04 September 2008

Keperawanan

Dari sahabat Sarikata

Membahas Masalah Keperawanan (virginitas) sampai saat ini masih menjadi suatu permasalahan yang sangat urgen dan slalu diperdebatkan, terlebih lagi setelah saya membaca tentang seorang laki-laki muda yang bertanya pada dokter pengasuh rubrik kesehatan di sebuah website. "Dok, mengapa di malam pertama istri saya tidak mengeluarkan darah ya? Apakah istri saya sudah tidak perawan?"


Jawaban sang dokter ternyata sangat menarik dan sangat bijak. Ia memulainya dengan kalimat, "Berapa liter darahkah yang Anda butuhkan untuk meyakinkan diri bahwa istri Anda masih perawan?" Selanjutnya dokter itu menjelaskan bahwa robeknya selaput dara tidak harus ditandai dengan perdarahan. Selaput dara atau dalam bahasa medisnya dikenal sebagai hymen, adalah membran tipis yang sebenarnya secara biologis tidak berfungsi namun mempunyai beban kultural dan psikologis yang sangat berat bagi wanita. Utuh tidaknya selaput ini akan menentukan langgeng tidaknya ikatan perkawinan bagisebagian orang. Ditambah lagi pemahaman banyak orang mengenai selaput dara yang cenderung berbau mitos ketimbang faktanya.Berdasarkan penelitian terhadap pasien yang datang di Klinik Pasutri Dokter Boyke Dian Nugraha menunjukkan 83 persen laki-laki menghendaki calon istrinya masih perawan. Kemudian dokter Boyke berkata "Saya sempat kaget sebab persentase demikian tinggi. Pria Indonesia cenderung munafik, mereka menginginkan calon istrinya masih perawan. Padahal mereka pula yang merusak keperawanan wanita," kata dr. Boyke Dian di sela-sela seminar nasional Problema dan Realitas Seks Masa Kini yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Unsoed.Kata perawan (dalam kamus bahasa Indonesia), atau virgin (dalam bahasa Inggris), maupun bikr (dalam bahasa Arab) mempunyai arti seseorang yang belum pernah disentuh atau belum pernah menikah dan belum pernah berhubungan seks dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Dan kata perawan dalam bahasa indonesia bersinonim dengan kata gadis yang mempunyai arti yang sama, namun jika diteliti, ternyata kata gadis tersebut berasal dari bahasa Arab yang berarti suci, atau keperawanan adalah lambang kesucian dari seorang wanita. Yang menjadi permasalahan saat ini adalah keperawanan yang selalu diidentikkan dengan pecahnya selaput dara yang telah menjadi mitos di masyarakat, padahal faktanya secara medis, robeknya selaput dara tidak harus diikuti dengan keluarnya bercak darah. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya:

1.Terlalu rapuh.
Bisa jadi selaput dara itu sudah robek sebelumnya karena terlalu rapuh. Beberapa jenis olahraga seperti berkuda, bela diri, bersepeda dan sebagainya bisa menjadi penyebab robeknya selaput darah. Apalagi kalau selaput daranya termasuk jenis yang rapuh.

2.Terlalu elastis.
Tidak adanya bercak darah di malam pertama mungkin saja disebabkan belum robeknya selaput darah karena sifatnya sangat elastis. Harap diketahui, membran ini sangat fleksibel. Pada beberapa kasus ditemukan bahwa elastisitas selaput dara memungkinkannya tidak robek pada waktu pertama kali berhubungan seksual. Bahkan ada yang baru koyak setelah wanita tersebut melahirkan!

3.Darahnya tidak banyak.
Atau bisa saja sebenarnya keluar bercak darah, tapi karena sangat sedikit sehingga tidak mudah terlihat oleh mata. Banyak orang yang mengira kalau selaput dara robek akan keluar banyak darah. Padahal karena sedemikian tipisnya, selaput dara yang robek tidak selalu menyebabkan keluar darah dalam jumlah banyak.

