25 Maret 2009

Khasiat Madu

Di rumah saya, keberadaan madu sama vital dengan beras, harus ada. Madu menjadi santapan dalam berbagai penyajian. Madu dioleskan di atas roti mariyam pagi atau sore hari. Diminum dua sendok makan sebelum beraktivitas pagi. Dilarutkan dalam segelas air hangat jika merasa kedinginan. Dijadikan perekat dalam roti bakar. Dicampur dalam adonan kue. Diseduh dalam secangkir kopi mocca. Diramu dengan habbatussauda serta serbuk jahe untuk menjaga dan meningkatkan stamina. Dan masih banyak penyajian yang lain, misalnya kalau ada gangguan kesehatan.
Dari kebiasaan itulah, saya tertarik untuk mengulas tentang madu.

Madu adalah salah satu obat yang digunakan Nabi untuk menjaga kesehatan dan menyembuhan penyakit.
Zat bergizi yang tidak bisa basi. Tidak ada zat yang setara dengan kualitas madu. Madu akan menjadi makanan yang lezat dan sehat bila dicampur dengan makanan, menjadi minuman berenergi dan berkhasiat bila dicampur dengan minuman, menjadi cream yang bermutu bila dicampur dengan cream, dan menjadi obat yang manjur bila dicampur dengan obat.

"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia," kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan." (QS. An-Nahl: 68-69)

Madu tersusun atas beberapa senyawa gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, kalsium, natrium, klor, belerang, besi, dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas nektar dan serbuk sari. Di samping itu, dalam madu terdapat pula sejumlah kecil tembaga, yodium, dan seng, serta beberapa jenis hormon.

Madu memiliki banyak khasiat, antara lain:

1. Menjaga dan meningkatkan stamina tubuh.
2. Membersihkan kotoran yang terdapat pada usus dan pembuluh darah.
3. Menetralisir kelembaban tubuh, baik dengan cara dikonsumsi maupun dioleskan.
4. Melembutkan sistem alami tubuh.
5. Membunuh bakteri
6. Mengawetkan makanan.
7. Memperlancar buang air kecil.
8. Menyembuhkan batuk berdahak.
9. Menetralisir keracunan.
10. Menghilangkan ketombe (dioles di kulit kepala).
11. Membunuh kutu (dioles di kulit kepala).
12. Mempercepat pertumbuhan rambut dan melembutkannya.
13. Menyehatkan gigi dan gusi (dicampur dengan pasta gigi).
14. Membersihkan mulut (dicampur air hangat dan digunakan untuk berkumur)
15. Merupakan antibiotik alami.
16. Meningkatkan vitalitas (terutama jika diramu dengan habbatussaudaa dan serbuk jahe)

Selain pemerian di atas, tentu banyak khasiat lain yang di luar jangkauan pengetahuan saya.







18 Maret 2009

Fitrah Kesucian Nafs

Pada dasarnya nafsu itu diciptakan Tuhan dalam keadaan sempurna (Q/91 : 7-8). Akan tetapi, ia dapat tercemar menjadi kotor jika tidak dijaga (Q/91 : 9-10). Tentang Nafs yang masih suci disebutkan dalam surat Alkahfi/18 : 74, dalam rangkaian kisah Nabi Khidir.

Istilah zakiyyah pada ayat tersebut di atas (nafsan zakiyyatan) merupakan sifat dari nafs sehingga nafs zakiyyah artinya jiwa yang suci. Dalam konteks ayat tersebut, pemiliki nafs yang suci itu adalah anak kecil sebagaimana juga disebut dalam surat Maryam : 19 ghulâman zakiyyan. Jadi, nafs yang secara fitri masih suci adalah nafs dari anak yang belum mukallaf, yang dalam hhal ini belum berdosa.

Fakhrar Razi mengutip perbedaan makna dari kalimat zakiyyah dan zâkiyah. Sebagian Mufasir memandang sama arti kedua kalimat itu. Akan tetapi sebagian membedakannya, seperti Abu ‘Amr Ibn al ‘Ala. Menurutnya, nafs zâkiyyah (dengan alif) adalah jiwa yang suci secara fitri, yakni belum pernah melakukan dosa, sedang nafs zakiyyah adalah jiwa yang suci setelah melalui proses tazkiyyatan nafs dengan bertobat dari perbuatan dosa.

Kesucian nafs bersifat manusiawi, maka kotornya pun bersifat maknawi. Seseorang dapat memelihara kesucian nafs-nya manakala ia konsisten dalam ketakwaan. Sebaliknya, nafs berubah menjadi kotor jika pemiliknya menempuh jalan dosa atau fujur. Surat Assyams/91 : 7-10 menyebutkan bahwa sungguh rugi orang yang telah mengotori jiwanya (wa qod khôba man dassâhâ) kata dassa berasal dari kata dassa-yadussu yang arti lughowinya menyembunyikan sesuatu di dalam sesuatu. Dalam konteks ayat ini, orang mengotori jiwanya dengan perbuatan
dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu, sebagain mufasir berpendapat bahwa ayat Alquran ini (Q/91 : 10) berkenaan dengan nafs orang saleh yang melakukan kefasikan, bukan jiwa orang kafir. Pasalnya, orang saleh, meski ia melakukan dosa, tetapi ia malu dengan perbuatannya itu sehingga ia lakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Berbeda dengan orang kafir yang melakukannya dengan terang-terangan.

Alquran mengisyaratkan bahwa jiwa yang tercemar masih dapat diusahakan untuk menjadi suci kembali, baik dengan usaha sendiri, memalui pendidikan atau karena anugerah dan rahmat Allah seperti yang diisyaratkan oleh surat Q/9 : 103, Q/3: 164.

Artinya : Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Alkitab dan Alhikmah. Dan
sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Q/3 : 164).

Ayat Alquran tersebut mengisyaratkan bahwa orang yang sesat masih dimungkinkan untuk dibersihkan jiwanya. Usaha atau proses penyucian jiwa itu disebut tazkiyyat an nafs.

Sumber, http://mubarok- institute. blogspot. com