23 Juli 2009

Untuk Anakku Seorang

(Kutulis puisi untuk anakku, gadis 12 tahun yang beranjak remaja. Kepadanya selalu kupanggil: Anakku, Sayangku, Cintaku seorang)

 

Suatu saat kau pasti mengerti

dan bisa menafsirkan makna lambang

serta simbol-simbol

yang selalu kau tanyakan

 

Suatu saat kau pasti mengerti

dan bisa menata serpihan yang tercecer

menjadi objek penuh estetika

seperti imajinasi unik

yang kau tuang dalam kertas gambarmu

 

Suatu saat kau pasti mengerti

dan bisa menikmati pahit manisnya kehidupan

laksana tangis dan tawamu dahulu

yang pernah sangat kurindukan

 

Suatu saat kau pasti mengerti

dan bisa menjawab pertanyaanmu sendiri

yang selalu tak pernah kupeduli

 

Suatu saat kau pasti mengerti

dan bisa menebarkan warna pelangi

yang sejak dahulu berpendar-pendar di hatimu

 

Suatu saat nanti...

(Semoga saat itu ada, menunggumu, walau tak lagi bersamaku,

Anakku, Sayangku, Cintaku seorang...)



Malang, 23 Juli 2009


21 Juli 2009

Analisis Struktur Novel "Pagar Kawat Berduri" Karya Trisnoyuwono

Banyak kenangan dan perjuangan ketika saya berproses menulis skripsi dengan mengimplementasikan kajian Struktural Genetik pada novel karya Trisnoyuwono berjudul "Pagar Kawat Berduri". Tulisan saya tersebut diarsipkan oleh Universitas Negeri Malang (UM) yang bisa diklik pada link: Kajian Struktur Novel "Pagar Kawat Berduri" Karya Trisnoyuwono, sebuah Pendekatan Struktural Genetik.


I. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Karya sastra adalah hasil seni kreatif yang membicarakan manusia dan kehidupan dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Wellek dan Waren (1990:3) yang mengatakan bahwa sastra adalah suatu kegiatan kreatif karya seni. Sebagai karya seni kreatif yang membicarakan manusia dengan segala kehidupannya, karya sastra tidak hanya sebagai media untuk mengungkapkan gagasan tetapi juga menampungnya dengan memberikan kreasi keindahan. Dengan demikian, dalam penciptaan karya sastra, seorang pengarang dituntut untuk memiliki kepekaan dalam mengamati segi-segi kehidupan untuk direfleksikan dalam bentuk karya sastra sebagai kreasi seni. Bahan-bahan dari kehidupan diseleksi dan disusun sesuai dengan ciri individu pengarang masing-masing.

Karya sastra terbentuk oleh unsur-unsur yang saling berjalinan menyusun satu kesatuan. Seperti yang dikatakan Teew(1988:23), bahwa struktur karya sastra adalah bangun keseluruhan yang terdiri atas bagian-bagian yang masing-masing saling berjalinan. Ada dua hal pokok dalam memahami karya sastra, yaitu (1) kerangka sejarah sastra, dan(2) kerangka sosial budaya yang mengitari karya sastra tersebut.

Novel Pagar Kawat Berduri karya Trisnoyuwono merupakan refleksi sejarah yang digali dari pengalaman pribadi pengarangnya sebagai seorang tentara pada zaman revolusi. Novel tersebut menggambarkan kehidupan sosial yang serba tertekan pada masa perang yang dialami tokoh atau wira bermasalah. Seperti yang diungkapkan oleh Trisnoyuwono (dalam Esten, 1983:80) sebagai berikut:
"Selama ini aku menulis lebih banyak berdasarkan pengalaman-pengalamanku, tentunya karena aku belum mampu mempertanggungjawakan hal-hal di luar pengalamanku. Tapi bukan berarti bahwa yang kuceritakan itu semacam kisah nyata. Kuambil bagian-bagian pengalamanku itu, kuaduk dengan khayal, kureka-reka, kupikirkan dan kurasakan,sehingga menjadi suatu kebulatan menurut ukuranku."

Pengakuan Trisnoyuwono tersebut sama dengan penilaian Ajip Rosidi (1986:27) yang mengatakan bahwa Trisnoyuwono menjadi terkenal oleh karya-karyanya yang melukiskan kehidupan tentara dan keadaan pada pada waktu revolusi. Kisah-kisahnya digali dari pengalaman hidupnya yang dialami dengan tubuh dan jiwanya.Melihat karya sastra daari berbagai dimensi memang sulit, tetapi dapat digali dari dimensi historis, sosial, dan budaya dalam kaitannya dengan dunia pengarang pada saat mencipta atau sebelum mencipta karya sastra. Sehingga karya sastra dapat dikaji dengan bantuan unsur-unsur di luar karya sastra tersebut. Dalam kaitannya dengan analisis karya sastra, cara semacam itu menurut penulis merupakan langkah maju karena karya satra telah diakui sebagai totalitas yang saling berkorelasi antara unsur intrinsin dan unsur ekstrinsiknya.

1.2. Rumusan Masalah

Masalah kajian ini dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
1) Bagaimana alur novel Pagar Kawat Berduri?
2) Bagaimana keterkaitan antara alur dengan penokohan dalam novel Pagar Kawat Berduri?
3) Bagaimana keterkaitan antara alur dengan setting dalam novel Pagar Kawat Berduri?
4) Bagaimana keterkaitan antara alur dengan tema dalam novel Pagar Kawat Berduri?
5) Bagaimana keterkaitan antara alur dengan novel Pagar Kawat Berduri dengan latar belakang
    budaya Trisnoyuwono?

1.3 Tujuan

Bertolak dari rumusan masalah, tujuan kajian terurai sebagai berikut.
1) Mendeskripsikan alur novel Pagar Kawat Berduri.
2) Mendeskripsikan keterkaitan antara alur dengan penokohan dalam novel Pagar Kawat
    Berduri.
3) Mendeskripsikan keterkaitan antara alur dengan setting novel Pagar Kawat Berdur.
4) Mendeskripsikan keterkaitan antara alur dengan tema novel Pagar Kawat Berduri.
5) Mendeskripsikan keterkaitan antara alur novel Pagar Kawat Berduri dengan latar belakang
    sosial budaya Trisnoyuwono.

1.4 Manfaat

1.4.1 Manfaat bagi Pengajaran Sastra

Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pelaksanaan proses belajar mengajar sastra, terutama bagi siswa SMA jurusan Bahasa. Dapat digunakan oleh guru sebagai salah satu media ajar Apresiasi Sastra Indonesia. Dan dapat digunakan oleh siswa sebagai referensi sehingga tidak terpaku pada apresiasi sastra yang terbatas pada aspek formal karya sastra. Siswa tidak hanya menganalisis karya sastra hanya pada unsur intrinsik saja, tetapi juga memperhatikan unsur ekstrinsiknya. Berkaitan dengan pengajaran apresiasi maupun kritik sastra, hasil kajian ini dapat membantu pengajar sastra dalam memberikan model kerja pendekatan struktural genetik.

1.4.2 Manfaat bagi Pembaca

Hasil kajian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca secara umum untuk menambah wawasan kesusastraan Indonesia, terutama isi novel Pagar Kawat Berduri karya Trisnoyuwono berdasarkan unsur intrinsik dan unsur ekstrinsiknya.

1.4.3 Manfaat bagi Kritikus Sastra

Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi kritikus sastra, terutama mengenai interpretasi struktur novel Pagar Kawat Berduri karya Trisnoyuwono yang dikaji dalam keterkaitannya dengan biografi dan latar belakang sosial budaya pengarang. Sehingga dapat mengembangkan wawasannya dalam khasanah studi kritik sastra.

1.5 Penegasan Istilah

Guna memperjelas dan menghidari terjadinya kesalahan persepsi akibat pemakaian istilah-istilah, maka dalam kajian ini perlu adanya penegasan istilah sesuai dengan judul kajian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, istilah-istilah yang digunakan ditegaskan berdasarkan pengertian yang relevan sebagai berikut.

Analisis
1) Penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta
    hubungan antar bagian-bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti
    keseluruhan.
2) Penguraian karya sastra atas unsur-unsurnya untuk memahami pertalian antar unsur-unsur
    tersebut.

Unsur intrinsik
Unsur yang terkandung dalam karya sastra yang membangun keutuhan cerita, sepereti alur, penokohan, setting, dan tema.

Unsur ekstrinsik
Unsur yang berada diluar karya sastra dan turut mewarnai cerita, seperti biografi pengarang, keadaan zaman pada saat karya sastra diciptakan, sosial, budaya, dan politik.

Novel

Sebuah genre satra yang berbentuk prosa, memiliki unsur fiksional dalam struktur formal berupa teks, dan memiliki kesatuan yang dibentuk oleh jalinan antar unsur-unsurnya.

Pagar Kawat Berduri
Sebuah novel karya Trisnoyuwono yang diterbitkan oleh penerbit Djambatan di Jakarta tahun 1963.

Media pembelajaran
Perantara atau penghubung untuk mencapai tujuan dalam proses belajar mengajar.

Apresiasi sastra
Penilaian atau penghargaan terhadap karya sastra melalui proses membaca, memahami, dan
menganalisis.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Novel

Esten (1990:12) mengemukakan bahwa novel merupakan pengungkapan dri fragmen kehidupan manusia dalam jangka waktu lebih lama, dan didalamnya terjadi konflik-konflik yang menyebabkan perubahan jalan hidup (nasib) para pelakunya.Pengertian lain disampaikan oleh Tarigan (1986:164), bahwa novel adalah suatu eksplorasi atau kronik kehidupan dan penghidupan, merenungkan, dan melukiskan dalam bentuk tertentu, pengaruh, ikatan, hasil, kehancuran, atau tercapainya gerak gerik manusia.
 
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa novel adalah bentuk prosa fiksi yang menceritakan suatu kejadian dalam rentangan waktu tertentu yang ditandai adanya perubahan nasib para tokoh yang mengemban peristiwa. Novel merupakan suatu kesatuan yang dibangun oleh bagian-bagian yang saling berjalinan sehingga membentuk keutuhan secara keseluruhan. 

Novel sebagai wujud karya sastra tidak bisa dilepaskan dari pengarangnya. Pengarang menciptakan novel membutuhkan proses sebelum sampai kepada pembaca. Proses tersebut disebut proses kreatif, yang berkaitan erat dengan imajinasi dan kepekaan pengarang.

