Ikhlas dan tabah dalam menjalani kehidupan bagai meniti jalan ke surga, sulit, penuh tantangan, namun harus tetap ditempuh
29 September 2008
26 September 2008
Solid
25 September 2008
Kabar dari Desa
.jpg)
Lamongan di puncak kemarau:
/1/
Jati-jati
yang ditanam kakakku di belakang rumah
meranggas
daun-daunnya
luruh
/2/
Pucuk pohon
kurma di depan rumah
dimangsa
kumbang wawung
daunnya
tersulut kembang api anak-anak
layu dan
mengering
/3/
Buah randu pecah
menyembul
kapuk
putih
beterbangan
berbaur angin
zat asam panas menghempas
dan debu-debu
berhamburan
hinggap di
atas sisa dedaunan
/4/
Bunga-bunga kamboja bermunculan
di ujung reranting
kuning
gersangnya
menjadi indah
/5/
Langit
berwarna cerah
tampak
membiru
di balik
batang-batang kerontang
/6/
Sepasang bunga bangkai mini tumbuh di dekat rumpun bambu
disebutnya
totok kerot
ia tumbuh
sebelum waktu tertabuh
/7/
Sementara itu
orang-orang berpuasa kehabisan air ludah
kering
namun tetap
meladang
atau bekerja
di tegalan
/8/
Sungguh menakjubkan
bumi
pecah-pecah disulam menjadi permadani
hijau bernama tembakau
luas
seluas mata memandang
air siramannya bercampur keringat
yang mengucur dari tubuh legam berkilat-kilat
duhai, sempurnalah perjuanganmu
petani di
tanah gersang
/9/
Itulah lukisan wajah alam yang selalu indah bagiku
keluh dan kesahnya bagai nyanyian rindu
yang
bergenderang di hatiku
syahdu
16 September 2008
Kematian Seharga Rp30.000
11 September 2008
Dialog dengan Tuhan
06 September 2008
Sapardi Djoko Damono di BBY
Berikut sajak tersebut...
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
...
Balai Bahasa Yogyakarta sebagai lembaga pemerintah yang bertugas melaksanakan program pembangunan nasional di bidang kebahasaan dan kesastraan, sangat peduli dan komit terhadap kemajuan dan kelestarian bahasa dan sastra. Kedatangan Sapardi Djoko Damono tersebut atas prakarsa BBY dalam peringatan Bulan Bahasa Nasional Oktober 2008.
Ketika berkumpul dalam komunitas pecinta bahasa dan sastra, ada energi besar yang menekan dan mendorong jiwa untuk selalu berkarya. Rasanya ingin datang ke Yogya tapi tidak mungkin. Selain karena jauh dari Malang juga karena banyaknya tugas yang tidak bisa saya tinggalkan. Saya menunggu liputannya di www.balaibahasa.org
Terima kasih BBY, kepadamulah idealisme dan obsesi saya terwakilkan. Terus berjuang demi majunya bahasa dan sastra Indonesia serta bahasa dan sastra daerah. Berjuanglah menyemai benih cinta di hati masyarakat sehingga tumbuh buliran sastra yang bertangkai puisi, berdaun prosa, dan berakar naskah drama. Begitu suburnya dengan media bernama bahasa. Amboi... alangkah indahnya hidup ini!
04 September 2008
Puisi dari Seorang Teman
Kita pun sering berlarian di antara mimpi,
Kerinduan terkadang menjelma sebagai sebongkah impian tanpa batas.
***
Mau membaca lebih banyak? Klik di sini
dari Balai Bahasa Yogyakarta.
03 September 2008
Marhaban Yaa Ramadhan
Bulan yang agung, tempat nafas kita menjadi tasbih, tidur kita menjadi ibadah, amal kita diterima dan do’a kita diijabah,
Juga...
Bulan ujian, apakah kita masih tetap bekerja sambil tersenyum tanda ikhlas?
Mari kita sambut dengan suka cita. Jalani puasa dengan penuh iman, ikhlas, dan sabar. Semoga menjadi hamba yang dicintai-Nya.