4.Tidak punya selaput dara.
Perkembangan teknologi memungkinkan dilakukannya penelitian tentang selaput dara secara mendalam. Hasilnya ternyata sangat mengejutkan karena dalam penelitian yang dilakukan para seksolog ditemukan beberapa perempuan yang sejak lahir memang tidak memiliki membran ini. Pada kasus ini keberadaan selaput dara tidak selalu membuktikan bahwa perempuan belum pernah melakukan hubungan seksual masih teruji kegadisannya.

MACAM-MACAM BENTUK SELAPUT DARAH

Ternyata tidak hanya tubuh yang bisa dilihat bentuknya, selaput dara pun mempunyai bentuk dengan derajat kelembutan dan fleksibilitas yang berbeda-beda. Semuanya bersifat individual, seperti penelitian yang dilakukan Frank H. Netter, MD. yang termuat dalam bukunya The Human Sexuality. Menurutnya ada bermacam bentuk selaput dara, yaitu:

a. Annular Hymen, selaput melingkari lubang vagina.
b.Septate Hymen, selaput yang ditandai dengan beberapa lubang yang terbuka.
c. Cibriform Hymen, selaput ini juga ditandai beberapa lubang yangterbuka, tapi lebih kecil dan jumlahnya lebih banyak.
d. Introitus, pada perempuan yang sangat berpengalaman dalam berhubungan seksual, bisa saja lubang selaputnya membesar, namun masih menyisakan jaringan selaput dara.

Keperawanan (Virginitas) dalam kaca mata orang Timur, lebih merupakan persoalan kultural. Hanya saja ada ketimpangan atau ketidakadilan gender disitu, dimana perempuan cenderung dipojokkan dan dituntut untuk menjaga keperawanannya, sementara laki-laki tidak pernah dipermasalahkan keperjakaannya. Virginitas kemudian menjadi sebuah mitos yang sangat sakral, sehingga seolah-olah jika perempuan tidak virgin (perawan) lagi, habislah seluruh harapan hidupnya. Oleh sebab itu, soal selaput dara tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran moral untuk menentukan baik-buruknya seorang perempuan, sebab bisa jadi ia tidak virgin karena mungkin diperkosa, padahal di situ cenderung dalam posisi lemah, atau mungkin berolah raga dan lain sebagainya. Sehingga sangatlah naif dan tidak adil, jika mengukur moralitas hanya semata-mata kerena ia tidak perawan, yang biasanya ditandai oleh robeknya selaput darah. Kalau virginitas itu disebabkan oleh karena ia melakukan seks bebas sebelum pra nikah, barangkali umumnya orang sepakat, dan khususnya kultur orang Timur akan mengatakan bahwa hal itu merupakan aib (kekurangan).

Namun mestinya stigmatsiasi seperti itu juga harus diberikan kepada kaum laki-laki, sehingga lebih adil. Oleh sebab itu, harus ada pergeserananggapan yang lebih berkeadilan gender. Artinya bahwa tuntutan untuk menjaga kesucian sebelum pra nikah harus secara adil diberikan baik kepada kaum laki-laki, tidak hanya perempuan. Memang untuk merubah pola pikir seperti ini tidak mudah, sebab mitos mengenai keperawanan itu sudah mengoyot (deep rooted) dalam pikiran, budaya dan kultur masyarakat kita. Tidak berlebihan kiranya jika dikatkan bahwa masalah keperawanan nampaknya lebih merupakan persoalan kultur, dimana aroma patriarkhinya sangat kental. Ia kemudian menjadi mitos yang cenderung merugikan perempuan. Seolah perempuan kalau sudah tidak perawan lagi dengan serta merta diklaim sebagai perempuan yang tidak baik dan tidak bisa jadi harapan menjadi istri yang baik. Akibatnya perempuan akan selalu merasa bersalah dan rendah diri dihadapan laki-laki jika kehilangan selaput daranya. Anehnya tuntutan seperti itu hampir tidak pernah diberikan kepada laki-laki. Mungkin karena alat kelamin laki-laki yangsulit dideteksi secara medis. Namun bukankah yang menyebabkan tidak virgin karena hubungan seks juga laki-laki? Jadi, kultur patriarkhi itulah sebenarnya yang sangat mendominasi mempermasalahkan soal keperawanan perempuan. Sebagai akibatnya soal keperjakaan seolah diabaikan sama sekali. Sampai-sampai kadang jika lelaki menikahi perempuan yang tidak perawan lagi, ia merasa tidak marem, ada something loss dalam dirinya.
Pandangan seperti ini jelas tidak adil dan sudah selayaknya direkonstruksi.Oleh karenanya perlu dibongkar dengan wacana yang lebih berkeadilan gender. Sehingga seandainya laki-laki mau menikah dengan perempuan, mestinya tidak perlu hanya terjebak kepada persoalan keperwanan, apakah selaput daranya masih utuh atau tidak, sebab boleh jadi calon istrinya seorang janda. Memangnya laki-laki mau menikah dengan selaput dara? Oleh sebab itu, bagi kaum laki-kali, hendaklah bisa memandang kaum perempuan secara lebih utuh dan tidak parsial. Karena cara pandang seperti itu merupakan cara pandang yang lebih manusiawi dan merupakan salah satu bentuk penghargaan kepada kaum perempuan.

