16 Mei 2016

Kembalinya Sastra yang Hilang

Sebagai guru Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMA, saya merasa bersyukur atas kembalinya Sastra dalam Kurikulum melalui hasil revisi (ke empat) Silabus Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan (SMA/MA/SMK/MAK) Tahun 2016. Berikut data kembalinya sastra dalam Kurikulum 2013 revisi Silabus tahun 2016.


  


Sejak diimplementasikan Kurikulum 2013 pada awal Tahun Pelajaran 2013/2014 (sampai dengan edisi revisi ke-1, 2, dan 3), Silabus Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMA terasa kering dan tandus tanpa hadirnya sastra. Kelas X sama sekali tidak tersentuh sastra, kelas XI hanya Teks Pantun dan teks Cerpen, sedangkan Kelas XII hanya Teks Cerita Fiksi dalam Novel.

Alhamdulillah, di tahun 2016 ini “Puisi” hadir kembali sebagai materi pembelajaran kelas X SMA. Terlepas dari kerumitan dan ketimpangan materi yang telah dipelajari terdahulu; dan (tentu saja) betapa mubazirnya jutaan eksemplar buku paket bahasa Indonesia yang telah diterbitkan dan digunakan di sekolah karena lebih banyak perbedaanya daripada kesamaannya. Sebelumnya, masing-masing tingkatan kelas hanya mempelajari 5 teks yang tidak berisi apa-apa karena bahasa Indonesia tidak lagi dipandang sebagai ilmu yang harus dipelajari, tetapi hanya sebagai alat penghela ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, hadirnya kembali sastra sungguh menggembirakan.

Tentang teknik pembelajaran menulis puisi, berikut tulisan saya empat tahun lalu yang telah saya sesuaikan dengan kompetensi dasar berdasar Kurikulum 2013, Draf Silabus edisi revisi tahun 2016:

Teknik Pancingan Kata Kunci dalam Pembelajaran Menulis Puisi

Keterampilan menulis puisi pada pembelajaran Bahasa Indonesia SMA kelas X tertuang dalam Kompetensi Dasar 4.17: Menulis puisi dengan memerhatikan unsur pembangunnya.
Menulis puisi merupakan kegiatan reproduksi pikiran dan perasaan menjadi tulisan. Menulis itu penting. Tulisan tidak sekedar dipandang sebagai kompetensi linguistik seseorang, namun banyak manfaat yang diperoleh dari menulis, khusunya menulis puisi. Selain dapat menunjukkan kekayaan intelektual penulisnya, menulis puisi merupakan ajang kreativitas, tempat mencurahkan isi hati dan pikiran, sarana untuk mengurangi beban perasaan, wujud eksistensi diri, bahkan sumber komersialisasi. 



Dalam mengembangkan proses kreatif menulis puisi diperlukan wawasan yang luas, kepekaan rasa, dan daya bayang (imajinasi) yang tinggi. Ketiadaan unsur-unsur itulah yang menjadi hambatan siswa dalam menulis puisi. Beberapa ungkapan yang sering dikatakan siswa ketika mereka belajar menulis puisi antara lain: kesulitan memulai, galau dalam menentukan ide, bingung memilih kata yang tepat, atau “mati gaya” dalam merangkai diksi menjadi larik, larik menjadi bait, sehingga tersusun kesatuan puisi dengan bahasa yang estetis. Akibatnya, puisi yang dihasilkan terlalu “kering”, bahasanya monoton, dan tidak terlalu berbeda dengan bahasa koran. Oleh karena itu dalam pembelajaran menulis puisi diperlukan salah satu teknik yang dapat membantu siswa agar terampil menuangkan gagasan dalam bentuk puisi yaitu teknik Pancingan Kata Kunci.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pan•cing•an berarti 1) yang dipakai untuk memancing (memikat, menarik hati, dsb); 2) kata-kata (perbuatan dsb) untuk mencari sebab. Sedangkan kata kunci diartikan sebagai berikut: kata kunci 1) kata atau ungkapan yang mewakili konsep atau gagasan yang menandai suatu zaman atau suatu kelompok; 2) kata atau ungkapan yang mewakili konsep yang telah disebutkan. Berdasarkan makna leksikal tersebut dapat disimpulkan bahwa Pancingan Kata Kunci dalam pembelajaran menulis puisi adalah teknik yang dilakukan oleh guru dengan cara memberikan stimulasi berupa kata-kata pokok sebagai panduan untuk menumbuhkan kreativitas siswa dalam memilih, menentukan, dan mengeksplorasi diksi menjadi puisi. Dengan teknik Pancingan Kata Kunci siswa lebih mudah menuangkan dan mengembangkan gagasannya menjadi puisi.

Secara umum pelaksanaan teknik Pancingan Kata Kunci dalam menulis puisi dapat dijelaskan dalam tiga tahap.

(1) Tahap Pemodelan.
Siswa diajak menyimak pembacaan puisi yang dilakukan langsung oleh siswa/guru atau melalui rekaman video. Dengan pembacaan tersebut siswa dikenalkan kepada unsur-unsur yang membangun puisi. Siswa diajak berdiskusi tentang struktur fisik dan struktur batin puisi, antara lain tipografi, diksi, majas, rima, nada, tone, tema, dan amanat.
(2) Tahap Pemberian Kata Kunci.
Guru memberikan pancingan kata kunci dengan batasan kriteria dan tema tertentu.
(3) Tahap Penulisan.
Siswa mengembangkan kata kunci yang diberikan oleh guru sesuai dengan batasan kriteria dan tema yang ditentukan.
Contoh pancingan kata kunci yang diberikan guru sebagai berikut.

A. Tugas 1

1) Tema bebas, baris puisi dimulai dengan “aku ingin”.
2) Masukkan unsur-unsur berikut ke dalam larik:
a. warna
b. manusia
c. bunyi
3) Minimal lima larik.
4) Waktu 10 menit.


Dan contoh puisi yang dihasilkan siswa sebagai berikut:

Asaku

Aku ingin menjadi satu gawang berwarna putih di lapangan luas
dan engkaulah sang bola
yang menjadi incaran berpasang-pasang mata
“braak!” semua orang beradu tubuh
mengejarmu dalam ambisi membuncah
tanpa keluh kesah
hiruk pikuk
lalu lalang
namun…
hanya kepadakulah engkau datang


(Puisi karya Annisa Rifqiana Kelas X)


Akulah Jantungmu

Aku ingin menjadi jantung
yang selalu berdetak di dada ibuku
“dagdug dagdug dagdug” sepanjang waktu.
Aku tak ingin berhenti
agar ibuku selalu hidup bersamaku
melebur semangat dalam ikatan hati

Siang dan malam aku tak lelah
Apalagi menyerah
Karena ibuku telah bertaruh nyawa
Bersimbah merahnya darah
Melahirkan aku


(Puisi karya Rahardi Mundi Kelas X)
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar