23 Juni 2009

Hati-Hati dengan MOS….!

Salah satu usaha yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dalam rangka memberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan, keterampilan, sikap disiplin, serta kepribadian siswa baru SMP dan SMA di Jawa Timur adalah kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa).

Dasar Pelaksanaan MOS:

1. Keputusan Menteri Pendidikan Nomor 0641/U/1984, tentang Pembinaan Kesiswaan.
2. Keputusan Direktur JenderalPendidikan Dasar dan Menengah Nomor 226/C/Kep/1992, tentang Pedoman Pembinaan Kesiswaan.
3. Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 914/01/043/2009 Tanggal 5 Januari 2009, Perihal Pedoman Kerja dan Pelaksanaan Tugas Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2009.
4. Suarat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Tanggal 17 April 2009, Nomor: 005/2301/103.04/2009 tentang Pembinaan Masa Orientasi Siswa (MOS) SMP dan SMA Negeri/Swasta se Jawa Timur.

MOS penting dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). MOS merupakan kegiatan yang sangat strategis dalam Pembinaan Kesiswaan yang bertujuan mengantarkan siswa untuk beradaptasi di sekolah. Pada saat MOS itulah siswa belajar mengenal lingkungan sekolah yang baru, teman baru, guru baru, budaya belajar, tata tertib sekolah, dan lain-lain. Pada saat MOS siswa juga dibekali materi kepribadian, Adiwiyata, keterampilan, dan ketangkasan. Oleh karena itu kegiatan MOS diharapkan dapat membantu siswa dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah secara cepat.

Hal yang Perlu Diwaspadai:

MOS bukan perpeloncoan siswa baru. Panitia dan Pembina MOS dilarang melakukan tindakan yang bersifat perpeloncoan baik secara fisik maupun psikis. Perpeloncoan fisik antara lain pemberian hukuman atau perlakuan yang mengarah pada penganiayaan. Sedangkan tindakan atau perintah yang dapat mempermalukan atau mempersulit peserta MOS termasuk jenis perpeloncoan psikis. Misalnya: peserta MOS harus mengenakan ”atribut” tertentu, membawa ”benda” tertentu, atau atau mencari ”hal” tertentu yang tidak mendidik.

Materi yang Harus Diberikan pada Saat MOS:

1. Budi Pekerti dan Tata Krama
2. Kedisiplinan dan Tata Tertib Sekolah
3. Pembinaan Adi Wiyata
4. Bahaya Penyalahgunaan Narkoba
5. UKS
6. Tata Laksana Upacara Bendera
7. Kepramukaan
8. Outbond (character building)
9. Dan materi lain yang sesuai dengan muatan lokal di sekolah dan daerah masing-masing.



13 Juni 2009

Kisah Tak Berbingkai (Episode 3)

Mimpiku Mengakibatkan Lygophobia

Kawan blogger dan para sahabat yang saya sayangi, tentang “Lelaki baik yang menderita kusta” itu, begini lanjutan kisahnya:

Sejak kubuat dia menangis di malam itu, terasa ada kontradiksi antara harapan dan kenyataan. Aku berharap dia bahagia ternyata sebaliknya. (aku jadi ikut sedih juga…)
“Gerilya” malam yang kulalukan serasa tak berguna, walaupun awal dan muara niatku adalah hati. Aku meninggalkan dinding rumahnya dengan perasaan hampa. Hubungan pertalian dengan sesama bukanlah sesuatu yang harus dicari. Karena pada saatnya akan terjalin berkat kesungguhan hati. Kisah ini adalah bagian peristiwa yang mewarnai sejarah, yang selalu hidup dalam kehidupanku, tak terlupa, bahkan sulit untuk dilupakan.

Hari-hari berikutnya aku selalu duduk di teras rumah menghadap ke selatan. Jika aku mengarahkan pandanganku 45 derajat ke arah kiri, maka aku bisa melihat rumahnya dalam jarak 200 meter. Aku mengharap dia juga duduk di teras rumahnya. Jika yang kulihat demikian, aku melambaikan tangan menyapanya dari jauh. Bahkan sekali-sekali aku lewat depan rumahnya, walau sekilas bertemu dia selalu melontarkan semangat untukku.

Begitulah hari-hari bersamanya sampai aku SMA. Aku menyayangi dia, ayah, dan ibunya. Barangkali sepadan dengan kasih sayang mereka kepadaku, walau itu semua kami lakukan secara sembunyi-sembunyi. Sampai akhirnya aku meninggalkannya karena harus melanjutkan pendidikan di Malang. Terasa berat dan sedih.

