17 Agustus 2011

Dirgahayu Indonesia

Selasa, 16 Agustus 2011 pukul 10.30 WIB, sehari sebelum Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah berurusan dengan "Mr. Bill" di kantor Telkom Kota Malang Jalan Ahmad Yani, saya dihadang gadis kecil berpakaian merah putih di pintu keluar. Ia menyodorkan selembar kertas putih berukuran 11x21 cm dengan latar gambar bendera yang tercabik di ujungnya. Saya ulurkan tangan menerima kertas itu dengan senyum sambil bertanya, “Kelas berapa Dek?” Agak tersipu dia menjawab, “Kelas enam.” Ya, gadis kecil kelas enam Sekolah Dasar (yang masih malu-malu) itu, memberi saya bahan renungan tentang kemerdekaan. Tulisan bergenre puisi tersebut (entah karya siapa), berjudul “Untuk Direnungkan…!!!” Isinya berupa ironi kemerdekaan. Tentang 66 tahun Indonesia merdeka, tentang penderitaan rakyat, tentang kesewenang-wenangan penguasa, dan kebobrokan birokrasinya. Lengkapnya seperti ini:

Untuk Direnungkan

Salam Merdeka…!!!
Ya… sudah 66 tahun kata merdeka itu menyeruak di sanubari bangsa ini
Sudah 66 tahun bangsa ini merdeka dari penjajah bangsa lain
Berarti, sudah 66 tahun bangsa ini menentukan nasibnya sendiri
Kiranya 66 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk berbenah… iya kan?
Tapi, kita masih banyak melihat warga yang tidak berdaya
Tapi, kita masih sering menyaksikan warga yang tertindas oleh hukum
Tapi, kita masih selalu disibukkan oleh kriminalitas
Tapi, kita masih akrab dengan berita bentrok dan pertikaian
Tapi, kita senantiasa disuguhi berita manipulasi dan korupsi para pejabat
Merdeka…???
Mungkinkah ini kemerdekaan yang diharapkan oleh Founding Father Negeri ini?
Bukankah kemerdekaan ini bertujuan mensejahterakan dan memakmurkan rakyatnya???
Ternyata, sebagian rakyat masih belum merdeka
Padahal bumi di negeri ini sangat kaya bagaikan zamrud katulistiwa
Wahai pemimpin negeri ini…
Lihatlah kami sebagai warga yang kau pimpin dan kau didik
Ajari kami dengan santun dan bijak
Bukan dengan kebohongan dan keserakahan
Niscaya manipulasi dan korupsi akan sirna
Dan… di sanalah mungkin kita dapatkan kemerdekaan yang sejati
Salam merdeka…!!!

Sayang ,saya tidak sempat berdialog dengan gadis kecil itu. Seandainya bisa, saya ingin bisikkan kepadanya (walaupun sebenarnya dia sendiri belum tentu mengerti arti kemerdekaan): “Dek, bangsa dan negara kita memang sedang sakit, tetapi bagaimana pun kondisinya, jangan pungkiri bahwa Indonesia telah merdeka. Para Pahlawan telah berjuang dan mengorbankan segalanya untuk martabat dan harga diri bangsa bernama kemerdekakan. Founding Father telah memberikan yang terbaik untuk negeri ini. Jangan kau tanya lagi arti merdeka, bertanyalah kepada diri sendiri, dengan apa kita isi kemerdekaan ini. Tentang Kaya-miskin dan baik-buruk, itu adalah kisah hidup sepanjang masa. Keberadaannya bagaikan sekeping mata uang yang saling berdekatan sisi-sisinya, tak akan terpisahkan. Dan selalu ada sebagai pelangi dalam kehidupan. Seperti tarikan napas kita yang tak pernah sama, demikianlah dunia. Kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, korupsi, dll adalah persoalan bangsa yang kompleks, yang tak seorang pemimpin pun sanggup mengatasinya dengan mudah. Bila saat ini Ibu Pertiwi sangat terluka, percayalah bahwa putra-putri terbaiknya tanpa henti mengusahakan kesembuhannya. Mari berikan doa tulus kita, karena Tuhanlah muara segala harap. Maaf Dek, kata-kata ini terlalu berat untukmu, seberat amanat yang dibebankan kepadamu. Terima kasih atas bahan renungan yang kau berikan. Terima kasih juga karena kau telah menjadi inspirasi saya."

"Dirgahayu Indonesia...!!!
Semoga engkau tetap eksis walaupun cinta bangsamu telah terkikis"