarik saat suara Chrisye yang seksi mendayu menyanyikan lagu "Ketika Tangan dan Kaki Berkata". Bukan hanya karena lagunya yang "menghipnotis" dan syairnya yang mengguncang perasaan, tetapi juga mengingatkan aku saat diskusi dengan Bapak Taufiq Ismail. Beliau bertutur tentang memoar Chrisye (alm) mengenai proses diciptakannya lagu ini.

Teks Lagu:

Ketika Tangan dan Kaki Berkata


Akan datang hari

Mulut dikunci

Kata tak ada lagi


Akan tiba masa

Tak ada suara

Dari mulut kita


Berkata tangan kita

Tentang apa yang dilakukannya

Berkata kaki kita

Kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita

Bila harinya

Tanggung jawab, tiba...


Rabbana

Tangan kami

Kaki kami

Mulut kami

Mata hati kami

Luruskanlah

Kukuhkanlah

Di jalan cahaya

Sempurna


Mohon karunia

Kepada kami

HambaMu

Yang hina



Kisah Bapak Taufiq Ismail tentang Lagu Chrisye:


Di tahun 1997, saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, "Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas… Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?"

Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.

Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan.

Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, " Chris, maaf ya, macet. Sori." Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin.
Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A'udzubillahi minasy syaithonirrojim."Alyauma nakhtimu 'alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun" saya berhenti.

Maknanya, "Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan."
Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!
Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke lirik-lirik lagu tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai.
Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut.
Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.

Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye, Sebuah Memoar Musikal,
2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan.
Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi.Menangis lagi. Yanti (istri Chrisye) sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa takberdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya.

"Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65..." kata Taufiq.

Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi.
Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia , saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai.

Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!

Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah
karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!
Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna pengadilan hari akhir di hari kiamat kelak.

Mengenai menangis, menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.

Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya.

Chrisye terkejut. " Kenapa Bang, kurang?"

Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.

Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. "Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ' kan?"

Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.

09 September 2010

Selamat Iedul Fitri

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar..
Laailaahaillallah Allahu akbar..
Allahu akbar walillaahilkham...

Taqabbalallahu minna wa minkum, Shiyamana wa Shiyamakum.
Ja’alanallaahu Minal Aidin wal Faizin..

Semoga Allah menerima amal-amal kami dan kamu, Puasa kami dan kamu. Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk dari orang-orang yang kembali (dari perjuangan Ramadhan) sebagai orang yang menang.

Mohon maaf lahir dan batin

15 Agustus 2010

Hari Merdeka

(Ulang tahun ke-65 kemerdekaan negaraku, 17 Agustus 2010: Kunyanyikan syair lagu ini)

HARI MERDEKA

Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap setia
Membela negara kita

Lirik by: H. Mutahar

01 Mei 2010

Biografi Singkat Raja Ali Haji

Raja Ali Haji

    Raja Ali Haji, yang namanya biasa disingkat RAH, merupakan seorang sastrawan dan ulama besar dari Melayu. Ia lahir pada tahun 1808 di Lingga, Pulau Penyengat, Riau.  Ayahnya adalah Raja Ahmad, seorang intelektual Muslim yang bergelar Engku Haji Tua.  Kakeknya bernama Raja Haji Fisabilillah Yang Dipertuan Muda Riau IV, sekaligus seorang Pahlawan yang gugur di medan perang. Ibunya bernama Encik Hamidah binti Panglima Malik Selangor atau Putri Raja Selangor. Raja Ali Haji mendapatkan pendidikan dasar dari ayahnya dan pendidikan dari lingkungan istana Kesultanan Riau-Lingga di Pulau Penyengat. Dialah orang pertama yang dapat bersentuhan dengan pendidikan bidang agama, bahasa, dan sastra. Selain itu juga mendapatkan pendidikan dari luar lingkungan kesultanan, yaitu di Betawi dan di Mekah saat berhaji sekaligus belajar bahasa Arab juga ilmu agama.

       Ketika masih berusia muda, Raja Ali Haji sudah diamanahi tugas-tugas yang penting. Ia dipercaya melaksanakan tugas-tugas kenegaraan pada usia 20 tahun. Hingga usianya 32 tahun, Raja Ali Haji  bersama sepupunya, Raja Ali bin Raja Ja'far, memerintah daerah Lingga, mewakili Sultan Mahmud Muzaffar Syah. Tidak hanya mahir dalam dunia pemerintahan,  Raja Ali Haji juga piawai dalam bidang perdagangan. Bersama dengan Raja Abdullah Musyid dan Raja Ali bin Jaffar, Ia berdagang ke pulau Karimun dan Kundur. Mereka juga mengelola pertambangan timah. Raja Ali Haj dan Raja Ali bin Jaffar kemudian membangun lembaga ahlul halli wa aqdi yang membantu jalannya roda pemerintahan kesultanan.

