06 November 2008

Seroja Merah Jambu

Kau cantik bak seroja
Bersahaja 
Indah budi bahasa
Anggun berwibawa
Tak mengumbar kata
Apalagi gelak tawa

Senyumu tetap indah
Walau hati gelisah
Parasmu semringah
Meski hidupmu 
Bagai retak menanti belah

Aduhai
Mengakar nian sanubari Puan
Menghunjam dalam sampai ke dasar
Bersemi dari trah yang diluhurkan

Kaulah itu
Panutan berguru
Wanita ayu
Seroja merah jambu

04 November 2008

EPOS


Ini wiracarita tentangnya

Pahlawan bestari

Peluhnya melebihi darah

Akal tak sekali tiba

Ia peras sampai menetes sari pati 

Yang waktu dahulu aku belum bisa mengurai maknanya

 

Kini aku mengerti

Setelah jarak begitu jauh ia tempuh tak terperikan

Ada sesal bergelayut di langkahku semakin memberat

Langkah yang menapak tilas juangnya  

Menyusuri lorong waktu tanpa ujung batas berakhir

Tak ada persilangan tempat titik bertemu

Dan air mata yang kuseka semakin deras

Jejak tapaknya mengharu

 

Perjuangan yang begitu berat

Hidup tak semua mudah

Pun yang ia jalani dengan gigih bersemangat baja

Nasihat dan petuah adalah tongkat 

Yang kupegang erat saat ketabahanku meronta

 

Ia

Yang kuabadikan dalam epos ini

Semoga Allah memberikan kebahagiaan dalam persinggahan di sana

Bukan karena nilai perjuangannya semata

Tetapi jua rahmat-Nya yang mampu menyelamatkan

Ya, belas kasih yang  kupinta dalam doa

Doa yang pernah ia ajarkan dahulu

Kini menguntai serupa tali penghubung antara aku dengannya

Satu ujungnya ada di hatiku 

Dan ujung lainnya kuharap sampai kepadanya

Karena ia adalah pahlawanku

Ayahku

***

 


28 Oktober 2008

Di Sana Kusandarkan Gelisah

Sore itu matahari cerah

Perlahan tetapi pasti begeser ke barat

Ombak beriak kecil-kecil 

Bergelombang menuju ke pantai

 

Air belum pasang

Kami  tetap gigih

Menyatukan tenaga dan pikiran

Untuk bisa membawamu dengan selamat

Peluh menetes

Tempias debu, pasir, dan air laut menyatu

Berlepotan tubuh

Tak peduli

                                                    

Sore beranjak

Berganti senja

Warna jingga di langit merayap

Menyentuh cakrawala

Sementara itu

Kelam dan rasa cemasku berkejaran

 

Warna jingga tak lagi ada

Hari hampir gelap

Maghrib tiba

Suara azan tanpa pelantang terdengar sayup

Dari surau kecil di tepi hutan berpantai

Kutinggalkan sejenak dirimu

Di sana kusandarkan gelisah

Kugantungkan harapan

Akan keselamatmu

 

Sebentar lagi laut pasang

Ombak bergulung semakin besar

Berdebur ke pantai menghempas kuat

Lalu berbalik dan menyeretnya ke laut

Kutakut kau terhanyut

 

Demi dirimu

Semangat  pun turut pasang bersama air laut yang enggan menyurut

Rawe-rawe rantas, malang-malang putus

Semangat dan kebersamaan berhasil indah

Kau kubawa pulang

***


26 Oktober 2008

Bocah di Balik Pintu

Suatu sore

entah purnama ke berapa

ketika hujan turun dan langit hampir gelap

angin menghempas pepohonan 

 

Aku dan Ibu melihat

bocah kecil mengintai di balik pintu 

lalu berkelebat bayangan 

menghilang

 

Ibu mengejar 

lalu menangkapnya

saat ia bersembunyi 

di balik rimbun bunga-bunga 

terkejutlah Ibu

bocah kecil yang gemetar itu

adalah anak lelakinya sendiri

yang diasuh Paman-Bibi

 