Elok kicauan burung kutilang, siang dan malam di pohon durian
Bulan Ramadhan telah datang, khilaf dan salah mohon dimaafkan
Berharap padi dalam lesung, yang ada cuma rumpun jerami,
harapan hati bertatap langsung, namun hanya terlayang di web ini.
Sebelum cahaya surga padam, Sebelum hidup berakhir,
Sebelum pintu tobat tertutup, sebelum Ramadhan berakhir,
Mohon maaf lahir dan bathin….
Taqobalallahu Minna Waminkum, Taqobal Ya Karim
Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1427 H
29 Agustus 2008
Aku Terpenjara
Putih...
Gelap...
Gelap namun tak hitam
Tak hitam tapi tak kuasa memandang
Visibilitas terbatas
Aku terpenjara
Dalam pusaran
Putih
Alam yang luas itu seketika sempit
Hanya aku
Objek pandang yang tertangkap sorot mataku sendiri
Ke mana arah?
Tak satu pun petunjuk
Di mana rimba hijau dan langit biru?
Hanya putih
Dingin...
Serasa darah melambat dalam aliran
Tubuh gemetar dalam gigil mencari tungku api
Takut...
Makin sadarkan bahwa diri tak kuasa
Seolah tlah datang janji-Mu
Tatkala bumi yang kupijak
Kau gulung dari hamparan
Masa yang mengerikan
Karena kutahu
Bahwa diriku belum pandai meraih cinta-Mu
Tuhan...
Aku terpenjara
Embun
Adi Kili dan Burung Brenggi
Dahulu, ketika masih kecil, saya sering tidur di rumah Budhe. Rumah beliau berada di depan rumah orang tua saya. Saya memanggil beliau ”De Neng”, nama yang pernah tertulis dalam lembar persembahan karya tulis saya, sebagai ”permata kehidupan yang mengalirkan doa-doa”. Beliau selalu mengisahklan dongeng sebelum saya tidur, dongeng yang sama setiap saya tidur bersamanya. Dan dongeng itu tak pernah lekang dalam ingatan saya sampai sekarang, walaupun saya telah meninggalkan beliau selama 30 tahun. Saya tulis dongeng ini sebagai pelampiasan rindu kepada orang yang selalu mengalirkan doa-doa. Beginilah kisah dalam dongeng itu...
Syahdan, pada zaman dahulu kala di tepi hutan, hiduplah dua orang yatim piatu kakak beradik yang tinggal di sebuah gubuk. Sang kakak bernama Mantri dan sang adik bernama Kili. Kili memanggil kakaknya dengan sebutan ”Kang Mantri”, sedangkan Mantri memanggil adiknya dengan sebutan ”Adi Kili”. Pada suatu hari mereka berdua sepakat untuk berpisah karena ingin memperbaiki nasib kehidupanya. Kang Mantri hendak pergi bekerja ke kota dan meninggalkan adiknya sendiri di gubuknya. Dalam hati sesungguhnya ia tidak tega meninggalkan Adi Kili, satu-satunya orang yang disayanginya di dunia ini. Tapi apa boleh buat, ia ingin membahagiakan adiknya dengan mencukupi kebutuhan hidup yang memadai. Oleh karena itu ia mempersiapkan sesuatu untuk membatasi waktu kepergiannya.
”Adi Kili, sebentar lagi Kang Mantri akan pergi. Terimalah biji belimbing manis ini. Jika Kang Mantri berangkat, tanamlah biji belimbing ini di depan gubuk kita. Kelak jika pohon belimbing telah berbuah, panggilah Kang Mantri. Beritahukan bahwa pohon belimbing manis telah berbuah. Kang Mantri pasti merasakan panggilanmu dan segera pulang”. ”Baiklah Kang mantri, Adi Kili akan menlaksanakan tugas ini”.