      Raja Ali Haji banyak menghasilkan karya besar. Tanpa pernah meninggalkan ciri khasnya, yakni mengakar pada tradisi kesusasteraan Islam serta Melayu, juga kesungguhannya dalam menyajikan sejarah masa lalu disesuaikan dengan tuntutan kondisi di zamannya. Karyanya yang paling dikenal adalah  Gurindam Dua Belas yang ditulisnya pada tahun 1847. Karya legendaris ini menjadi maha karya yang tak ternilai bahkan paling menonjol di antara karya-karya besar yang lain.

       Raja Ali Haji meninggal pada tahun 1873 di Pulau Penyengat, Riau. Makam RAH berada di kompleks pemakaman Engku Putri Raja Hamidah. Persisnya, terletak di luar bangunan utama Makam Engku Putri. Karya sastra Gurindam Dua Belas diabadikan di sepanjang dinding bangunan makamnya. Sehingga, setiap pengunjung yang datang dapat membaca serta mencatat karya maha agung tersebut.

       Buku karya Raja Ali Haji berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa  yang ditulis pada tahun 1885-1886 telah ditetapkan dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 sebagai bahasa Nasional Indonesia. Atas dasar kontribusi yang sangat penting itulah,  gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada Raja Ali Haji pada tanggal 10 November 2004 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat peringatan hari Pahlawan di Istana Negara Jakarta. Penghargaan tersebut memang layak diberikan kepada Raja Ali Haji selaku tokoh intelektual nasional yang mempunyai kepakaran tinggi dalam dunia pendidikan, kebudayaan, kesusasteraan, dan  ilmu pengetahuan Islam.




27 Februari 2010

KALAU MASIH CINTA JANGAN BERPISAH

HOUSE FOR SALE


Barangkali Lirik lagu ini dapat dijadikan pertimbangan untuk pasangan muda dalam menghadapi dan menjalani kehidupan rumah tangganya. Jika ada masalah yang menimpa cobalah untuk saling mengerti dan mencari solusi yang baik. Hendaklah berpikir jernih dan mendalam sebelum memutuskan untuk bercerai. Kemarahan hanya bersifat temporer dan kan reda seiring waktu. Tidak semua perceraian didasari rasa benci, bahkan mungkin masih saling mencintai. Bagaimana penulis lirik lagu “House for Sale” mengisahkan hal tersebut dalam paparan kata-kata yang indah dan menyentuh.

Lirik lagu House for Sale sejenis puisi naratif yang kisahkan oleh tokoh “Aku” tentang perceraiannya dengan pasangan hidup yang dicintai. Uniknya, kisah dalam lirik lagi ini disampaikan dalam dua sudut pandang, yaitu eksternal (sudut pandang orang ketiga sebagai pengamat) dan internal (sudut pandang orang pertama sebagai pelaku) Tragedi perceraian tersebut dimulai dengan prolog yang disampaikan melalui perbincangan tetangga di suatu pagi. Larik demi larik saya terjemahkan bebas sebagai berikut:

The sign went up

one rainy morning

just a couple of hours after dawn

Mrs. Hanley peeked out through her curtains

wondering what was going on

The neighbors said over coffee cups

that nice young couple is breaking up


Sebuah pertanda di pagi yang gerimis, hanya beberapa jam setelah fajar menyingsing.Nyonya Hanley mengintip dari balik tirai, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Para tetangga berkata sambil minum secangkir kopi: Pasangan muda yang baik itu telah bercerai.

Setelah prolog tersebut, pengisahan cerita berfokus pada konten masalah yang dialami oleh ”aku lirik” tentang kesiapannya meninggalkan segalanya (namun terasa berat):

In the living room

the linen and the crystal

sit all packed and set to go

I tell myself once more I won't be here in spring

to see my roses grow

And all the things you tried to fix

the roof still leaks

the door still sticks

House for Sale

You can read it on the sign

House for Sale

It was yours and it was mine

And tomorrow

some strangers

will be climbing up the stairs

To the bedroom filled with memories

The one we used to share


Digambarkan dengan setting dalam ruangan: Barang-barang (kain dan cristal) sudah dikemas semua dan siap untuk dibawa pergi. Dan ”akulirik” mengungkapkan isi hatinya dengan berkata kepada dirinya sendiri bahwa: ”Aku tidak akan berada di sini lagi pada musim semi mendatang untuk melihat bunga-bunga mawarku tumbuh. Dan semua hal yang kau coba untuk memperbaikinya. Atap masih bocor, pintu rumah masih bertanda ”Rumah Dijual” Kau dapat membacanya pada tanda ”Rumah Dijual”. Itu adalah milikmu dan milikku. Dan esok, beberapa orang asing akan menaiki tangga menuju kamar tidur yang penuh kenangan. Satu tempat yang kita gunakan untuk berbagi.