Direngkuhnya bocah kecil menggigil

lalu tenggelam dalam dekapan yang basah 

air mata ibu menetes

 

Kini...

bocah kecil yang mengintai di balik pintu rumah

telah pergi jauh karena tugasnya

mengabdi jiwa raga demi bangsa negara

izinkan dia pergi berjuang, Ibu...

berikan restumu

sebagaimana dia telah memohonnya

dengan mencuim tanganmu,

dengan mencium keningmu, 

dan mencium kakimu

 

Ibu pun mendekapnya seperti dahulu

kali ini tanpa air mata

restu dan doa Ibu menaunginya

bersama harapan:

sejauh-jauh pergi

selama-lama bertugas

dinantikan anaknya pulang

walau kelak

hanya bertemu pusara

***

 

 

08 Oktober 2008

Gaya Bahasa dalam Lirik Lagu "Ibu" Karya Iwan Fals


Pengantar:

Ketika masih berdinas di Madura, saya pulang ke Malang setiap minggu. Bahkan pada beberapa tahun terakhir, saya bertugas mengajar di dua kota yang berjauhan. Senin-Kamis di Pamekasan, dan Jumat-Sabtu di Malang (sebagai prasyarat untuk bisa mutasi di Malang). Begitulah rutinitas saya sebagai "musafir yang lalu", selama tujuh tahun. Ada rasa melankolis yang sulit dilupakan saat itu. Hampir setiap hari Kamis, saat dalam perjalanan Pamekasan-Malang saya mendengar lagu Ibu (Iwan Fals) yang dinyanyikan oleh seorang pengamen dalam bus antarkota. Pengamen yang sama, dengan lagu yang sama, dan pada tempat yang kurang lebih juga sama (antara Surabaya-Sidoarjo). Setiap mendengar lagu itu saya merasa hanyut dan dilingkupi atmosfer rasa yang membuncah di dada. Saya merasakan hal yang sama dari waktu ke waktu: sedih, haru, rindu, lalu menangis. Bagi saya syair dan lantunan lagu tersebut seolah mengguyur kerinduan kepada ibu.

Dan, saya mencoba mengupas teks/ lirik lagu Ibu berdasarkan gaya bahasa (figurative language). Gaya bahasa biasa juga disebut dengan majas, yaitu pemakaian ragam tertentu dalam bertutur bahasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gaya bahasa didefinisikan sebagai berikut.


gaya2 » gaya bahasa

  1. Ling pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis
  2. Ling pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu
  3. Ling keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra
  4. Ling cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan


1. Metafora

Metafora adalah gaya bahasa perumpamaan langsung tanpa menggunakan kata seperti, laksana, bagaikan, dsb. guna memberikan efek atau mengungkapkan imaji/pencitraan tertentu. Berikut gaya bahasa metafora yang terdapat dalam lirik lagu Ibu karya Iwan Fals.


/Ribuan kilo jalan yang kau tempuh/ 

Dalam lirik lagi Ibu, tanggung jawab dan perjuangan seorang ibu menjalani kodrat sebagai orang tua terhadap anak, diumpamakan dengan perjalanan jauh menempuh jarak ribuan kilometer. Pada kenyataannya bahkan mungkin lebih berat dari itu, seandainya tanggung jawab seorang Ibu bisa dihitung dan diukur, dan seandainya setiap langkah ibu bisa dihitung dan diukur. Apalagi dalam lirik ini tokoh Ibu digambarkan sebagai sosok sederhana, pekerja keras, menderita, dan terkesan multiproblem. Frasa "ribuan kilo" tidaklah sekadar mengungkapkan jarak tempuh semata, namun merupakan metafor tentang beratnya suatu kehidupan.  Semua dijalani Ibu demi keuarga, demi anak, demi sandang pangannya, pendidikannya, kesehatannya, kebahagiaannya, dan keberhasilannya.


