18 Maret 2009

Fitrah Kesucian Nafs

Pada dasarnya nafsu itu diciptakan Tuhan dalam keadaan sempurna (Q/91 : 7-8). Akan tetapi, ia dapat tercemar menjadi kotor jika tidak dijaga (Q/91 : 9-10). Tentang Nafs yang masih suci disebutkan dalam surat Alkahfi/18 : 74, dalam rangkaian kisah Nabi Khidir.

Istilah zakiyyah pada ayat tersebut di atas (nafsan zakiyyatan) merupakan sifat dari nafs sehingga nafs zakiyyah artinya jiwa yang suci. Dalam konteks ayat tersebut, pemiliki nafs yang suci itu adalah anak kecil sebagaimana juga disebut dalam surat Maryam : 19 ghulâman zakiyyan. Jadi, nafs yang secara fitri masih suci adalah nafs dari anak yang belum mukallaf, yang dalam hhal ini belum berdosa.

Fakhrar Razi mengutip perbedaan makna dari kalimat zakiyyah dan zâkiyah. Sebagian Mufasir memandang sama arti kedua kalimat itu. Akan tetapi sebagian membedakannya, seperti Abu ‘Amr Ibn al ‘Ala. Menurutnya, nafs zâkiyyah (dengan alif) adalah jiwa yang suci secara fitri, yakni belum pernah melakukan dosa, sedang nafs zakiyyah adalah jiwa yang suci setelah melalui proses tazkiyyatan nafs dengan bertobat dari perbuatan dosa.

Kesucian nafs bersifat manusiawi, maka kotornya pun bersifat maknawi. Seseorang dapat memelihara kesucian nafs-nya manakala ia konsisten dalam ketakwaan. Sebaliknya, nafs berubah menjadi kotor jika pemiliknya menempuh jalan dosa atau fujur. Surat Assyams/91 : 7-10 menyebutkan bahwa sungguh rugi orang yang telah mengotori jiwanya (wa qod khôba man dassâhâ) kata dassa berasal dari kata dassa-yadussu yang arti lughowinya menyembunyikan sesuatu di dalam sesuatu. Dalam konteks ayat ini, orang mengotori jiwanya dengan perbuatan
dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu, sebagain mufasir berpendapat bahwa ayat Alquran ini (Q/91 : 10) berkenaan dengan nafs orang saleh yang melakukan kefasikan, bukan jiwa orang kafir. Pasalnya, orang saleh, meski ia melakukan dosa, tetapi ia malu dengan perbuatannya itu sehingga ia lakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Berbeda dengan orang kafir yang melakukannya dengan terang-terangan.

Alquran mengisyaratkan bahwa jiwa yang tercemar masih dapat diusahakan untuk menjadi suci kembali, baik dengan usaha sendiri, memalui pendidikan atau karena anugerah dan rahmat Allah seperti yang diisyaratkan oleh surat Q/9 : 103, Q/3: 164.

Artinya : Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Alkitab dan Alhikmah. Dan
sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Q/3 : 164).

Ayat Alquran tersebut mengisyaratkan bahwa orang yang sesat masih dimungkinkan untuk dibersihkan jiwanya. Usaha atau proses penyucian jiwa itu disebut tazkiyyat an nafs.

Sumber, http://mubarok- institute. blogspot. com


6 komentar:

  1. ssalamu'alaikum
    Bu, saya murid Ibu di Pamekasan.

    Saya senang menemukan blog Ibu, karena bisa terkenang masa sekolah yang sangat mengesankan.

    Selamat berkarya Bu...

    Salam
    Shanty

    BalasHapus
  2. Assalamualaiku wr.wb..

    Telah disebutkan diatas bahwa jiwa yang fitroh itu juga bisa menjadi kotor,akibat tidak terjaganya nafsu yang bersih. Begitu pula Allah memberikan nafsu kepada umatnya dengan berbagai maksud.Tinggal kemana kita akan membawa nafsu kita?..
    Nah..di dalam Agama Islam ada kewajiban Rukun Islam yang ke 3 yakni ZAKAT. Adapun zakat itu dikeluarkan satu kali setahun,ada Zakat Fitroh dan Zakat Mal. Adapun fungsinya adalah Tazkiyyat an nafs. Berarti apakah boleh seseorang hidup dengan seenaknya walaupun dirinya terkotori? Atau yang terpenting pada saatnya nanti membayar Zakat Fitrah dan Zakat Mal?Apakah benar begitu para blogger sekalian?

    BalasHapus
  3. salam guru lilis...
    seronok juga bila blog ini kembali aktif.... :)

    ok jumpa lagi

    BalasHapus
  4. Hello
    salam kenal ya..
    ku indra
    senang berkenalan dengan kamu

    BY :
    http://palembang-musi.blogspot.com/

    BalasHapus
  5. semua bersumber dari hati... manakala hati berisi hal2 ya tak terkendali.. manusia kadang dibuat lebih rendah dari pada binatang....

    met week end ya..?

    BalasHapus