Ikhlas dan tabah dalam menjalani kehidupan bagai meniti jalan ke surga, sulit, penuh tantangan, namun harus tetap ditempuh
06 November 2008
Seroja Merah Jambu
04 November 2008
EPOS
Ini wiracarita tentangnya
Pahlawan bestari
Peluhnya melebihi darah
Akal tak sekali tiba
Ia peras sampai menetes sari pati
Yang waktu dahulu aku belum bisa mengurai maknanya
Kini aku mengerti
Setelah jarak begitu jauh ia
tempuh tak terperikan
Ada sesal bergelayut di
langkahku semakin memberat
Langkah yang menapak tilas juangnya
Menyusuri lorong waktu tanpa
ujung batas berakhir
Tak ada persilangan tempat titik
bertemu
Dan air mata yang kuseka semakin
deras
Jejak tapaknya mengharu
Perjuangan yang begitu berat
Hidup tak semua mudah
Pun yang
ia jalani dengan gigih bersemangat baja
Nasihat dan petuah adalah tongkat
Yang kupegang erat saat ketabahanku meronta
Ia
Yang kuabadikan dalam epos ini
Semoga Allah memberikan
kebahagiaan dalam persinggahan di sana
Bukan karena nilai perjuangannya semata
Tetapi jua rahmat-Nya yang mampu menyelamatkan
Ya, belas kasih yang kupinta dalam doa
Doa yang pernah ia ajarkan dahulu
Kini menguntai serupa tali penghubung antara aku dengannya
Satu ujungnya ada di hatiku
Dan
ujung lainnya kuharap sampai kepadanya
Karena ia adalah pahlawanku
Ayahku
***
28 Oktober 2008
Di Sana Kusandarkan Gelisah
Sore itu matahari cerah
Perlahan tetapi pasti begeser ke barat
Ombak beriak kecil-kecil
Bergelombang menuju ke pantai
Air belum pasang
Kami tetap gigih
Menyatukan tenaga dan pikiran
Untuk bisa membawamu dengan selamat
Peluh menetes
Tempias debu, pasir, dan air laut menyatu
Berlepotan tubuh
Tak peduli
Sore beranjak
Berganti senja
Warna jingga di langit merayap
Menyentuh cakrawala
Sementara itu
Kelam dan rasa cemasku berkejaran
Warna jingga tak lagi ada
Hari hampir gelap
Maghrib tiba
Suara azan tanpa pelantang terdengar sayup
Dari surau kecil di tepi hutan berpantai
Kutinggalkan sejenak dirimu
Di sana kusandarkan gelisah
Kugantungkan harapan
Akan keselamatmu
Sebentar lagi laut pasang
Ombak bergulung semakin besar
Berdebur ke pantai menghempas kuat
Lalu berbalik dan menyeretnya ke laut
Kutakut kau terhanyut
Demi dirimu
Semangat pun turut pasang bersama air laut yang enggan menyurut
Rawe-rawe rantas, malang-malang putus
Semangat dan kebersamaan berhasil indah
Kau kubawa pulang
***
26 Oktober 2008
Bocah di Balik Pintu

Suatu sore
entah purnama
ke berapa
ketika hujan
turun dan langit hampir gelap
angin
menghempas pepohonan
Aku dan Ibu melihat
bocah kecil
mengintai di balik pintu
lalu
berkelebat bayangan
menghilang
Ibu
mengejar
lalu
menangkapnya
saat ia bersembunyi
di balik
rimbun bunga-bunga
terkejutlah
Ibu
bocah kecil
yang gemetar itu
adalah anak lelakinya
sendiri
yang diasuh
Paman-Bibi
Direngkuhnya
bocah kecil menggigil
lalu
tenggelam dalam dekapan yang basah
air mata ibu
menetes
Kini...
bocah kecil
yang mengintai di balik pintu rumah
telah pergi
jauh karena tugasnya
mengabdi jiwa
raga demi bangsa negara
izinkan dia
pergi berjuang, Ibu...
