29 Mei 2009

Kisah Tak Berbingkai (Episode 2)

2) Mimpi di Dalam Mimpi

Saya termotivasi melanjutkan tulisan ini karena ingin belajar KONSISTEN, walaupun kisah mimpi-mimpi dalam rentang waktu berpuluh tahun yang lalu telah saya loncati begitu saja. Mungkin suatu saat akan saya tulis kisah serupa namun tanpa kronologi waktu yang berurutan ke masa depan. Kisah mimpi “Saya dan Tukang Cat” sudah tamat, dan inilah kisah berikutnya.

Lelaki yang Baik itu Menderita Kusta

Dua hari yang lalu aku bermimpi sedang membeli nasi bungkus untuk Ibu. Di tempat penjual nasi itu ada seorang perempuan tua duduk berselonjor kaki mengulurkan tangannya kepadaku. Dia ingin menjabat tanganku. Setelah mendekat, aku terkejut ternyata perempuan tua itu menderita kusta. Tangan yang diulurkan kepadaku penuh luka dan telah mengalami cacat mutilasi di beberapa sendi jemarinya. Aku tak sampai hati melihat uluran tangannya, maka kusambut tangan perempuan itu kemudian bergegas menghampiri penjual yang telah selesai membungkus nasi untukku. Aku semakin terkejut, ternyata perempuan penjual nasi itu juga menderita kusta. Cepat-cepat kubayar dan kutinggalkan tempat itu.

Sambil berjalan aku merenungi dua perempuan penderita kusta. Dan di dalam mimpi itu tiba-tiba aku teringat mimpi sepuluh tahun yang lalu (mimpi di dalam mimpi). Waktu itu aku bermimpi melihat seorang lelaki yang sangat kukenal. Dia menderita kusta seperti dua perempuan tersebut. Namun dalam mimpiku, lelaki itu telah sembuh dari penyakitnya. Dia tidak berkata-kata, semakin menjauh dengan senyum di wajahnya yang tampan. Siapakah lelaki itu? Nanti aku kisahkan setelah yang berikut.

Sambil terus berjalan dan membawa nasi bungkus, aku berpikir: akan kukemanakan nasi ini? Diberikan Ibu, aku tidak sampai hati. Kalau Ibu tahu bahwa penjual nasi itu menderita kusta, tentu tidak akan mau memakannya. (Aku juga teringat bagaimana Ibu melarangku berteman dengan lelaki penderita kusta itu). Aku terus berjalan mencari orang yang mau kuberi nasi bungkus, tetapi tidak seorang pun kutemui. Aku berniat membuang nasi itu, tetapi telah terjaga sebelum membuangnya. Ketika bangun dari tidur aku selalu merekonstruksi mimpi yang baru saja kualami. Dan yang paling berkesan dalam ingatanku adalah lelaki yang kutemui di dalam mimpinya mimpiku. (Bingung kan? Tentu tidak). Begini kisah tentang lelaki baik yang menderita kusta itu:

(Ini bukan kisah mimpi)
Seorang pemuda berumur sekitar 10 tahun begitu sayang kepadaku. Waktu itu usiaku 4 tahun. Pernah dia memain-mainkan uang logam 25 rupiah dengan melemparkan ke atas dan menangkapnya kembali. Siapa yang bisa merebutnya boleh memilikinya. Semua berebut, dan semua tidak ada yang mendapatkannya. Sedangkan aku yang tidak ikut berebut justru mendapatkannya. Dia memberikannya kepadaku. (Saat menulis ini dadaku terasa penuh dan mataku berkaca-kaca). Hampir setiap hari dia menjaga dan mengajakku bermain.