/Lewati rintang untuk aku anakmu/

Perjalanan hidup ibu tidaklah mulus tanpa hambatan. Kesulitan dan penderitaannya dimetaforkan dengan kata "rintangan", yaitu sesuatu yang menghalangi, mengganggu, mengusik, atau menghadang sehingga menghambat kelancaran perjalanan.Walaupun rintangan mengahadang, kesulitan hidup tak terelakkan, Ibu pantang putus asa, tidak menghindari masalah tetapi menghadapinya, melewatinya, dan menjalaninya walau penuh rintangan.



 /Ibuku sayang masih terus berjalan/ 
/Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah/

Ibu terus berjalan, terus berjuang dan memperjuangkan hidupnya. Semangat Ibu dalam menjalani kehidupnya dimetaforkan dalam frasa "terus berjalan". Walaupun berat dan sulit, Ibu terus berjuang tanpa berkata lelah, tanpa keluh kesah. Ibu rela berkorban, mengorbankan kepentingannya, rela menderita dan bersusah payah demi kebahagiaan anaknya. "Darah" dan "nanah" adalah metafor tentang penderitaan dan kesulitan. Hidup memang sulit, namun harus tetap dijalaninya. Karena selama ada napas, maka hidup harus terus berlanjut.

/Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu/
/Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu/
/Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku/

Ada imaji visual di sini, bahwa dalam konteks ini ada jarak yang memisahkan antara anak dan Ibu. Ada kerinduan, ada rasa yang tak teridentifikasi, ada sesuatu, sehingga anak ingin berada di dekat Ibu dan menangis di pangkuannya sampai tertidur, bagai masa kecil yang indah. Pangkuan Ibu adalah metafor tentang kehangatan, tempat rebah terindah bagi manusia. Di pangkuan Ibulah seseorang bisa bercerita bahkan menangis. Tak ada keluh kesah, Ibu menerimanya dengan pengharapan dan doa terbaik. Doa Ibu sumber kekuatan bagi anak. Setiap kata dan ucapan Ibu adalah  doa yang terindah untuk anaknya. Bagai obat luar yang membalur tubuh, menghangatkan, menguatkan, dan menyembuhkan. Juga, doa Ibu bagi anak  dimetaforkan selimut hangat yang meninabobokan.




2. Hiperbola

Hiperbola adalah gaya bahasa yang menggunakan pernyataan dibesar- besarkan, baik jumlah, ukuran maupun sifatnya, dengan maksud memberi penekanan intensitas. Gaya bahasa hiperbola yang terdapat dalam lirik lagu Ibu karya Iwan Fals tampak pada kutipan berikut.

/Ibuku sayang masih terus berjalan/
/Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah/

Walaupun terdapat gaya bahasa hiperbola, namun lirik lagu Ibu tidaklah hiperbolis. Aneh kan? Karena kehadiran majas tersebut tidak bersifat bombastis, juga bukan bualan semata. Gaya bahasa hiperbola  yang digunakan justru memberikan intensitas makna yang terkandung. Ibulah orang tersayang dalam hidup ini. Kasih sayang Ibu tidak mengenal lelah. Dalam kutipan larik di atas, terdapat penekanan betapa besar perjuangan dan penderitaan Ibu. Penulis lirik menggunakan metafor berupa telapak kaki yang penuh darah dan penuh nanah. Diksi tersebut menunjukkan intensitas penderitaan dan perjuangan seorang Ibu. Namun demikian, Ibu tetap menjalaninya dengan penuh kasih sayang, demi keluarganya, demi anaknya .


3. Simile

Simile adalah gaya bahasa perumpamaan yang menggunakan kata seperti, laksana, bagaikan, dan sejenisnya, untuk membandingkan antara objek yang digambarkan dengan pilihan kata yang digunakan. Gaya bahasa simile yang digunakan penulis lirik lagu Ibu karya Iwan Fals tampak pada kutipan berikut.