berikan
restumu
sebagaimana
dia telah memohonnya
dengan
mencuim tanganmu,
dengan
mencium keningmu,
dan mencium
kakimu
Ibu pun
mendekapnya seperti dahulu
kali ini
tanpa air mata
restu dan doa
Ibu menaunginya
bersama
harapan:
sejauh-jauh
pergi
selama-lama
bertugas
dinantikan
anaknya pulang
walau kelak
hanya bertemu pusara
***
08 Oktober 2008
Gaya Bahasa dalam Lirik Lagu "Ibu" Karya Iwan Fals
Pengantar:
Ketika masih berdinas di Madura, saya pulang ke Malang setiap minggu. Bahkan pada beberapa tahun terakhir, saya bertugas mengajar di dua kota yang berjauhan. Senin-Kamis di Pamekasan, dan Jumat-Sabtu di Malang (sebagai prasyarat untuk bisa mutasi di Malang). Begitulah rutinitas saya sebagai "musafir yang lalu", selama tujuh tahun. Ada rasa melankolis yang sulit dilupakan saat itu. Hampir setiap hari Kamis, saat dalam perjalanan Pamekasan-Malang saya mendengar lagu Ibu (Iwan Fals) yang dinyanyikan oleh seorang pengamen dalam bus antarkota. Pengamen yang sama, dengan lagu yang sama, dan pada tempat yang kurang lebih juga sama (antara Surabaya-Sidoarjo). Setiap mendengar lagu itu saya merasa hanyut dan dilingkupi atmosfer rasa yang membuncah di dada. Saya merasakan hal yang sama dari waktu ke waktu: sedih, haru, rindu, lalu menangis. Bagi saya syair dan lantunan lagu tersebut seolah mengguyur kerinduan kepada ibu.
Dan, saya mencoba mengupas teks/ lirik lagu Ibu berdasarkan gaya bahasa (figurative language). Gaya bahasa biasa juga disebut dengan majas, yaitu pemakaian ragam tertentu dalam bertutur bahasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gaya bahasa didefinisikan sebagai berikut.
gaya2 » gaya bahasa
- Ling pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis
- Ling pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu
- Ling keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra
- Ling cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan
1. Metafora
Metafora adalah gaya bahasa perumpamaan langsung tanpa menggunakan kata seperti, laksana, bagaikan, dsb. guna memberikan efek atau mengungkapkan imaji/pencitraan tertentu. Berikut gaya bahasa metafora yang terdapat dalam lirik lagu Ibu karya Iwan Fals.
/Ribuan kilo jalan yang kau tempuh/
Dalam lirik lagi Ibu, tanggung jawab dan perjuangan seorang ibu menjalani kodrat sebagai orang tua terhadap anak, diumpamakan dengan perjalanan jauh menempuh jarak ribuan kilometer. Pada kenyataannya bahkan mungkin lebih berat dari itu, seandainya tanggung jawab seorang Ibu bisa dihitung dan diukur, dan seandainya setiap langkah ibu bisa dihitung dan diukur. Apalagi dalam lirik ini tokoh Ibu digambarkan sebagai sosok sederhana, pekerja keras, menderita, dan terkesan multiproblem. Frasa "ribuan kilo" tidaklah sekadar mengungkapkan jarak tempuh semata, namun merupakan metafor tentang beratnya suatu kehidupan. Semua dijalani Ibu demi keuarga, demi anak, demi sandang pangannya, pendidikannya, kesehatannya, kebahagiaannya, dan keberhasilannya.
/Lewati rintang untuk aku anakmu/
Perjalanan hidup ibu tidaklah mulus tanpa hambatan. Kesulitan dan penderitaannya dimetaforkan dengan kata "rintangan", yaitu sesuatu yang menghalangi, mengganggu, mengusik, atau menghadang sehingga menghambat kelancaran perjalanan.Walaupun rintangan mengahadang, kesulitan hidup tak terelakkan, Ibu pantang putus asa, tidak menghindari masalah tetapi menghadapinya, melewatinya, dan menjalaninya walau penuh rintangan.