Walaupun perdarahan di malam pertama bisa menjadi bukti bahwa wanita tersebut masih perawan (virgin), tapi tidak tertutup kemungkinan beberapa wanita yang lihai dan sangat berpengalaman dalam berhubungan seksual, masih tetap mengeluarkan bercak darah karena sisa selaput darah yang terluka, sehingga ia terkesan masih virgin.Pendek kata, keperawanan adalah masalah kepercayaan. Seorang wanita yang selaput daranya robek karena olahraga dan tidak mengeluarkan darah di malam pertama, apakah bisa dicap sudah tidak gadis lagi? Sedangkan di sisi lain, ada wanita yang "lebih beruntung", walaupun sudah berhubungan seksual berulang kali namun di malam pertama masih keluar darah karena adanya sisa selaput dara yang terluka.

Apakah adil pelebelan perawan dan tidak perawan pada kasus di atas. Sekali lagi, keperawanan adalah masalah kepercayaan. Bila kehidupan rumah tangga sudah sedemikian bahagianya, apalagi dengan hadirnya sang buah hati, masih memusingkan darah yang tidak "tertumpah" di malam pertama? Mitos tentang selaput dara memang tidak semuanya sesuai fakta.

KEPERAWANAN DI MESIR DAN NEGARA ARAB

Di mesir, keperawanan adalah benar-benar dijadikan sebagai lambang kesucian dari seorang wanita, tidak heran jika banyak wanita di Mesir yang diceraikan pada malam pertama. Biasanya dan sudah menjadi adat orang-orang Mesir, setelah melangsungkan aqad dan resepsi perkawinan, sebelum memasuki kamar, kedua mempelai ditemani oleh 2 orang saksi yang setia menunggu di depan pintu, bilamana sang pria tiba-tiba keluar dan melaporkan ketidak-perawanan sang istri, hal itu kemudian diperiksa oleh saksi, dan jika hal itu benar, maka si wanita dicerai pada saat itu juga dan lebih menyedihkan lagi, sang wanita harus mengembalikan semua mahar.
Hal ini jelas sangat merugikan kaum wanita. Namun dengan kemajuan zaman, tradisi tersebut sedikit demi sedikit mulai terkikis nilai-nilainya dalam masyarakat perkotaan.Hal yang sama juga, tidak hanya terdapat dalam tradisi dan adat orang mesir saja, melainkan juga dapat ditemukan di sebagian besar negara-negara Arab, seperti Syria, Tunis dll. Dengan kata lain, keperawanan itu sangatlah penting buat wanita-wanita Arab, dan dalam adat mereka, adalah aib yang sangat besar, jika pengantin wanita tidak perawan lagi, sehingga tidak mengherankan jika wanita Arab yang boleh dikategorikan sebagai wanita yang bergaul bebas atau nakal, tidak akan menyerahkan keperawanannya meskipun terdesak, kalaupun tergoda dan nafsu, mereka akan meminta dengan sangat agar boleh melaukakan apa saja asal tidak mengambil keperawanannya, ataupun mereka lebih memilih untuk bersenang-senang melalui dubur demi terjaga keperawanan mereka.

