02 Juni 2017

Rasa itu Bernama Rindu

     

Dahulu, ketika kami akan pulang ke Indonesia, hati terasa sedih menjawab pertanyaan seorang murid.
 "Kapan kau akan kembali?"
 "Suatu saat saya akan kembali ke sini, insya Allah",  jawaban itu sebenarnya hanya sekedar untuk menenangkan.
"Fii amanillah", katanya perlahan.
"Aamiin, terima kasih", lambaian tangan dan rasa berat hati semakin sesak. 

Saya tinggalkan Hatyai dengan perasaan sedih. Sepanjang perjalanan kami terus berkomunikasi melalui chat WA sampai memasuki border Sadao-Bukit Kayu Hitam. Karena di situlah batas akhir wilayah layanan internet yang saya gunakan. Deg. Sepi. Rasa tak karuan. Hati makin sedih. Serasa ada yang hilang dan tak kembali lagi.

Tahun berganti....

Akhirnya, saya benar-benar kembali ke Hatyai Wittayakarn School (HWKS). Perasaan sangat senang dan bahagia. Banyak kemajuan dan perubahan yang terjadi. Mulai dari pintu gerbang saya mengamatinya dengan kagum. Perkembangan yang luar biasa. Tidak cukup hanya memperhatikan dari depan, namun saya mengelilingi kompleks sekolah sampai di belakang dormitory bersama guide Ustadz Sodeeq dan Ustadz Abdulloh Seng.

HWKS terletak di Kota Hatyai, Provinsi Songkhla, Thailand. Ini adalah sekolah Islam terbesar di sana, sekolah Islam terpadu dengan sistem boarding. Di sekolah ini dahulu hanya terintegrasi setingkat SMP-SMA (ada 6 jenjang kelas mulai dari matthayom 1 sampai dengan matthayom 6). Tahun ini mulai dibangun Elementary School. Semoga dapat selesai sesuai dengan rencana. Yang sangat menginspirasi dari HWKS adalah, di sana para guru masih relatif muda, pintar, kreatif, berdedikasi, dan  bermental pejuang. 

Ini kali ke-4 saya datang ke Hatyai. Namun yang paling berkesan adalah kedatangan saya yang ke-4 ini. Malam terakhir di sana saya dijemput teman-teman untuk sekadar bernostalgia berkeliling kota, jalan-jalan, "kongkow" di kafe menikmati makanan khas: tom yam, sambil berbincang tentang banyak hal. Seolah alur cerita flash back, kami juga mengingat kembali pelajaran bahasa yang dahulu pernah diajarkan dalam perjalanan lintas batas dari dan ke Hatyai-Penang. Kejadian yang bikin tersenyum sendiri saat mengingatnya adalah: Ketika kembali dari Penang saat itu, petugas border memeriksa paspor saya yang hampir kadaluwarsa dan ia "marah-marah". Saat itu saya merasa cemas, khawatir tidak diperkenankan "pulang" ke Hatyai. Kemudian, seorang teman menjelaskan kepada petugas itu bahwa saya adalah guru yang bertugas di sana dan dalam beberapa hari lagi akan kembali ke Indonesia. Lalu kami diizinkan melanjutkan perjalanan. Hmmmmm.... lega rasanya.

Kembali ke alur semula....

Esok paginya, saya meninggalkannya lagi, karena datang dan pergi adalah sunatullah.
Duuuh.... kapan bisa kembali lagi ke sana?

1 komentar: