07 Maret 2018

Kakek Pejuang Telah Berpulang


Seorang teman berkabar: "Kakek telah berpulang."
Aku tersentak, sejenak kutunduk menadahkan tangan
Doa indah kulantunkan untuknya, untuk Kakek Pejuang.

Aku tak butuh nama untuk mengenangnya
Cukup bagiku memanggilnya Kakek Pejuang, dan kesan pun sangatlah dalam.
Sejak saat itu, saat pertama bertemu, bertahun-tahun yang lalu
Saat dikisahkan padaku tentang suatu masa.
Masa revolusi kemerdekaan
Demi terbebasnya negeri dari tirani
“Demi harga diri sebuah bangsa, demi kedaulatan yang ingin dicabik kembali”, kata Kakek Pejuang penuh semangat, dengan suara tegas dan tatapan yang menyala-nyala dalam usia yang telah meredup senja.

Perjuangan tak hanya merebut kemerdekaan, tetapi mempertahankannya kembali dari Agresi Militer Belanda. Lalu, berkisahlah Kakek tentang zaman perjuangan, tentang kehidupan rakyat di masa penjajahan, tentang para lelaki yang bermarkas di hutan, tentang taktik pembumihangusan, tentang segala cerita pada masa itu, tentang....

Dan kami pun tenggelam dalam samudera cerita Kakek Pejuang...

Kisah Kakek Pejuang memberi kilatan padaku
Tentang tokoh Pak Mantri dalam peristiwa Daerah Tak Bertuan
Ia pun tak perlu dikenal nama, semua orang memanggilnya Pak Mantri hanya karena ia  seorang pensiunan mantri garam. Dihabiskan sisa usianya untuk berjuang di daerah tak bertuan, antara Surabaya, Gresik, Lamongan, Malang, Jombang, Mojokerto, dan Kediri. 

Suatu saat ia mendapat perintah rahasia dari Kaelani, Komandan Pasukan Liar, untuk mengantar sekampil permata sebagai dana perang gerilya pasca kemerdekaan ke Markas Pertahanan RI di Mojokerto dengan pengawalan Truno, seorang bekas penjahat yang pernah dipenjarakan di Nusa Kambangan. Truno sama sekali tidak mengetahui untuk apa ia ditugaskan. Di tengah perjalanan, di antara pematang sawah, Truno menghentikan langkah Pak Mantri dan bertanya, untuk apa dia mengawal tugas ini. Ia memaksa Pak Mantri untuk menjelaskannya. “Jika saya harus mati, saya akan mati dengan ikhlas Pak Mantri, tolong jelaskan untuk apa saya mengawal Pak Mantri”. Walaupun awalnya sempat curiga kepada Truno yang bisa saja membunuhnya lalu membawa lari permata yang dibawanya. Namun Pak Mantri mampu menghadapi dengan tenang dan menjelaskan tentang tugas rahasia tersebut kepada pengawalnya itu.

Kepercayaan itu mampu meluluhkan hati Truno. Ia menangis sambil memeluk erat tubuh Pak Mantri dan bersumpah untuk setia mengawal Pak Mantri sampai ke tujuan.  Sesaat kemudian, belumlah mereka berdua melanjutkan perjalanan ke tujuan, terdengar bunyi pesawat musuh terbang rendah bergemuruh dan mendesing. Mortir dijatuhkan dari pesawat musuh dan meledak persis di dekat mereka berdua. Truno mengerang terkena pecahan mortir dan ia menghembuskan napas terakhirnya.

Akhirnya tugas berat membawa amanah tersebut dilaksanakan Pak Mantri seorang diri setelah Truno gugur. Dengan semangat tetap menyala ia  berjalan kaki melintasi daerah tak bertuan, daerah yang tidak dikuasai oleh salah satu pemerintahan, baik Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Hindia Belanda dalam agresi militernya. Pak Mantri berhasil dengan selamat menyerahkan sekampil permata sesuai dengan tujuan.

Pak Mantri tertegun. Kematian Truno sangat berkesan dan membekas di hatinya. Ia pun bertekad untuk menebus kematian Truno dengan menyelinap ke daerah pendudukan untuk membuat peta lebih sempurna. Ia memohon izin kepada Komandan Kaelani untuk melengkapi peta daerah seberang sungai Cerme yang dikuasai tentara Ghurka-Inggris. Ia akan menyelundup ke sana sendirian. Dalam rerimbun kebun tebu, ia mengikuti jejak kaki yang besar, jejak kaki musuh. 

