13 Januari 2009

Berwudlu Air Murni

Malang, 13 Januari 2009
Saat menunggu adzan Subuh, saya teringat puisi ini:


        Berwudlu Air Murni
        Karya Emha Ainun Najib


        Telaga Haudl
        Al-Kautsar tercinta
        Tempat perjanjian
        Muhammad dengan kita
        Memadu kasih mesra

        Siapa kita siapa bukan kita
        Bagaimana Sang Nabi membedakannya?
        ”O, amatlah mudahnya!” beliau berkata
        ”Dari wajah kalian memancar cahaya
        Berkat wudlu dan sujud yang mengkesima”

        Sujud kerendahan kepada kemahatinggian
        Sujud ke tanah
        Debu menempel di kening
        Segala kotoran sirna diserapnya

        Berwudlu air murni
        Dari hari ke hari
        Membasuh kepalsuan
        Dengan kesejatian
        Mencuci luka di kolam Tuhan

        Telaga haudl
        Al-Kautsar tercinta
        Kita peluk Muhammad tanpa sia
        Di air bening telaga
        Ma’rifat segala-galanya.


APRESIASI:

Karya sastra sebagai hasil peristiwa seni yang estetis pada hakikatnya berfungsi sebagai media yang menyenangkan dan berguna. Melalui karya sastra, seseorang dapat memperoleh kesenangan dan bermacam-macam pandangan filsafat, agama, serta cara pandang terhadap diri sendiri, orang lain, dan Tuhan. Dengan adanya korelasi antara sastra dan religiusitas maka lahirlah sastra transendental, yaitu sastra yang membebaskan diri dari aktualitas indrawi manusia. Sastra transendental memasuki dunia hakikat untuk menguak fenomena yang bersemayam di balik realita dan membumikan ayat – ayat illahiyah untuk menembus dimensi material dalam susunan kosmos kemanusiaan.

Karya sastra (dalam hal ini puisi konvensional) merupakan ekspresi jiwa dan perasaan yang terlahir dari korelasi vertikal dan horisontal dalam kehidupan penyair. Dalam perspektif Emha Ainun Najib, untuk membedakan antara sastra religius dan tidak, cukup dengan satu pertanyaan: Apakah menemukan keagungan Tuhan dan menuju kepada Tuhan atau tidak?

Emha Ainun Najib (penyair yang berpandangan ”mbanyu mili” di sungai Allah), mengisyaratkan tentang keikhlasan dan ketaatan pemeluk Islam menjalankan ibadah shalat. Keikhlasan untuk mendapat ridho Allah swt. Agar suatu saat nanti dapat menyatu dengan Rosulullah saw dengan kedamaian hakiki dalam telaga Haudl, Al-Kautsar, dan diakui sebagai umatnya.

Wudlu (dalam konteks puisi ini) merupakan bentuk pensucian diri sebelum melakukan shalat.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Al Maa'idah: 6)

Ibarat cermin, sholat dapat merefleksikan satu objek menjadi dua arah pantulan. Satu sisi merupakan pantulan duniawi dan sisi yang lain pantulan ukhrowi. Dengan sholat manusia menjadi insan yang bermutu secara mental dan fisik, dengan sholat juga manusia mendapatkan cinta Rosul dan rahmat Illahi.

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Quran dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Al 'Ankabuut:45)


Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar. (An Nisaa':162)

Dalam puisi ” Berwudlu Air Murni”, penyair menghadirkan pencitraan visual dan gerak untuk memberi efek konkret pada larik-lariknya. Pencitraan (imajery) tersebut juga ”menghidupkan” setiap peristiwa yang terungkap dalam kata-kata. Betapa mesranya antara umat – Rosul - dalam kenikmatan sebagai buah yang dipetiknya dari pohon ibadah.




11 komentar:

  1. sebuah tinjauan yang bagus. jernih. obyektif. dalam.

    inilah gunanya ruang apresiasi, ruang tafsir, ruang opini, maupun ruang "belajar".

    salut, ibu.
    terus berjalan!

    AiJa

    BalasHapus
  2. Untuk Anonim

    Terima kasih
    Kata-kata Anda menjadi semangat
    saya untuk terus berjalan dan
    "melahirkan" tulisan-tulisan selanjutnya.

    Semoga itu bentuk apresiasi yang tulus.

    Salam

    BalasHapus
  3. Kebetulan skali bun...
    Nduk juga sedang ingin mencari jati diri...
    Membaca ulasan itu bisa mendorong nduk untuk mencari jati diri sebenarnya...

    Allah maha Adil,maha Pemurah,maha kasih..

    Di tengah kegelisahan seperti ini Allah mengirimkan ibu seperti Bu Lis kpada si Nduk...

    Susah menjadi orang ikhlas sangat bisa nduk rasakan...

    Namun ketika hati..ketika wajah dibasuh air wudlu nduk juga bisa merasakan betapa nikmatnya menjadi makhluk Allah...

    Nduk senang dengan puisi2 yang menyejukkan hati seperti itu...
    Yang selalu mengingatkan kita kepada kebesaran Allah...

    Terima Kasih Bu Lis...aku jadi ingin menangis...

    BalasHapus
  4. Untuk Nduk

    Menangislah....
    Adakalanya mata kita perlu dibasahi oleh airnya sendiri

    Itulah pentingnya teman:
    saling mengisi, mengingatkan, membangkitkan semangat,
    bahkan membuat bahagia.

    Walau hanya dengan kata-kata.

    (Marah nggak dibangunkan jam segitu?
    Untuk berwudlu air murni?)

    BalasHapus
  5. Ya jelas si Nduk g marah lah bun...

    Malah nduk senang ada yang mengingatkan...

    Jangan pernah bosan mengingatkan nduk ya?

    terima kasih banyak...

    Nduk rasa ini salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada nduk karena telah mengirimkan ibu seperti Bu Lis...

    Terima kasih, terima kasih,terima kasih...

    BalasHapus
  6. a'kum
    hai...Lilis Indrawati
    tq singgah blog fahmi welcome to blogger malaysia....:)

    BalasHapus
  7. salam...terima kasih kerana sudi melawat cerana blog

    BalasHapus
  8. senandung puisinya meruap ke dalam sanubari dan mendorong untuk bergegas membasuh diri dgn air murni untuk segera "mengharap ridho" Sang Ilahi. Terima kasih ya atas "sentuhan" rohaninya :)

    BalasHapus
  9. Telaga Al Kautsar adalah khusus untuk Nabi Muhammad saw dan Ahlul Bait nya as

    BalasHapus