Ada berbagai pendapat mengenai unsur-unsur yang membangun novel secara utuh sebagai teks naratif. Sudjiman (1988) menyatakan bahwa struktur naratif dalam karya sastra novel ialah tema dan amanat, alur cerita, latar cerita, dan tokoh cerita. Sedangkan Abdullah (1983) berpendapat bahwa teks naratif terdiri atas unsur susunan peristiwa, teknik pengembangan cerita, struktur ruang dan waktu, dan penokohan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa unsur intrinsik yang dominan membangun karya novel adalah alur, penokohan, setting, dan tema. Mengingat tujuan kajian ini, maka unsur yang dibahas secara khusus adalah alur, sedangkan unsur penokohan dan setting dibahas dalam kaitannya dengan alur sebagai kesatuan pembentuk tema.

2.2 Alur

Alur cerita merupakan padanan plot. Aminuddin (1987) menyatakan bahwa alur merupakan rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa, sehingga membentuk cerita yang dihadirkan oleh para pelakunya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa alur merupakan tumpuan ide, tendens dan motif yang disalurkan dari peristiwa dan perwatakan dalam prosa fiksi. Alur memiliki struktur gerak dalam urutan peristiwa-peristiwanya sehingga membentuk tulang punggung cerita. Itulah sebabnya alur mengandung intelektual selain memori pengarang.
 
Jenis alur ada bermacam-macam, namun dalam kajian ini hanya dua jenis alur yang analisis. Berdasarkan urutan peristiwa, alur dibedakan atas alur linier dan alur flash back atau sorot balik. Berdasarkan tahapan-tahapan konflik, alur dibedakan atas alur datar dan alur menanjak.

Alur linier adalah alur yang susunan peristiwanya berurutan secara kronologis berdasarkan urutan waktu. Alur flash back atau sorot balik adalah alur yang peristiwa-peristiwanya dimulai dari masa kini ke masa lalu, atau perpaduan antara keduanya dengan dominasi peristiwa masa lalu. Alur datar adalah alur yang peristiwa-peristiwanya tidak sampai pada tahap klimaks. Sedangkan alur menanjak adalah alur yang peristiwa-peristiwanya sampai pada tahap klimaks.Tahapan-tahapan konflik dalam alur terdiri atas tahap paparan (perkenalan), rangsangan (munculnya pemicu konflik), gawatan (munculnya konflik), tikaian (konflik meningkat), rumitan (konflik semakin memanas), klimaks (konflik mencapai puncak), leraian (kadar konflik menurun), dan selesaian (penyelesaian cerita).

2.3 Penokohan
Menurut Aminuddin (1987), penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi. Penokohan yang paling sederhana adalah pemberian nama atau sebutan. Lebih lanjut penokohan dapat diidentifikasi dalam penggambaran fisik, jenis kelamin, umur, karakter, status sosial, dan lain-lain, yang dapat menghidupkan tokoh dalam cerita fiksi. Cerita-cerita yang memiliki tokoh seperti itu disebut cerita konvensional, sedangkan cerita yang tokoh-tokohnya menyimpang dari sifat manusia dalam kehidupan sehari-hari disebut cerita inkonvensional yang bersifat absurd.

Tokoh dalam cerita fiksi seperti halnya manusia dalam kehidupan sehari-hari yang memiliki karakter dan kebiasaan tertentu. Tokoh yang berkarakter baik disebut tokoh protagonis, sedangkan yang memiliki karakter buruk disebut tokoh antagonis. Tokoh yang memiliki peranan penting dalam cerita disebut tokoh utama, sedangkan yang perannya tidak terlalu penting disebut tokoh sampingan atau tokoh pembantu.

2.4 Setting
Setting adalah latar peristiwa dalam karya fiksi, baik berupa tempat, waktu, maupun peristiwa, serta mempunyai fungsi fisikal dan fungsi psikologis (Aminuddin, 1987:67). Menurut batasan tersebut, setting dibedakan menjadi setting tempat, setting waktu, dan setting suasana.
 
Keberadaan latar atau setting dalam suatu cerita sangat penting, hal itu tidak hanya dilihat dari fungsi tetapi juga dalam hubungannya dengan unsur intrinsik yang lain untuk membentuk sastu kesatuan mewujudkan tema cerita. Di mana, kapan, dan bagaimana tokoh berada dalam cerita, maka disitulah peran setting teridentifikasi. Selain memberi informasi tentang situasi ruang dan waktu, setting juga berfungsi sebagai proyeksi keadaan batin para tokoh dalam cerita.

2.5 Tema

Tema berasal dari bahasa Latin yang berarti ”tempat meletakkan sesuatu”. Selanjutnya dapat dirumuskan bahwa tema adalah gagasan atau ide dasar yang melandasai suatu karya sastra. Dari sudut pandang pengarang, tema merupakan sesuatu yang pertama diletakkan; sedangkan bagi pembaca, tema merupakan sesuatu yang terakhir didapatkan. Dalam proses membaca dan memahami sebuah karya sastra, pembaca dapat mengidentifikasi, alur, tokoh, dan settting, yang secara bersama-sama berjalinan mengantarkan pada perumusan tema.
 
Tidak ada prosa fiksi yang tidak menggunakan tema, karena tidak mungkin orang menulis sesuatu tidak tentang sesuatu. Pada dasarnya karya sastra mengatakan sesuatu, yaitu tentang hidup dan kehidupan.

2.6 Latar Belakang Sosial Budaya Pengarang

Pengarang merupakan orang pertama yang mempunyai keterikatan dengan hasil karyanya, seperti dikatakan Wellek dan Warren (1990:82), bahwa penyebab utama lahirnya karya sastra adalah penciptanya sendiri. Oleh karena itu agar dapat memahami karya sastra secara utuh diperlukan pengetahuan tentang latar belakang sosial budaya pengarang yang sedikit banyak memberi pengaruh terhadap karya sastra yang dihasilkan. Dengan pernyataan ini bukan berarti pembaca tidak dapat memahami sebuah karya sastra tanpa mengetahui latar belakang pengarang. Akan tetapi pemahaman tentang latar belakang pengarang dapat membantu pembaca untuk mengupas tuntas isi karya sastra, terutama karya-karya sastra yang tidak transparan dan multiinterpretasi. Sehingga pembaca dapat mengatasi kesulitan yang ditemui pada saat melakukan proses analisis. Oleh karena itu dalam konteks inilah biografi dan latar belakang pengarang bermanfaat bagi proses analisis karya sastra.
 
Berkaitan dengan sumber data dalam kajian ini, pengarang, Trisnoyuwono, dilahirkan dan dibesarkan di Jogjakarta, Jawa Tengah, 5 Desember 1926. Ia dan keluarganya menganut agama Islam. Tamat SMA pada tahun 1946. Ketika revolusi pecah, ia berumur 20 tahun dan mempunyai semangat yang kuat ikut berperang dan bergabung dengan tentara pelajar. Tahun 1947-1948 masuk korps mahasiswa di Magelang dan Jombang. Ia malang melintang dalam pertempuran di berbagai kota, dari Surabaya, Jombang, Magelang, Jogja, Semarang, Ambarawa, sampai Pasundan. Selain bertempur, ia juga mengadakan serangan gerilya, mencegat konvoi serdadu Belanda dengan berani. Pada Agresi Militer Belanda II tahun 1949, ia tertangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Ketika ia sakit dan dirawat di rumah sakit, ia bisa melarikan diri.

Trisnoyuwono menjalani hidupnya dengan penuh petualangan. Ketika penyerahan kedaulatan tahun 1950, ia hijrah ke Jakarta dan resmi menjadi TNI Divisi Siliwangi. Di tengah kesibukannya sebagai tentara, Trisnoyuwono mencoba untuk mengarang. Karena sering berkontemplasi untuk menghasilkan inspirasi tulisannya, ia dianggap gila dan dipecat dari kesatuannya. Sejak itu ia menjadi lebih giat menulis. Banyak karya yang telah dihasilkan, salah satunya adalah novel Pagar Kawat Berduri yang menjadi sumber data dalam kajian ini. Guna menghasilkan tulisan yang bermutu, Trisnoyuwono belajar dari hasil karya penulis besar dunia, seperti: Shakespiere, Andre Gide, Tolstoy, Anton Chekov, Dostoyevki, Guy de Maupassent, dan penulis-penulis Indonesia.

Kehidupan Trisnoyuwono sebagai orang Jawa sangat kental dengan budaya Jawa. Masyarakat Jawa terkenal dengan sikap dan sifat rumangsan, tepo seliro, mawas diri, budi luhur, nrimo ing pandum. feodalistik, fatalistik, lemah dalam mengambil keputusan, kekerabatan, kekeluargaan, mati raga, dan hipokrisi (Sutriano:1985).

Dalam kehidupan masyarakat Jawa terjadi stratifikasi sosial. Penyebab terjadinya stratifikasi sosial antara lain karena adanya kelompok-kelompok yang dihargai karena keturunan, kedudukan, kekuasaan, pekerjaan, ilmu pengetahuan, dan sebagainya. Dengan demikian setiap orang mempunyai situasi yang menentukan hubungannya dengan orang lain baik secara vertikal maupun horisontal dalam masyarakat. Stratifikasi semacam itulah yang melahirkan istilah wong cilik, priyayi, dan bangsawan. Masyarakat Jawa memiliki alat pencegah konflik, yang menurut Umar Kayam (1987) disebut the web of significance, dengan jalan mengembangkan jatmiko, hormat, rukun, edi peni dan adiluhung.
Semua itu ”menjerat” masyarakat Jawa menjadi konformis dengan keadaan yang selaras, teratur, damai, tenang, dan sejahtera. Hal tersebut akan terlaksana secara efektif apabila terdapat pemimpin yang informal dan tradisional dalam masyarakat.

Sejumlah norma, pranata sosial, politik, ekonomi, dan tradisi tersebut dapat diidentifikasi pengaruhnya terhadap karya yang dihasilkan oleh pengarang. Melalui kepekaan dan ketajaman inderanya, pengarang menangkap gejala zaman kemudian lahir keinginan untuk mengkomunikasikannya dengan masyarakat melalui karyanya.

Karya sastra tidak lepas dari penciptanya. Seorang penulis yang selalu berhubungan dengan kondidi sosial budaya tertentu dapat digunakan sebagai suatu petunjuk dari petunjuk-petunjuk yang lain. Oleh karena itu analisis unsur intrinsik dalam kajian ini akan dipadukan dengan analisis unsur ekstrinsik yang mendukung keutuhan karya sastra.

Mengenai keterkaitan antara kesatuan novel dengan latar belakang pengarang, Wellek dan Warren (1990) memberikan beberapa pandangan, antara lain (1) biografi pengarang dapat menerangkan dan menjelaskan proses penciptaan karya sastra yang sebenarnya; (2) kajian tentang latar belakang pengarang mengalihkan pusat perhatian dari karya sastra ke pribadi pengarang; dan (3) biografi pengarang dapat dipakai sebagai bahan untuk ilmu pengetahuan atau psikologi penciptaan artistik. 