Sampai suatu saat dia melanjutkan sekolah (SMP) ke Malang dan aku merasa kehilangan kawan bermain yang sangat baik. (Konon kabarnya dia ikut kakak perempuannya yang menjadi anak angkat seorang dokter berkebangsaan Belanda di Lawang, dokter sisa zaman perang mungkin.) Selesai SMP dia pulang dan tidak melanjutkan sekolahnya karena sakit. (Mengapa pulang, mengapa tidak berobat ke dokter itu? Pertanyaanku dalam hati yang tentunya tidak pernah terjawab). Setelah sekian lama (bertahun-tahun kemudian) baru orang tahu bahwa dia menderita kusta. Penyakit baru di desaku, penyakit yang menakutkan banyak orang. Dia dan keluarganya dikucilkan. Aku sangat iba kepadanya, namun Ibu melarangku berteman dengannya. Sering bila malam-malam aku mengintip di dinding rumahnya yang terbuat dari bambu, atau mencuri dengar pembicaraan mereka. Waktu itu aku kelas 1 SMP.

Pada suatu malam, dalam pengintaianku di rumahnya, aku mendengar pembicaraannya. Lelaki baik penderita kusta itu ingin makan buah mangga dan ibunya menjanjikan akan membeli untuknya. Esoknya, aku “membaca medan” di halaman belakang rumahku yang luas dengan berbagai macam tanaman, termasuk 25 batang pohon mangga yang besar-besar dan sedang berbuah. Aku mengatur strategi pemanjatan dan menandai dahan mana yang buahnya paling banyak serta ranum-ranum. (Keluargaku menjuluki aku “bajing loncat” karena aku pandai memanjat. Aku terbiasa bergelantungan dari dahan ke dahan untuk memetik buah mangga, bahkan memanjat buah kedondong yang batangnya besar dan tinggi). Hmmmm….. Aku tidak sabar menunggu malam.

Sampai akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu tiba. Setelah maghrib, aku mengenakan kaos rangkap, kaos pertama press body, kaos kedua agak besar dan keduanya kumasukkan dengan rapi ke dalam celana pendek kesayanganku. Aku mengendap-endap ke halaman belakang rumah dan merapat di sebatang pohon yang telah kuberi tanda. Sekali loncat ke atas, aku bisa menangkap batang horizontal dan memelantingkan tubuhku sehingga berada di atas batang tersebut. Aku berjalan di atas dahan dalam gelap yang sangat pekat,dengan hati-hati mengikuti petunjuk tanda yang kubuat sendiri. Tangan kiriku mencari tumpuan pegangan yang aman, sedang tangan kananku bergerilya, meraba-raba, dan memencet-mencet buah yang telah masak. Setelah kupetik lalu kumasukkan ke dalam kaos, di antara kaos pertama dan kaos kedua agar tubuhku tidak terkena getah. Sampai tubuhku membesar karena dikelilingi oleh buah mangga. Setelah merasa cukup banyak, aku turun dengan hati-hati agar buah tidak jatuh atau tumpah jika aku turun dari pohon seperti biasanya, terjun bebas secara terarah dari ketinggian yang terukur. Kali ini tidak, aku sangat berhati-hati karena membawa misi sangat penting dan rahasia (Hallaaah…..seperti mata-mata perang saja!!!). Aku merasa badanku seperti pelaku bom bunuh diri yang menyembunyikan handak di balik pakaian. Tak kalah menegangkan dengan film “Hunter”, aku mengendap-endap dengan jantung berdegup-degup karena takut jika misi ini gagal. Aku takut ketahuan Ibu (Ayah dinas di luar kota), sehingga aku merapat dari dinding rumah yang satu ke dinding rumah yang lain sampai akhirnya tiba di tempat tujuan.


“Tok..tok..tok…”
Aku mengetuk pintu rumah itu pelan-pelan. Ketika pintu dibuka oleh ibunya, aku segera meletakkan jari telunjuk di mulutku, pertanda bahwa aku tidak menghendaki orang lain mendengar. Walaupun mulutnya ternganga, ibu itu mematuhiku. Aku masuk beberapa langkah dari pintu, mengeluarkan buah “yang kukandung”, dan lari keluar tanpa kata-kata agar tak seorang pun melihatku. Setelah agak jauh dan pintu rumahnya telah ditutup, aku kembali menghampiri rumahnya pelan-pelan. Aku ingin mendengar mereka bahagia. Namun yang kudengar justru isakan tangis sahabatku, lelaki baik yang menderita kusta. Aku sangat bersedih, aku merasa bersalah telah membuatnya menangis. Mungkin aku telah melukai perasannya. Atau... entah karena apa.