Ada atmosfer keharuan yang melatari suasana dalam rumah itu, suasana dalam hati ”aku lirik” merambat bagai gelombang elektromagnetik menjadi getaran yang dapat dirasakan oleh pembaca/pendengarnya. Sangat dapat dirasakan bahwa ”aku lirik” merasa berat atas perpisahan itu. Semua baginya sangat berarti dan sulit untuk ditinggalkan. Musim semi yang indah bersama mawar tumbuh, kamar yang penuh kenangan berdua, sungguh berat bila esok hari akan ditempati orang lain, orang asing dalam rumah itu. Dan rumah milik berdua harus dijual. Palang kayu bertuliskan ”Rumah Dijual” menghiasi pintu rumah, milik mereka berdua.

Kenangan demi kenangan dalam rumah itu membuatnya semakin berat. Lukisan yang sangat disukai pasangannya bergitu berkesan karena dia teringat ketika mendapatkannya tanpa sengaja di Spanyol. Nampan perak pemberian Ibunya pada hari pernikahan juga memberi kenangan tersendiri. ”Aku lirik” mengatakan:

I know you always loved that painting

From that funny little shop in Spain

Remember how we found it

When we ducked in

from that sudden summer rain

But I think I'll keep the silver tray

My mother gave us on our wedding day


Aku tahu kau sangat mencintai lukisan itu, (kita beli) dari toko kecil yang menyenangkan di Spanyol. Ingat bagaimana kita menemukannya, ketika kita berteduh dari hujan yang tiba-tiba turun di musim panas. Tapi kupikir aku akan menyimpan nampan perak pemberian ibuku pada hari pernikahan kita”.

House for Sale

You can read it on the sign

House for Sale

It was yours and it was mine

And tomorrow

some strangers

will be climbing up the stairs

To the bedroom filled with memories

The one we used to share


”Rumah Dijual”
Kau dapat membacanya pada tanda ”Rumah Dijual”. Itu adalah milikmu dan milikku
Dan esok, orang-orang asing akan menaiki tangga menuju kamar tidur yang penuh kenangan. Satu tempat yang kita gunakan untuk berbagi.

15 Februari 2010

Tabir

Kau datang
Begitu dekat
Di balik tabir
Tersenyum
Hampiri aku

Aku mendekat
Memandangmu
Bukan kau
Kecewa
Aku menjauh

Tertunduk
Tanpa daya
Lalu 
Memandangmu
Kembali
Ternyata 
Itu kau
Melambai

Aku berlari
Menjerit
Panggil namamu
: Ayah...

Walau tak berkata
Namun bahagia 
Bisa bersua
Di bias jalan itu
Dengan jarak tanpa batas 
Ruang dan waktu

Wahai
Jiwa yang tenang
Kembaralah atmamu
Dalam mimpiku
Selalu

04 November 2009

Negeri Para Bedebah

 

Berikut ini sajak Adhei M. Massardi yang mungkin bisa menjadi bahan perenungan kita, walaupun pahit....

Negeri Para Bedebah

 

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah

Lautnya pernah dibelah tongkat Musa

Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah

Dari langit burung-burung kondor menjatuhkan bebatuan menyala-nyala

 

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?

Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah

Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah

Atau menjadi kuli di negeri orang

Yang upahnya serapah dan bogem mentah

 

Di negeri para bedebah

Orang baik dan bersih dianggap salah

Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan

Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah

Karena hanya penguasa yang boleh marah

Sedangkan rakyatnya hanya bisa pasrah

 

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah

Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah

Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum

Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

 

Maka bila melihat negeri dikuasai para bedebah

Usirlah mereka dengan revolusi

Bila tak mampu dengan revolusi, dengan demonstrasi

Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi

Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan.

