04 September 2009

(Di antara bentangan waktu yang tersia-siakan, aku teringat puisi ini:)

TADARUS
Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

Bismillahirrahmanir rahim
Brenti mengalir darahku menyimak firman-Mu

Idzaa zulzilatil-ardlu zilzaalahaa
Wa akhrajatil-ardlu atsqaalahaa
Waqaalal-insaanu maa lahaa
(ketika bumi diguncang dengan dasyatnya
Dan bumi memuntahkan isi perutnya
Dan manusia bertanya-tanya:
Bumi itu kenapa?)

Yaumaidzin tuhadditsu akhbaarahaa
Bianna Rabbaka auhaa lahaa
Yaumaidzin yashdurun-naasu asytaatan
Liyurau a'maalahum
(Ketika itu bumi mengisahkan kisah-kisahnya
Karena Tuhanmu mengilhaminya
Ketika itu manusia tumpah terpisah-pisah
'Tuk diperlihatkan perbuatan-perbuatan mereka)
Faman ya'mal mitsqaala dzarratin khairan yarah
Waman ya'mal mitsqaala dzarratin syarran yarah
(Maka siapa yang berbuat sezarrah kebaikan
pun akan melihatnya
Dan siapa yang berbuat sezarrah kejahatan
pun akan melihatnya)

Ya Tuhan, akukah insan yang bertanya-tanya
Ataukah aku mukmin yang sudah tahu jawabnya?
Kulihat tetes diriku dalam muntahan isi bumi
Aduhai, akan kemanakah kiranya bergulir?
Diantara tumpukan maksiat yang kutimbun saat demi saat
Akankah kulihat sezarrah saja
Kebaikan yang pernah kubuat?
Nafasku memburu diburu firmanMu

Dengan asma Allah Yang Pengasih Penyayang
Wa'aadiyaati dlabhan
Falmuuriyaati qadhan
Fa-atsarna bihi naq'an
Fawasathna bihi jam'an
(Demi yang sama terpacu berdengkusan
Yang sama mencetuskan api berdenyaran
Yang pagi-pagi melancarkan serbuan
Menerbangkan debu berhamburan
Dan menembusnya ke tengah-tengah pasukan lawan)
Innal-insana liRabbihi lakanuud
Wainnahu 'alaa dzaalika lasyahied
Wainnahu lihubbil-khairi lasyadied
(Sungguh manusia itu kepada Tuhannya
Sangat tidak tahu berterima kasih
Sunggung manusia itu sendiri tentang itu menjadi saksi
Dan sungguh manusia itu sayangnya kepada harta
Luar biasa)
Afalaa ya'lamu idza bu'tsira maa fil-qubur
Wahushshila maa fis-shuduur
Inna Rabbahum bihim yaumaidzin lakhabier
(Tidakkah manusia itu tahu saat isi kubur dihamburkan
Saat ini dada ditumpahkan?
Sungguh Tuhan mereka
Terhadap mereka saat itu tahu belaka!)

Ya Tuhan, kemana gerangan butir debu ini 'kan menghambur?
Adakah secercah syukur menempel
Ketika isi dada dimuntahkan
Ketika semua kesayangan dan andalan entah kemana?
Meremang bulu romaku diguncang firmanMu

Bismillahirrahmaani rrahim
Al-Quaari'atu
Mal-qaari'ah
Wamaa adraaka mal-qaari'ah
(Penggetar hati
Apakah penggetar hati itu?
Tahu kau apa itu penggetar hati?)

Resah sukmaku dirasuk firmanMu

Yauma yakuunun-naasu kal-faraasyil- mabtsuts
Watakuunul-jibaalu kal'ihnil-manfusy
(Itulah hari manusia bagaikan belalang bertebaran
dan gunung-gunung bagaikan bulu dihambur-terbangkan )

Menggigil ruas-ruas tulangku dalam firmanMu

Waammaa man tsaqulat mawaazienuhu
Fahuwa fii 'iesyatir-raadliyah
Waammaa man khaffat mawaazienuhu faummuhu haawiyah
Wamaa adraaka maa hiyah
Naarun haamiyah
(Nah barangsiapa berbobot timbangan amalnya
Ia akan berada dalam kehidupan memuaskan
Dan barangsiapa enteng timbangan amalnya
Tempat tinggalnya di Hawiyah
Tahu kau apa itu?
Api yang sangat panas membakar!)