Bersambung….




20 komentar:

  1. Saya cuman bisa mengatakan bahwa,.... ibu mempunyai ingatan yang sangat kuat.

    BalasHapus
  2. Kelebihan yang dimiliki Mba Lis ternyata sangat bagus kalau ditulis, kan nggak mungkin saya ikut mimpi. Subhanalloh..

    BalasHapus
  3. Kalau menurutku, kekuatan cerita ep1 & ep2 adalah kerangka cerita dik lilis sangat bagus, atau lebih tepatnya adik sebenarnya ahli membuat cerita skenario film...
    kenapa film indonesia tidak diminati.., krn kekuatan skenario filmnya bukan dibuat oleh pujangga indonesia (emang gak ada pujangga ak 2000). tidak seperti film luar karya steven spielberg dll yg sarat dengan pesan moral dan apa itu ya... sampe lupa aku...
    itu selipan tentang filsafat hidup.

    salam dari hmm hmm...yoo
    dan terus berkreasi..

    BalasHapus
  4. @Seti@wan Dirgant@Ra
    Sekarang sudah tua Pak, sudah mengalami penurunan daya ingat.
    Terima kasih atas komentar rutin Anda, Pak.

    @Big Sugeng
    Kapan-kapan saya undang para blogger untuk mengikuti konferensi dalam mimpi saya, bagaimana, Boss?
    Diperlukan EO yang mengatur segala keperluan dan propertynya.
    Hehehehe...
    Terima kasih atas komentar rutin Anda, Boss.

    @Anonim
    (Kasihan ya gak punya nama)
    Kalau mau belajar membuat kerangka cerita, nanti saya undang untuk ikut belajar di kelas dengan Kompetensi Dasar: "Menyusun kerangka cerita dan mengembangkannya menjadi wacana narasi". Bagaimana?
    Tentang skenario film: Bagaimana kalau filmnya tentang ahli komputer yang bisa menciptakan program untuk memasuki alam mimpi orang lain dengan sistem kerja komputer?
    nanti skenarionya kita buat bersama.
    Terima kasih supportnya, Mas.
    Dan terima kasih atas komentar KEDUA.

    BalasHapus
  5. keep dreaming!
    keep writing!
    keep walking!
    keep moving!


    daud ardiansyah

    BalasHapus
  6. Seakan Aq bangun dari mimpi,
    semua begitu cepat terjadi,
    lagu lama berkumandang kembali.!!
    setelah menyimak mimpi indah
    ach... jadi pingin kembali seperti dulu tapi..tapi....?? ach ibu
    mana mungkin

    BalasHapus
  7. sori neehhhh..
    ini cerita bagus, cuma yang kepikiran di otakku nih, pengalaman pribadi atau sekedar cerpen ya...???

    BalasHapus
  8. kayaknya "agak" kurang wajar, tentang "mimpi didalam mimpi" (mungkin cuma dalam lagu adanya).
    "terobsesi" oleh suatu khayalan/ fantasi dimasa kecil, bisa nampil dalam mimpi. Tidak ada suatu "keputusan" yang dapat diambil, tapi hikmah dan nilai positif harus bisa diambil dari rangkaian mimpi ini.
    Semoga bisa menjadi bahan "pembelajaran".

    BalasHapus
  9. @ Daud Ardiansyah
    Thanks
    Thanks
    Thanks
    Thanks
    For all Ur Support...

    @ Bachabe
    Untaian kata-kata Anda
    menjadi puisi yang indah
    Terima kasih atas kunjungan Anda, Boss...

    @ Prie_79
    It's the real experience
    (Polisi bawaannya curiga melulu..?!!)
    Wkkkkk.....
    Thanks for your comment, Bro...

    @ Mas Uce
    Nah, kan.... Dokter sudah mulai merumuskan diagnosa..??!!!!
    (Rupanya dua referensi sudah cukup untuk membuat kesimpulan)
    Hmmmm.....jadi ngeri!