28 Oktober 2009

KILAS BALIK SUMPAH PEMUDA

Hari ini, 28 Oktober 2009 diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda ke-81 di Indonesia. Dalam jejak sejarah Indonesia, Sumpah Pemuda merupakan momentum yang menjadi bagian dari mata rantai perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Sumpah Pemuda dicetuskan dari Kongres Pemuda Indonesia II dan merupakan proses menuju terwujudnya cita-cita Indonesia merdeka. Kongres Pemuda II berlangsung selama dua hari di Jakarta, 27- 28 Oktober 1928.

Rapat Pertama :
Tanggal 27 Oktober 1928, malam Minggu, pukul 7.30 - 11.30 di Gedoeng Katholieke Jongenlingen Bond, di Waterloophlein Noord (kini Jalan Lapangan Banteng Utara.
1. Memboeka kerapatan oleh toean Soegondo
2. Menerima salam dan menjoekai kerapatan.
3. Dari hal persatoean dan kebangsaan Indonesia oleh Muhammad Yamin

Rapat Kedua:
Tanggal 28 Oktober, hari Minggu pukul 8.00 - 12.00 di Oost Java Bioscoop di Koningsplein Noord (kini Jalan Merdeka Utara) membicarakan perkara pendidikan oleh 4 orang yaitu :
Mej (nona) Poernomowoelan
Toean Sarmidi Mangoensarkoro
Toean Djokosarwono
Toean Ki Hadjar Dewantoro
(Catatan : Poernomowoelan berbicara tentang pendidikan di asrama,
sedangkan yang lainnya berbicara tentang pendidikan kebangsaan)

Rapat Ketiga :
Tanggal 28 Oktober 1928 malam Senin pukul 5.30 - 7.30 di Gedoeng Indonesische lubgebouw (kini Jalan Kramat 106).
1. Perkara Pergerakan Pandoe (Padvinderij) oleh Ramelan, Commandant Sarekat Islam Afdeling Padvenderij
2. Pergerakan pemoeda Indonesia dan pemoeda di tanah leoaran oleh Toean Mr. Soenario
3. Mengambil poetoesan
4. Menoetoep Kerapatan

Yang diundang untuk menghadiri kongres itu adalah semua perkumpulan dan mahasiswa serta perkumpulan-perkumpulan kaum dewasa atau partai politik. Peserta kongres kurang lebih 750 orang, yang terpenting adalah wakil-wakil:

i) PPPI yang dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito,
ii) Jong Java yang dipimpin oleh RM. Djoko Marsaid,
iii) Jong Islamieten Bond yang dipimpin Djohan Muhamad Tjaja,
iv) Jong Soematranen Bond yang dipimpin Muhammad Yamin,
v) Jong Bataks Bond yang dipimpin Amir Syarifudin,
vi) Wakil-wakil Jong Celebes yang dipimpin R.C.L. Senduk,
vii) Jong Ambon yang dipimpin J. Leimena,
viii) Wakil-wakil pemoeda Indonesia yang dipimpin R. Katjasoengkana,
ix)Wakil-wakil pemoeda Kaum Betawi yang dipimpin Rochjani Soe'oed.

Dari pihak kaum dewasa yang hadir adalah Mr. Sartono yang mewakili PNI cabang Jakarta, Kartakoesoema PNI cabang Bandung, Abdurrahman mewakili Boedi Outomo Jakarta, Mr. Soenario mewakili PAPI (Persaoedaraan Antar Pandoe Indonesia), Kartosoewiryo mewakili Pengurus Partai Syarikat Islam, Sigit mewakili Indonesische Club, Muhidin mewakili Pasundan, Arnold Mononutu yang mewakili
Persatuan Minahasa.

Tokoh-tokoh yang hadir adalah S. Mangunsarkoro, Nona Poernomowulan, Mr. Mohammad Nazif, Emma Poerdiredja, Koentjoro Poerbopranoto, Soekmono, Soerjadi, Djaksudipoero (Wongsonegoro), Moh.Roem, Dien Pantouw, Soewirjo, Soemanang, Dali, Syahboeddin Latif, Soelaiman, Kartomenggolo, Soemarto, Jos Masdani, Anwari, Nona Toembel, Moh. Tamzil, AK Gani, Kasman Singodimejo, Anggota-anggota Dewan Rakyat (Volksraad) yang hadir adalah Dr. Pyper dan Vander Plas. Dari kalangan Pers yang hadir adalah Saeroen, WR. Soepratman.