Ya Tuhan kemanakah gerangan belalang malang ini 'kan terkapar?
Gunung amal yang dibanggakan
Jadikah selembar bulu saja memberati timbangan
Atau gunung-gunung dosa akan melumatnya
Bagi persembahan lidah Hawiyah?
Ataukah, o, kalau saja maharahmatMu
Akan menerbangkannya ke lautan ampunan
Shadaqallahul' Adhiem
Telah selesai ayat-ayat dibaca
Telah sirna gema-gema sari tilawahnya
Marilah kita ikuti acara selanjutnya
Masih banyak urusan dunia yang belum selesai
Masih banyak kepentingan yang belum tercapai
Masih banyak keinginan yang belum tergapai
Marilah kembali berlupa
Insya Allah Kiamat masih lama.
Amien.


11 komentar:

  1. Ada gempa saja orang sudah "nggak karuan" apalagi kalau hari kiamat datang semua sudah nggak mikirin orang lain bahkan orang hamilpun sudah nggak sadar kalau melahirkan anaknya.....

    BalasHapus
  2. Sebuah puisi yang sarat renungan dan kontemplasi, terima kasih mbak sudah berbagi. Hanya kepada Rahman Rahimnya Allah semata kita berharap... sebab tanpa itu, apa jadinya kita??

    BalasHapus
  3. Merenung... intropeksi... abis baca puisi ini, hmm... banyak sekali yang harus dibenahi di bumi yang fana ini, sebagai persiapan menuju keabadian.. hmm...

    BalasHapus
  4. salam sobat
    trims sharing dan pencerahannya ,mengenai TADARUS ini mba..

    ada AWARD sederhana untuk mba,,,mohon diterima ya,,,di blog NURANURANIKU,sahabat lama di ALJUBAIL.S.A,,trims.

    BalasHapus
  5. Doa yang memberikan pencerahan, kesejukan, kedamaian ..... kita merenung .... kita menangis .... mengingat akan dosa dan kesalahan ... sesungguhnya kita hidup bukan untuk main2 melainkan u/ ibadah ..

    BalasHapus
  6. salam kenal... just drop by krn blogwalking... tuing tuing tuing :)

    BalasHapus
  7. salam sobat
    trims kunjungannya dan menerima AWARDnya,, mba LIS..
    puisinya bagus mba dan banyak pesan dan kesan untuk direnungkan.

    selamat menyambut hari raya Idhul Fitri 1430H
    Minal aidhin walfaidzin.

    BalasHapus
  8. Kunjungan di malam Kemenangan
    Taqobballahu minna wa minkum minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin.... selamat hari raya idul fitri....1430 H

    BalasHapus
  9. Belum kering air mata duka kita atas gempa Jogja/Jawa Tengah, sementara kenangan tsunami Aceh dan Nias masih membayang, kini kita lagi-lagi dibentangkan tayangan bencana demi bencana, susul-menyusul bak tengah menuliskan kalimat-kalimat kosmik : “Lihatlah daku, wahai manusia tak berdaya!”, “Perhatikan kedahsyatanku akibat keserakahan kalian merusak keseimbanganku!”, dan sejumlah aksaran natural lainnya yang belum bisa kita mengerti sepenuhnya.

    Ya Allah, Dalam perjalan kehidupan dibumi-Mu adalah untuk menggapai ridho-Mu , Engkau yang Maha Tahu, Engkau yang Maha memberi Pentunjuk dan Engkaulah Maha Pengampun.

    Jika didalam perjalan hidup ini, tidak sesuai dengan syariatMu ya Robbi, berilah Petunjuk dan BimbinganMu untuk mendapatkan jalan yang lurus, serta ampunilah dosa-dosa kami. Jadikanlah kami orang yang pandai bersyukur.

    YA HAYYU, YA QAYYUUM, BIRAHMATIKA ASTAGHIITS……………

    BalasHapus
  10. Jawaban koment mbak lis atas postingan terakhir aku ;
    kalau menurut aku justru dengan Pengukuhan Batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia, akan lebih memperkuat posisi Indonesia sebagai negara Asal batik dan pastinya akan lebih menguntungkan sebagai negara pemegang hak Patent..

    BalasHapus
  11. puisi yg menjadi cerminan sebuah isotop dari perenungan :)

    BalasHapus