13 Juni 2009

Kisah Tak Berbingkai (Episode 3)

Mimpiku Mengakibatkan Lygophobia

Kawan blogger dan para sahabat yang saya sayangi, tentang “Lelaki baik yang menderita kusta” itu, begini lanjutan kisahnya:

Sejak kubuat dia menangis di malam itu, terasa ada kontradiksi antara harapan dan kenyataan. Aku berharap dia bahagia ternyata sebaliknya. (aku jadi ikut sedih juga…)
“Gerilya” malam yang kulalukan serasa tak berguna, walaupun awal dan muara niatku adalah hati. Aku meninggalkan dinding rumahnya dengan perasaan hampa. Hubungan pertalian dengan sesama bukanlah sesuatu yang harus dicari. Karena pada saatnya akan terjalin berkat kesungguhan hati. Kisah ini adalah bagian peristiwa yang mewarnai sejarah, yang selalu hidup dalam kehidupanku, tak terlupa, bahkan sulit untuk dilupakan.

Hari-hari berikutnya aku selalu duduk di teras rumah menghadap ke selatan. Jika aku mengarahkan pandanganku 45 derajat ke arah kiri, maka aku bisa melihat rumahnya dalam jarak 200 meter. Aku mengharap dia juga duduk di teras rumahnya. Jika yang kulihat demikian, aku melambaikan tangan menyapanya dari jauh. Bahkan sekali-sekali aku lewat depan rumahnya, walau sekilas bertemu dia selalu melontarkan semangat untukku.

Begitulah hari-hari bersamanya sampai aku SMA. Aku menyayangi dia, ayah, dan ibunya. Barangkali sepadan dengan kasih sayang mereka kepadaku, walau itu semua kami lakukan secara sembunyi-sembunyi. Sampai akhirnya aku meninggalkannya karena harus melanjutkan pendidikan di Malang. Terasa berat dan sedih.

Waktu itu tahun 1992, aku tinggal di Asrama Mahasiswa Jalan Veteran 11 Malang. Dengan memilih Asrama sebagai tempat tinggal, aku harus konsekuen dengan peraturan yang ada. Bangun pagi pk.04.00, sholat berjamaah, piket belanja, makan di asrama, sholat malam, olahraga, berorganisasi, dan yang paling menarik adalah diberlakukannya jam malam pukul 20.00 WIB. Warga Asrama yang ke luar harus sudah kembali dan tamu yang datang juga harus meninggalkan tempat. Dengan mempertimbangkan kegiatan Asrama yang padat, jadwal kuliah, dan aktivitas organisasi kampus, aku tidak bisa pulang kampung sesuka hati. Ketika libur semester tiba, aku merasa bahagia, sangat bahagia. Aku kembali ke hangatnya sarang. Setiap duduk di teras rumah, aku tak pernah melihat dia, lelaki baik yang menderita kusta. Diam-diam aku menanyakan kabarnya kepada tetangga depan rumah. Aku menangis karena sedih yang teramat dalam, lelaki yang baik itu telah meninggal dunia. Aku merasa ada yang hilang, sesuatu yang meretas dari hidupku....

Kembali ke Malang

Asrama masih sepi. Banyak mahasiswa yang belum datang karena waktu libur masih tersisa beberapa hari. Esoknya, hari Kamis, Aku menjemput sahabatku di Wajak (Kabupaten Malang). Sahabat yang sangat menyukai lagu Gereja Tua. Kami sering menyanyikannya bersama. Setiap mendengar lagu tersebut aku teringat dia. Itulah yang membuatku juga menyukai lagu itu. Persahabatan kami sangat akrab seperti saudara. Aku telah terbiasa dengan keluarganya dan dia juga telah terbiasa dengan keluargaku.

(Bersambung dulu ya, mau berangkat Orientasi Pramuka di Kebun Teh, Insya Allah saya tulis lanjutannya di postingan ini kalau sudah kembali.)

Minggu, 15 Juni 2009
Alhamdulillah, saya sudah kembali dengan sehat dan selamat dari Orientasi Pramuka. Malam-malam saya teringat janji kepada kawan blogger dan para sahabat untuk melanjutkan kisah itu.


Inilah sambungannya....