Dalam kajian ini, pandangan tentang korelasi karya sastra dengan pengarang ditekankan pada poin pertama, yang mempelajari biografi dan latar belakang pengarang untuk menerangkan proses penciptaan karya sastra dan kemungkinan pengaruhnya terhadap kesatuan karya yang diciptakan.
Karya satra sebagai struktur yang memiliki hubungan timbal balik dengan aspek-aspek yang melatarbelakangi penciptaannya, antara lain kesejarahan pengarang, biografi pengarang, proses penciptaan, dan sosial budaya.

III. METODE


Metode adalah cara untuk bertindak secara sistematis dan terarah dalam upaya mencapai tujuan secara optimal. Metode yang digunakan dalam suatu kajian harus objektif, yakni terjadi kesesuaian dengan objek kodratnya. Demikian juga dengan kajian sastra harus mempertimbangkan keberadaan karya sastra yang akan dikaji. Setiap karya sastra memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan karya sastra yang lain. Karya sastra dipandang sebagai sistem, sebuah struktur yang keutuhannya dibentuk oleh kaitan tetap antar unsur yang ada di dalamnya. Dan keutuhannya memiliki keterkaitan dengan unsur ekstrinsik karya sastra tersebut.

Dalam kajian yang bersifat kualitatif ini digunakan metode dialektika. Metode dialektika adalah cara bertindak dan berpikir logis yang diawali dengan adanya tesis, antitesis, dan sintesis yang diterapkan pada objek bahasa. Metode dialektika diterapkan dalam cara kerja analisis sebagai berikut: (1) bermula dan berakhir pada teks sastra; (2) menekankan pada koherensi struktur karya sastra; (3) konsep yang digunakan adalah ”keseluruhan-bagian dan pemahaman penjelasan”, artinya karya sastra tidak dapat dipahami keseluruhannya tanpa memahami bagian-bagiannya; (4) gagasan individual dikatakan mempunyai arti apabila berada dalam konteks menyeluruh.

Secara ringkas, cara kerja metode dialektika adalah menganalisis struktur karya sastra dan menginterpretasikan keterkaitan antar unsur-unsurnya, kemudian menghubungkannya dengan latar belakang sosial budaya pengarang. Unsur-unsur yang dimaksudkan adalah alur dalam hubungannya dengan penokohan, setting, dan tema, serta identifikasi keterkaitannya dengan unsur ekstrinsik, yaitu latar belakang pengarang.

Selanjutnya, pengolahan data dalam kajian ini menggunakan teknik analisis, yang meliputi proses organisasi, interpretasi, dan evaluasi. Bertumpu pada teknik tersebut, maka langkah kerja analisis novel Pagar Kawat Berduri karya Trisnoyuwono dimulai dengan (1) membaca teks; (2) mengorganisasi struktur novel berdasarkan sekuen cerita; (3) mengidentifikasi keterkaitan alur dengan penokohan, setting, dan tema; (4) mengidentifikasi keterkaitan struktur novel dengan latar belakang pengarang; dan (5) menyimpulkan dan mengevaluasi struktur novel.


IV. DESKRIPSI HASIL ANALISIS UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK NOVEL PAGAR KAWAT BERDURI KARYA TRISNOYUWONO


4.1 Alur

Analisis Alur dilakukan dengan cara menyimpulkan data yang disajikan dalam teks. Dalam kajian novel Pagar Kawat Berduri karya Trisnoyuwono, analisis alur dibatasi pada dua jenis alur. Yaitu (1) jenis alur berdasarkan urutan peristiwa, dan (2) jenis alur berdasarkan tahapan peristiwa.

4.1.1 Jenis Alur Berdasarkan Urutan Peristiwa
 
Novel Pagar Kawat Berduri karya Trisnoyuwono tersusun atas peristiwa-peristiwa yang berangkaian membentuk sebuah teks. Untuk mengidentifikasi alur berdasarkan waktu, maka peristiwa-peristiwa dalam teks dipilah menjadi sekuen-sekuen ( untaian peristiwa). Dari urutan satuan teks yang berupa sekuen tersebut dapat diketahui jenis alur berdasarkan urutan peristiwa.

Sekuen pertama mendeskripsikan daerah pendudukan yang tampak tenteram di suatu sore , ketika cahaya matahari menyelimuti pegunungan yang membiru jernih di bumi Ambarawa. Suasana tiba-tiba berubah ketika muncul para pedagang yang menyelundup ke daerah pendudukan.

Pada Sekuen ke- 2 ditampilkan keberadaan dua orang pemuda pejuang yang menyamar di antara para pedagang, namanya Herman dan Toto. Mereka mengemban tugas dari Markas Besar Tentara di Jogja ( pada waktu itu pusat pemerintahan Indonesia berpindah ke Jogja). Tugas mereka mencari keterangan mengenai kemungkinan penyerbuan Belanda ke Jogja. Informan yang dicarinya adalah seorang kapten pemimpin gerakan bawah tanah yang dikabarkan hilang, namanya Krisna.

Kisah flash back tentang masa lalu Herman dan Toto dihadirkan dalam sekuen ke- 3. Di daerah pertempuran Mojokerto-Jombang, Toto menunjukkan keberaniannya ketika ia dan Herman terjebak patroli Belanda. Herman yang menyelamatkan pasukan dan Toto memancing serdadu Belanda dan menembakinya sampai mereka mundur dan tersesat. Keduanya mendapatkan penghargaan dari Komandan Daerah Pertempuran.

Sekuen ke- 4 kembali pada peristiwa masa kini yang berkisah tentang rombongan pedagang telah sampai di punggung bukit dan beristirahat. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan di tegalan dan sampai kebun kopi pada pukul lima sore.
 
Munculnya konflik terdapat pada sekuen ke- 5, ketika mereka sampai di jalan besar. Karena peristiwa itulah awal malapetaka yang menimpanya. Pada waktu mereka bersembunyi di rumah kosong, dan Pak Ijan yang mengenal medan mencoba mengintai keadaan, meletuslah bunyi tembakan dari serdadu Belanda yang sedang berpatroli. Pak Ijan tertembak, dan semua ditangkap.

Mereka dibawa ke markas IVG Ambara untuk menjalani pemeriksaan (sekuen ke- 6). Masalah semakin pelik karena Herman dan Toto yang secara fisik berbeda dengan yang lain, menimbulkan kecurigaan tentara Belanda. Keduanya dicurigai sebagai mata-mata republik, atau pejuang yang menyamar. Pada proses pemeriksaan, Herman dan Toto dipisahkan dari rombongannya.

Pada sekuen ke- 7, Herman dan Toto dipindah ke markas IVG Salatiga. Dalam interogasi mereka tidak mengakui jati dirinya sehingga disiksa sejak pagi sampai sore hari, kemudian dijebloskan ke dalam sel. keesokan hari keduanya ditelanjangi, tubuhnya dialiri listrik sampai meraung-raung. Demikian penyiksaan itu berlangsung selama satu minggu.

Selanjutnya Herman dan Toto dipindah ke kamp tawanan yang terletak di penjara umum Salatiga ( sekuen ke- 8), mereka tetap tidak mengakui jati dirinya. Belanda tetap menganggap keduanya sebagai orang yang berbahaya baginya.

Sekuen ke- 9 berisi peristiwa flash back tentang mantan komandan kamp yaitu De Groot, yang sekarang digantikan oleh Koenen. De Groot seorang komandan kejam yang memperlakukan tawanan seperti binatang. Pernah ia menghukum tawanan sampai giginya tanggal hanya karena kurang sempurna dalam membersihkan kamar mandi. Masa lalu De Groot dikomparasikan dengan komandan baru yaitu Koenen yang berbeda sifat dengan pejabat sebelumnya.

Para tawanan dipekerjakan setiap hari seperti budak (sekuen ke- 10). Mereka mengangkut batu dan pasir dari sungai, menumpuknya di tepi jalan, dan memecahinya kecil-kecil. Sebagian yang lain membersihkan ruang dan pekarangan.
 
Selesai bekerja dan makan siang, para tawanan dimasukkan kembali ke dalam sel
(sekuen ke- 11). Herman dan Toto terkejut ketika mereka melihat orang yang selama ini dicarinya, Kapten Kresna. Ternyata Kapten Kresna telah tertangkap lebih dahulu, namun di dalam sel itu ia dikenal sebagai Parman. Rupanya Kapten Kresna berhasil dalam penyamarannya. Parman sebenarnya telah lama mengamati Herman Toto. Kemudian mereka berunding tentang tindakan selanjutnya.
Pada sekuen ke-12 ketika para tawanan bekerja dilapangan, Parman menyampaikan rahasia tentang rencana penyerbuan Belanda ke Markas Besar TNI di Jogja. Parman mendengarnya karena ia bebas keluar masuk rumah Koenen, komandan yang selalu dikalahkannya dalam bermain catur. Herman dan Toto harus melarikan diri untuk melaporkan berita itu.

Peristiwa semakin tegang pada sekuen ke- 13, Parman menjelaskan kepada Herman dan Toto tentang cara melarikan diri, alat yang digunakan, jalan mana yang akan dilaluinya, dan waktu yang tepat untuk melaksanakannya. Parman telah mencuri sebuah tang kecil di rumah Koenen pada saat ia diundang bermain catur.

Konflik terasa meningkat (sekuen ke- 14) ketika rencana pelarian dimajukan. Parman memberitahu Herman dan Toto bahwa mereka harus pergi malam nanti. Siang itu tugas telah dibagi. Herman membawa surat penting yang dimasukkan ke dalam jahitan bagian bawah celananya. Sedangkan Toto bertugas memutuskan kawat-kawat berduri yang melingkupi kamp sebanyak tiga lapis.

Konflik memuncak pada sekuen ke- 15, Herman dan Toto mulai melarikan diri pada pukul satu dini hari. Parman membantu membukakan pintu dengan alat sebuah kawat. Kemudian mereka mengendap-endap menuju ke belakang sambil menghindari sorotan lampu sokle menara yang selalu berputar. Herman dan Toto melewati kamar mandi, dan merapat pelan-pelan ke pagar kawat berduri. Dengan rakus Toto memotong kawat-kawat. Akan tetapi, pada lapisan ke tiga kawat semakin sulit tiputuskan. Pada saat itulah seorang serdadu sorot lampu sokle mengenai tubuh keduanya. Rentetan tembakan menggetarkan kesunyian malam. Toto tertembak mati dan Herman berhasil meloloskan diri dengan surat di jahitan celananya. Herman lenyap ditelan kegelapan dalam kebun kopi. Mendengar suara tembakan itu, Parman merasa tak mampu berdiri lagi.