    BalasHapus
  10. setelah maembaca episode pertama, saya tertarik membaca kelanjutannya,
    mimpi di dalam mimpi, mengingatkan saya dengan novel "Atheis", bukan isinya, tetapi lebih ke cerita yang berbingkai, ada kisah di dalam kisah, layaknya ada "mimpi di dalam mimpi". Namun semuanya terkemas dalam "kisah tak berbingkai" (?), menarik..

    BalasHapus
  11. @ Ardhiansyam
    Selain pada roman "Atheis", cerita berbingkai juga menjadi karakteristik sastra lama, misalnya
    "Kalilah dan Dimnah". Namun dalam penulisan kisah ini saya justru membebaskan tangan dan pikiran saya untuk lepas mentranskrip mimpi menjadi bahasa tulis, tanpa adanya intervensi dari mana pun.
    Tentang judul "Kisah Tak Berbingkai",
    begini penjelasannya:
    Saya memiliki sekian banyak pengalaman batin yang sering mengusik hari-hari saya. Selalu membayang setiap kali pikiran saya "lengah" dari kesibukan. Kisah-kisah tersebut sporadis, menyebar, TAK terkumpul dalam satu BINGKAI. Saya punguti episode-demi episode untuk dipadukan menjadi "Kisah Tak Berbingkai". Walau akhirnya kisah tersebut (menurut teori penulisan narasi) termasuk cerita berbingkai (cerita di dalam cerita).
    Kesimpulan:
    Kata "berbingkai" yang saya maksud, dan kata "berbingkai" yang Anda maksud adalah dua kata yang berhomonim, sama nama tetapi menyiratkan pengertian yang berbeda.
    Senang sekali menerima komentar Anda....

    BalasHapus
  12. salam guru lilis ... :)

    tak sabar nak tunggu sambungan... :)
    menarik mimpi2 tu..:)

    salam hangat.. :)

    BalasHapus
  13. Aku mampir lagi mbak,....
    belum tua koq............

    ada Award lagi untuk ibu silahkan KLIK DISINI

    BalasHapus
  14. @ Fahmi Latiff
    (Sahabat Jiran yang setia)
    Salam juga untuk Fahmi...
    Sambungan cerita? Bagaimana kalau menunggu proyek Fahmi selesai?
    (sekalian traktiran, hehehe...)
    Selamat rehat sementara dari dunia Blogger, saya selalu mengunjungi "rumah" Fahmi.
    Salam hangat selalu...


    @ Seti@wan Dirgant@Ra
    (Masak...???)
    Terima kasih atas award yang Anda berikan, Pak...

    BalasHapus
  15. saya pengen deh punya skill kaya mbak..but so far so bad

    BalasHapus
  16. mimpi..mimpi...inget ibuku jdnya yg suka bikin aku mimpi...

    salutr mba' cerpenya...

    BalasHapus
  17. Hello, Lis Indra:

    I've tried to understand most text of your story; So I have to translate your text to english, and after to spanish (my native language). I don't know if you could, but it would be nice if you write some post on english, this way I could understand better the content of your inspiration. Now I only understand 67% of your text, and I really want to get the 100%.

    Kisses and hugs! XD

    BalasHapus
  18. @ Eduardo Robles Pacheco
    (My friend from Mexico)

    :Thank you
    I will try to a reply your comment in Spanish.
    I hope you understand.

    Hola Robles...
    En este trabajo me escribir
    historia sobre los sueños que he experimentado.
    Sueño desde que era pequeño. Me gusta escribir, porque el sueño era muy impresionante para mí hasta ahora.
    Estoy muy contento por su visita y su comentario. Esperemos que podamos ser amable. Como un Indonesia profesor de idiomas realmente me gusta de los escritos y fotografías de los disparos que en la referencia para el aprendizaje en nuestras aulas.

    Yo siempre se pierda la visita en mi blog.

    Gracias por tu comentario.
    Saludos desde Indonesia amigos.

    BalasHapus
  19. kesabaran kesabaran....bagi yg terkena musibah....tak ada yg lebih indah dari itu.....

    BalasHapus
  20. yakin lah Allah tak akan menimpakan musibah yg mana hambanya tak mampu....Allah maha penyayang...maha mengetahui segala kemaslahatan hamba-Nya....

    BalasHapus