Hari Kamis, akhir Desember 1992 di Wajak yang permai, aku bermimpi. Semua peristiwa dalam mimpi malam itu berlatar (setting) di desa Wajak. Semua yang aku lihat dan aku rasakan seolah nyata. Tak ada yang berbeda sedikitpun antara yang kulihat dalam mimpi dengan keadaan yang sesungguhnya. Dalam mimpi: aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sahabatku itu, namanya Rini. Namun, di tengah jalan aku dihadang oleh Lelaki baik yang menderita kusta. Aku terkejut, ”Mengapa dia berada di sini? Bagaimana dia tahu tempat ini? Dia kan sudah meninggal?” pikirku. Walaupun terkejut aku tidak berkata apa pun kepadanya. Aku berbalik arah dan mencari jalan lain menuju rumah. Setelah bersusah payah mencari ”jalan tikus” dan merasa agak lega, tiba-tiba dia sudah menghadang di depan. Aku belum menyerah untuk mencari jalan pulang. Namun, dia selalu menghadang setiap langkahku. Aku berpikir untuk menggunakan jurus terakhir (ketika SMA aku atlet sprint spesialis 200 m). Dalam pikirku, jika aku berlari dengan sangat cepat, pasti dia tidak akan bisa mengejarku. Aku pun melakukan itu dan berhasil menerobos ”barikade” Lelaki baik yang menderita kusta. Sesampainya di rumah aku bergegas ke tempat tidur agar ”Lelaki” tadi tidak bisa menemukanku. Dalam mimpi itu aku ”tidur” di kamar yang sama juga dengan posisi yang sama dengan tidurku yang sesungguhnya.

Ternyata Lelaki baik yang menderita kusta itu masih bisa menemukan ”persembunyianku”. Dia datang dengan ”pasukan”nya dan telah mengepungku di sekeliling tempat tidur (seperti tim dokter yang siap mengoperasi pasien) lengkap dengan pakaian ”steril” berwarna putih, termasuk pakaianku. Kecuali pakaian yang kukenakan, latar peristiwa yang aku lihat dalam mimpi itu tak sedikitpun berbeda dengan keadaan yang sesungguhnya, termasuk perabotan yang berada dalam kamar tidur.Ketika mereka memegangi kakiku, aku memberontak untuk melepaskan diri. Aku ”berjuang” dengan segala daya. Ada ”pergulatan” antara keluar dan masuk ”dunia” itu.

”Alhamdulillah”.... kuucapkan kata itu dalam mimpi ketika bisa melepaskan diri. ”Alhamdulillah”.... kuucapkan lagi kata itu dalam sadar. Aku terjaga bersama bunyi jam yang berdenting dua belas kali. Aku duduk tertegun di tempat tidur. Jantungku berdetak tanpa irama yang pasti. Dan semakin berdegap-degup tak menentu. Napasku menyesak di dada. Tenggorokanku seolah tersumbat. Aku tidak tega membangunkan Rini yang tengah tidur pulas. Aku keluar kamar dan minum segelas air, tetapi tenggorokanku tak merasakan apa pun. Tanpa ada yang tahu (termasuk Bapak dan Ibu), aku ke luar, turun ke sungai depan rumah. Dalam gelap di tengah malam, aku berwudhu air sungai yang tak pernah lelah bergemiricik. Namun kulitku terasa mati. Aku tak merasakan dinginnya air. Sama sekali tidak merasakan apa pun. Aku masuk ke dalam rumah dan mencoba sholat dua rokaat. Namun, aku belum juga bisa menguasai diri. Kubangunkan Rini, dia justru panik melihatku yang ”seolah” akan mati. Dibangunkannya Bapak dan Ibu. Semua panik dan tegang. Aku tak sampai hati melihat mereka dan menemaniku menunggu pagi. ”Kalaupun harus mati, aku tidak boleh menyusahkan mereka” pikirku waktu itu. Aku katakan kepada mereka bahwa aku sudah baik. Dan mereka pun melanjutkan tidur. Aku berbaring, napasku terasa sesak walaupun aku tak pernah punya ”penyakit” ini sebelumnya. Aku keluar kamar, berjalan hilir mudik di dalam rumah untuk menenangkan perasaan. Dalam kondisi seperti itu, yang kutunggu hanya satu, yaitu sinar matahari. Aku menunggu pagi datang. Sungguh penantian yang paling lama dalam segala penantian yang pernah kulakukan. Kondisi ”perasaan”ku membaik ketika terdengar adzan subuh, karena menandakan bahwa sebentar lagi sinar matahari akan muncul.