/Ibuku sayang masih terus berjalan/
/Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah/
Ibu terus berjalan, terus berjuang dan memperjuangkan hidupnya. Semangat Ibu dalam menjalani kehidupnya dimetaforkan dalam frasa "terus berjalan". Walaupun berat dan sulit, Ibu terus berjuang tanpa berkata lelah, tanpa keluh kesah. Ibu rela berkorban, mengorbankan kepentingannya, rela menderita dan bersusah payah demi kebahagiaan anaknya. "Darah" dan "nanah" adalah metafor tentang penderitaan dan kesulitan. Hidup memang sulit, namun harus tetap dijalaninya. Karena selama ada napas, maka hidup harus terus berlanjut.
/Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu/
/Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku/
Ada imaji visual di sini, bahwa dalam konteks ini ada jarak yang memisahkan antara anak dan Ibu. Ada kerinduan, ada rasa yang tak teridentifikasi, ada sesuatu, sehingga anak ingin berada di dekat Ibu dan menangis di pangkuannya sampai tertidur, bagai masa kecil yang indah. Pangkuan Ibu adalah metafor tentang kehangatan, tempat rebah terindah bagi manusia. Di pangkuan Ibulah seseorang bisa bercerita bahkan menangis. Tak ada keluh kesah, Ibu menerimanya dengan pengharapan dan doa terbaik. Doa Ibu sumber kekuatan bagi anak. Setiap kata dan ucapan Ibu adalah doa yang terindah untuk anaknya. Bagai obat luar yang membalur tubuh, menghangatkan, menguatkan, dan menyembuhkan. Juga, doa Ibu bagi anak dimetaforkan selimut hangat yang meninabobokan.
2. Hiperbola
Hiperbola adalah gaya bahasa yang menggunakan pernyataan dibesar- besarkan, baik jumlah, ukuran maupun sifatnya, dengan maksud memberi penekanan intensitas. Gaya bahasa hiperbola yang terdapat dalam lirik lagu Ibu karya Iwan Fals tampak pada kutipan berikut.
/Ibuku sayang masih terus berjalan/
/Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah/
3. Simile
Simile adalah gaya bahasa perumpamaan yang menggunakan kata seperti, laksana, bagaikan, dan sejenisnya, untuk membandingkan antara objek yang digambarkan dengan pilihan kata yang digunakan. Gaya bahasa simile yang digunakan penulis lirik lagu Ibu karya Iwan Fals tampak pada kutipan berikut.
/Tak mampu ku membalas...ibu...ibu/
Kasih sayang Ibu yang diberikan kepada anaknya digambarkan seperti udara. Mengapa diksi "udara" dipilih untuk mengibaratkan kasih sayang seorang Ibu? "Seperti udara... kasih yang engkau berikan". Udara adalah zat yang esensial sebagai syarat untuk hidup, sangat vital, dibutuhkan, banyak tak terbatas, dan tidak berbayar. Tak seorangpun yang sanggup membayar, membalas, atau pun mengganti jasa dan kasih sayang Ibu. Setiap tarikan dan hembusan napas, sepanjang hayat, doa dan kasih sayang Ibu menebar seperti udara ke seluruh atmosfer kehidupan bahkan sampai ke alam baka. Tak ada yang mampu membalas kasih sayang Ibu.
Berikut teks lagu Ibu karya Iwan Fals
Ibu
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah
Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas... Ibu... Ibu...
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas... Ibu... Ibu....
Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas... Ibu... Ibu....