Sirine tanda bahaya menjerit-jerit (sekuen ke- 16), komandan Koenen membangunkan semua tawanan, membariskannya, dan menghitung jumlahnya. Kurang dua. Setelah dicek, ternyata Herman dan Toto tidak ada. Koenen menghampiri mayat yang tergeletak, membalik tubuhnya, dan sangat terkejut melihat tang miliknya dalam genggaman Toto. Ia ingat Parman, karena hanya dialah yang bebas ke rumahnya. Parman, orang yang sangat dikaguminya ternyata berkhianat.
 
Pada sekuen ke- 17, Koenen kehilangan kepercayaan, kalut, pusing, dan tidak sanggup menahan untuk menarik pelatuk pistolnya. Koenen bunuh diri. Keesokan paginya, ketika ayam jantan berkokok tiga kali, terdengar suara tembakan. Parman dieksekusi oleh kopral serdadu Belanda bernama Boy.
Berdasarkan urutan peristiwanya, novel Pagar Kawat Berduri beralur linier. Peristiwa-peristiwa disusun secara kronologis dari masa lalu ke peristiwa masa depan. Walaupun alur linier tersebut diberi variasi peristiwa-peristiwa flash back, dominasi alur maju tidak terganggu.

4.1.2 Jenis Alur Berdasarkan Tahapan Konflik

Alur novel Pagar Kawat Berduri karya Trisnoyuwono disusun atas tahapan-tahapan peristiwa yang mengandung konflik. Tahapan-tahapan konflik tersebut dapat diidentifikasi dalam setiap sekuen yang membentuk kesatuan cerita. Berikut kerangka tahapan alur.

Tahap Paparan

Herman dan Toto, tentara pelajar yang mengemban misi dari markas besar TNI , menyamar di antara para pedagang yang memasuki daerah pendudukan Belanda di Ambarawa.

Tahap Rangsangan

Rombongan pedagang penyelundup yang akan melalui jalan besar tertangkap oleh patroli Belanda, termasuk Herman dan Toto.

Tahap Gawatan

Herman dan Toto dicurigai sebagai mata-mata oleh Serdadu Belanda, sehingga dalam pemeriksaan mereka disiksa karena tidak mengakui jati dirinya.

Tahap Tikaian

Herman dan Toto dijebloskan ke kamp tawanan Salatiga. Bertemu Kapten Kresna (Parman), pemimpin gerakan bawah tanah yang dinyatakan hilang. Mereka merencanakan melarikan diri untuk menyampaikan informasi rencana penyerbuan Belanda ke Markas Besar TNI.

Tahap Rumitan

Herman dan Toto melarikan diri dengan bantuan Parman yang telah mencuri tang di rumah Koenen sebagai alat. Herman membawa surat rahasia dan Toto bertugas memotong pagar kawat berduri berlapis tiga yang melingkungi kamp tawanan.

Tahap Klimaks

Ketika sedang memutuskan kawat lapis ke tiga, mereka tersorot lampu sokle menara penjara, Toto tertembak mati dan Herman yang membawa surat berhasil lolos. Herman lenyap dalam kegelapan kebun kopi.

Tahap Leraian

Tang yang masih tergenggamdi tangan Toto membuat Koenen kehilangan kepercayaan dan sangat kecewa. Parman, tawanan yang amat dipercaya dan dikagumi, ternyata berkhianat dengan mencuri tang miliknya serta mendalangi pelarian itu.. Penyamaran Parman terbongkar. Koenen menembak kepalanya sendiri.

Tahap Selesaian

Keesokan hari, Parman dieksekusi. Ia ditembak mati oleh serdadu Belanda tepat ketika ayam jantan berkokok tiga kali.


Berdasarkan tahapan-tahapan konflik di atas dapat disimpulkan bahwa novel Pagar Kawat Berduri Karya Trisnoyuwono beralur menanjak, yaitu konflik cerita berderap sampai klimaks.

4.2 Keterkaitan antara Alur dengan Penokohan

Keterkaitan antara alur dengan penokohan akan terlihat secara jelas apabila diketahui lebih dahulu deskripsi penokohan. Oleh karena itu sebelum menganalisis keterkaitan antara alur dengan penokohan akan dibahas dahulu deskripsi tokoh-tokoh dalam novel Pagar Kawat Berduri karya Trisnoyuwono.
Banyak tokoh yang turut mengemban peristiwa dalam novel Pagar Kawat Berduri, tetapi hanya tokoh-tokoh inti yang akan diidentifikasi penokohannya, yaitu Herman, Toto, Kapten Kresna, dan Komandan Koenen.

a. Deskripsi Tokoh Herman
Herman seorang seorang pejuang yang berpengalaman dalam menjalankan tugas rahasia. Ia sangat loyal kepada bangsa dan negaranya. Dalam menghadapi sesuatu, Herman selalu tenang dan hati-hati. Ia cerdik dan cerdas, serta tabah dalam menghadapi penderitaan. Secara fisik Herman digambarkan dengan tubuh yang tidak begitu tinggi, matanya bagus, serta kulitnya halus dan licin.

b. Deskripsi Tokoh Toto
Toto seorang pejuang yang rela berkorban demi bangsa dan negaranya. Ia berkarib dengan Herman sejak pecah revolusi. Toto sangat pemberani, keras, mudah marah, dan ceroboh. Ia juga tidak sabar dan kurang bisa mengendalikan diri. Secara fisik ia tidak begitu digambarkan oleh pengarang. Hanya dijelaskan bahwa ia masih muda dan warna kulitnya agak hitam. Dalam penyamarannya ia dan Herman mengaku sebagai pelajar yang akan melanjutkan sekolah di Semarang.

c. Kapten Tokoh Kresna
Kapten Kresna, seorang pemimpin gerakan bawah tanah di wilayah Jawa Tengah, yang menyamar sebagai guru SMP bernama Parman. Ia orang yang dicari oleh Belanda karena dianggap berbahaya. Karakternya tenang, sederhana, simpatik, sehingga disegani setiap orang yang mengenalnya. Ia mahir bermain catur, bahkan Koenen, komandan kamp tawanan, selalu dikalahkannya. itulah yang menyebabkan Koenen begitu kagum kepadanya. Ia bebas keluar masuk rumah dinas Koenen walaupun statusnya sebagai tawanan. Sehingga ia berhasil mencuri tang di rumah Koenen sebagai alat pelarian Herman dan Toto. Secara fisik, Parman digambarkan sebagai wujud seorang priyayi. Tubuhnya tinggi, wajahnya tampan, kulitnya kuning, hidungnya mancung, dan matanya bagus. Ia diibaratkan seperti emas. Ia memperoleh simpati dari berbagai kalangan, baik bangsa sendiri maupun bangsa musuh. Ia cerdas, cerdik, dan mempunyai kemampuan luar biasa untuk mengatur dan merencanakan sesuatu.

d. Deskripsi Tokoh Koenen
Koenen seorang komandan kamp berpangkat sersan mayor. Ia sebenarnya mahasisiwa sebuah universitas di Amsterdam, karena adanya peperangan, ia dikirim ke Indonesia. Meskipun musuh, ia baik dan menghargai orang Indonesia, khususnya para tawanan. Ia menjunjung nilai kemanusiaan. Koenen Bahkan memberikan gitar dan harmonika kepada tawanan untuk mengusir rasa sepi. Koenen gemar bermain catur, ia telah menemukan lawan main yang selalu mengalahkannya. Dialah Parman, seorang tawanan yang sebenarnya adalah Kapten Kresna. Koenen sangat kecewa ketika Parman mendalangi pelarian Herman dan Toto. Ia kehilangan kepercayaan kepada manusia, bahkan kepada dirinya sendiri. Ia bunuh diri. Secara fisik Koenen digambarkan sebagai orang yang rapi, bersih, dan mukanya licin, rambutnya selalu disisir rapi.

Alur dalam sebuah karya fiksi tidak akan terwujud tanpa adanya tokoh. Tokoh-tokoh terbutlah yang menggerakkan alur novel Pagar Kawat Berduri. Mulai tahap paparan sampai tahap selesaian tampak jelas peran tokoh dalam menggerakkan alur. Tokoh dengan pemberian karakter tertentu juga mempengaruhi pergerakan dan perkembangan alur yang terjadi. Seperti pada tahap klimaks, pemberian karakter pemberani, nasionalis, dan tabah, meyebabkan terjadinya peristiwa pelarian tokoh Herman dan Toto. Sifat tenang dan hati-hati tokoh herman menyebabkan ia diberi kepercayaan untuk membawa surat rahasia. Dan sifat itu pula yang mengakibatkan ia selamat dan lolos pada saat melarikan diri. Sifat Toto yang pemberani tetapi ceroboh, tidak sabar, dan mudah marah menyebabkan ia gagal dalam pelarian itu dan tertembak mati oleh serdadu Belanda.

Parman dengan sifat yang dimiliki selalu berhasil dalam merencakan sesuatu. Ia berhasil dalam penyamarannya, walaupun tertangkap, ia tidak diketahui jati dirinya. Ia berhasil mencuri informasi rencana penyerangan Belanda ke Markas Besar Tentara. Ia juga berhasil menyusun dan melaksanakan pelarian Herman dan Toto dari tahanan. Bahkan sampai mati ia tetap dikenal sebagai Parman.
Dari bukti-bukti tersebut sudah menunjukkan bahwa alur dan penokohan mempunyai hubungan yang saling mempengaruhi. Jika penokohan dalam novel Pagar Kawat Berduri diubah, maka akan terjadi perubahan juga pada alurnya. Alur yang tersusun atas rangkaian-rangkaian peristiwa tidak akan berkembang secara dinamis menuju tahapan-tahapan apabila tidak ada seorang tokoh pun yang dihadirkan oleh pengarang di dalam cerita.

