Membuat Mind Map Buzan cukup dengan empat langkah yaitu Pusat, Kategori, Hierarki, dan Korelasi, yang lebih mudah diingat dengan jembatan PU-KA-HI-KO.
Ikhlas dan tabah dalam menjalani kehidupan bagai meniti jalan ke surga, sulit, penuh tantangan, namun harus tetap ditempuh
18 Februari 2013
Langkah-Langkah Membuat Mind Map Buzan
Membuat Mind Map Buzan cukup dengan empat langkah yaitu Pusat, Kategori, Hierarki, dan Korelasi, yang lebih mudah diingat dengan jembatan PU-KA-HI-KO.
31 Desember 2012
Waktu Terus Berlalu
24 Desember 2012
Pemimpin adalah Pengayom
Tari Songsong menggambarkan kehidupan seorang pemimpin. Pemimpin yang memiliki sifat mengayomi dan melindungi. Laksana payung mengembang, lebarnya memberikan perlindungan, tegaknya memberikan keadilan, dan kokohnya memberikan kedamaian. Demikianlah sifat seorang pemimpin. Ksatria sejati yang siap mengulurkan payung perlindungannya kepada siapa pun. Kepada mereka yang memerlukan peneduh dari terpaan hujan dan sengatan panas matahari kehidupan. Pemimpin berjuang dengan gigih, menghalau segala gangguan demi keamanan dan kesejahteraan rakyatnya.
Dialah pemimpin yang agung. Langkahnya berwibawa menebar kesejukan. Titahnya dinanti sebagai penyejuk nurani. Cipta, rasa, karsa, dan cita-citanya terasa bermakna bagi semua. Pribadinya adiluhung, menjadi pusaran arah tujuan kehidupan. Kasih sayangnya menyenangkan. Perlindungannya meneduhkan. Tanggung jawabnya mencurahkan kebahagiaan. Teladanannya adalah inspirasi. Energinya mengalirkan pengaruh dalam membentuk pribadi yang kuat. Raganya dipuja. Jiwanya dirindukan. Sabdanya ditaati. Kekuasaannya adalah karunia yang didamba. Ia persembahkan hidupnya untuk melindungi dan memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya. Jiwanya luhur, memberi tanpa menilai pemberiannya, berjuang tanpa menghitung pengorbanannya, berbakti tanpa mencari penghargaannya.
Dialah penyemangat, menerbitkan harapan di ufuk keputusasaan, menyalakan terang di jantung kegelapan, mendendangkan nyanyi gembira di tengah tangis kesedihan. Karena dalam kepemimpinan sejati, kehidupan manusia menjadi penuh arti. Pemimpin sejati mengayomi demi keamanan negeri. Melindungi dari prahara yang terjadi. Kebijakannya menentramkan jiwa. Tak pernah membuat resah. Diberikannya kemerdekaan tanpa belenggu. Berbudi bahasa, cerdik cendikia. Menjaga kehormatan, hak, dan harga diri bangsa.
Pemimpin sejati tidak membiarkan rakyatnya menderita. Ia bukanlah tirani, justru melindungi. Laksana payung yang senantiasa memberikan keteduhan. Dengan kasih sayang dan bakti ia melayani. Berpijak pada jalan dan melangkah menuju tempat maha tinggi bernama kebahagiaan hakiki. Tekadnya mempersatukan visi, mendamaikan perbedaan menjadi seindah pelangi yang berpendar berwarna-warni. Tanpa surut, bergerak dalam derap langkah nan terarah sama, demi misi menuju negeri madani.
***
12 Desember 2011
Berbagi Karya
14 September 2011
Hari Kunjung Perpustakaan14 September
Dalam upaya meningkatkan kecerdasan bangsa yang selaras dengan jalur pendidikan formal diperlukan adanya sarana komunikasi informasi ilmu pengetahuan dan teknologi melalui perpustakaan. Perpustakaan sekolah merupakan salah satu sumber belajar di sekolah yang sangat penting untuk mewujudkan keberhasilan Tujuan Pendidikan Nasional.
Sebagai salah satu sumber belajar di sekolah, perpustakaan SMAN 7 Malang juga membantu tercapainya visi sekolah: Terpuji dalam Citra, Unggul dalam Prestasi. Perpustakaan berusaha menjadi tempat favorit bagi siswa dalam menunjang kegiatan belajar di sekolah. Selain tempat yang nyaman, ketersediaan akses informasi teknologi, dan penambahan buku-buku baru yang diminati siswa, juga diperlukan penyelenggaraan even-even yang mampu menarik minat siswa dalam membaca, menulis, dan mencintai buku guna menumbuhkembangkan literasi berpengetahuan, bersastra, dan berbudaya di sekolah.
Sehubungan dengan hal tersebut, momen hari Kunjung Perpustakaan 14 September 2011 ini kami jadikan perpustakaan SMAN 7 Malang sebagai “Rendezvous” bagi para siswa dalam kegiatan lomba mengulas cerpen berbahasa Indonesia dan berbahasa Inggris. Motto Lomba: Cinta pustaka, meningkatkan tradisi membaca-menulis dan memperluas cakrawala ilmu. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan minat membaca-menulis, serta memupuk generasi cinta buku.
Mari berkunjung ke perpustakaan. Mari membaca dan menulis, mari berliterasi dengan menyelami cakrawala pengetahuan, sastra, juga budaya.