Waktu itu tahun 1992, aku tinggal di Asrama Mahasiswa Jalan Veteran 11 Malang. Dengan memilih Asrama sebagai tempat tinggal, aku harus konsekuen dengan peraturan yang ada. Bangun pagi pk.04.00, sholat berjamaah, piket belanja, makan di asrama, sholat malam, olahraga, berorganisasi, dan yang paling menarik adalah diberlakukannya jam malam pukul 20.00 WIB. Warga Asrama yang ke luar harus sudah kembali dan tamu yang datang juga harus meninggalkan tempat. Dengan mempertimbangkan kegiatan Asrama yang padat, jadwal kuliah, dan aktivitas organisasi kampus, aku tidak bisa pulang kampung sesuka hati. Ketika libur semester tiba, aku merasa bahagia, sangat bahagia. Aku kembali ke hangatnya sarang. Setiap duduk di teras rumah, aku tak pernah melihat dia, lelaki baik yang menderita kusta. Diam-diam aku menanyakan kabarnya kepada tetangga depan rumah. Aku menangis karena sedih yang teramat dalam, lelaki yang baik itu telah meninggal dunia. Aku merasa ada yang hilang, sesuatu yang meretas dari hidupku....

Kembali ke Malang

Asrama masih sepi. Banyak mahasiswa yang belum datang karena waktu libur masih tersisa beberapa hari. Esoknya, hari Kamis, Aku menjemput sahabatku di Wajak (Kabupaten Malang). Sahabat yang sangat menyukai lagu Gereja Tua. Kami sering menyanyikannya bersama. Setiap mendengar lagu tersebut aku teringat dia. Itulah yang membuatku juga menyukai lagu itu. Persahabatan kami sangat akrab seperti saudara. Aku telah terbiasa dengan keluarganya dan dia juga telah terbiasa dengan keluargaku.

(Bersambung dulu ya, mau berangkat Orientasi Pramuka di Kebun Teh, Insya Allah saya tulis lanjutannya di postingan ini kalau sudah kembali.)

Minggu, 15 Juni 2009
Alhamdulillah, saya sudah kembali dengan sehat dan selamat dari Orientasi Pramuka. Malam-malam saya teringat janji kepada kawan blogger dan para sahabat untuk melanjutkan kisah itu.


Inilah sambungannya....

Hari Kamis, akhir Desember 1992 di Wajak yang permai, aku bermimpi. Semua peristiwa dalam mimpi malam itu berlatar (setting) di desa Wajak. Semua yang aku lihat dan aku rasakan seolah nyata. Tak ada yang berbeda sedikitpun antara yang kulihat dalam mimpi dengan keadaan yang sesungguhnya. Dalam mimpi: aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sahabatku itu, namanya Rini. Namun, di tengah jalan aku dihadang oleh Lelaki baik yang menderita kusta. Aku terkejut, ”Mengapa dia berada di sini? Bagaimana dia tahu tempat ini? Dia kan sudah meninggal?” pikirku. Walaupun terkejut aku tidak berkata apa pun kepadanya. Aku berbalik arah dan mencari jalan lain menuju rumah. Setelah bersusah payah mencari ”jalan tikus” dan merasa agak lega, tiba-tiba dia sudah menghadang di depan. Aku belum menyerah untuk mencari jalan pulang. Namun, dia selalu menghadang setiap langkahku. Aku berpikir untuk menggunakan jurus terakhir (ketika SMA aku atlet sprint spesialis 200 m). Dalam pikirku, jika aku berlari dengan sangat cepat, pasti dia tidak akan bisa mengejarku. Aku pun melakukan itu dan berhasil menerobos ”barikade” Lelaki baik yang menderita kusta. Sesampainya di rumah aku bergegas ke tempat tidur agar ”Lelaki” tadi tidak bisa menemukanku. Dalam mimpi itu aku ”tidur” di kamar yang sama juga dengan posisi yang sama dengan tidurku yang sesungguhnya.

Ternyata Lelaki baik yang menderita kusta itu masih bisa menemukan ”persembunyianku”. Dia datang dengan ”pasukan”nya dan telah mengepungku di sekeliling tempat tidur (seperti tim dokter yang siap mengoperasi pasien) lengkap dengan pakaian ”steril” berwarna putih, termasuk pakaianku. Kecuali pakaian yang kukenakan, latar peristiwa yang aku lihat dalam mimpi itu tak sedikitpun berbeda dengan keadaan yang sesungguhnya, termasuk perabotan yang berada dalam kamar tidur.Ketika mereka memegangi kakiku, aku memberontak untuk melepaskan diri. Aku ”berjuang” dengan segala daya. Ada ”pergulatan” antara keluar dan masuk ”dunia” itu.