4.3 Keterkaitan antara Alur dengan Setting

Setting adalah latar peristiwa dalam karya fiksi yang dapat berupa tempat, waktu, maupun suasana. Berikut adalah setting-setting yang dominan dalam novel Pagar Kawat Berduri karya Trisnoyuwono.

a. Setting Tempat
Setting tempat dalam novel Pagar Kawat Berduri karya Trisnoyuwono, secara umum berupa daerah pertempuran di wilayah Jawa Tengah, khususnya Salatiga, Ambarawa, dan Jogja. Namun, secara spesifik cerita difokuskan dalam kamp tawanan atau penjara yang dilingkungi pagar kawat berduri berlapis tiga dengan penjagaan ketat.

b. Setting Waktu
Secara umum peristiwa dalam novel Pagar Kawat Berduri karya Trisnoyuwono terjadi pada tahun 1948, yaitu pada masa Agresi Militer Belanda II. Secara khusu waktu dijelaskan dengan penanda-penanda tertentu, misalnya pagi, siang , sore, setelah jam kantor bubar, pada saat ayam jantan berkokok, dan matahari condong ke barat. Selain itu juga menggunakan keterangan pukul, hari, dan tanggal.

c. Setting Suasana
Setting suasana adalah keadaan yang dirasakan oleh pembaca berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerita. Suasana yang mengawali novel ini adalah damai, ketika rombongan pedagang memasuki daerah pendudukan. Suasana digambarkan tenang, dan tenteram pada sore hari ketika matahari sore menyelimuti gunung yang membiru di Ambarawa.
Suasana mulai berubah tegang dan mencekam ketika Herman dan Toto bersama rombongan pedagang tertangkap dan diperiksa. Selanjutnya suasana haru, sepi, bercampur mencekam ketika para tokoh protagonis merencanakan pelarian dari kamp tawanan. Puncak suasana mencekam terjadi pada tahap klimaks, ketika Toto tertembak mati dan Herman lolos membawa surat rahasia. Suasana sedih ketika Koenen bunuh diri dan duka ketika Kapten Kresna dieksekusi mati.
Baik secara fisik maupun psikologis, setting mempengaruhi terciptanya alur dalam novel Pagar Kawat Berduri karya Trisnoyuwono. Setiap peristiwa yang terjadi dapat diidentifikasi keberadaan setting, kapan, di mana, dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Jawaban pertanyaan tersebut adalah wujud setting yang sesungguhnya. Setting sebuah kamp tawanan memberi citraan yang harmonis dalam perjalanan tokoh-tokoh mengemban alur dalam novel ini. Dimulai dari kehadiran rombongan pedagang yang akan menyelundup, sampai di kamp tawanan pada saat Parman dieksekusi mati, merupakan gambaran jalinan antara alur dengan setting cerita yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain.

4.4 Keterkaitan antara Alur dengan tema

Setelah diidentifikasi alur, penokohan, dan setting, dapat dirumuskan tema novel Pagar Kawat Berduri karya Trisnoyuwono, yaitu Perjuangan dan pengorbanan warga negara dalam mempertahankan kemerdekaan. Demi cintanya kepada tanah air, Herman, Toto, dan Parman, serta para pejuang yang lain rela kehilangan harta, benda bahkan nyawa.

Tema tersebut dapat ditelusuri melalui motif-motif yang ada pada setiap rangkaian peristiwa atau alur novel Pagar Kawat Berduri. Selain itu juga dapat ditelusuri melalui kehadiran tokoh dan setting yang mendukungnya.

Berdasarkan tema di atas dapat dirumuskan amanat cerita, antara lain (1) Lebih baik mati dalam peperangan dari pada hidup terjajah; (2) Seburuk-buruk manusia adalah manusia yang berkhianat kepada bangsanya; (3) Berjuang membela bangsa merupakan kewajiban semua orang; dan (4) Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, oleh karena itu perjuangkanlah.

4.5 Keterkaitan antara Alur dengan Latar Belakang Sosial Budaya
Pengarang

Kesatuan novel Pagar Kawat Berduri mendapat pengaruh dari pengaranganya, yaitu Trisnoyuwono. Hal itu dapat diidentifikasi dari persamaan-persamaan atau kecocokan antara perjalanan hidup Trisnoyuwono dengan perjalanan tokoh-tokoh dan peristiwa yang dialami tokoh cerita. Bahkan kehidupan Trisnoyuwono sebagai tentara dalam revolusi kemerdekaan antara tahun 1948-1949 secara jelas tercermin dalam peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh. Meskipun demikian novel Pagar Kawat Berduri bukanlah suatu kisah nyata murni dari seorang tentara bernama Trisnoyuwono. Namun kisah hidup pengarang telah menjadi inspirasi atas terciptanya novel ini.Tidak hanya mewarnai alur, kisah pengarang juga tampak pada setting, karakter para tokohnya, bahkan pada tema cerita.

Namun, pada bagian akhir cerita rupanya hanya merupakan hasil imajinasi Trisnoyuwono karena peristiwa-peristiwa di akhir cerita sama sekali tidak pernah dialami Trisnoyuwono. Seperti tertembaknya Toto ketika melarikan diri dari kamp tawanan. Peristiwa terbongkarnya penyamaran Parman. Dan tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh Koenen. Serta peristiwa eksekusi mati Parman oleh Kopral Boy. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa alur novel Pagar Kawat Berduri memiliki keterkaitan yang erat dengan pengarangnya, baik ia sebagai tentara,sebagai orang Jawa, maupun sebagai pemeluk Islam.


V. PENUTUP

5.1 Simpulan

Berdasarkan deskripsi hasil analisis unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Pagar Kawat Berduri karya Trisnoyuwono, dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut.

1. Alur novel Pagar Kawat Berduri (1) berdasarkan urutan waktu berjenis alur linier dengan
variasi sorot balik; (2) berdasarkan tahapan konfliknya, novel Pagar Kawat Berduri
beralur menanjak.

2. Alur novel Pagar Kawat Berduri memiliki keterkaitan yang erat dengan unsur intrinsik dan
ekstrinsik, antara lain: penokohan, setting, tema, dan latar belakang sosial budaya pengarang.

3. Kesatuan novel Pagar Kawat Berduri mengangkat tema perjuangan dan pengorbanan
mempertahankan kedaulatan negara.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil analisis unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Pagar Kawat Berduri karya Trisnoyuwono, penulis menyampaikan beberapa saran sebagai berikut.

1. Bagi guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA

Hendaknya mengarahkan siswa dalam pembelajaran apresiasi sastra ke arah cara kerja
struktural genetik, yang memandang karya sastra memiliki korelasi yang erat dengan unsur
ekstrinsik. Dan tidak memandang karya sastra sebagai suatu yang otonom.

2. Bagi pengkaji selanjutnya

Kajian ini belum menyentuh aspek psikologi dan sosiologi secara luas, sehingga dapat
dijadikan objek kajian berikutnya dengan cakupan ranah kajian yang lebih luas.

04 Juni 2009

Sahabat

Sahabat, demikian saya menamai seseorang yang bersekutu dengan kita. Sahabat adalah anugerah, yang mau menjadi pendengar ketika kita bicara, yang dapat menasihati ketika kita alpha, yang menyemangati ketika kita lemah atau putus asa, yang rela membantu ketika kita membutuhkan, dan yang bisa menghibur ketika kita lara. Sahabat merupakan sosok yang dibutuhkan ketika ingin bertukar pikiran atau meminta pertimbangan.

Sahabat juga amanah, yang harus kita jaga perasaannya, yang harus kita atur interaksinya, dan yang harus kita pertahankan kelestariannya. Karena interaksi persahabatan ada kalanya tidak seperti yang kita harapkan. Bahasa, baik secara verbal mapun gesture berpotensi untuk mencederai persahabatan. Kadang menurut kita benar namun baginya hati telah tersakiti.

Apa yang kita pikirkan dan yang kita harapkan dari para sahabat harus ditanam juga di dalam diri sehingga kita pun dapat menjadi sahabat bagi orang lain. Ibarat simbiosis mutualisme, persahabatan hendaknya saling menguntungkan baik secara fisik maupun psikis dengan dasar ikhlas. Seorang sahabat dapat melakukan “psikoterapi” baik dengan sengaja maupun tanpa sengaja atas “penderitaan” orang lain melalui motivasi, sugesti, nasihat, hiburan, atau hal lain dengan berbagai metode.

Hari ini saya berpikir tentang seorang sahabat yang sedang berulang tahun. Sahabat yang memiliki kelembutan hati, penyayang, penuh empati, “good listener”, dan berani memberikan umpan balik sebagai koreksi dan evaluasi. Khususnya untuk topik-topik tertentu yang hanya padanya saya mendapatkan pencerahan. Fungsi sahabat tidak hanya membuat senang, dia terkadang membuat saya menangis. Menangisi kekonyolan dan kefatalan perbuatan serta kata-kata. Saya merasa sangat bersyukur memiliki sahabat seperti dia.

Saya selalu belajar dari sahabat saya tersebut meski dalam momen yang singkat sekalipun. Banyak hikmah saya peroleh dari intrik-intrik kosa kata yang terlontar dan mengimbas lebih banyak kepada saya, seperti sinar yang ditembakkan ke sisi cermin cembung dan menghasilkan sudut pembiasan lebih besar. Dalam proses pembelajaran tersebut, saya sampaikan pernyataan yang benar dan saya sampaikan pula pernyataan yang salah untuk memetik buah pikiran yang mungkin dalam “persembunyian”. Dari situlah saya dapatkan pelajaran tentang hidup dan kehidupan: tentang pentingnya harapan, kebenaran, kejujuran, ketaatan, komitmen, kepatuhan, kesetiaan, konsistensi, keberanian, etika, bahkan tentang bahasa.

Hasil Diskusi

"a friend in need is a friend indeed...?"

Tidak. Kita dan sahabat tidak seperti Boss dan bodyguard.
Masing-masing mempunyai ruang dan waktu tersendiri, kadang "dekat" dan kadang "jauh" (dekat dan jauhnya sahabat tidak selamanya bersifat fisik). Kita dan sahabat tidak harus ada komitmen, kepedulian dan apa pun yang dilakukan sahabat mengalir secara ikhlas seperti aliran sungai.
Sahabat boleh datang dan boleh juga pergi (kita tidak punya hak atas kemerdekaan sahabat). Namun, dengan datang dan perginya sahabat, seseorang bisa "menyerap/mendapatkan" sesuatu tanpa "harus" disadari oleh sahabat. (sahabat sering tidak menyadari bahwa dia telah memberikan "sesuatu" atau "berjasa" bagi orang lain).

"persahabatan bukanlah bisnis"

Aku setuju (berarti tidak ada untung rugi kan???) Namun, tidak semua orang tahu bahwa keuntungan yang didapat dalam persahabatan TIDAK SELALU "disengaja" atau "disadari". Dan tidak semua sahabat dapat "mengambil/mencuri" keuntungan dalam interaksinya. Demikian juga dengan kerugian. Sahabat terbentuk dari "pergulatan" yang serasi. Namun, sahabat tidak lah abadi, adakalanya pergi atau menghianati.

Namun, masih ada satu mata kuliah tentang “komitmen dan keputusan” yang belum saya peroleh simpulan dari diskusi berikut:”

”Bagaimana jika komitmen itu pada suatu saat nanti tak lagi ditepati?”
”Mungkin aku akan berpikir tentang ‘sesuatu’ yang pernah ditanyakan oleh seorang kawan.”