Sidang-sidang yang penuh semangat dan dijiwai oleh hasrat dan keinginan yang berkobar-kobar untuk mencapai kesatuan dan persatuan menuju Indonesia Merdeka itu, diselingi pula oleh dua kali insiden dengan polisi Belanda yang mengawasi jalannya kongres. Yang terpenting pada sidang ketiga adalah selingan yang diberikan oleh
seorang wartawan yang gemar musik Wage Rudolf Soepratman. Dengan izin dari ketua sidang, Soegondo Djojopoespito, ia memperdengarkan nyanyian Indonesia Raya melalui gesekan biolanya.

Pimpinan sidang kuatir bait-bait syair "Indonesia Raya" yang penuh dengan ungkapan Indonesia Raya dan Merdeka itu akan mengundang insiden lagi dengan polisi-polisi Belanda yang berada disitu. Setelah Istirahat selesai, rapat yang ketiga dibuka kembali oleh ketua sidang, dengan suara keras membacakan usul resolusi yang
berjudul "Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia" Sebelum disahkan oleh kongres, atas permintaan ketua sidang Moehammad Yamin memberi penjelasan panjang lebar seraya memberikan tekanan-tekanan pada hal-hal penting yang telah dikemukakan oleh semua pembicara, serta menegaskan bahwa usul resolusi itu sesuai dengan apa yang telah dikemukakan oleh mereka. Setelah mendengar penjelasan itu, usul resolusi tersebut disahkan oleh kongres. Hadirin bertepuk tangan diiringi dengan pekikan:"Hidup Persatuan". Perasaan lega dan bangga, meliputi seluruh yang hadir karena Kongres Pemoeda kedua telah berhasil dengan gemilang. Poetoesan Kongres inilah yang kemudian disebut "Soempah Pemoeda"

POETOESAN CONGRES PEMOEDA-PEMOEDA INDONESIA
Kerapatan pemoeda-pemoeda Indonesia jang diadakan oleh
perkoempoelan-perkoempoelan pemoeda Indonesia jang berdasarkan
kebangsaan dengan namanya : Jong Java, Jong Soematera (Pemoeda
Soematera), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten Bond,
Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan
Perhimpoenan Peladjar-peladjar Indonesia.
Memboeka rapat pada tanggal 27 - 28 Oktober di negeri Djakarta,
sesoedahnya mendengar pidato-pidato dan pembitjaraan jang diadakan
di dalam kerapatan tadi, sesoedah menimbang segala isi pidato-pidato
dan pembitjaraan ini; kerapatan laloe mengambil poetoesan :

Pertama,

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.

Kedoea,

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE BANGSA INDONESIA.

Ketiga,

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA.

Setelah mendengar poetoesan ini kerapatan mengeloearkan kejakinan Azas ini wajib dipakai oleh segala perkoempoelanperkoempoelan kebangsaan Indonesia;
Mengeloearkan kejakinan persatoean Indonesia diperkoeat dengan memperhatikan dasar persatoeannya :
● Kemaoean
● Sedjarah
● Bahasa
● Hoekoem adat
● Pendidikan dan Kepandoean

Dan mengeloearkan pengharapan soepaja poetoesan ini disiarkan dalam segala soerat kabar dan dibatjakan di moeka rapat perkoempoelan-perkoempoelan kita.