/Seperti udara... kasih yang engkau berikan/
/Tak mampu ku membalas...ibu...ibu/


Kasih sayang Ibu yang diberikan kepada anaknya digambarkan seperti udara. Mengapa diksi "udara" dipilih untuk mengibaratkan kasih sayang seorang Ibu?  "Seperti udara... kasih yang engkau berikan". Udara adalah zat yang esensial sebagai syarat untuk hidup, sangat vital, dibutuhkan, banyak tak terbatas, dan tidak berbayar. Tak seorangpun yang sanggup membayar, membalas, atau pun mengganti jasa dan kasih sayang Ibu. Setiap tarikan dan hembusan napas, sepanjang hayat, doa dan kasih sayang Ibu menebar seperti udara ke seluruh atmosfer kehidupan bahkan sampai ke alam baka. Tak ada yang mampu membalas kasih sayang Ibu.


Berikut teks lagu Ibu karya Iwan Fals


Ibu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah


Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas... Ibu... Ibu...


Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas... Ibu... Ibu....


Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas... Ibu... Ibu....

***


26 September 2008

Solid

Waktu yang dinanti tiba 
Lebaran
Tak hanya raya dan suci
Tetapi 
Kita berlima 
Bisa berkumpul 
Bersama keluarga
Di rumah tua
Tempat bersama 
Sejak mengenal dunia

Entah berapa lama
Kita tak bersama
Kini kembali menghambur
Ke hangatnya sarang

Semua 
Yang telah pergi
Menjalani kodrat Illahi
Mendayung biduk
Membentangkan layar
Memacu kapal kehidupan
Kini menyatu di muara

Perahu-perahu hayati 
Sedang bersandar di pelabuhan 
Teduh
Damai 
Menikmati kicauan burung Tituit 
Yang selalu menjerit "Tiiiiiit...Tituiiiit...." 
Saat bertengger 
Di pepohonan
Belakang rumah kita

Kita ingat selalu
Satu pesan
Tentang sebuah komitmen 
Menjadi keluarga yang solid
Saat dekat
Saat jauh
Hati saling terikat
***


25 September 2008

Kabar dari Desa

Lamongan di puncak kemarau:

 /1/

Jati-jati yang ditanam kakakku di belakang rumah

meranggas

daun-daunnya luruh

 

/2/

Pucuk pohon kurma di depan rumah

dimangsa kumbang wawung

daunnya tersulut kembang api anak-anak

layu dan mengering 

 

/3/
Buah randu pecah

menyembul kapuk 

putih

beterbangan 

berbaur angin zat asam panas menghempas 

dan debu-debu berhamburan

hinggap di atas sisa dedaunan

 

/4/
Bunga-bunga kamboja bermunculan

di ujung reranting 

kuning

gersangnya menjadi indah  

 

/5/

Langit berwarna cerah

tampak membiru

di balik batang-batang kerontang

 

/6/
Sepasang bunga bangkai mini tumbuh di dekat rumpun bambu

disebutnya totok kerot 

ia tumbuh sebelum waktu tertabuh

 

/7/

Sementara itu

orang-orang berpuasa kehabisan air ludah

kering

namun tetap meladang

atau bekerja di tegalan

 

/8/
Sungguh menakjubkan

bumi pecah-pecah disulam menjadi permadani

hijau bernama tembakau

luas

seluas mata memandang

air siramannya bercampur keringat

yang mengucur dari tubuh legam berkilat-kilat

duhai, sempurnalah perjuanganmu

petani di tanah gersang


/9/
Itulah lukisan wajah alam yang selalu indah bagiku

keluh dan kesahnya bagai nyanyian rindu

yang bergenderang di hatiku

syahdu





16 September 2008

Kematian Seharga Rp30.000

Senin, 15 September 2008 di Pasuruan, Jawa Timur. Hatiku berdebar-debar menahan rasa sedih, iba, dan prihatin. Ribuan orang berdesakan, berteriak, menjerit, menangis, histeris, merintih, mengerang, mengeluh, berpeluh, terinjak-injak, tak bisa bernapas, terluka, dan 21 orang meninggal dunia. Ribuan orang berebut zakat sebesar 30 ribu rupiah dari seorang muzakki (pemberi zakat). Di tengah bulan Ramadhan yang suci, ketika mereka sedang menahan lapar dahaga. Mereka antre, berdesakan, untuk menjemput kematiannya sendiri. 