Jawaban saya ibarat umpan yang terpasang di mata kail, namun tak seekor ikan pun terjebak. Saya menginginkan tanggapan atas jawaban tersebut (sebenarnya pernyataan jawaban itu bukan representasi hati saya karena apa pun yang terjadi, keputusan saya adalah “so must go on”). Dan…sampai “acara mancing” berakhir, tak seekor ikan pun saya dapatkan.

(Karena menggunakan metafor ikan, saya tiba-tiba teringat kisah Nabi Musa as dan Nabi Khidir as, terutama tentang ikan tangkapan yang melompat ke laut. Sepintas sepertinya ada hal yang hilang, tetapi sesungguhnya justru menemukan sesuatu. Karena ikan tersebut menghilang di tempat Nabi Khidir as berada, seorang “guru” yang sedang dicari oleh Nabi Musa as, dan keduanya pun bertemu (Al kahfi: 61-66).

Kisah ikan tersebut saya tulis sebagai hadiah ulang tahun kepada sahabat saya.
Selamat Ulang Tahun, Sahabat....
Semoga Anda sekeluarga selalu dalam rahmat Allah swt.

18 Mei 2009

"I Love You Just The Way You Are"

Saya tertarik dengan kiriman seorang kawan di Milis Sarikata yang mengutip tulisan Clara Moningka dengan gaya "saya":

Saya sangat terharu ketika datang menghadiri perayaan hari ulang
tahun pernikahan ke-60 seorang kenalan. Betapa bahagianya pasangan
yang merayakan. Mereka duduk berdampingan sambil bergandengan
tangan. Senyum menghiasi wajah keduanya. Seorang rekan yang hadir
bertanya "Apakah kita bisa seperti mereka, punya cinta yang tak
tergerus waktu?"

Seiring dengan perkembangan zaman, pernikahan sebagai suatu ikatan
sakral antarmanusia mulai dipertanyakan. Perselingkuhan menjadi hal
yang biasa dilakukan. Perceraian pun lazim kita dengar dan kita
tanggapi secara biasa pula. Kesetiaan menjadi kata yang sulit
dilaksanakan. Sampai di manakah batas kesetiaan manusia? Akankah
cinta yang tadinya ada menjadi tiada? Apakah benar kita dapat
mencintai seseorang untuk selama-lamanya? Di saat susah, di kala
senang, sampai ajal memisahkan? Bagaimana mewujudkan cinta seperti
itu?

Saat saya berkumpul dengan beberapa orang teman, kami berbincang-
bincang mengenai makna kesetiaan dan hakikat pernikahan. Maklum,
beberapa di antara kita akan melangkah ke jenjang pernikahan.
Pernikahan menjadi topik seru yang diperbincangkan mulai dari
persiapan, pesta, hingga calon pasangan. Soal pasangan masing-masing
adalah hal paling menarik dibahas. Sampai di mana kita merasa cocok
dengan pasangan kita? Seorang teman mengisahkan pengalaman rekan di
kantornya yang membatalkan pernikahan meskipun waktu tinggal sebulan
lagi. Kami semua terkaget-kaget karena persiapan sudah sedemikian
mantap. Gedung tempat pesta sudah dibayar, foto prewedding sudah
kelar, undangan hampir disebar. Apa yang terjadi? Ternyata sang pria
merasa tidak siap untuk menikah dan merasa tidak cocok dengan sang
wanita. Padahal pasangan itu berpacaran lebih dari lima tahun.

Menyatukan dua orang dengan latar belakang yang berbeda, bahkan
sangat berbeda, bukanlah hal yang mudah. Budaya, pola asuh,
pendidikan, dan lingkungan keluarga serta pergaulan sangat
mempengaruhi perilaku seseorang dan kecocokannya dengan orang lain.
Terkadang yang kita anggap cocok saat ini, belum tentu cocok nanti.
Seiring dengan perjalanan waktu, kita tidak hanya melihat persamaan,
namun juga melihat perbedaan. Kemudian sampai di mana kita mampu
mengelola perbedaan tersebut menjadi sesuatu yang indah, di mana
yang satu dapat melengkapi yang lain? Bila kedua belah pihak tidak
dapat menerima perbedaan yang ada, atau malah hanya berdiam diri dan
menyimpan dalam hati tanpa membicarakannya, akan muncul masalah
dalam hubungan tanpa mereka sendiri.

Seringkali orang mencari pasangan berdasarkan penampilan fisik atau
materi semata. Padahal standar fisik (cantik, langsing, ganteng,
kekar) atau materi bersifat subjektif. Memang kadang hal tersebut
dapat membuat kita bahagia namun di mana esensi cinta?

Robert Sternberg, seorang psikolog mengemukakan konsepsi mengenai
cinta. Ia mengilustrasikan cinta dalam bentuk segitiga.

Cinta yang penuh atau lengkap adalah cinta yang disebut consummate
love, yakni kombinasi dari adanya keintiman (intimacy), hasrat
(passion), dan komitmen (commitment) . Cinta tanpa komitmen tidak
menunjukkan adanya kesetiaan dan saling mengasihi yang mendalam.
Cinta tersebut hanya karena nafsu, membara namun pada akhirnya
berpaling ketika ada objek cinta yang lain. Komitmen menandakan
adanya penerimaan antara yang satu dengan yang lain dan menjadikan
cinta sebagai sesuatu yang suci di antara mereka.

Di lain pihak, cinta tanpa hasrat merupakan cinta yang hampa.
Komitmen saja, misalnya karena terpaksa menikah karena pilihan orang
tua atau karena berhutang budi tanpa memiliki hasrat, menyebabkan
ikatan karena keharusan, bukan karena kerelaan. Baik, bila pada
akhirnya cinta dapat tercipta. Bila tidak, hubungan terasa hampa.

Cinta yang timbul karena komitmen dan hasrat semata, tanpa mau
mengenal pasangan lebih dalam dan berusaha memahami serta membangun
keintiman yang lebih dalam adalah cinta yang kekanak-kanakan.
Seperti cinta monyet. Esensi cinta juga sulit ditemukan dalam cinta
semacam ini. Masalah dapat timbul dan cinta dapat hilang begitu
saja.

Bila kita mampu membangun komitmen, mengenal pasangan kita lebih
jauh, memahami dirinya sebagai pribadi yang unik dan kita cintai,
memiliki hasrat untuk bersamanya, maka kita akan mendapatkan cinta
seutuhnya. Tidak mudah memang. Namun, belajar untuk menerima, saling
membangun satu sama lain, dan menyadari bahwa cinta saya adalah pada
pribadi ini dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya adalah cinta
yang sebenarnya.

Pada dasarnya, mewujudkan hal tersebut tidak semudah ketika saya
menuliskannya. Seperti telah diungkapkan di atas, menyatukan segala
perbedaan bukan hal yang mudah. Berusaha untuk menerima dengan
lapang dada, tidaklah mudah. Tetapi pasangan seperti apakah yang
kita cari? Sampai kapan kita akan menemukan pasangan yang sempurna?
Jawabannya tidak akan pernah ada kecuali kita sendiri yang
menciptakan kesempurnaan itu. Cinta yang timbul dari hati, dari
kejujuran dan ketulusan, love actually alias I love you just the way
you are. Hal tersebut pada akhirnya akan membantu kedua belah pihak
menyelesaikan masalah yang ada. Toh kita tidak akan tetap muda dan
terus mencari dan mencari. Suatu hari kita akan merasakan kerinduan
untuk berbagi dengan orang yang penting dalam hidup kita, ingin
menggenapkan tugas perkembangan kita yaitu membangun keluarga.

Pada saatnya nanti, pernikahan bukanlah permainan, bukan hanya
sekadar pesta, namun merupakan janji suci dua insan. Apakah akan
berakhir dengan kesedihan karena sikap egois dan seenaknya sendiri
atau berakhir bahagia hingga akhir waktu kita sendiri yang dapat
menentukan.



04 Mei 2009

Bina Mitra dan Pengembangan Diri Siswa

Bina Mitra Polisi-Sekolah 

Berdasarkan laporan pihak kepolisian, banyak anak usia remaja (dalam hal ini siswa) tidak hanya nakal, tetapi juga telah menjadi pelaku kriminal. Fenomena ini sangat mengkhawatirkan orang tua, guru, dan masyarakat umum. Oleh karena itu Dinas Pendidikan Kota Malang (khususnya SMA Negeri 7 Malang) bekerja sama dengan Polresta Malang dalam program Bina Mitra untuk menekan angka kenakalan dan kriminal yang dilakukan oleh siswa. Tim yang terdiri atas petugas kepolisian, Dinas Pendidikan, dan di dampingi oleh Kepala Sekolah serta Waka Kesiswaan, melakukan pembinaan dan razia secara berkala di kelas-kelas. 

Materi pembinaan meliputi: budi pekerti, sopan santun berlalu lintas, bahaya rokok, bahaya narkoba, hak dan kewajiban warga negara, dan hal-hal yang secara spesifik berkaitan langsung dengan gaya hidup remaja.

Sedangkan razia dilakukan terhadap telepon seluler dan barang-barang bawaan siswa yang berbahaya, atau mengandung unsur pornografi, pemeriksaan knalpot kendaraan bermotor, serta razia terhadap siswa yang berkeliaran di tempat umum pada saat jam sekolah. 

Tidak semua siswa menerima dengan baik pelaksanaan program ini, terutama siswa yang berkategori ”nakal”. Mereka selalu memandang segala sesuatu dari ”suka atau tidak suka”. Sehingga apa pun yang membuatnya tidak suka, pasti menolak, memberontak, atau bahkan melakukan perlawanan, termasuk penegakan peraturan dan disiplin sekolah yang ditangani oleh Tim Tatib. Para siswa lupa, bahwa memandang sesuatu seharusnya menggunakan ukuran ”benar atau salah”sehingga jelas sumber hukumnya. Korelasi antara pelanggaran dan hukuman yang terjadi (hukum sebab-akibat) pun jelas dan tidak perlu ada pertanyaan ”Mengapa saya dihukum?”. 

Berkaitan dengan Program Bina Mitra ini siswa "nakal" beranggapan bahwa kehadiran polisi di sekolah akan mengganggu proses belajar mengajar. Tentu pernyataan demikian tidak benar, karena hakikat belajar di sekolah adalah pembelajaran dan pendidikan. Dan belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan tingkah laku, dari tidak baik menjadi baik, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan dari tidak terampil menjadi terampil. 

Pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai metode sesuai dengan karakteristik siswa dan kondisi yang ada. Guna mengalihkan perbuatan siswa dari kenakalan dan kriminal tersebut, selain melaksanakan program Bina Mitra, sekolah juga memberikan fasilitas pengembangan diri. Sehingga siswa tidak memiliki banyak waktu luang yang bisa digunakan untuk melakukan perbuatan tercela.