”Alhamdulillah”.... kuucapkan kata itu dalam mimpi ketika bisa melepaskan diri. ”Alhamdulillah”.... kuucapkan lagi kata itu dalam sadar. Aku terjaga bersama bunyi jam yang berdenting dua belas kali. Aku duduk tertegun di tempat tidur. Jantungku berdetak tanpa irama yang pasti. Dan semakin berdegap-degup tak menentu. Napasku menyesak di dada. Tenggorokanku seolah tersumbat. Aku tidak tega membangunkan Rini yang tengah tidur pulas. Aku keluar kamar dan minum segelas air, tetapi tenggorokanku tak merasakan apa pun. Tanpa ada yang tahu (termasuk Bapak dan Ibu), aku ke luar, turun ke sungai depan rumah. Dalam gelap di tengah malam, aku berwudhu air sungai yang tak pernah lelah bergemiricik. Namun kulitku terasa mati. Aku tak merasakan dinginnya air. Sama sekali tidak merasakan apa pun. Aku masuk ke dalam rumah dan mencoba sholat dua rokaat. Namun, aku belum juga bisa menguasai diri. Kubangunkan Rini, dia justru panik melihatku yang ”seolah” akan mati. Dibangunkannya Bapak dan Ibu. Semua panik dan tegang. Aku tak sampai hati melihat mereka dan menemaniku menunggu pagi. ”Kalaupun harus mati, aku tidak boleh menyusahkan mereka” pikirku waktu itu. Aku katakan kepada mereka bahwa aku sudah baik. Dan mereka pun melanjutkan tidur. Aku berbaring, napasku terasa sesak walaupun aku tak pernah punya ”penyakit” ini sebelumnya. Aku keluar kamar, berjalan hilir mudik di dalam rumah untuk menenangkan perasaan. Dalam kondisi seperti itu, yang kutunggu hanya satu, yaitu sinar matahari. Aku menunggu pagi datang. Sungguh penantian yang paling lama dalam segala penantian yang pernah kulakukan. Kondisi ”perasaan”ku membaik ketika terdengar adzan subuh, karena menandakan bahwa sebentar lagi sinar matahari akan muncul.

Alhamdulillah... Jumat pagi itu aku sudah merasa sehat. Namun, perasaanku bergolak bersama pergeseran matahari. Semakin matahari bergerak ke barat, semakin perasaanku cemas. Khawatir dengan keadaanku, Rini dan Ibu mengantarku pulang ke Lamongan. Mereka mengatakan kepada keluargaku bahwa aku kurang sehat. Melihat fisikku yang tidak kurang suatu apa pun, ibuku tidak terlalu khawatir. Setiap menjelang maghrib, aku sangat ketakutan. Aku minta tidur bersama ibuku. Aku minta dipeluk, didekap rapat seperti masa kanak-kanak. Sepanjang malam kupegang tangan ibu tanpa dapat memejamkan mata walau sekejap. Ibuku menjadi cemas karena hal itu berulang setiap hari. Aku benci kegelapan. Aku takut malam menjelang. Aku tidak mau bermimpi....
TAMAT

(Saya tidak akan berbagi tentang kisah mimpi lagi, jika ada pertanyaan: silakan sampaikan di kolom komentar. Insya Allah saya akan menjawabnya)


04 Juni 2009

Pelajaran dari Sahabat

Sahabat, demikian saya menamai seseorang yang bersekutu dengan kita. Sahabat adalah anugerah, yang mau menjadi pendengar ketika kita bicara, yang dapat menasihati ketika kita alpha, yang menyemangati ketika kita lemah atau putus asa, yang rela membantu ketika kita membutuhkan, dan yang bisa menghibur ketika kita lara. Sahabat merupakan sosok yang dibutuhkan ketika ingin bertukar pikiran atau meminta pertimbangan.

Sahabat juga amanah, yang harus kita jaga perasaannya, yang harus kita atur interaksinya, dan yang harus kita pertahankan kelestariannya. Karena interaksi persahabatan ada kalanya tidak seperti yang kita harapkan. Bahasa, baik secara verbal mapun gesture berpotensi untuk mencederai persahabatan. Kadang menurut kita benar namun baginya hati telah tersakiti.

Apa yang kita pikirkan dan yang kita harapkan dari para sahabat harus ditanam juga di dalam diri sehingga kita pun dapat menjadi sahabat bagi orang lain. Ibarat simbiosis mutualisme, persahabatan hendaknya saling menguntungkan baik secara fisik maupun psikis dengan dasar ikhlas. Seorang sahabat dapat melakukan “psikoterapi” baik dengan sengaja maupun tanpa sengaja atas “penderitaan” orang lain melalui motivasi, sugesti, nasihat, hiburan, atau hal lain dengan berbagai metode.