Namun tekad dan keberaniannya berakhir sangat memilukan. Pak Mantri berpapasan dengan lawan sendirian, ia mengacungkan pistol Colt ke arah si Mata Biru, namun senjata canggih Tommy Gun lebih dahulu melesatkan peluru ke dada Pak Mantri. Tembakan itu terdengar sampai ke Daerah Tak Bertuan. Dan mereka semua, pasukan Pejuang Liar, mengetahui apa artinya itu. Pak Mantri telah gagal menjalankan misi rahasianya. Pak Mantri gugur dalam pertempuran tak seimbang melawan serdadu Ghurka.

”Esok harinya Pak Mantri keluar dari markas kecil itu menuju daerah tak bertuan. Di pundaknya
tergantung granat kuning pada epolet dan pistol colt jepang terselip di lipatan sarung yang diikatkan   di pinggangnya. Topi mendong dibenamkan di kepalanya, usianya yang renta, mukanya penuh keriput, mata kecil dan cekung, merupakan tameng yang baik untuk mengelabui serdadu Ghurka. Dengan kaki yang teguh Pak Mantri menyelinap di antara rumpun-rumpun yang lebat. Ia pasrahkan hidup dan matinya kepada Tuhan. Ketika tangannya yang kering itu menarik pistol di pinggangnya, tembakan Tommy Gun lebih dahulu menembus dadanya. Serdadu Ghurka itu terkejut melihat lawannya seorang diri. Topi mendong yang terlepas dari kepalanya menyembulkan rambut kelabu di balik destarnya. Air muka yang hitam, kering, dan keriput oleh terik matahari, usia, dan derita. Lelaki tua berdrill coklat tak berdaya itu berlumuran darah. ”



Selamat jalan Kakek Pejuang, beristirahatlah bersama para Syuhada Perang Kemerdekaan...
Terima kasih telah memberiku kisah yang penuh inspirasi. 



02 Juni 2017

Rasa itu Bernama Rindu

  
Bersama para siswi HWKS
Saat itu tahun 2015
Saya dan beberapa teman mendapat kesempatan dari sekolah untuk mendampingi Program Students Exchange di Hatyai Wittayakarn School (HWKS) Thailand (Sebelumnya saya juga sudah pernah datang ke kota ini dalam suatu muhibah).

Ada satu hal yang menggores rasa, ketika akan meninggalkan HWKS, saya merasa sedih saat  mendengar pertanyaan seorang murid.
 "Kapan Ibu akan kembali?"
 "Suatu saat saya akan kembali ke sini, insya Allah",  jawaban itu sebenarnya hanya sekadar untuk menenangkan sekaligus menyenangkan.
"Fii amanillah", katanya perlahan.
"Aamiin, terima kasih", lambaian tangan dan rasa berat hati semakin sesak.

Saya tinggalkan Hatyai dengan perasaan sedih. Sepanjang perjalanan kami terus berkomunikasi dengan sahabat melalui chat WA sampai memasuki border Sadao-Bukit Kayu Hitam. Karena di situlah batas akhir wilayah layanan internet yang saya gunakan. Deg. Sepi. Rasa tak karuan. Hati makin sedih. Serasa ada yang hilang dan tak kembali lagi.

Tahun berganti....

Saat ini tahun 2017. 
Tidak disangka-sangka, saya benar-benar bisa kembali ke Hatyai Wittayakarn School (HWKS) walaupun dalam acara silaturahmi biasa dan sebentar. Perasaan sangat senang dan bahagia. Banyak kemajuan dan perubahan yang terjadi. Sejak dari pintu gerbang sekolah saya mengamatinya dengan kagum. Perkembangan sekolah yang luar biasa. Tidak cukup hanya memperhatikan dari depan, tetapi  saya juga mengelilingi kompleks sekolah sampai di belakang dormitory bersama guide istimewa yang juga pejabat di sekolah tersebut, yaitu  Ustadz Sodeeq dan Ustadz Abdulloh Seng. Di belakang dormitory sedang dibangun rumah-rumah guru. Masih terngiang sahabat saya berkata: "Someday, kalau datang lagi ke sini tak perlu menginap di hotel. Di sini ada kamar yang siap ditempati."