Pengembangan diri diwujudkan dalam kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat sesuai dengan kondisi sekolah. Pengembangan diri bertujuan membantu kemandirian siswa agar potensi, bakat, minat, pengetahuan, sikap serta keunikan dirinya dapat berkembang secara optimal dalam hubungan pribadi, sosial, belajar dan karir melalui proses pembiasaan, pemahaman diri dan lingkungan serta pemanfaatannya untuk mencapai kebahagiaan hidup. 

Pengembangan diri dapat diaktualisasikan melalui: 
1. Penataan Kultur Sekolah 
2. Proses Pembelajaran 
3. Program BK 
4. Kegiatan Ekstrakurikuler 

Kegiatan ekstrakurikuler dalam hal ini harus memenuhi 4 fungsi:  
1. Pengembangan 
 Mengembangkan kemampuan dan kreativitas 
2. Sosial 
 Mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial 
3. Rekreatif 
 Mengembangkan suasana rileks, mengembirakan, dan menyenangkan 
4. Persiapan Karier 
 Mengembangkan kesiapan karier 

Guna memfasilitasi pengembangan diri siswa, SMA Negeri 7 Malang menyediakan 23 jenis kegiatan ekstrakurikuler, yaitu: BDI, Pramuka,Gulat, Mading Jurnalistik, Paduan suara, Sepak Bola, Futsal, Bola Basket, KIR, Karawitan, Karate, PMR, Paskibra, Pecinta Alam, Otomotif, Bola Voli, Tari, Cheerleader, Modern Dance, Break Dance, Broadcasting, Marching Band. Secara khusus pengembangan diri dapat uraikan sebagai berikut. - Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah. - Memanfaatkan layanan konseling BK - Melaksanakan upacara bendera. - Senam kesegaran jasmani - Sholat berjamaah di sekolah - Santun kepada orang lain. - Pemeriksaan kesehatan - Kunjungan ke perpustakaan - Memberi salam, sapa, dan senyum - Membuang sampah pada tempatnya - Budaya antri - Berpakaian rapi - Menghargai hasil karya orang lain - Datang tepat waktu - Hidup sederhana - Tidak merokok - Menaati peraturan sekolah - dll.

21 April 2009

Kartini Blogger

Pengantar:
Kawan saya,Trimatra, telah menominasikan blog saya sebagai satu dari 10 Creative blogging Female inspiring dalam peringatan hari Kartini 2009. Tulisan ini saya dedikasikan untuk dua orang "Kartini", mantan Kepala SMA Negeri 7 Malang, yang menjadi sumber inspirasi dalam hidup saya. Satu di antar Beliau adalah Pengawas Berprestasi Nasional 2008.


Selamat Hari Kartini: Bangkit dan Bersatulah Kartini-Kartini Indonesia

Jasmerah (jangan sekali-sekali melupakan sejarah). Ungkapan akronim itu pernah diucapkan oleh Bung Karno untuk mengingatkan kepada semua orang tentang pentingnya sejarah. Salah satu bagian dari sejarah adalah kisah R.A. Kartini dalam memperjuangkan kaum wanita. R.A. Kartini dilahirkan di Jepara , 21 April 1879. Dengan kesederhanaan sarana dan prasarana, putri Bupati Jepara tersebut mampu mengubah perlakuan adat yang konservatif terhadap kaumnya tanpa mengubah kodrat kewanitaan.

Beliau berjuang lewat pikiran,kata-kata, dan tindakan yang berani.Langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya, Kartini mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma. Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.

Namun, sebelum merasa lelah dari perjuangan panjang yang melelahkan, R.A. Kartini wafat dalam usia yang sangat muda, yaitu 25 tahun pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya. Semasa hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Dia mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda dia sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut.

Abendanon memberi judul untuk kumpulan surat-surat Kartini semasa hidup itu dengan “Door Duisternis tot Licht: Gedachten Over en Voor Het Javaansche Volk van Raden Ajeng Kartini” (Habis Gelap Terbitlah Terang: Pemikiran tentang dan untuk orang-orang Jawa dari Raden Ajeng kartini). Sungguh perjuangan dan pemikiran yang spektakuler bagi seorang perempuan pada zaman itu.

Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Hal penting yang perlu diingat oleh kaum wanita adalah R.A. Kartini bukan penganut faham feminisme. Perjuangan R.A. Kartini tidak pernah mengubah kodrat wanita yang mulia: sebagai seorang istri yang taat dan sebagai ibu yang penuh dedikasi. R.A. Kartini juga tidak memperjuangkan wanita agar mengambil alih peran laki-laki. Hal itu telah tersurat dalam Al Qur’an dengan sangat jelas:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[dari tulang rusuk] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An Nisaa: 1)

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka (An Nisaa: 34)


Di zaman ini, jiwa dan semangat Kartini telah mengaliri darah dan nadi wanita-wanita Indonesia. Bangkit dan bersatulah Kartini-Kartini Indonesia untuk menjalani profesi (apa pun) dengan jujur,ikhlas, dan tetap bersemangat. Perjuangan untuk bangsa, negara, dan agama, dapat dimulai dari perjuangan dalam keluarga, lingkungan sekitar, dan atau lingkungan tempat bekerja. Salut untuk Anda: wanita-wanita Indonesia yang telah mendedikasikan hidup untuk keluarga, bangsa, negara, dan agama.



19 April 2009

Bahasa itu Arbitrer


Suatu sore di Pelabuhan Tanjung Perak, saya turun dari kapal Ferry yang menghubungkan Pulau Madura dengan Surabaya. Saya bergegas naik buskota tujuan terminal Purabaya untuk melanjutkan perjalanan ke kota Malang.

Pada saat buskota mulai berjalan ada seorang penumpang laki-laki yang merasa salah jurusan. Dia berdiri hendak turun tetapi kesulitan karena bus penuh sesak. Dalam kesulitan dia berusaha menyibak penumpang yang berdiri di tengah buskota. Akhirnya perjuangannya pun berhasil. Sesampainya di dekat pintu belakang, dia berteriak-teriak minta turun.


Melihat hal itu kondektur yang berada di pintu depan juga berteriak sambil berkata “Alon Cak!” Namun, setelah mendengar teriakan kondektur tersebut penumpang itu langsung  meloncat dari bus dan jatuh terguling-guling di jalan.


Penumpang lainnya menjerit. Buskota berhenti. Sopir, kondektur, dan beberapa penumpang turun menolongnya. Polisi  yang berada tidak jauh dari tempat kejadian perkara segera merapat. Dengan menyeringai kesakitan, penumpang yang jatuh itu melapor kepada polisi. Dia menunjuk kondektur sambil berkata,

Aria Pak, se soroh sengkok aloncak!” (Artinya: Ini Pak yang menyuruh saya meloncat).


Tetapi kondektur tidak terima dengan tuduhan itu, dengan tegas dia menyela,

            “Tidak Pak, saya justru menyuruh dia pelan-pelan. Tapi setelah saya mengatakan “Alon, Cak! Dia malah meloncat.”


Polisi tersenyum, saya dan beberapa penumpang bahkan tertawa. Ternyata telah terjadi kesalahpahaman karena bahasamu dan bahasaku berbeda. Ucapan “alon cak” yang dalam bahasa Jawa berarti “pelan, Mas” ternyata didengar orang Madura sebagai “aloncak” yang berarti “meloncat”. Oleh karena itu ucapan kondektur tersebut dikira sebagai perintah untuk meloncat. Inilah salah satu bukti bahwa bahasa itu arbitrer, artinya bahasa itu bersifat sewenang-wenang, manasuka.

***

12 April 2009

Blog sebagai Media Pembelajaran Inovatif Berbasis ICT



Pengertian Blog

Blog merupakan singkatan web log, yaitu catatan online yang berupa teks, gambar, dan video yang tersusun secara hierarkis dan kronologis yang dapat diakses melalui browser internet. Blog pertama kali diperkenalkan oleh Jorn Barger pada akhir tahun 1997. Pada mulanya orang harus mengeluarkan biaya besar untuk membuat blog. Karena blog hanya bisa dibuat orang yang mengerti bahasa pemrograman, orang yang ingin memiliki blog harus membayar mahal seorang programer. Saat ini sudah banyak situs yang menyediakan layanan blog secara gratis dan tidak perlu memahami bahasa pemrograman internet seperti PHP dan MySQL. Internet (Interconnected-Network) merupakan sekumpulan jaringan komputer yang menghubungkan berbagai macam situs. Internet menyediakan akses untuk layanan telekomunikasi dan sumber daya informasi untuk jutaan pemakainya yang tersebar di seluruh dunia. Jaringan yang membentuk internet bekerja berdasarkan suatu set protokol standar yang digunakan untuk menghubungkan jaringan komputer dan mengamati lalu lintas dalam jaringan. Protokol mengatur format data yang diizinkan, penanganan kesalahan, lalu lintas pesan, dan standar komunikasi lainnya. Protokol standar pada internet dikenal sebagai TCP/IP (Transmission ControlProtokol/ Internet Protokol). Protokol ini memiliki kemampuan untuk bekerja pada segala jenis komputer, tanpa terpengaruh oleh perbedaan perangkat keras maupun sistem operasi yang digunakan. Layanan internet memperlihatkan perkembangan yang sangat pesat, karena menawarkan beberapa daya tarik atau keunggulan dibandingkan media lain.
Sebagai media komunikasi yang terkoneksi dengan internet, blog dapat di-update setiap hari dengan suatu aplikasi yang disediakan dalam web. Posting dalam blog tersusun secara teratur sesuai dengan urutan tanggal dan waktu. Blog dapat berperan sebagai bentuk jurnalisme pengganti televisi, radio, majalah, atau surat kabar. Bahkan blog dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang modern dan menarik. Dengan blog yang disediakan guru, siswa dapat berinteraksi dengan membaca, menonton, menyimak, menulis komentar, mengapresiasi, mengerjakan soal, menjawab pertanyaan, dll. Bahkan siswa dapat mencari literatur ke web lain dengan memanfaatkan link taut yang tersedia. Blog bagi seorang guru tidak hanya sebagai ajang kreativitas dan media pembelajaran, tetapi juga sebagai wujud eksistensi diri di tengah perkembangan ICT (Informasi, Komunikasi, dan Teknologi).