***
29 September 2008
26 September 2008
Solid
25 September 2008
Kabar dari Desa
.jpg)
Lamongan di puncak kemarau:
/1/
Jati-jati
yang ditanam kakakku di belakang rumah
meranggas
daun-daunnya
luruh
/2/
Pucuk pohon
kurma di depan rumah
dimangsa
kumbang wawung
daunnya
tersulut kembang api anak-anak
layu dan
mengering
/3/
Buah randu pecah
menyembul
kapuk
putih
beterbangan
berbaur angin
zat asam panas menghempas
dan debu-debu
berhamburan
hinggap di
atas sisa dedaunan
/4/
Bunga-bunga kamboja bermunculan
di ujung reranting
kuning
gersangnya
menjadi indah
/5/
Langit
berwarna cerah
tampak
membiru
di balik
batang-batang kerontang
/6/
Sepasang bunga bangkai mini tumbuh di dekat rumpun bambu
disebutnya
totok kerot
ia tumbuh
sebelum waktu tertabuh
/7/
Sementara itu
orang-orang berpuasa kehabisan air ludah
kering
namun tetap
meladang
atau bekerja
di tegalan
/8/
Sungguh menakjubkan
bumi
pecah-pecah disulam menjadi permadani
hijau bernama tembakau
luas
seluas mata memandang
air siramannya bercampur keringat
yang mengucur dari tubuh legam berkilat-kilat
duhai, sempurnalah perjuanganmu
petani di
tanah gersang
/9/
Itulah lukisan wajah alam yang selalu indah bagiku
keluh dan kesahnya bagai nyanyian rindu
yang
bergenderang di hatiku
syahdu
16 September 2008
Kematian Seharga Rp30.000
11 September 2008
Dialog dengan Tuhan
06 September 2008
Sapardi Djoko Damono di BBY
Berikut sajak tersebut...
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
...
Balai Bahasa Yogyakarta sebagai lembaga pemerintah yang bertugas melaksanakan program pembangunan nasional di bidang kebahasaan dan kesastraan, sangat peduli dan komit terhadap kemajuan dan kelestarian bahasa dan sastra. Kedatangan Sapardi Djoko Damono tersebut atas prakarsa BBY dalam peringatan Bulan Bahasa Nasional Oktober 2008.
Ketika berkumpul dalam komunitas pecinta bahasa dan sastra, ada energi besar yang menekan dan mendorong jiwa untuk selalu berkarya. Rasanya ingin datang ke Yogya tapi tidak mungkin. Selain karena jauh dari Malang juga karena banyaknya tugas yang tidak bisa saya tinggalkan. Saya menunggu liputannya di www.balaibahasa.org
Terima kasih BBY, kepadamulah idealisme dan obsesi saya terwakilkan. Terus berjuang demi majunya bahasa dan sastra Indonesia serta bahasa dan sastra daerah. Berjuanglah menyemai benih cinta di hati masyarakat sehingga tumbuh buliran sastra yang bertangkai puisi, berdaun prosa, dan berakar naskah drama. Begitu suburnya dengan media bernama bahasa. Amboi... alangkah indahnya hidup ini!
04 September 2008
Puisi dari Seorang Teman
Kita pun sering berlarian di antara mimpi,
Kerinduan terkadang menjelma sebagai sebongkah impian tanpa batas.
***
Mau membaca lebih banyak? Klik di sini
dari Balai Bahasa Yogyakarta.
03 September 2008
Marhaban Yaa Ramadhan
Bulan yang agung, tempat nafas kita menjadi tasbih, tidur kita menjadi ibadah, amal kita diterima dan do’a kita diijabah,
Juga...
Bulan ujian, apakah kita masih tetap bekerja sambil tersenyum tanda ikhlas?
Mari kita sambut dengan suka cita. Jalani puasa dengan penuh iman, ikhlas, dan sabar. Semoga menjadi hamba yang dicintai-Nya.
Elok kicauan burung kutilang, siang dan malam di pohon durian
Bulan Ramadhan telah datang, khilaf dan salah mohon dimaafkan
Berharap padi dalam lesung, yang ada cuma rumpun jerami,
harapan hati bertatap langsung, namun hanya terlayang di web ini.
Sebelum cahaya surga padam, Sebelum hidup berakhir,
Sebelum pintu tobat tertutup, sebelum Ramadhan berakhir,
Mohon maaf lahir dan bathin….
Taqobalallahu Minna Waminkum, Taqobal Ya Karim
Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1427 H