Sumpah Pemuda telah berhasil menyatukan gerak langkah seluruh bangsa untuk melakukan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme yang telah menjajah selama lebih dari tiga setengah abad. Sumpah Pemuda telah memberikan semangat dan motivasi baru bagi bangsa ini untuk memperjuangkan nasib dan eksistensinya sebagai bangsa yang merdeka, bersatu, dan berdaulat.
Sumpah Pemuda telah memberikan inspirasi terhadap seluruh anak bangsa untuk tetap menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebagai bagian dari proses sejarah, jiwa dan semangat Sumpah Pemuda perlu diaktualisasikan agar tetap relevan dengan perubahan zaman. Reaktualisasi jiwa dan semangat Sumpah Pemuda harus bermakna bagi seluruh komponen bangsa untuk memberikan rasa keadilan dan kesejahteraan menuju Indonesia yang bermartabat.
Reaktualisasi jiwa dan semangat Sumpah Pemuda juga harus dimaknai pula sebagai upaya yang serius untuk dapat menjaga integritas dan jati diri bangsa di tengah kehidupan global. Globalisasi sebagai bagian dari perkembangan peradaban umat manusia merupakan fenomena yang tidak bisa dihindari. Interaksi global akan berpengaruh terhadap upaya membangun jati diri dan martabat bangsa. Oleh karena itu eksistensi bangsa di masa depan akan ditentukan oleh seberapa jauh bangsa ini mampu berdiri sama tegak dengan negara-negara lain dalam pergaulan Internasional.
Untuk membangun jati diri dan martabat bangsa haruslah didasarkan pada kemampuan nasional membangun kompetensi bangsa, sehingga mampu bersaing di era global. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa daya saing bangsa merupakan nilai intrinsik
yang harus melekat pada jati diri dan martabat bangsa. Pada era globalisasi, semangat dan jiwa Sumpah Pemuda harus menjadi inspirasi untuk membangun kesadaran kolektif bangsa guna meningkatkan kualitas dan daya saing pemuda dengan tetap
menjaga eksistensi pemuda dalam percaturan global. Pemuda dalam kehidupan global akan menjadi eksis apabila menunjukkan sebuah kapasitas kemandirian dalam menjalankan tugas dan tangggung jawabnya sebagai generasi penerus bangsa.
Momentum Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-81 tahun 2009 layak dijadikan momentum untuk meningkatkan kualitas pemuda Indonesia yang mandiri. Meningkatnya kemandirian pemuda akan berimplikasi positif terhadap upaya mengatasi masalah pengangguran, kesejahteraan, dan menurunnya tingkat kemiskinan penduduk di Indonesia. Hal ini sejalan dengan komitmen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menjadikan pemuda
sebagai prioritas utama dalam pencapaian Millenium Development Goals (MDGs), yang berkomitmen untuk menghapus kemiskinan sampai tahun 2015.

PBB (UNO) menetapkan 15 prioritas dalam pembangunan kepemudaan yaitu: Pendidikan, Lapangan Kerja, Kelaparan dan Kemiskinan, Kesehatan, Lingkungan, Penyalahgunaan Narkoba, Kenakalan Remaja, Waktu Luang (Leisure-Time), Pergaulan
Pemuda dan Pemudi, Partisipasi Pemuda dalam Pembuatan Keputusan, m empersiapkan Pemuda dalam era Globalisasi, Informasi dan Teknologi Komunikasi, HIV/AIDS, Pemuda dan Pencegahan Konflik, serta Masalah Antar Generasi. Kelima belas prioritas pembangunan kepemudaan merupakan prioritas utama dalam pencapaian MDGs.

Peringatan hari Sumpah Pemuda ke-81 ini bertema "Pemuda Mandiri, Indonesia Maju dan Bersatu". Tema ini secara khusus mengandung pesan bahwa bekal menuju Indonesia sejahtera adalah dengan mencetak, membangun dan mengembangkan pemuda Indonesia yang patriotik, memiliki jati diri, memiliki wawasan dan jiwa nasionalis-religius, berpegang teguh pada komitmen untuk tetap bersatu berdaulat di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta tumbuhnya kesadaran dan semangat untuk bangkit dan keluar dari keterpurukan serta krisis multidimensional yang melanda bangsa Indonesia.

(Ditulis berdasarkan PEDOMAN PELAKSANAAN
HARI SUMPAH PEMUDA KE-81 TAHUN 2009)


12 Oktober 2009

Motivasi

Akhir-akhir ini saya merasa jenuh dan tidak bersemangat untuk menulis – tanpa sebab yang jelas- saya menjadi malas dan merasa sangat tidak produktif. Saya salut sekaligus iri terhadap sahabat-sahabat blogger yang begitu kretaif, rajin, dan produktif. Dan ketika saya mengunjungi blog sahabat di Mexico, Eduardo Robles Pacheco , dia seorang master ilmu komputer yang menyukai fotografi, jurnalistik, musik, dan seni. Saya terhenyak karena dia menanyakan kevakuman blog saya. Dia katakan bahwa tidak ada tulisan yang baru di blog saya. Berikut kata-katanya (yang telah saya terjemahkan secara bebas dalam bahasa Indonesia):

"My dear friend,
Kau tahu, bekerja dan berusaha untuk mengubah dunia adalah jalan hidup saya ...
Dan Anda? Saya tidak melihat Anda menulis, saya melihat posting yang sama selama sebulan penuh. Saya harap Anda bisa menulis secepat mungkin karena saya ingin tahu tentang Anda lagi.
Terima kasih banyak..."