PANDANGAN ISLAM

Lantas bagaimanakah pandangan Islam tentang keperawanan? Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah yang dikatakan kaya itu dengan banyaknya harta seseorang tetapi yang dikatakan kaya adalah mereka yang kaya jiwanya." karena salah satu penyakit hati adalah " Hubbuddunya "(cinta akan dunia).Dalam sebuah riwayat dikatakan, ketika seorang sahabat yang masih bujangan itu ingin menikah apa yang ditanya Rasulullah padanya? Apakah ia perawan atau janda?, Jawab sahabat tersebut " Sudah Janda ", Apa jawab Rasulullah ketika itu? Kenapa tidak kamu nikahi yang masih perawan, agar bisa kamu mainkan.".Jadi disini kita melihat zaman Rasulullah (mohon jangan dilihat pernikahan Rasulullah dengan para istrinya, beliau menikah dengan janda kebanyakan dan satu gadis, karena ini adalah kekhususan beliau, jangan ada yang bilang, Rasulullah saja bujangan menikah dengan janda, sementara ketika ia sudah menikah, masih milih yang perawan, yaitu 'Aisyah).Jangan melihat di sana, tetapi lihat hadits perkataan Rasulullah dalam hal ini, menganjurkan agar lelaki bujangan memilih yang masih perawan. Kalau ingin menikahi yang janda dengan tujuan baik, ingin menolong, silahkan saja.Dari semua uraian di atas, jelaslah bahwa keperawanan (virginitas) seorang wanita sangtlah penting, yang merupakan lambang kesucian dari seorang gadis, Namun yang menjadi permasalahan yang sedikit keliru adalah, virginitas tersebut diidentikkan dengan selaput dara,yang sangat merugikan kaum hawa. Padahal keperawanan bukanlah jaminan bahagianya atau langgengnya rumah tangga. Olehnya itu, dalam masalah ini, Kepercayaan, keterbukaan dan pengertianlah yang harus dijadikan sebagai tolak ukur dalam menghargai keperawanan di dalm menciptakan dan membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Semoga bisa memberi masukan kepada semua sahabat yang ada.
Wanita diberi banyak keistimewaan secara fisik yang harus disyukuri dan dijaga namun adakalanya keistimewaan itu digunakan untuk membatasi wanita itu sendiri.Keistimewaan itu juga bisa disalahgunakan dengan dalih karena kau wanita yang perlu dilindungi (oleh pria biasanya).Wanita jelas berbeda dengan pria, dan hanya berdasarkan kodrat makanya ia berbeda dengan pria..
Kodrat di sini adalah apa yang diberikan Tuhan kepada wanita yang tidak dimiliki pria. Mengalami menstruasi,hamil, melahirkan dan menyusui (ini kodrat wanita yang pria tidak punya!)jika soal keperawanan, apakah pria juga tidak punya? jika wanita harus dituntut selalu menjaga keperawanannya, lantas bagaimana dengan pria?(Walaupun menjaga kehormatan wanita adalah wajib, namun tidak perawannya seorang wanita bukan hanya karena berhubungan badan atau perbuatan hina lainnya).
Saya teringat sebuah penelitian kecil sewaktu masih kuliah dulu. Bersama beberapa teman, kami mengadakan survey kecil tentang pandangan terhadap virginitas. Hasilnya ternyata ada standar ganda, yaitu virginitas harus dijaga wanita sebelum dia menikah (entah nantinya dia menikah dengan seorang laki-laki yang juga masih perjaka tulen atau tidak tulen). yang anehnya, pikiran seperti ini dimiliki pria dan wanita yang menjadi responden survey kecil-kecilan itu. sederhananya begini,, pria boleh tidak perjaka tapi harus dapat wanita yang masih virgin, sementara hal sebaliknya tidak berlaku bagi para wanita (ini menurut survey itu loh..).Apa yang bisa kita petik dari sini? ternyata ada standar ganda dalam memandang masalah ini.Yang menggelitik adalah, kenapa wanita-wanita yang menjadi responden itu juga berpikiran yang standar ganda padahal ini menyangkut nasib mereka? Jawabannya adalah karena sejak lama wanita sudah berpikir dan memandang dirinya sebagaimana para pria memandang mereka (oto subyektif), dan ini adalah kinstruksi sosial yang dibangun sejak lama. Kita wanita hidup di dunia yang khas laki-laki paternalistik). Keperawanan adalah hal yang terberi (anugerah Tuhan, kalau mau dibilang demikian--karena pada dasarnya pria juga dianugerahi keperjakan bukan..?). menjaga keperawanan adalah pilihan, bukan kodrat (kalau kodrat berarti pria juga harus dong!). Artinya karena itu pilihan maka selayaknya sebuah pilihan pasti ada konsekuensinya. jika wanita dan pria sama-sama dituntut untuk menjaga virginitasnya, maka persoalannya akan mungkin lebih sulit untuk seorang wanita. sebab kadang-kadang keperawanan sering diidentikkan dengan bukti cinta (demi cinta, serahkan keperawananmu, buktikan bahwa kau cinta aku..!). memang tidak semuanya begitu, tapi banyak kan yang begini ceritanya... ? atau mungkin juga karena virginitas lebih mudah pembuktiannya pada wanita dibanding pria. Akhirnya kembali lagi, HIDUP INI PILIHAN SAYANG....!! ! cuma memang kadang-kadang pilihan-pilhan itu diberikan dalam posisi yang tidak seimbang antara wanita dan pria.Semoga dapat menjadi inpirasi siapa saja dan barmanfaat.Bahan renungan buat wanita- yang wanitalah yang jadi korban wanita makhluk yang diciptakan alloh dengan segala keindahan, di lihat dari sisi manapun, mau dari depan, dari belakang, dari samping, pasti menarik, tidak ada yang tida menarik.itulah kelebihan wanita, apalagi yang kulitnya putih, rambutnya panjang terurai, paling enak tuk di belai.wanita makhluk yang teristimewa di dunia ini, sebab surga saja ada di telapak kakinya, surga ada di telapak kaki ibu dan ibu itu adalah seorang wanita, wanita sangat di muliakan dan di beri banyak keistimewaan salah satunya jika ia mengandungg anak dan melahirkan trus dia meninggal ketika berjuangan melahirkan anak, hal itu sudah jadi pahala jihad dan surga menantinya di depan mata.