28 Agustus 2011
Membuat Cake Loreng Gurun
Bahan :
* 300 gram margarin
* 250 gram gula pasir
* 1 sdm roombuttter
* 10 butir telur, pisahkan kuning dan putihnya
* 100 gram susu putih kental manis
* 300 gram tepung terigu
* 1 sdt vanili bubuk
* 1 sdt baking powder
Langkah-Langkah Pembuatan:
1. Panaskan oven dengan temperature sekitar 180 derajat Celcius
2. Siapkan loyang persegi ukuran 20 X 20 X 7 cm, bisa juga menggunakan loyang bulat dengan ukuran yang kurang lebih sama. Olesi loyang dengan margarin dan taburi
tepung terigu (agar tidak lengket saat digunakan memanggang), sisihkan.
3. Margarin dan gula pasir dimixer hingga pucat dan lembut
4. Masukkan roombutter, susu, vanili bubuk, dan kuning telur secara bertahap
sambil dimixer hingga rata.
5. Masukkan tepung terigu sedikit demi sedikit, tambahkan baking powder dan aduk
sampai rata.
6. Putih telur dimixer sampai kaku, masukkan/campurkan ke dalam adonan dan aduk.
7. Siapkan adonan cokelat dengan cara:
Ambil 1/4 adonan letakkan dalam wadah, lalu tambahkan 2 sdm cokelat bubuk, aduk rata.
8. Tuangkan adonan putih dan cokelat ke dalam loyang secara bergantian dan proporsional (menggunakan sendok) sampai adonan habis kemudian aduk sebentar searah dengan jarum jam dan aduk lagi ke arah sebaliknya agar terbentuk pola loreng gurun.
9. Masukkan loyang ke dalam oven yang telah panas. Panggang selama 45 menit hingga matang dan berwarna kecoklatan. Bisa menggunakan oven tangkring maupun oven listrik. Jenis dan kualitas oven berpengaruh terhadap waktu pemanggangan.
24 Agustus 2011
Di Sini Aku Berkhayal tentang Laut
18 Agustus 2011
Pelipur Lara
Terlalu sesak
Menekan
Mendesak
Lalu kukatakan kepadaMu
“Aku ingin menangis tapi tak bisa”
Seketika kasihMu seolah mengguyur
Sejuk bagai gerimis di tengah kemarau
Dan air mataku tumpah
Di atas sajadah
:Biarkan aku menangis...
17 Agustus 2011
Dirgahayu Indonesia
Setelah berurusan dengan "Mr. Bill" di kantor Telkom Kota Malang Jalan Ahmad Yani, saya dihadang gadis kecil berpakaian merah putih di pintu keluar. Ia menyodorkan selembar kertas putih berukuran 11x21 cm dengan latar gambar bendera yang tercabik di ujungnya. Saya ulurkan tangan menerima kertas itu dengan senyum sambil bertanya, “Kelas berapa Dek?” Agak tersipu dia menjawab, “Kelas enam.” Ya, gadis kecil kelas enam Sekolah Dasar (yang masih malu-malu) itu, memberi saya bahan renungan tentang kemerdekaan. Tulisan bergenre puisi tersebut (entah karya siapa), berjudul “Untuk Direnungkan…!!!” Isinya berupa ironi kemerdekaan. Tentang 66 tahun Indonesia merdeka, tentang penderitaan rakyat, tentang kesewenang-wenangan penguasa, dan kebobrokan birokrasinya. Lengkapnya seperti ini:
"Dirgahayu Indonesia...!!!
Semoga engkau tetap eksis walaupun cinta bangsamu telah terkikis"
07 Agustus 2011
TRILOGI STANZA
KAU
Malam temaram
Bulan sempurna tersipu mengintai di langit dalam pesta cahaya
Pandangmu menghunjam laksana pasupati yang melesat
Menancap di tubuh Dewabrata dan tersungkur di padang Kurusetra
Yang didamba telah tiba
Disambutnya kekasih sejati pada ajalnya
Karena Dewi Amba
Telah menyatu
dalam tikaman panah tepi Gangga
Dalam api yang menyala
Kau ungkap nyanyian jiwaSeirama gemericik air sungai
Yang mengalir ke ujung muara
Gerimis rahasiakan desah
Berpacu dalam harmoni detak hati
Bulan di langit
Dendangkan tembang asmaradana
Malam telah jauh
Jarum jam menyulam sepi
Bulan berselimut awan
Kelam langit pun sehitam jelaga
Angin berdesir
Selembar daun kering jatuh
Tergolek di pembaringan
Kau dan aku bersenyawa dalam jiwa
BULAN
Setiap kali
datang di belantara malam
Aku memandangnya pilu
Karena ia kabarkan tentang dirimu
Yang mengisi hari-hariku
Menerobos
batas ruang dan waktu
Memancar
redup di cakrawala kalbu
Hingga aku terbelenggu merindumu
Menapaki titian kasih di relung yang jauh
Tiada ujung batas untuk berlabuh
Laksana kuntum bunga mekar
Pada pohon patah tangkai
Tak mengaduh ia jatuh lalu kau rengkuh
Aku masih di
sini
Tak penat menanti
Sampai malam
pun pergi
Menyublim dalam mimpi abadi
GAZEBO
Penuh daya magis
Laksana teluk kehidupan
Yang menarik angan dan harapan
Bersamamu
Lalu kepadamu aku berbisik:
Kau, bulan, dan gazebo
Adalah lukisan indah dalam hidupku