Blog sebagai Media Pembelajaran Inovatif

Blog sebagai media pembelajaran lebih memberikan informasi dan komunikasi secara interaktif dibandingkan dengan media lain. Informasi yang didapatkan lebih mudah, cepat, dengan jangkauan global. Pembelajaran dengan media ini menggunakan sistem Self Based Learning atau sistem pembelajaran mandiri. Dengan teknologi internet, pembelajaran dapat dilaksanakan secara online. Baik kegiatan belajar di kelas maupun tugas mandiri di luar kelas. Pemanfaatan media blog dalam kegiatan belajar di kelas memang memerlukan fasilitas perangkat komputer yang telah terkoneksi dengan internet, misalnya di kelas multimedia atau di laboratorium komputer. Sedangkan tugas mandiri dapat dilakukan peserta didik di mana saja, misalnya di sekolah, di rumah, atau di warung internet.
Dalam pembelajaran dengan media blog, guru harus memiliki blog pribadi yang notabene dirinya berperan sebagai administrator (admin) sekaligus maintenance. Dengan demikian, guru dapat mengelola dan mengisi blog dengan bahan ajar sebagaimana tertuang dalam silabus. Tentang manajemen kontens, blog dapat dikelola sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Guru dapat meng-upload materi pembelajaran sesuai dengan pokok bahasan.
Jenis kegiatan belajar dan bentuk tes dapat disesuaikan dengan RPP (Rencana Persiapan Pembelajaran) yang telah dibuat. Materi yang telah dimuat di blog dapat diperbaharui, dihapus, atau diganti. Sedangkan tulisan, gambar, atau film yang digunakan sebagai media, referensi, atau koleksi dalam pembelajaran, tetap dipertahankan keberadaannya karena dapat dijadikan stimulus untuk dikritisi siswa. Atau sebagai bahan diskusi kelompok tentang tema tertentu. Oleh karena itu guru harus menyediakan beberapa tulisan dengan tema yang bervariasi di dalam blog.
Kreativitas dan keterampilan guru dalam mengelola blog sangat berperan dalam menentukan kualitas media pembelajaran. Guru juga harus mencari inovasi-inovasi yang mendukung manajemen kontens blog yang dimilikinya. Sehingga siswa tidak merasa bosan bahkan tertarik untuk selalu memanfaatkan blog sebagai media pembelajaran modern berbasis ICT. Tidak hanya itu, siswa juga dapat termotivasi untuk gemar menulis dan berkreasi dengan membuat blog pribadi.
Oleh karena penulis adalah guru mata pelajaran Bahsa Indonesia, berikut penulis contohkan penggunaan media blog dalam proses belajar mengajar Bahasa Indonesia di SMA. Blog merupakan media yang efektif untuk praktik berbahasa Indonesia secara lisan maupun tertulis. Setelah membaca, mengapresiasi, dan menulis di blog, siswa dapat membawanya sebagai bahan presentasi di depan kelas. Dengan media blog semua aktivitas berbahasa dapat dilakukan, antara lain membaca, menulis, menyimak, apresiasi film, puisi, cerpen atau novel. Selain itu guru juga dapat memberikan reward kepada siswa yang mengerjakan tugas terbaik. Misalnya puisi terbaik, cerpen terbaik, essai terbaik, makalah terbaik, dll. Penghargaan tersebut dapat dilakukan dengan cara menampilkan tulisan terbaik mereka di blog sehingga dapat diakses dan diberi komentar oleh teman-temannya. Selain itu juga dapat dijadikan media dengan metode contoh-tiru.
Tidak semua siswa dapat menulis dengan mudah, sehingga perlu contoh-contoh yang diberikan oleh guru di blog. Contoh-contoh tersebut bisa karya guru, karya siswa, atau karya penulis besar Indonesia. Karya sastra misalnya, selain karya sendiri, guru perlu memuat karya sastrawan-sastrawan legendaris Indonesia. Selain memperkenalkan karya sastra juga memperkenalkan sastrawan yang telah menghasilkan karya-karya besar. Dengan demikian para siswa tidak merasa asing dengan nama-nama seperti Taufiq Ismail, Chairil Anwar, Putu Wijaya, Idrus, Zawawi Imron, dan para sastrawan lainnya.

Teknis Pembelajaran

Secara teknis, pembelajaran dengan menggunakan media blog dapat dilakukan dengan berbagai cara dan kondisi sebagai berikut.

• Di Kelas Multimedia Lengkap
Kelas multimedia lengkap memiliki fasilitas komputer yang telah terkoneksi dengan internet sebanyak jumlah siswa. Dalam kondisi seperti ini pembelajaran dengan media blog dapat dilakukan dengan mudah dan lancar. Guru tinggal memberikan alamat blog yang dapat diakses langsung oleh siswa. Bahkan panduan dan perintah-perintah kerja dapat dibaca oleh siswa di halaman blog yang telah tersedia. Siswa dapat dengan bebas memilih materi yang tersedia. Di samping itu siswa dapat berinteraksi langsung dengan menjawab soal, mengerjakan tugas, menulis komentar, atau mengirim email secara online. Dalam kegiatan pembelajaran ini, guru berperan sebagai teman belajar, fasilitator, dan motivator bagi siswa. Selain itu guru harus senantiasa memantau belajar masing-masing siswa untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya penyalahgunaan media internet pada saat belajar, misalnya bermain (game), chatting, atau mengakses situs porno (dalam hal ini bisa diantisipasi dengan blokade situs).

• Di Kelas Multimedia Tidak Lengkap
Kelas multimedia tidak lengkap memiliki fasilitas satu unit komputer yang telah terkoneksi internet dengan alat bantu LCD dan layar monitor. Dalam kondisi seperti ini pembelajaran dengan media blog dapat dilakukan dengan memanfaatkan layar monitor untuk menampilkan blog. Guru sebagai operator menayangkan blog, mengatur, dan memilih materi sesuai dengan pokok bahasan. Orientasi siswa terpusat di layar monitor. Siswa tidak dapat dengan bebas memilih dan membuka bahan ajar sesuai pilihan. Siswa juga tidak dapat mengerjakan tugas dan berinteraksi
secara langsung. Siswa dapat mengerjakan tugas secara tertulis di buku. Hanya tugas rumah yang dapat dikerjakan secara online di luar jam pelajaran, misalnya di rumah yang berlangganan internet atau di warung internet.

• Di Sekolah yang Berfasilitas Hotspot
Dengan fasilitas hotspot (jaringan tanpa kabel) di sekolah, pembelajaran dengan media blog dapat memanfaatkan komputer jinjing (laptop). Guru dan siswa dapat menggunakan laptop pribadi untuk kepentingan pembelajaran di sekolah. Siswa secara perorangan atau berkelompok (jika jumlah laptop terbatas) membuka blog dan berinteraksi secara online dalam pembelajaran yang menyenangkan.

• Di Kelas Konvensional
Kelas konvensional adalah kelas pada umumnya, yaitu kelas yang tidak memiliki fasilitas komputer dan tidak terkoneksi dengan internet. Dalam kondisi seperti ini, blog sebagai media pembelajaran masih bisa digunakan. Namun pemanfaatannya hanya sebatas tugas di luar jam pelajaran. Siswa dapat memanfaatkan ICT Center di sekolah atau warnet untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru. Kelemahan kondisi ini, guru tidak dapat memantau kegiatan siswa dari kemungkinan penyalahgunaan internet. Siswa yang berlangganan internet di rumah dapat mengerjakan tugasnya di rumah sehingga orang tua dapat memantau aktivitas putra-putrinya agar terhindar dari dampak negatif teknologi internet.

Interaksi belajar mengajar dapat terjalin dengan baik melalui blog. Selain bersifat audio visual, komunikasi pun dapat dengan bebas disampaikan tanpa harus malu berhadapan dengan guru, terutama siswa yang memiliki kepribadian tertutup dan pemalu. Siswa dapat menyampaikan kritik, usulan, aspirasi lain, curahan hati, atau karya-karyanya melalui email yang disediakan guru. Kemudian guru dapat merespon partisipasi para siswa baik secara langsung maupun melalui email. Dengan media berbasis ICT tersebut, siswa akan termotifasi untuk mengikuti kegiatan belajar dengan baik dan senang sampai berakhirnya jam pelajaran. Persentase siswa membolos juga dapat ditekan. Selain tercapainya tujuan belajar dengan baik, melalui media blog hubungan yang harmonis antara guru dan siswa dapat terwujud secara akrab dan kekeluargaaan. Dengan demikian dapat menghilangkan mitos guru yang menyebalkan di hadapan siswa. Selain itu image guru gaptek juga tidak lagi terpatri di benak siswa. Bahkan siswa akan merasa bangga kepada guru karena telah menemani belajar mereka dengan menggunakan media pembelajaran yang inovatif dan menarik.
Siswa yang karyanya di-upload di blog tentu merasa senang dan bangga. Dengan demikian semangat belajar berbahasa dan bersastra dapat dipicu dan dipacu dengan menggunakan blog sebagai media pembelajaran. Demikian juga halnya dengan pembelajaran mata pelajaran yang lain, blog merupakan media yang inovatif, modern, dan menyenangkan.

Secara umum peran guru dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan blog sebagai media pembelajaran adalah sebagai berikut.
• Membantu peserta didik untuk mengakses sumber belajar yang diperlukan dalam proses pembelajaran.
• Membantu peserta didik dalam mencapai kompetensi dasar yang telah ditargetkan.
• Membimbing peserta didik melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.
• Membantu peserta didik dalam memahami konsep dan praktik dalam pemanfaatan media blog sesuai dengan deskripsi tugas yang diberikan.
• Melayani siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
• Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.
• Melaksanakan penilaian.
• Menjelaskan kepada peserta didik mengenai bagian yang perlu untuk dibenahi.
• Merundingkan rencana pembelajaran selanjutnya.
• Mencatat pencapaian kemajuan peserta didik.
• Memberikan reward kepada siswa dengan karya terbaik.

Simpulan

Blog sebagai media inovatif berbasis ICT selain menarik juga memudahkan guru dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Pembelajaran dengan media blog dapat memanfaatkan semua kontens blog sebagai alat bantu belajar-mengajar. Selain sebagai media yang modern, inovatif, dan mengasyikkan, blog bagi guru juga merupakan ajang kreativitas dan wujud eksistensi diri. Pembelajaran dengan media blog akan lebih mudah diterapkan di sekolah-sekolah lanjutan. Bukan berarti media ini tidak dapat diaplikasikan di sekolah dasar, namun sekolah dasar yang telah maju baik SDM maupun SDA-nya tidak menutup kemungkinan menggunakan media blog dalam proses belajar-mengajar. Namun demikian, media blog hanya dapat digunakan di sekolah atau daerah yang telah terkoneksi dengan internet. Dengan kata lain, media blog belum bisa diterapkan di sekolah atau daerah-daerah yang belum terjamah teknologi internet, apalagi di daerah pedalaman yang belum mendapat suplay energi listrik.

******