HWKS terletak di Kota Hatyai, Provinsi Songkhla, Thailand. Ini adalah sekolah Islam terbesar di sana. Sekolah Islam terpadu dengan sistem boarding ini memiliki jaringan internasional dengan sekolah-sekolah Islam (JSIT) di berbagai negara, termasuk Indonesia. Saat pertama kali saya datang, sekolah ini hanya terintegrasi setingkat SMP-SMA (ada 6 jenjang kelas mulai dari matthayom 1 sampai dengan matthayom 6). Tahun ini mulai dibangun Elementary School. Semoga dapat selesai sesuai dengan rencana. Yang sangat menginspirasi dari HWKS adalah: di sana para guru masih relatif muda, agamis, pintar, kreatif, berdedikasi, dan  bermental pejuang. Para guru di sekolah ini sering juga berkunjung ke berbagai kota/provinsi di Indonesia dalam misi memajukan pendidikan di Hatyai. Bahkan, mereka belajar tentang olahraga panahan/memanah sebagai kegiatan ekstrakurikuler di Indonesia yang diimplementasikan sebagai mata pelajaran (intrakurikuler) di HWKS.


Di HWKS ada beberapa program yang berbeda dengan sekolah kami. Karena sekolah Islam dan boarding, para siswa di sini setiap hari melakukan salat lima waktu berjamaah. Termasuk salat subuh, dilanjutkan kajian agama sampai kira-kira pukul 06.00 waktu setempat yang sebenarnya sama juga dengan WIB. (Karena waktunya sama-sama GMT + 7. Jadi waktu Thailand sama dengan WIB (Waktu Indonesia Bagian Barat). Salat berjamaah dan kajian agama dilaksanakan di masjid yang berbeda antara siswa dan siswi. Setelah itu dilanjutkan makan pagi bersama di kantin dengan sistem bayar non-uang, tetapi menggunakan semacam kupon. Lalu kapan sekolah dimulai? Sekolah baru dimulai sekitar pukul 08.00 waktu setempat. Di sekolah ini para siswa menguasai bahasa Inggris, komputer, teknologi, dan agama yang kaffah.
Jam dunia menunjukkan waktu yang sama antara WIB dengan Thailand
Ini kali ke-4 saya datang ke Hatyai. Dan yang paling berkesan adalah kedatangan saya yang ke-4 ini. Malam terakhir di sana saya dijemput di hotel oleh para sahabat istimewa, walapun hanya sekadar bernostalgia berkeliling kota, jalan-jalan, "kongkow" di kafe menikmati makanan khas: tom yam yang kecut segar dan penuh rempah serta sari laut, minuman hangat, sambil berbincang tentang banyak hal. Seolah alur cerita flash back, kami juga mengingat kembali pelajaran bahasa yang dahulu pernah diajarkan di dalam mobil sepanjang perjalanan lintas batas dari dan ke Hatyai-Penang. 

Kejadian yang bikin tersenyum-senyum sendiri saat mengingatnya adalah: Ketika itu kami berkendara mobil dari Hatyai ke Penang. Saat kembali dari Penang itulah petugas border memeriksa paspor saya yang hampir kedaluwarsa dan petugas tersebut "marah-marah". Saat itu saya merasa cemas, khawatir tidak diperkenankan "pulang" ke Hatyai. Kemudian, sahabat saya menjelaskan kepada petugas itu bahwa saya adalah guru yang bertugas di sana dan dalam beberapa hari lagi akan kembali ke Indonesia. Lalu kami diizinkan melanjutkan perjalanan. Hmmmmm.... lega rasanya.

Kembali ke alur semula....

Esok paginya, saya meninggalkan Hatyai lagi. Perasaan yang sama dengan dua tahun lalu terulang kembali. Namun, datang dan pergi adalah sunatullah, maka jalanilah apa yang harus dijalani. Saya pun menikmatinya: duka dalam suka, suka dalam duka.

Duuuh.... kapan bisa kembali lagi ke sana?