Maka berangkatlah Kang Mantri meninggalkan Adi Kili. Tanpa menoleh sekejap pun kepada adiknya ia berjalan lurus dengan mata yang tergenang. Sedangkan Adi Kili menatap kepergian kakaknya dengan mata bekerjap-kerjap dan mengalirlah air mata gadis itu. Bibirnya terkatup tanpa isakan. Setelah kakaknya hilang dalam pandangan, Adi Kili menanam biji belimbing manis yang sejak tadi dalam genggamannya.
”Biji belimbing, aku tanam kau dengan cinta dan harapan, tumbuhlah! Kang Mantri akan datang jika kau tumbuh dan berbuah”. Sambil tersimpuh di tanah, air mata Adi Kili menyiram biji belimbing yang ditanamnya.
Setiap saat, tidak pandang pagi, siang, atau sore Adi Kili memeriksa tanaman belimbing manisnya. Dan biji belimbing itu tumbuh menjadi pohon yang subur. Begitulah kecintaan Adi Kili terhadap kakaknya ditumpahkannya kepada pohon belimbing manis agar senantiasa tumbuh subur dan berbuah.
Bulan berganti bulan, tahun pun berganti entah telah berapa kali. Dan telah sampailah pada waktunya pohon belimbing berbunga. Adi Kili sangatlah girang hatinya, dengan sabar ia menunggu bunga-bunga itu menjadi buah karena dengan demikian ia akan bertemu dengan Kang Mantri, kakaknya yang dinanti-nantikannya. Dalam hitungan hari bunga-bunga belimbing itu luruh dan muncullah buah belimbing yang mungil. Mata Adi Kili berbinar-binar, senyumnya mengembang. Maka ketika buah itu telah membesar, Adi Kili memanggil kakaknya dalam nyanyian...
” Kang Mantriii..., pohon belimbing manis telah berbuah... Kang Mantri...
Kang Mantriii..., pohon belimbing manis telah berbuah...Kang Mantri...”
Begitulah suara Adi Kili terus menerus dalam nyanyiannya. Apabila merasa capai, ia pun berhenti dan memanggil lagi sampai sayup-sayup suaranya dibawa angin.
Alkisah, ada seekor burung raksasa yang selalu berbunyi ”brenggiii....” dan oleh karena suaranya yang seperti itu maka orang menyebutnya burung brenggi.Burung brenggi merasa terganggu oleh suara Adi Kili. Ia mencari sumber suara dengan amarah yang membuncah di kepalanya. Sementara Adi Kili tetap dalam lantunannya. Akhirnya...
”Bag, kabag, kabag...” Burung itu mengepakkan sayapnya yang besar dan berbunyi ”Brenggiiii....Ooo..., ternyata kau Adi Kili! Kau telah mengganggu tidurku. Kau merusak ketenangan hutanku. Diamlah...!!! Atau aku akan membuatmu diam!!!” Mendengar ancaman burung brenggi, Adi Kili semakin keras memanggil kakaknya.
”Kang Mantriiiii..... Pohon belimbing manis telah berbuah ... Kang Mantri...
Kang Mantriiiii..... Pohon belimbing manis telah berbuah ... Kang Mantri...
Mendengar itu, burung brenggi semakin marah dan akan mematuk Adi Kili.
”Diamlah, Adi Kili!!! Kalau tidak mau diam, aku patuk ubun-ubunmu!!!”
Adi Kili dengan tubuh gemetar tetap memanggil kakaknya, bahkan semakin cepat dan keras. Maka....
”Bag, kabag, kabag..... brenggiii... Kau memang ingin mati, Adi Kili... Kau tidak takut kepadaku, kau tidak menurut perintahku, Suaramu memecahkan kepalaku...” Selesai berkata seperti itu mengayunlah paruh burung raksasa itu ke arah Adi Kili, dan... brussss..... Paruh burung brenggi menancap di ubun-ubun Adi Kili. Seketika itu Adi Kili lunglai dan terkapar di depan gubugnya. Adi Kili mati.
Sementara itu di kota tempatnya bekerja Kang Mantri merasakan panggilan adiknya. Lalu ia bersiap pulang dengan bermacam-macam barang bawaan untuk keperluan hidupnya bersama Adi Kili yang sangat dirindukannya.