Alhamdulillah... Jumat pagi itu aku sudah merasa sehat. Namun, perasaanku bergolak bersama pergeseran matahari. Semakin matahari bergerak ke barat, semakin perasaanku cemas. Khawatir dengan keadaanku, Rini dan Ibu mengantarku pulang ke Lamongan. Mereka mengatakan kepada keluargaku bahwa aku kurang sehat. Melihat fisikku yang tidak kurang suatu apa pun, ibuku tidak terlalu khawatir. Setiap menjelang maghrib, aku sangat ketakutan. Aku minta tidur bersama ibuku. Aku minta dipeluk, didekap rapat seperti masa kanak-kanak. Sepanjang malam kupegang tangan ibu tanpa dapat memejamkan mata walau sekejap. Ibuku menjadi cemas karena hal itu berulang setiap hari. Aku benci kegelapan. Aku takut malam menjelang. Aku tidak mau bermimpi....
TAMAT

(Saya tidak akan berbagi tentang kisah mimpi lagi, jika ada pertanyaan: silakan sampaikan di kolom komentar. Insya Allah saya akan menjawabnya)


23 komentar:

  1. Kisahnya berbingkai koq,... malah sangat indah. Aku tidak bisa membuat kisah seperti ini yang membuat pembacanya seakan larut dalam cerita.
    Sayangnya masih bersambung deh.

    BalasHapus
  2. salam guru lilis

    "mau berangkat Orientasi Pramuka di Kebun Teh"

    kebun teh?
    cerita ni ada sambungan yer... :)

    jumpa lagi yer..

    BalasHapus
  3. Follow Your dreams to the shores of Your imagination

    BalasHapus
  4. memang tiap orang itu banyak yang tidak mensyukuri nikmat yang di berikan.. mlah banyak yang kufur nikmat...

    BalasHapus
  5. Mimpi itu indah walaupun jauh dari kenyataan seakan aku dekat....!!
    tapi yach ...begitulah jauh dimata dekat di hati

    BalasHapus
  6. @ Seti@wan Dirgant@Ra
    Terima kasih atas PERTAMAX-nya, Pak.
    Postingan ini hanya hiburan, tidak seperti tulisan bapak yang sangat edukatif.

    @ Fahmi Latiff
    (Sahabat dari negeri jiran)
    Wa'alaikum salam...
    Apa kabar nih? lama sekali rehatnya? Apakah proyek sudah selesai?
    Senang sekali mendapat kunjungan Fahmi.
    Pramuka=Pandu.
    Tentang Orientasi Pramuka:
    Sebenarnya itu Head Master Forum, saya hanya mewakili. Acara dilaksanakan di kebun teh, yaitu area perkebunan (PTP 12) yang dilengkapi sarana untuk meeting, outbond, penginapan, dan fasilitas refreshing lainnya.
    Sambungan cerita sudah saya upload.
    Terima kasih Fahmi...

    @ Sunny
    Salam kenal juga
    Kabar? Alhamdulillah...

    @ Mas Uce
    May be: the story of dream is the last ...
    Thanks for all the motivation and attention that you have given to me.

    @ Mas Bahak
    Bagaimana lanjutan kisah tentang "Teroris"?

    @ Bachabe
    Benar Boss...
    Kita memang "jauh di mata dekat di hati".
    (untuk kita kan pernyataan itu? hehe..)

    BalasHapus
  7. mimpi yang terang dan bisa diingat dengan jelas apalagi sampai ditulis kata nenek saya itu semacam pesan baik agar kita lebih berhati2 dan waspada dalam menjalani hidup......

    BalasHapus
  8. Assalamualaikum...
    Alhamdulillah akhirnya bisa berkunjung ke rumah ini lagi...
    Mmm...kisah mimpi itu seperti main petak umpet ya?saling kejar kejaran?hahahaha...Apalagi ditambah dengan kisah yang menakutkan membuat detak jantung kita tidak beraturan...Saya jg pernah mengalami mimpi yang sangat menakutkan..Hingga kaget dan terbangun. Ketika saya terbangun,saya merasa bahagia dan sedikit tenang bahwa yang saya alami itu hanya mimpi.Setelah kondisi saya mulai membaik dan merasa tenang saya pun melanjutkan tidur saya... Dan kemudian saya merasa sangat kesal karena mimpi itu datang kembali dengan kisah yang bersambung...Kisah yang sangat menakutkan karena di dalam mimpi itu saya dikejar-kejar pocong dan kawan-kawannya. Untuk yang kedua kalinya saya bertekad tidak akan tidur lagi...Semenjak saat itulah saya merasa merinding disco ketika melihat pocong...Taccccuuuuutttt.....

    BalasHapus
  9. Olá....fico feliz por sua visita em meu blog e gostaria de trocar experiência na Eduacação....quero lhe passar como é no Rio de Janeiro e no Brasil e gostaria de saber como é em seu país....para usar essas novidades (para mim) em sala de aula.
    Obrigado e aguardo sua resposta.
    meu imail é eduardomarculino@yahoo.com.br
    Quase esqueci: Gostaria que escrevesse um artigo (devidamente postado em seu nome) para o meu Blog e que outros leitores pudessem ler.
    Bom Dia...