Seketika saya introspeksi diri dan menyadari bahwa saya telah menyia-nyiakan waktu dan pikiran begitu saja. Tidak konsisten dalam memelihara kreativitas berpikir dan berkreasi. Tidak ajeg dalam menjalin dan mempertahankan persahabatan dalam jaringan. Serta membiarkan perasaan berfluktuasi layaknya kurs dollar tehadap rupiah. Sungguh memprihatinkan. Karena mengistirahatkan pikiran berlama-lama sama dengan melemahkan benteng ketahanan diri terhadap serangan penyakit, khususnya penyakit malas, pikun, bahkan gangguan kejiwaan. Dengan membaca kita bisa menjadi bertambah wawasan, tetapi dengan menulis kita mendapatkan banyak hal, tidak sekedar wawasan.Menulis adalah mengasah kecerdasan.Setidaknya ada tujuh kecerdasan yang patut diperhitungkan secara sungguh-sungguh,yaitu: kecerdasan linguistik¸ logis-matematis, spasial, musikal, kinestetik, jasmani, antarpribadi, dan intrapribadi.

Kecerdasan linguistik bertumpu pada kemampuan seseorang dalam berbicara dan menulis. Menurut Armstrong, orang yang mempunyai bakat di bidang ini akan peka dan tajam terhadap bunyi atau fonologi bahasa. Mereka menggunakan pilihan kata yang tepat, rima, tongue twister, aliterasi, onomatope, juga mahir memanipulasi sintaksis (struktur atau susunan kalimat), juga kepekaannya terhadap bahasa melalui semantik (pemahaman tentang makna). Kemampuan tersebut digunakan dalam berbicara maupun menulis. Dengan menulis sesesorang telah mempekerjakan otak untuk mengolah fakta yang masuk ke dalam dirinya baik secara auditif, visual, maupun taktil.

Dan dalam kesempatan lain saya sampaikan kepada sahabat saya tersebut tentang kemalasan saya, lalu dia berkata:

“Jangan khawatir, kadang-kadang kita perlu berhenti menulis untuk waktu yang lama, itu karena kita memiliki banyak refleksi batin dan formulasi tentang apa yang kita bisa menulis. Kita tidak menulis terlalu terlambat atau terlalu awal, kita hanya menulis di saat kita harus menulis. Bukan berarti saya mengatakan Anda sedang malas, saya hanya ingin mengatakan bahwa saya akan bahagia jika saya bisa melihat posting lain di Blog Anda. Sangat menarik untuk membaca bahasa Anda dan mencoba untuk mengerti kata demi kata yang merefleksikan perasaan Anda (Sangat sulit bagi saya karena saya hanya tahu bahasa Inggris dan Spanyol, tetapi mencoba adalah menarik).
'Sebuah jejak pada jiwa: Itu adalah teman'
Terima kasih, dan saya bersyukur bersahabat dengan Anda walaupun Anda berada di sisi lain dunia ... Mungkin, suatu hari, saya dapat mengunjungi benua Anda, itu akan membuat saya sangat, sangat, bahagia ...”


Tidak hanya Anda yang berpikir tentang kevakuman blog saya, sahabat-sahabat blogger lain yang rajin menghias blognya dengan tulisan dan karya-karya yang memukau tentu juga demikian. Bahkan di antara mereka ada yang mengira saya telah melupakan sahabat-sahabat blogger.
Terima kasih, dear friend ...
Karya-karya fotografi dan tulisan Anda telah menjadi inspirasi bagi saya untuk tetap eksis di sini. Kata-kata Anda telah menyemangati saya untuk menulis. Walaupun tulisan saya ini hanyalah keluh kesah, sama sekali tidak bermutu dalam ukuran jurnalistik. Tetapi saya sangat bahagia karenanya. Dan saya janji untuk menghias blog ini dengan tulisan-tulisan (saya tidak mempunyai kemampuan fotografi seperti Anda, sehingga saya tidak pernah percaya diri untuk memposting gambar atau foto)




04 September 2009

Puisi TADARUS oleh K.H. Mustofa Bisri

(Di antara bentangan waktu yang tersia-siakan, aku teringat puisi ini:) 

 TADARUS 
Oleh: KH. A. Mustofa Bisri 

Bismillahirrahmanirrahim
Brenti mengalir darahku menyimak firman-Mu

Idzaa zulzilatil-ardlu zilzaalahaa
Wa akhrajatil-ardlu atsqaalahaa
Waqaalal-insaanu maa lahaa
(ketika bumi diguncang dengan dasyatnya
Dan bumi memuntahkan isi perutnya
Dan manusia bertanya-tanya:
Bumi itu kenapa?)