Hari ini saya berpikir tentang seorang sahabat yang sedang berulang tahun. Sahabat yang memiliki kelembutan hati, penyayang, penuh empati, “good listener”, dan berani memberikan umpan balik sebagai koreksi dan evaluasi. Khususnya untuk topik-topik tertentu yang hanya padanya saya mendapatkan pencerahan. Fungsi sahabat tidak hanya membuat senang, dia terkadang membuat saya menangis. Menangisi kekonyolan dan kefatalan perbuatan serta kata-kata. Saya merasa sangat bersyukur memiliki sahabat seperti dia.

Saya selalu belajar dari sahabat saya tersebut meski dalam momen yang singkat sekalipun. Banyak hikmah saya peroleh dari intrik-intrik kosa kata yang terlontar dan mengimbas lebih banyak kepada saya, seperti sinar yang ditembakkan ke sisi cermin cembung dan menghasilkan sudut pembiasan lebih besar. Dalam proses pembelajaran tersebut, saya sampaikan pernyataan yang benar dan saya sampaikan pula pernyataan yang salah untuk memetik buah pikiran yang mungkin dalam “persembunyian”. Dari situlah saya dapatkan pelajaran tentang hidup dan kehidupan: tentang pentingnya harapan, kebenaran, kejujuran, ketaatan, komitmen, kepatuhan, kesetiaan, konsistensi, keberanian, etika, bahkan tentang bahasa.

Hasil Diskusi

"a friend in need is a friend indeed...?"

Tidak. Kita dan sahabat tidak seperti Boss dan bodyguard.
Masing-masing mempunyai ruang dan waktu tersendiri, kadang "dekat" dan kadang "jauh" (dekat dan jauhnya sahabat tidak selamanya bersifat fisik). Kita dan sahabat tidak harus ada komitmen, kepedulian dan apa pun yang dilakukan sahabat mengalir secara ikhlas seperti aliran sungai.
Sahabat boleh datang dan boleh juga pergi (kita tidak punya hak atas kemerdekaan sahabat). Namun, dengan datang dan perginya sahabat, seseorang bisa "menyerap/mendapatkan" sesuatu tanpa "harus" disadari oleh sahabat. (sahabat sering tidak menyadari bahwa dia telah memberikan "sesuatu" atau "berjasa" bagi orang lain).

"persahabatan bukanlah bisnis"

Aku setuju (berarti tidak ada untung rugi kan???) Namun, tidak semua orang tahu bahwa keuntungan yang didapat dalam persahabatan TIDAK SELALU "disengaja" atau "disadari". Dan tidak semua sahabat dapat "mengambil/mencuri" keuntungan dalam interaksinya. Demikian juga dengan kerugian. Sahabat terbentuk dari "pergulatan" yang serasi. Namun, sahabat tidak lah abadi, adakalanya pergi atau menghianati.

Namun, masih ada satu mata kuliah tentang “komitmen dan keputusan” yang belum saya peroleh simpulan dari diskusi berikut:”

”Bagaimana jika komitmen itu pada suatu saat nanti tak lagi ditepati?”
”Mungkin aku akan berpikir tentang ‘sesuatu’ yang pernah ditanyakan oleh seorang kawan.”

Jawaban saya ibarat umpan yang terpasang di mata kail, namun tak seekor ikan pun terjebak. Saya menginginkan tanggapan atas jawaban tersebut (sebenarnya pernyataan jawaban itu bukan representasi hati saya karena apa pun yang terjadi, keputusan saya adalah “so must go on”). Dan…sampai “acara mancing” berakhir, tak seekor ikan pun saya dapatkan.

(Karena menggunakan metafor ikan, saya tiba-tiba teringat kisah Nabi Musa as dan Nabi Khidir as, terutama tentang ikan tangkapan yang melompat ke laut. Sepintas sepertinya ada hal yang hilang, tetapi sesungguhnya justru menemukan sesuatu. Karena ikan tersebut menghilang di tempat Nabi Khidir as berada, seorang “guru” yang sedang dicari oleh Nabi Musa as, dan keduanya pun bertemu (Al kahfi: 61-66).

Kisah ikan tersebut saya tulis sebagai hadiah ulang tahun kepada sahabat saya.
Selamat Ulang Tahun, Sahabat....
Semoga Anda sekeluarga selalu dalam rahmat Allah swt.