Aku hanya punya harapan, simpati, dan empati: tak kuasa berbuat lebih. Untuk para korban: aku berdoa dan mengenang kalian dalam tulisan ini. Ya Allah... Engkau Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Jika dalam kehidupan belum Engkau penuhi dahaga hamba-Mu, berikanlah dalam kematian, dan masa setelah itu. Buruk menurut kami belum tentu buruk menurut-Mu, begitu pula sebaliknya...

Dalam Islam: memberi yang baik adalah dengan cara mengantarkannya kepada yang berhak. Namun jika tidak memungkinkan karena sesuatu hal, percayakan kepada BAZ (Badan Amil Zakat) atau LAZ (Lembaga Amil Zakat). Atau sebagian disalurkan sendiri untuk yang berhak, yang berada di sekitar tempat tinggal. Tidak ada alasan untuk tidak mempercayai badan/lembaga tersebut. Jika telah berniat memberi, hendaknya bertawakal kepada Allah swt. Jangan sampai perbuatan baik itu berbaur dengan riya.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Al Baqarah:264) 

Dengan kejadian pilu tersebut jangan sampai membuat orang berhenti berzakat, baik zakat fitrah, zakat harta, maupun zakat buah-buahan. Zakat merupakan salah satu Rukun Islam. Perintah Berzakat Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (Al Baqarah: 110) Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (Al An'aam:141)

Azab orang yang tidak berzakat: Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Ali Imran: 180). Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu." (At Taubah: 35)

11 September 2008

Dialog dengan Tuhan

  

Tuhan...
Sepenuhnya aku yakin hidupku dalam genggaman-Mu.
Sebagaimana aku percaya matiku dalam suratan-Mu.
Dan aku jalani qodar-Mu seiring terbit dan tenggelamnya matahari.
Sungguh banyak asa yang kugantungkan pada-Mu, setiap waktu.
Namun lebih banyak lagi nikmat yang Engkau tebarkan.
Sampai aku tak sanggup mengumpulkan dalam catatan hidupku.
Berjalan aku menuju arah Kau tempatkan belas kasih-Mu.
Dan berdialog dengan-Mu serasa Engkau sedekat urat leherku.
Walau tak pernah kudengar jawabmu, tapi Engkau dengarkan rintihanku.

Tuhan...
Masih ada harapan yang tak kunjung padam.
Masih ada mimpi yang Kau rahasiakan.
Maafkan aku 
Tak  pernah aku belajar curiga kepada-Mu. 
Dan tak sedikitpun aku meragukan janji-Mu.
Aku telah belajar untuk menjalani hidup ini dengan ikhlas.
Jika aku tenggelam bersama matahari dan tak terbit esok pagi
Jangan Kau biarkan aku merana.
Dan mereka, yang di dalam tubuhnya mengalir darahku.

Malang, 18 Oktober 2007

06 September 2008

Sapardi Djoko Damono di BBY

Seorang teman, Peneliti Madya dari Balai Bahasa Yogyakarta (BBY), Herry Mardianto, mengabari saya tentang rencana kehadiran Sapardi Djoko Damono (SDD). Mendengar nama sastrawan “gaek” tersebut, seketika angan saya flash back ke masa kuliah dahulu. Dalam pencitraan visual, SDD adalah sastrawan yang pada sekujur tubuhnya bertuliskan: Aku Ingin Aku Ingin Aku Ingin Aku Ingin Aku Ingin ... Saya pernah menulis sajak SDD tersebut di bagian dalam cover buku mata kuliah Apresiasi Prosa Fiksi dan Drama. Bagi saya SDD identik dengan sajak Aku Ingin. Sajak itu seolah cerminan isi hati saya yang takut terhadap perasaannya sendiri. Perasaan yang tak kuasa untuk diucapkan kepada seseorang karena takut kehilangan sucinya persahabatan. Rasa yang tak sempat tersampaikan.
Berikut sajak tersebut...