Dengan memberikan beberapa keping uang kepada sais, ia mendapat tumpangan cikar bermuatan genting yang melewati hutan tempat gubugnya berada. Berhari-hari ia dalam perjalanan pulang. Apabila matahari tenggelam mereka berhenti dan menginap di atas cikar. Sampai kemudian Kang Mantri tiba di tepi hutan, kampung halamannya. Masih sepuluh depa jarak ke gubugnya, ia sudah berteriak memanggil adiknya.
”Adi Kiliii............... Kang Mantri dataaang.......!
Adi Kiliii............... Kang Mantri dataaang.......!
Begitu terus menerus sampai Kang Mantri tiba di depan gubugnya. Dengan kerinduan yang tidak alang kepalang, Kang Mantri terus memanggil adiknya. Namun sambutan sang adik belum juga tampak. Kang Mantri mulai cemas, apa gerangan yang telah dialami adiknya. Setelah menurunkan barang bawaannya, Kang Mantri langsung menyerbu ke dalam gubug. Dan...
”Adi Kiliiiiiiiii..............................! Demikian histerisnya Kang Mantri menangis pilu melihat kerangka tergeletak di lantai tanah dalam gubugnya. Ia yakin kerangka itu adalah Adi Kili. Segera ia mengambur ke dalam hutan. Sebelum matahari tenggelam ia harus menemukan daun demolo dan daun kastubo. Setelah mendapat apa yang dicarinya, Kang Mantri berlari pulang tanpa peduli letih. Sesampai di gubugnya, ia alasi mayat Adi Kili dengan daun demolo dan ia kipasi dengan daun kastubo. Dengan menyebut nama Allah swt, dikipas-kipaskanlah daun kastubo itu.
“Pit ipit ipit...”Bunyi kipas daun kastubo yang diayun Kang Mantri berbunyi. Dan atas kehendak Allah swt. semata bahwa kerangka Adi Kili menyatu.
“Pit ipit ipit....” maka tumbuhlah daging dan kulit yang membungkus kerangka Adi Kili.
”Pit ipit ipit....” Bergerak-geraklah tubuh adi Kili.
“Pit ipit ipit.....” Berkatalah Adi Kili tentang kejadian yang dialaminya.
Kemudian Kang Mantri menyuruh Adi Kili memanggil namanya kembali agar burung brenggi datang kepadanya.
” Kang Mantriii..., pohon belimbing manis telah berbuah... Kang Mantri...
Kang Mantriii..., pohon belimbing manis telah berbuah...Kang Mantri...”
Sebentar kemudian terdengarlah....
”Bag, kabag, kabag..... brenggiii...
Bag, kabag, kabag..... brenggiii..., Adi Kili..!!! Bagaimana kau bisa selamat dari patukanku? Sekarang inilah waktumu untuk mati!
”Bag, kabag, kabag..... brenggiii...” Baru selesai kepakan sayap ketiga, Kang mantri yang bersembunyi di balik pintu mengayunkan pedang yang baru diasahnya.
”Cresss....!!!” Putuslah leher burung brenggi yang panjang seperti angsa itu bergedebug jatuh ke tanah. Burung brenggi mati dan Adi kili bersama Kang Mantri hidup berbahagia.
Lokakarya Sabhatansa
Narasumber yang diundang :
- Prof. Dr. Djoko Saryono (Pakar pendidikan UM)
- Drs. Darto, M.Pd. (Pengawas Dikmenum)
- Drs. Sutjipto (Pengawas Dikmenum)
- Dra. Hj. Kamsinah, M.Pd. (Pengawas Dikmenum)
Selain memberikan materi Bintek KTSP, narasumber juga memberikan motivasi kepada guru dan karyawan agar menjadi profesional.
26 Agustus 2008
In Memorian: Bang Drago...
![]() |
Pandanglah gambar laut ini, lalu simaklah puisi berikut... |