Yaumaidzin tuhadditsu akhbaarahaa
Bianna Rabbaka auhaa lahaa
Yaumaidzin yashdurun-naasu asytaatan

Liyurau a'maalahum
(Ketika itu bumi mengisahkan kisah-kisahnya
Karena Tuhanmu mengilhaminya
Ketika itu manusia tumpah terpisah-pisah
'Tuk diperlihatkan perbuatan-perbuatan mereka)
Faman ya'mal mitsqaala dzarratin khairan yarah
Waman ya'mal mitsqaala dzarratin syarran yarah
(Maka siapa yang berbuat sezarrah kebaikan
pun akan melihatnya
Dan siapa yang berbuat sezarrah kejahatan
pun akan melihatnya)

Ya Tuhan, akukah insan yang bertanya-tanya
Ataukah aku mukmin yang sudah tahu jawabnya?
Kulihat tetes diriku dalam muntahan isi bumi
Aduhai, akan kemanakah kiranya bergulir?
Diantara tumpukan maksiat yang kutimbun saat demi saat
Akankah kulihat sezarrah saja
Kebaikan yang pernah kubuat?
Nafasku memburu diburu firmanMu

Dengan asma Allah Yang Pengasih Penyayang
Wa'aadiyaati dlabhan
Falmuuriyaati qadhan
Fa-atsarna bihi naq'an
Fawasathna bihi jam'an
(Demi yang sama terpacu berdengkusan
Yang sama mencetuskan api berdenyaran
Yang pagi-pagi melancarkan serbuan
Menerbangkan debu berhamburan
Dan menembusnya ke tengah-tengah pasukan lawan)
Innal-insana liRabbihi lakanuud
Wainnahu 'alaa dzaalika lasyahied
Wainnahu lihubbil-khairi lasyadied
(Sungguh manusia itu kepada Tuhannya
Sangat tidak tahu berterima kasih
Sunggung manusia itu sendiri tentang itu menjadi saksi
Dan sungguh manusia itu sayangnya kepada harta
Luar biasa)
Afalaa ya'lamu idza bu'tsira maa fil-qubur
Wahushshila maa fis-shuduur
Inna Rabbahum bihim yaumaidzin lakhabier
(Tidakkah manusia itu tahu saat isi kubur dihamburkan
Saat ini dada ditumpahkan?
Sungguh Tuhan mereka
Terhadap mereka saat itu tahu belaka!)

Ya Tuhan, kemana gerangan butir debu ini 'kan menghambur?
Adakah secercah syukur menempel
Ketika isi dada dimuntahkan
Ketika semua kesayangan dan andalan entah kemana?
Meremang bulu romaku diguncang firmanMu

Bismillahirrahmaanirrahim
Al-Quaari'atu
Mal-qaari'ah
Wamaa adraaka mal-qaari'ah
(Penggetar hati
Apakah penggetar hati itu?
Tahu kau apa itu penggetar hati?)

Resah sukmaku dirasuk firmanMu

Yauma yakuunun-naasu kal-faraasyil-mabtsuts
Watakuunul-jibaalu kal'ihnil-manfusy
(Itulah hari manusia bagaikan belalang bertebaran
dan gunung-gunung bagaikan bulu dihambur-terbangkan)

Menggigil ruas-ruas tulangku dalam firmanMu

Waammaa man tsaqulat mawaazienuhu
Fahuwa fii 'iesyatir-raadliyah
Waammaa man khaffat mawaazienuhu faummuhu haawiyah
Wamaa adraaka maa hiyah
Naarun haamiyah
(Nah barangsiapa berbobot timbangan amalnya
Ia akan berada dalam kehidupan memuaskan
Dan barangsiapa enteng timbangan amalnya
Tempat tinggalnya di Hawiyah
Tahu kau apa itu?
Api yang sangat panas membakar!)

Ya Tuhan kemanakah gerangan belalang malang ini 'kan terkapar?
Gunung amal yang dibanggakan
Jadikah selembar bulu saja memberati timbangan
Atau gunung-gunung dosa akan melumatnya
Bagi persembahan lidah Hawiyah?
Ataukah, o, kalau saja maharahmatMu
Akan menerbangkannya ke lautan ampunan
Shadaqallahul' Adhiem
Telah selesai ayat-ayat dibaca
Telah sirna gema-gema sari tilawahnya
Marilah kita ikuti acara selanjutnya
Masih banyak urusan dunia yang belum selesai
Masih banyak kepentingan yang belum tercapai
Masih banyak keinginan yang belum tergapai
Marilah kembali berlupa
Insya Allah Kiamat masih lama. 
Amien.