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

...

Balai Bahasa Yogyakarta sebagai lembaga pemerintah yang bertugas melaksanakan program pembangunan nasional di bidang kebahasaan dan kesastraan, sangat peduli dan komit terhadap kemajuan dan kelestarian bahasa dan sastra. Kedatangan Sapardi Djoko Damono tersebut atas prakarsa BBY dalam peringatan Bulan Bahasa Nasional Oktober 2008.
Ketika berkumpul dalam komunitas pecinta bahasa dan sastra, ada energi besar yang menekan dan mendorong jiwa untuk selalu berkarya. Rasanya ingin datang ke Yogya tapi tidak mungkin. Selain karena jauh dari Malang juga karena banyaknya tugas yang tidak bisa saya tinggalkan. Saya menunggu liputannya di www.balaibahasa.org
Terima kasih BBY, kepadamulah idealisme dan obsesi saya terwakilkan. Terus berjuang demi majunya bahasa dan sastra Indonesia serta bahasa dan sastra daerah. Berjuanglah menyemai benih cinta di hati masyarakat sehingga tumbuh buliran sastra yang bertangkai puisi, berdaun prosa, dan berakar naskah drama. Begitu suburnya dengan media bernama bahasa. Amboi... alangkah indahnya hidup ini!

04 September 2008

Puisi dari Seorang Teman

Cakram Rindu

Kita pun sering berlarian di antara mimpi, 
kenyataan, 
dan harapan yang sering tak terduga 
dan terkadang ngayawara. 
Antara kesangsian dan sorga hanya ada satu kata: 
"kerinduan". 
Dan perputaran hidup yang bagai gasing 
adalah sebuah cakram yang terus setia mengintai 
dan menjaga kemanapun kita berpaling.
Kerinduan terkadang menjelma sebagai sebongkah impian tanpa batas. 
Ia berlari dari tepi hati ketepi telaga sunyi. 
Seperti "kau" yang juga tak terjaring di garis tapal batas keheninganku.
***

Mau membaca lebih banyak? Klik di sini

Puisi ini karya Herry Mardianto
dari Balai Bahasa Yogyakarta.

03 September 2008

Marhaban Yaa Ramadhan

Selamat datang bulan Ramadhan 1427 H. Bulan terbaik dari semua bulan. Bulan keagungan yang penuh hikmah, berkah, rahmah dan ampunan. Bulan peperangan berat melawan musuh terberat manusia - hawa nafsu.

Bulan yang agung, tempat nafas kita menjadi tasbih, tidur kita menjadi ibadah, amal kita diterima dan do’a kita diijabah,

Juga...
Bulan ujian, apakah kita masih tetap bekerja sambil tersenyum tanda ikhlas?

Mari kita sambut dengan suka cita. Jalani puasa dengan penuh iman, ikhlas, dan sabar. Semoga menjadi hamba yang dicintai-Nya.



Elok kicauan burung kutilang, siang dan malam di pohon durian
Bulan Ramadhan telah datang, khilaf dan salah mohon dimaafkan

Berharap padi dalam lesung, yang ada cuma rumpun jerami,

harapan hati bertatap langsung, namun hanya terlayang di web ini.

Sebelum cahaya surga padam, Sebelum hidup berakhir,
Sebelum pintu tobat tertutup, sebelum Ramadhan berakhir,
Mohon maaf lahir dan bathin….
Taqobalallahu Minna Waminkum, Taqobal Ya Karim

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1427 H