Pengantar:Kawan saya,Trimatra, telah menominasikan blog saya sebagai satu dari 10 Creative blogging Female inspiring dalam peringatan hari Kartini 2009. Tulisan ini saya dedikasikan untuk dua orang "Kartini", mantan Kepala SMA Negeri 7 Malang, yang menjadi sumber inspirasi dalam hidup saya. Satu di antar Beliau adalah Pengawas Berprestasi Nasional 2008.
Jasmerah (jangan sekali-sekali melupakan sejarah). Ungkapan akronim itu pernah diucapkan oleh Bung Karno untuk mengingatkan kepada semua orang tentang pentingnya sejarah. Salah satu bagian dari sejarah adalah kisah R.A. Kartini dalam memperjuangkan kaum wanita. R.A. Kartini dilahirkan di Jepara , 21 April 1879. Dengan kesederhanaan sarana dan prasarana, putri Bupati Jepara tersebut mampu mengubah perlakuan adat yang konservatif terhadap kaumnya tanpa mengubah kodrat kewanitaan.
Beliau berjuang lewat pikiran,kata-kata, dan tindakan yang berani.Langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya, Kartini mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma. Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.
Namun, sebelum merasa lelah dari perjuangan panjang yang melelahkan, R.A. Kartini wafat dalam usia yang sangat muda, yaitu 25 tahun pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya. Semasa hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Dia mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda dia sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut.
Abendanon memberi judul untuk kumpulan surat-surat Kartini semasa hidup itu dengan “Door Duisternis tot Licht: Gedachten Over en Voor Het Javaansche Volk van Raden Ajeng Kartini” (Habis Gelap Terbitlah Terang: Pemikiran tentang dan untuk orang-orang Jawa dari Raden Ajeng kartini). Sungguh perjuangan dan pemikiran yang spektakuler bagi seorang perempuan pada zaman itu.
Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
Hal penting yang perlu diingat oleh kaum wanita adalah R.A. Kartini bukan penganut faham feminisme. Perjuangan R.A. Kartini tidak pernah mengubah kodrat wanita yang mulia: sebagai seorang istri yang taat dan sebagai ibu yang penuh dedikasi. R.A. Kartini juga tidak memperjuangkan wanita agar mengambil alih peran laki-laki. Hal itu telah tersurat dalam Al Qur’an dengan sangat jelas:
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[dari tulang rusuk] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An Nisaa: 1)
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka (An Nisaa: 34)
Di zaman ini, jiwa dan semangat Kartini telah mengaliri darah dan nadi wanita-wanita Indonesia. Bangkit dan bersatulah Kartini-Kartini Indonesia untuk menjalani profesi (apa pun) dengan jujur,ikhlas, dan tetap bersemangat. Perjuangan untuk bangsa, negara, dan agama, dapat dimulai dari perjuangan dalam keluarga, lingkungan sekitar, dan atau lingkungan tempat bekerja. Salut untuk Anda: wanita-wanita Indonesia yang telah mendedikasikan hidup untuk keluarga, bangsa, negara, dan agama.