Wanita di berikan makhota oleh Yang Mahakuasa yaitu mahkota keperawanan, hal ini yang harus di jaga, di rawat dengan sangat baik, dan suatu saat nanti ketika menikah diberikan kepada yang hak, yang di ridhio Alloh dan orang tua. Namun sangat menyedihkan melihat pergaulan saat ini, begitu mudahnya keperawanan di berikan kepada yang tidak hak, pacaran yang terlalu lama membuat mereka merasa memiliki dan saling memberikan yang dilarang, akhirnya wanitalah yang menderita karena selalu ada bekasnya...

Jagalah apa yang dititipkan kepadamu wanita....menyesal tak ada gunanya karena nasi sudah menjadi bubur sebelum semuanya rusak...karena setan sangat kuat tak sedikit yang sampai berani menanggalkan pakainya hanya demi cinta yang buta..cinta kepada yang bukan haknya

4 komentar:

  1. artikel anda:

    http://gaya-hidup.infogue.com/
    http://gaya-hidup.infogue.com/keperawanan

    promosikan artikel anda di infogue.com dan jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler,telah tersedia widget shareGue dan nikmati fitur info cinema untuk para netter Indonesia. Salam!

    BalasHapus
  2. ternyata bu Guru juga bisa ilmu dokter juga ya...
    he...he..

    BalasHapus
  3. sekedar kritik, image hedaernya kepanjangan bu. mungkin bisa dipotong dikit?
    Bu Guru udah kayak Dokter...

    BalasHapus
  4. @Briptu_prie79:
    Bagaimana sekarang Mas, image headernya? Tanks ya...

    BalasHapus