    BalasHapus
  10. A arte de ser feliz
    Houve um tempo em que minha janela se abria sobre uma cidade que parecia ser feita de giz. Perto da janela havia um pequeno jardim quase seco.
    Era uma época de estiagem, de terra esfarelada, e o jardim parecia morto. Mas todas as manhãs vinha um pobre com um balde e, em silêncio, ia atirando com a mão umas gotas de água sobre as plantas. Não era uma regra: era uma espécie de aspersão ritual, para que o jardim não morresse. E eu olhava para as plantas, para o homem, para as gotas de água que caíam de seus dedos magros e meu coração ficava completamente feliz.
    Às vezes abro a janela e encontro o jasmineiro em flor. Outras vezes encontro nuvens espessas. Avisto crianças que vão para a escola. Pardais que pulam pelo muro. Gatos que abrem e fecham os olhos, sonhando com pardais. Borboletas brancas, duas a duas, como refletidas no espelho do ar. Marimbondos que sempre me parecem personagens de Lope de Vega. Às vezes, um galo canta. Às vezes um avião passa. Tudo está certo, no seu lugar, cumprindo o seu destino. E eu me sinto completamente feliz.

    Mas, quando falo dessas pequenas felicidades certas, que estão diante de cada janela, uns dizem que as coisas não existem, outros que só existem diante das minhas janelas, e outros, finalmente, que é preciso aprender a olhar, para vê-las assim."
    "A arte de ser feliz"
    Cecília Meireles

    BalasHapus
  11. @ Sanur Sukur
    Memang kita harus berhati-hati dan waspada dalam segala hal.
    Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya. Bagaimana UAS-nya?

    @ Martha Indah
    Begitulah mimpi, kadang terasa aneh untuk dirasakan.
    Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya. Semoga sukses...

    @ Eduardo Marculino
    (My friend from Brazil)
    Arte pode realmente fazer as pessoas felizes. Incluindo truque palavra arte, arte literatura. Você leu todos lugares, eu me lembro japonês romance intitulado "Toto Chan, Pequeno menina na janela." Eu imagino um lugar bonito que é o pano de fundo de eventos em sua história.
    Eu espero qualquer lugares próximos.
    Obrigado por visitar e dar comentários sobre meu blog. Estou feliz e orgulhoso de ser com você.
    Saudações de um professor na Indonésia ...

    BalasHapus
  12. numpang baca2 mbak
    salam kenal, kl sempat silahkan mampir ke blog sy ya? smoga menj sahabat :)

    BalasHapus
  13. Salam,

    Blog anda paling mudah untuk di buka, saya senang jika di bandingkan dengan blog lain di Indon

    BalasHapus
  14. hebat!
    tulisannya sangat bagus.
    deskripsinya ok.

    BalasHapus
  15. Salam kunjung kembali dari Pak karamu,

    Memang kitalah yang akan berjuang akan tetapi atas jurus masing-masing dan waktu sekarang juga saya sedang berjuang ke arah tersebut insya Allah namun teguran wajib juga si syorkan agar mereka tidak berbabas

    Terima kasih atas kunjung balas

    BalasHapus
  16. Ini yang saya tunggu...
    akhirnya bisa memuaskan rasa penasaran saya...
    Terima kasih Mbak, saya mendapat inspirasi dari tulisan Anda.

    Hidup berawal dari mimpi
    "Aku merasa ada yang hilang, sesuatu yang meretas dari hidupku...."

    BalasHapus
  17. bunda banyak banget awardnya yaaaa keren

    BalasHapus
  18. lm kenal yaCh...content blognya bgus...kpn2 sharing yaCh..

    BalasHapus
  19. Wah cerita mimpinya sampai seperti itu yaa, takut kalau ketemu malam..



    Itu bahasa Brazil atau bahasa apa?
    Mbak Lis berarti menguasai beberapa bahasa? Salut. Saya paling lemah bahasanya

    BalasHapus
  20. wah.. isu itu sekarang udah agak reda sih,, kemaren pas kedatangan obama isu teroris menjadi isu sentral... saat ini mesir malah sibuk razia, kemaren 4 mahasiswa indonesia tertangkap.. tapi akhirnya di bebaskan setelah apa yang di tuduhkan tidak benar

    BalasHapus
  21. Mbak Rini itu tetanggaku Mbak, salam dari Wajak..

    BalasHapus
  22. assalamualaikum. salam kenal comennya sich ok2 aja .

    BalasHapus