09 Maret 2018

Pendidikan Karakter dalam Gurindam Dua Belas


  Karakter memiliki beberapa pengertian, namun dalam tulisan ini karakter yang dimaksud sepadan maknanya dengan watak atau budi pekerti. Sebagaimana tertera dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu istilah karakter yang bertanda nomor 1 dengan penjelasan sebagai berikut:               

ka.rak.ter1 /karaktêr/
  • n sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain; tabiat; watak: ia mempunyai -- agak aneh dibandingkan dengan kakaknya
ka.rak.ter2 /karaktêr/
  1. n Komp huruf, angka, ruang, simbol khusus yang dapat dimunculkan pada layar dengan papan ketik
  2. n Komp simbol grafis yang tampak sebagai tanda cetakan atau tampilan, seperti huruf alfabet, angka, atau tanda baca

Karakter dalam Pendidikan Indonesia Kurikulum 2013 begitu digaungkan bahkan dikuatkan dalam Peraturan Presiden. Dalam Perpres Nomor 87 Tahun 2017 Pasal 3 dijelaskan bahwa pendidikan karakter dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagai representasi Pemerintah, yang bertanggung jawab dalam pembinaan karakter di sekolah, telah mengkristalkan pendidikan karakter dengan istilah baru yaitu  Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Kristalisasi Pengembangan nilai-nilai karakter yang sebelumnya sebanyak 18  tersebut kini hanya menjadi 5 Nilai Karakter yaitu:

1. Religius
2. Nasionalis
3. Mandiri
4. Gotong Royong
5. Integritas

 

Pertanyaan saya sebagai guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia/Sastra Indonesia SMA, mengapa materi SASTRA dalam Pendidikan Indonesia Kurikulum 2013 seolah ”dikebiri” bahkan tidak lagi sebagai hal yang dianggap penting dalam menumbuhkan karakter generasi Emas Indonesia. Dalam implementasinya, Pemerintah justru mencari formula lain tentang Pendidikan Karakter. Karakter mana lagi yang dicari? Dalam Gurindam Dua Belas dimuat pendidikan karakter yang luar biasa, yang seiring waktu akan terkubur jika tidak lagi dipandang oleh pemangku kebijakan Pendidikan Indonesia. Dalam Kurikulum 2013, gurindam tiba-tiba dimunculkan dalam materi pembelajaran, namun  tidak sinkron dengan apa yang ditulis secara eksplisit dalam Kompetensi Dasar (KD).

 

Gurindam yang sarat dengan pendidikan karakter tersebut telah lahir 171 tahun lalu di belantara sastra Indonesia. Gurindam Dua Belas ditulis oleh Raja Ali Haji pada tahun 1847. Beliau sastrawan, ulama, dan sekaligus Pahlawan Nasional dari Pulau Penyengat, Kepulauan Riau.  Gurindam Dua Belas disusun menjadi 12 pasal, 82 bait, dan 164 baris. Namun Gurindam Dua Belas telah tersingkir dari Kurikulum Pendidikan Indonesia. Dalam khasanah kesusasteraan Indonesia, gurindam termasuk Karya Sastra Lama jenis   puisi. Gurindam adalah sajak yang terdiri atas dua baris tiap bait. Baris ke-1 dan baris ke-2 dalam gurindam memiliki hubungan yang berkesinambungan. Baris pertama sebagai sampiran dan baris kedua sebagai isi. Baris pertama atau sampiran menyatakan gagasan atau peristiwa sedangkan baris kedua atau isi menyatakan makna yang ingin disampaikan kepada pembaca. Gurindam memiliki sajak/rima sama (a-a) dan mengandung petuah atau nasihat, petunjuk, dan ilmu.

 

Berikut adalah teks Gurindam Dua Belas.

 

Gurindam Dua Belas

Karya Raja Ali Haji 

 

Fasal 1
Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang yang ma'rifat

Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.

Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang teperdaya.

Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah Ia dunia mudarat.

 

Fasal 2
Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.

Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.

Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua termasa.

Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.

Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.

 

Fasal 3
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.

Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadaiah damping.

Apabila terpelihara lidah,
niscaya dapat daripadanya paedah.

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.

Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senunuh.

Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjaian yang membawa rugi.

 

Fasal 4
Hail kerajaan di daiam tubuh,
jikalau lalim segala anggotapun rubuh.

Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.

Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.

Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.

Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.

Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.

Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.

Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketor.

Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

 

Fasal 5
Jika hendak mengenai orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.

Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.

Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.

Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

 

Fasal 6
Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.

Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.

Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh dimenyerahkan diri.

Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.

Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,

 

Fasal 7
Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.

Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah landa hampirkan duka.

Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.

Apabila anak tidak dilatih,
Jika besar bapanya letih.

Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.

Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.

Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.

Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.

Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.

Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.

Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.

 

Fasal 8:
Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.

Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.

Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.

Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar dan pada orang datangnya khabar.

Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syarik mengaku kuasa.

Kejahatan diri sembunyikan,
kebalikan diri diamkan.

Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.

 

Fasal 9
Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaitulah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.

Kepada segala hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.

Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.

Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat

Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.

 

Fasal 10
Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.

Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.

Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.

Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.

Dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kafill.

 

Fasal 11
Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.

Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.

Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.

Hendak marah,
dahulukan hajat.

Hendak dimulai,
jangan melalui.

Hendak ramai,
murahkan perangai.

 

Fasal 12
Raja muafakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.

Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.

Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh anayat.

Kasihan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.

Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.

Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.

Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.



Sumber:
KBBI
Perpres Nomor 87 Tahun 2017
Gurindam Dua Belas


Tidak ada komentar:

Posting Komentar